Mewarnai Dunia, Anak dengan Autisme Berkarya dalam Workshop Melukis

Workshop dirancang untuk memberikan pengalaman seni bagi anak-anak yang berada dalam spektrum autisme, sekaligus menjadi wadah interaksi untuk meningkatkan percaya diri, serta membuka peluang sumber pendapatan.

oleh Dyah Puspita Wisnuwardani Diperbarui 03 Mar 2025, 09:57 WIB
Diterbitkan 03 Mar 2025, 09:57 WIB
Workshop melukis
Dalam suasana yang penuh keceriaan, anak-anak dengan spektrum autisme bereksplorasi dengan warna dan bentuk, menciptakan karya yang mencerminkan perasaan dan dunia batin mereka. (Foto: Istimewa)... Selengkapnya

Liputan6.com, Jakarta - Sebuah ruang kelas di SLB C Kyriakon, Jakarta Selatan, berubah menjadi kanvas bagi anak-anak berkebutuhan khusus untuk mengekspresikan kreativitas mereka. Dengan kuas di tangan dan palet warna-warni, mereka menuangkan imajinasi ke atas kanvas dalam sebuah workshop melukis.

Workshop ini dirancang untuk memberikan pengalaman seni bagi anak-anak yang berada dalam spektrum autisme, sekaligus menjadi wadah interaksi dengan anak-anak dari beberapa keluarga konsumen Easton Urban Kapital. Dalam suasana yang penuh keceriaan, mereka bereksplorasi dengan warna dan bentuk, menciptakan karya yang mencerminkan perasaan dan dunia batin mereka.

Head of Business Development PT Easton Urban Kapital Karla Aprinita menuturkan bahwa kegiatan yang diadakan  sebagai kolaborasi dengan social enterprise Terartai. ini merupakan bagian dari kampanye inklusivitas yang diusung dalam proyek hunian terbaru di Ciracas, Jakarta Timur.

“Kami ingin mengusung tema inklusivitas dengan memberikan ruang bagi anak-anak berkebutuhan khusus untuk mengekspresikan kreativitas mereka melalui seni. Hasil karya dari workshop ini nantinya akan diintegrasikan dalam branding proyek kami, termasuk dalam booklet khusus yang berisi cerita inspiratif,” ujar Karla.

Seni sebagai Media Komunikasi

Amanda Maringka, Co-Founder Terartai, menambahkan bahwa seni adalah media komunikasi yang kuat bagi anak-anak dengan autisme.

“Anak-anak dengan autisme memiliki kreativitas yang luar biasa, tetapi sering kali sulit mengekspresikan diri secara verbal. Melalui seni, mereka dapat menyampaikan perasaan dan ide mereka dengan cara yang unik dan penuh warna,” jelasnya.

 

Berlatih Bekerja Sama

Berlatih Bekerja Sama

Selain sebagai sarana ekspresi diri, workshop ini juga menjadi kesempatan bagi anak-anak untuk membangun interaksi sosial. Mereka tidak hanya berlatih menggambar dan melukis, tetapi juga belajar untuk bekerja sama dan berbagi ruang dengan teman-teman baru.

Interaksi semacam ini dinilai dapat menjadi pengalaman berharga yang membantu meningkatkan rasa percaya diri mereka.

 

Apresiasi Berkelanjutan

Lebih dari sekadar kegiatan seni, hasil karya yang diciptakan dalam workshop ini akan mendapatkan apresiasi lebih lanjut. Setiap karya yang digunakan dalam elemen desain proyek, Wovendream House akan memberikan royalti kepada para seniman muda tersebut, membuka peluang bagi mereka untuk mendapatkan pengakuan dan sumber pendapatan berkelanjutan dari seni yang mereka hasilkan.

Inisiatif ini menegaskan bahwa seni bukan hanya tentang estetika, tetapi juga inklusivitas dan pemberdayaan. Dengan memberikan ruang bagi anak-anak berkebutuhan khusus untuk berkarya dan mendapatkan apresiasi atas hasil kerja mereka, kegiatan ini menjadi langkah kecil yang membawa dampak besar dalam mendorong kesetaraan dan penghargaan terhadap keberagaman bakat dalam masyarakat.

 

Loading

Video Pilihan Hari Ini

Produksi Liputan6.com

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya