Jenis Skrining Kanker Kolorektal di Pustu (Puskesmas Pembantu) untuk Deteksi Awal

Secara umum, Pustu lebih fokus pada skrining awal dan rujukan. Jika ditemukan indikasi kanker kolorektal, pasien akan dirujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih lengkap untuk pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut.

oleh Edelweis Lararenjana Diperbarui 04 Apr 2025, 10:54 WIB
Diterbitkan 04 Apr 2025, 10:54 WIB
ilustrasi dokter
ilustrasi dokter (Foto: Pexels.com/Raw Pixel)... Selengkapnya

Liputan6.com, Jakarta Kanker kolorektal merupakan penyakit serius, namun deteksi dini dapat meningkatkan peluang kesembuhan. Banyak yang bertanya, apa saja pemeriksaan yang bisa dilakukan di Pustu (Puskesmas Pembantu) untuk mendeteksi kanker kolorektal? Sayangnya, karena keterbatasan sumber daya dan peralatan, jenis skrining yang tersedia di Pustu sangat terbatas dibandingkan fasilitas kesehatan tingkat lanjut seperti Puskesmas atau rumah sakit.

Secara umum, Pustu lebih fokus pada skrining awal dan rujukan. Jika ditemukan indikasi kanker kolorektal, pasien akan dirujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih lengkap untuk pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut. Proses ini penting untuk memastikan penanganan yang tepat dan efektif.

Oleh karena itu, penting untuk memahami keterbatasan dan kemampuan Pustu dalam mendeteksi kanker kolorektal. Informasi ini bertujuan untuk memberikan gambaran akurat dan menghindari kesalahpahaman mengenai layanan yang tersedia di fasilitas kesehatan tingkat pertama ini.

Mengenal Apa Itu Kanker Kolorektal

Periksa Pasien Sambil Merokok, Dokter Ini Didenda Rp 4 Juta
Ilustrasi dokter | Via: istimewa... Selengkapnya

Kanker kolorektal adalah jenis kanker yang berkembang di usus besar (kolon) atau rektum, yang merupakan bagian akhir dari sistem pencernaan. Penyakit ini biasanya bermula dari pertumbuhan abnormal yang disebut polip, yang seiring waktu dapat berubah menjadi sel kanker jika tidak terdeteksi dan ditangani sejak dini. Kanker kolorektal termasuk dalam kategori kanker yang umum terjadi, terutama pada orang yang berusia di atas 50 tahun, meskipun kini juga semakin banyak ditemukan pada usia yang lebih muda.

Penyebab pasti kanker kolorektal belum sepenuhnya dipahami, tetapi ada beberapa faktor risiko yang diketahui dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengembangkan penyakit ini. Faktor-faktor tersebut meliputi pola makan yang rendah serat dan tinggi lemak, kurangnya aktivitas fisik, obesitas, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol berlebihan, serta riwayat keluarga dengan kanker kolorektal. Selain itu, kondisi medis tertentu seperti penyakit radang usus (IBD) juga dapat meningkatkan risiko terkena kanker ini.

Gejala kanker kolorektal bisa bervariasi tergantung pada stadium penyakitnya. Beberapa tanda umum meliputi perubahan pola buang air besar yang berkepanjangan (sembelit atau diare), adanya darah dalam tinja, nyeri atau kram perut yang tidak biasa, penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan, serta merasa lelah atau lemah tanpa sebab yang jelas. Karena gejala ini sering kali muncul ketika kanker sudah dalam tahap lanjut, deteksi dini melalui skrining sangat penting untuk meningkatkan peluang kesembuhan dan efektivitas pengobatan.

Deteksi Dini Kanker Kolorektal: Apa Saja yang Bisa Dilakukan di Pustu?

4 Langkah-Langkah Mendeteksi Dini Penyakit Autoimun (photo by pexels.com)
Ilustrasi alat-alat dokter (sumber foto: pexels.com/Pixabay)... Selengkapnya

Puskesmas Pembantu (Pustu), sebagai fasilitas kesehatan tingkat pertama, memiliki peran dalam membantu masyarakat melakukan skrining awal guna mendeteksi tanda-tanda kanker kolorektal sejak dini. Meskipun tidak memiliki peralatan medis yang lengkap seperti rumah sakit besar, Pustu tetap dapat melakukan berbagai metode skrining sederhana yang efektif dan mudah diakses oleh masyarakat.

Beberapa metode yang dapat dilakukan di Pustu meliputi pemeriksaan tinja untuk mendeteksi adanya darah samar (gFOBT), wawancara riwayat kesehatan untuk mengidentifikasi faktor risiko, serta edukasi tentang gejala dan pola hidup sehat yang dapat menurunkan risiko kanker kolorektal. Jika ditemukan tanda-tanda yang mencurigakan, tenaga kesehatan di Pustu dapat merujuk pasien ke fasilitas yang lebih lengkap, seperti Puskesmas atau rumah sakit, untuk pemeriksaan lebih lanjut seperti kolonoskopi atau sigmoidoskopi.

Tes Darah Samar Feses (gFOBT atau FIT): Pilihan Utama di Pustu

Ilustrasi Lab
Gubernur New York menetapkan status darurat polio setelah ditemukan satu kasus di negara bagian. (pexels.com/Chokniti Khongchum).... Selengkapnya

Di antara berbagai metode skrining kanker kolorektal, tes darah samar feses (gFOBT atau FIT) merupakan pilihan yang paling umum dan praktis tersedia di Pustu. Tes ini relatif sederhana, mudah dilakukan, dan murah. Cara kerjanya dengan mendeteksi keberadaan darah samar dalam sampel feses, yang bisa menjadi indikator adanya kanker kolorektal atau polip di usus besar.

Meskipun mudah dilakukan, perlu diingat bahwa tes gFOBT atau FIT memiliki sensitivitas yang lebih rendah dibandingkan metode skrining lainnya. Artinya, tes ini mungkin tidak mendeteksi semua kasus kanker kolorektal. Ada kemungkinan adanya false negative, di mana hasil tes negatif meskipun sebenarnya terdapat masalah.

Oleh karena itu, hasil tes gFOBT atau FIT harus diinterpretasikan dengan hati-hati oleh petugas kesehatan. Jika hasil tes positif atau menunjukkan adanya indikasi masalah, pasien akan dirujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih lengkap untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Meskipun demikian, tes gFOBT atau FIT tetap berperan penting sebagai skrining awal di Pustu. Deteksi dini, meskipun dengan metode yang sensitivitasnya lebih rendah, tetap lebih baik daripada tidak sama sekali.

Keterbatasan Pustu dan Pentingnya Rujukan

tujuan puskesmas
tujuan puskesmas ©Ilustrasi dibuat AI... Selengkapnya

Penting untuk diingat bahwa Pustu memiliki keterbatasan dalam hal peralatan dan keahlian medis. Metode skrining yang lebih canggih seperti sigmoidoskopi, kolonoskopi, kolonoskopi virtual, atau tes FIT-DNA, umumnya tidak tersedia di Pustu. Prosedur-prosedur ini membutuhkan peralatan khusus dan tenaga medis terlatih yang biasanya hanya tersedia di Puskesmas atau rumah sakit.

Sigmoidoskopi, misalnya, merupakan prosedur invasif minimal yang memungkinkan dokter untuk melihat bagian dalam usus besar menggunakan alat khusus. Kolonoskopi, yang lebih komprehensif, memungkinkan pemeriksaan seluruh usus besar. Kedua prosedur ini membutuhkan keahlian dan peralatan khusus yang tidak dimiliki Pustu.

Oleh karena itu, peran Pustu lebih difokuskan pada skrining awal menggunakan tes yang sederhana dan mudah dilakukan. Jika hasil skrining awal menunjukkan adanya indikasi masalah, pasien akan segera dirujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih lengkap untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

Sistem rujukan ini sangat penting untuk memastikan pasien mendapatkan perawatan yang sesuai dengan kebutuhannya. Proses rujukan yang cepat dan efisien akan meningkatkan peluang keberhasilan pengobatan kanker kolorektal.

7 Jenis Skrining Kanker Kolorektal

cara membuat surat keterangan bebas narkoba di puskesmas
cara membuat surat keterangan bebas narkoba di puskesmas ©Ilustrasi dibuat AI... Selengkapnya

Adapun 7 jenis skrining kanker kolorektal yang umum digunakan untuk deteksi dini adalah sebagai berikut:

1. Fecal Occult Blood Test (FOBT)

Tes ini mendeteksi darah samar dalam tinja yang tidak terlihat oleh mata. Ada dua jenis utama: guaiac-based FOBT (gFOBT) dan immunochemical FOBT (iFOBT/FIT). Jika hasilnya positif, pasien biasanya dirujuk untuk pemeriksaan lebih lanjut seperti kolonoskopi.

2. Fecal Immunochemical Test (FIT)

Mirip dengan FOBT, tetapi lebih spesifik karena menggunakan antibodi untuk mendeteksi hemoglobin dalam tinja. FIT lebih akurat dalam mendeteksi perdarahan dari usus besar dan tidak memerlukan pembatasan makanan sebelum tes.

3. Stool DNA Test (sDNA Test/Cologuard)

Tes ini mencari perubahan genetik tertentu dalam DNA sel yang terdapat dalam tinja yang bisa mengindikasikan kanker atau polip berisiko tinggi. Tes ini lebih sensitif dibandingkan FIT atau FOBT tetapi tidak seakurat kolonoskopi.

4. Sigmoidoskopi Fleksibel

Prosedur ini menggunakan tabung tipis berkamera (sigmoidoskop) untuk memeriksa bagian bawah usus besar (rektum dan kolon sigmoid). Jika ditemukan polip atau jaringan abnormal, dokter bisa mengambil sampel untuk pemeriksaan lebih lanjut.

5. Kolonoskopi

Kolonoskopi adalah metode skrining paling akurat yang memungkinkan dokter melihat seluruh bagian usus besar. Prosedur ini juga bisa sekaligus mengangkat polip atau mengambil biopsi jaringan jika diperlukan. Biasanya dilakukan setiap 10 tahun jika hasilnya normal.

6. CT Colonography (Virtual Colonoscopy)

Tes ini menggunakan CT scan untuk menghasilkan gambar 3D usus besar. Meskipun non-invasif, jika ditemukan kelainan, pasien masih perlu menjalani kolonoskopi untuk konfirmasi atau pengangkatan polip.

7. Tes Penanda Tumor (Carcinoembryonic Antigen/CEA Test)

Tes darah ini mengukur kadar CEA, protein yang bisa meningkat jika ada kanker kolorektal. Meskipun tidak digunakan sebagai metode utama skrining, tes ini berguna untuk memantau perkembangan kanker setelah diagnosis dan pengobatan.

Pertanyaan Umum Seputar Skrining Kanker Kolorektal

1. Siapa yang perlu menjalani skrining kanker kolorektal?

Skrining direkomendasikan untuk orang yang berusia 50 tahun ke atas, atau lebih awal jika memiliki faktor risiko, seperti riwayat keluarga dengan kanker kolorektal, penyakit radang usus (IBD), atau gaya hidup tidak sehat.

2. Apa saja metode skrining yang tersedia?

Metode yang umum digunakan meliputi FOBT (Fecal Occult Blood Test), FIT (Fecal Immunochemical Test), tes DNA tinja, sigmoidoskopi, kolonoskopi, CT colonography (virtual colonoscopy), dan tes penanda tumor (CEA test).

3. Seberapa sering skrining harus dilakukan?

FOBT/FIT: Setiap tahunTes DNA tinja: Setiap 3 tahunSigmoidoskopi: Setiap 5 tahunKolonoskopi: Setiap 10 tahunCT Colonography: Setiap 5 tahunJika ada hasil abnormal, frekuensi skrining bisa lebih sering sesuai anjuran dokter.4. Apakah skrining kanker kolorektal menyakitkan?Sebagian besar tes, seperti FOBT, FIT, dan tes DNA tinja, tidak menyakitkan karena hanya melibatkan sampel tinja. Sigmoidoskopi dan kolonoskopi mungkin menyebabkan ketidaknyamanan, tetapi biasanya dilakukan dengan anestesi ringan.

5. Bagaimana cara mempersiapkan diri sebelum skrining?

FOBT/FIT: Hindari makanan tertentu yang bisa memengaruhi hasil.Kolonoskopi/CT Colonography: Harus melakukan pembersihan usus dengan obat pencahar sehari sebelum prosedur.Tes lainnya: Bisa dilakukan tanpa persiapan khusus.6. Apa yang harus dilakukan jika hasil skrining positif?Jika hasilnya positif, biasanya akan dilakukan kolonoskopi untuk memastikan keberadaan polip atau kanker. Jika ditemukan polip, dokter bisa mengangkatnya sebelum berkembang menjadi kanker.

7. Apakah skrining bisa mencegah kanker kolorektal?

Skrining tidak hanya mendeteksi kanker sejak dini tetapi juga bisa mencegahnya dengan mengidentifikasi dan mengangkat polip sebelum berkembang menjadi kanker.

8. Di mana bisa melakukan skrining kanker kolorektal?

Skrining dapat dilakukan di rumah sakit, klinik, Puskesmas, atau Puskesmas Pembantu (Pustu) yang menyediakan layanan deteksi dini kanker.

Lanjutkan Membaca ↓
Loading

Video Pilihan Hari Ini

Produksi Liputan6.com

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya