Pasar Saham Eropa Ambles Buntut Tarif Impor AS ke 180 Negara

Indeks Stoxx 600 regional ditutup menurun 5%, menandai kerugian mingguan terburuknya tahun ini.

oleh Natasha Khairunisa Amani Diperbarui 05 Apr 2025, 12:30 WIB
Diterbitkan 05 Apr 2025, 12:30 WIB
Jenis-Jenis Saham
Ilustrasi Grafik Saham Credit: pexels.com/energepic.com... Selengkapnya

Liputan6.com, Jakarta - Pasar saham Eropa ditutup menurun tajam pada hari Jumat (4/4/2025), dengan investor masih terguncang oleh skala tarif impor Amerika Serikat (AS) yang diumumkan minggu ini.

Melansir CNBC International, Sabtu (5/4/2025), Indeks Stoxx 600 regional ditutup menurun 5%, menandai kerugian mingguan terburuknya tahun ini. Indeks saham tersebut turun 8,3% dibandingkan minggu sebelumnya.

Saham sektor perbankan Eropa juga merosot 8,5% setelah penurunan 5,53% pada hari Kamis (3/4/2025). Sektor ini dipandang rentan terhadap perlambatan pertumbuhan atau resesi. 

Bursa Stoxx 600 ditutup 2,57% lebih rendah pada hari Kamis (3/4), karena dunia mencerna bea masuk tinggi yang dijatuhkan Trump pada lebih dari 180 negara, yang menyebabkan kekhawatiran akan perang dagang global dan resesi AS mencapai titik didih.

Di antara sektor yang paling terpukul pada hari Kamis adalah ritel, dengan indeks Stoxx Luxury 10 turun 5,2% dalam sesi terburuknya selama hampir empat tahun.

Adapun saham raksasa pelayaran Maersk dan Hapag-Lloyd, yang menjadi indikator kesehatan ekonomi global, keduanya turun lebih dari 9%.

Ahli strategi Bank of America mengatakan bahwa sektor perbankan juga merupakan salah satu aset yang paling lambat maju dalam menilai masalah makro global.

China, yang telah dikenai tarif total sebesar 54% oleh AS mengatakan bahwa negara itu akan membalas dengan tarifnya sendiri sebesar 34% atas semua barang yang diimpor dari AS mulai 10 April mendatang.

Uni Eropa mengatakan akan mempersiapkan tindakan balasan terhadap AS jika negosiasi tarif gagal.

Presiden Prancis Emmanuel Macron juga mendesak perusahaan-perusahaan di negaranya untuk menghentikan investasi yang direncanakan di AS, dan penjabat menteri ekonomi Jerman Robert Habeck mengatakan Trump akan "menyerah di bawah tekanan" jika Eropa bersatu dalam tanggapannya.

Uni Eropa dikenai tarif sebesar 20%, Inggris sebesar 10%, Norwegia sebesar 15%, dan Swiss sebesar 31%.

S&P 500 Hingga Dow Jones Anjlok Imbas Balasan China Atas Tarif Impor AS

Ilustrasi Bursa Saham. Foto: Freepik
Ilustrasi Bursa Saham. Foto: Freepik... Selengkapnya

Pasar saham Amerika Serikat terpukul setelah China membalas dengan tarif baru atas barang-barang impor dari AS.

Melansir CNBC International, Sabtu (5/4/2025) saham Dow Jones Industrial Average melemah 2.231,07 poin, atau 5,5%, menjadi 38.314,86 pada hari Jumat. Ini menandai penurunan terbesar sejak Juni 2020 selama pandemi Covid-19.

Ini menyusul penurunan 1.679 poin pada hari Kamis dan menandai pertama kalinya Dow Jones kehilangan lebih dari 1.500 poin pada hari-hari berturut-turut.

Saham S&P 500 juga merosot 5,97% menjadi 5.074,08, penurunan terbesar sejak Maret 2020.

Adapun saham Nasdaq Composite, yang menaungi banyak perusahaan teknologi yang menjual ke China dan juga memproduksi di negara itu, anjlok 5,8% menjadi 15.587,79. Penurunan ini menyusul penurunan hampir 6% pada hari Kamis dan membuat indeks turun 22% dari rekor Desember, pasar yang lesu dalam terminologi Wall Street.

 

Saham Teknologi AS Catat Penurunan Terbesar

Ilustrasi bursa saham Asia (Foto by AI)
Ilustrasi bursa saham Asia (Foto by AI)... Selengkapnya

Saham teknologi memimpin penurunan pada hari Jumat (4/4) waktu setempat.

Saham Apple merosot 7%, sehingga kerugiannya untuk minggu ini menjadi 13%. Saham Nvidia juga tersungkur 7% selama sesi tersebut, sementara Tesla turun 10%.

Seperti diketahui, ketiga perusahaan tersebut memiliki eksposur besar ke China dan termasuk yang paling terpukul oleh tindakan balasan Beijing.

Di luar sektor teknologi, saham Boeing dan Caterpillar, yang dikenal sebagai eksportir besar ke China mengalami penurunan terbesar di bursa Dow, masing-masing turun 9% dan hampir 6%.

"Meskipun pasar mungkin mendekati titik terendah dalam jangka pendek, kami khawatir tentang dampak perang dagang global terhadap pertumbuhan ekonomi jangka panjang," kata Emily Bowersock Hill, CEO dan mitra pendiri di Bowersock Capital Partners.

Seperti diketahui, Presiden AS Donald Trump mengguncang pasar global dalam beberapa pekan terakhir dengan serangkaian kebijakan baru tarif impor. Langkah tersebut mendorong respon balasan dari China dengan tarif baru lainnya.

Lanjutkan Membaca ↓
Loading

Video Pilihan Hari Ini

Produksi Liputan6.com

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya