Korban Tewas Akibat Gempa Myanmar Jadi 3.354 Orang, 220 Lainnya Masih Hilang

PBB menyerukan agar dunia bersatu mendukung rakyat Myanmar pasca gempa dahsyat.

oleh Khairisa Ferida Diperbarui 05 Apr 2025, 17:35 WIB
Diterbitkan 05 Apr 2025, 17:35 WIB
Warga melihat kerusakan jalan di Naypyidaw pada 28 Maret 2025, setelah gempa bumi di Myanmar bagian tengah. (Dok: AFP/Sai Aung Main)
Warga melihat kerusakan jalan di Naypyidaw pada 28 Maret 2025, setelah gempa bumi di Myanmar bagian tengah. (Dok: AFP/Sai Aung Main)... Selengkapnya

Liputan6.com, Naypyidaw - Gempa magnitudo 7,7 pada 28 Maret 2025 menghancurkan bangunan dan merusak infrastruktur di seluruh Myanmar, menyebabkan 3.354 kematian, 4.508 orang terluka, dan 220 lainnya hilang. Demikian menurut angka terbaru yang dipublikasikan oleh media pemerintah Myanmar dan dilansir AFP, Sabtu (5/4).

Lebih dari seminggu setelah bencana tersebut, banyak orang di Myanmar masih tanpa tempat berlindung, baik karena terpaksa tidur di luar ruangan akibat rumah mereka hancur atau karena khawatir akan runtuhan lebih lanjut.

Perkiraan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menunjukkan bahwa lebih dari tiga juta orang mungkin terdampak oleh gempa  ini, yang semakin memperburuk tantangan yang sudah ada akibat empat tahun perang saudara Myanmar.

Pejabat utama bantuan PBB pada Sabtu bertemu dengan para korban di Kota Mandalay — yang terletak dekat dengan pusat gempa dan menghadapi kerusakan parah di seluruh kota.

"Kerusakannya luar biasa," tulis Tom Fletcher di platform  X. "Dunia harus bersatu mendukung rakyat Myanmar."

Jumlah korban terbaru ini diumumkan setelah kepala junta militer Myanmar Min Aung Hlaing kembali dari perjalanan luar negeri yang jarang dilakukan ke sebuah pertemuan regional di Bangkok pada Jumat, di mana dia bertemu dengan para pemimpin, termasuk perdana menteri Thailand dan India.

Kehadiran sang jenderal di pertemuan tersebut menuai kontroversi, dengan para pengunjuk rasa di lokasi yang memajang spanduk yang menyebutnya sebagai "pembunuh" dan kelompok-kelompok anti-junta militer Myanmar mengutuk kehadirannya.

Bantuan Asing

Gempa Myanmar, Jumlah Korban Terus Bertambah
Sebelumnya, gempa berkekuatan magnitudo 7,7 menghantam Myanmar bagian tengah pada Jumat (28/3/2025). (Sai Aung MAIN/AFP)... Selengkapnya

Militer Myanmar telah memerintah negara itu sejak kudeta 2021, ketika mereka merebut kekuasaan dari pemerintah sipil Aung San Suu Kyi, memicu konflik multi-sisi yang belum terselesaikan.

Junta militer Myanmar, kata PBB pada Jumat, telah melakukan puluhan serangan sejak gempa, termasuk setidaknya 16 serangan sejak pengumuman gencatan senjata sementara pada Rabu.

Tahun-tahun pertempuran telah menghancurkan ekonomi dan infrastruktur Myanmar, sangat menghambat upaya internasional untuk memberikan bantuan setelah gempa.

China, Rusia, dan India adalah beberapa negara pertama yang memberikan dukungan, mengirim tim penyelamat ke Myanmar untuk membantu menemukan para penyintas.

Amerika Serikat pada Jumat mengumumkan bahwa mereka akan menambah bantuan sebesar USD 7 juta, menyusul bantuan sebelumnya sebesar USD 2 juta untuk Myanmar.

Lanjutkan Membaca ↓
Loading

Video Pilihan Hari Ini

Produksi Liputan6.com

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya