Tupperware Comeback Setelah Ajukan Bangkrut Tahun Lalu

Setelah bertahun-tahun mengalami kesulitan keuangan akibat meningkatnya persaingan dan perubahan preferensi konsumen, Tupperware resmi mengajukan kebangkrutan pada September 2024.

oleh Asnida Riani Diperbarui 02 Apr 2025, 17:00 WIB
Diterbitkan 02 Apr 2025, 17:00 WIB
Tupperware
Inspirasi penyajian masakan lebaran dengan Tupperware Gourmet Servers. (Dok. Tupperware)... Selengkapnya

Liputan6.com, Jakarta - Tupperware comeback setelah menghentikan produksinya tahun lalu. Selama beberapa dekade, wadah merek tersebut bukan hanya tentang menyimpan makanan, tapi juga barang yang wajib dimiliki di rumah.

Namun pada akhir 2024, melansir Says, Rabu (2/4/2025), perusahaan menghentikan operasinya, membuat para penggemar setianya kecewa. Setelah bertahun-tahun mengalami kesulitan keuangan akibat meningkatnya persaingan dan perubahan preferensi konsumen, perusahaan tersebut resmi mengajukan kebangkrutan pada September 2024.

Pihaknya melaporkan utang yang melebihi 1 miliar dolar Amerika Serikat (AS). Setelah kebangkrutan tersebut, Tupperware mengumumkan rencana restrukturisasi, mengalihkan fokus ke pasar-pasar utama, seperti Brasil, Kanada, China, India, Malaysia, Meksiko, Korea Selatan, dan AS. Sementara itu, operasi di beberapa negara Eropa ditutup karena meningkatnya utang, menurut The Brussels Times.

Kini, pengusaha Prancis Cédric Meston telah mengakuisisi Tupperware Prancis dan memimpin upaya meluncurkan kembali merek tersebut di seluruh Eropa. Rencananya meliputi pemasaran dan strategi produk baru, serta kembali ke daya tahan khas merek tersebut dalam jangka waktu paling cepat bulan ini. Prancis, Belgia, Jerman, Italia, dan Polandia berada di urutan pertama untuk kembali memproduksi Tupperware.

Meston menargetkan pendapatan yang besar, yaitu 100 juta euro (sekitar Rp1,8 triliun) pada akhir 2025. Perusahaan juga menargetkan 20 ribu tenaga penjualan independen yang membantu memperkenalkan kembali merek wadah makanan tersebut pada konsumen.

Negosiasi dengan perusahaan induk AS sedang berlangsung untuk mengamankan hak lisensi. Meston yakin bahwa persetujuan akan segera datang. "Hanya tinggal hitungan jam atau hari sebelum kami mendapatkan lampu hijau," katanya, menurut East Coast Radio.

Sejarah Tupperware

Jangan Sampai Hilang, Kini Tupperware Bisa Jadi Jaminan di Pegadaian
Ilustrasi produk Tupperware. (Foto: © tupperware.co.id)... Selengkapnya

Pertanyaannya kemudian mengarah pada mungkinkah ini jadi awal kebangkitan Tupperware secara global? Hanya waktu yang dapat menjawabnya. Namun, untuk saat ini, penggemar Tupperware memiliki sesuatu yang bisa dinantikan.

Dalam catatan sejarahnya, seperti dirangkum BBC, Tupperware didirikan pada 1946 oleh seorang pria, Earl Tupper, tapi wajah publik perusahaan tersebut adalah seorang perempuan bernama Brownie Wise. Produk Tupper menandai era baru, menggunakan plastik berbeda untuk menjaga makanan segar dalam waktu lebih lama.

Ini merupakan "produk yang sangat berharga saat kulkas masih terlalu mahal bagi banyak orang," sebut BBC. Produk tersebut sempat tidak laku, setidaknya sampai Wise hadir. Ia mulai menyelenggarakan berbagai acara untuk menjual wadah-wadah tersebut, bertemu langsung dengan para ibu rumah tangga dan ibu-ibu yang ingin dijangkau perusahaan.

Pertemuan-pertemuan itu dikatakan lebih banyak membahas sosialisasi daripada bisnis. Gaya inovatif dan angka penjualannya menarik perhatian Tupper, dan Wise dipromosikan ke jajaran eksekutif saat sebagian besar perempuan dikecualikan dari ruang rapat.

 

Memberdayakan Perempuan

Tupperware (Foto:Tupperware.co.id)
Tupperware (Foto:Tupperware.co.id)... Selengkapnya

Dampak Brownie Wise dan Tupperware masih diperdebatkan oleh para akademisi. Tapi, banyak yang mengatakan bahwa perusahaan tersebut berperan penting dalam membawa perempuan ke dunia kerja di Amerika Serikat pascaperang, dan menyediakan sumber pendapatan bagi perempuan lain di seluruh dunia.

Alison Clarke, profesor sejarah dan teori desain di Universitas Seni Terapan, Wina, dan penulis "Tupperware: The Promise of Plastic in 1950s America" mengatakan, "Saya pikir, warisan (Tupperware) adalah cara menyediakan sumber pekerjaan bagi perempuan yang tidak selalu memiliki akses ke pekerjaan yang fleksibel."

"Saat pertama kali dijual di pesta-pesta di AS, banyak perempuan yang terisolasi di kota-kota pinggiran pascaperang yang jauh dari keluarga mereka. Pesta-pesta Tupperware mengagungkan pekerjaan rumah tangga yang membosankan, dan Anda hanya dapat membelinya jika Anda mengenal seseorang yang menjualnya, jadi itu eksklusif, dan sosial, dan tentang hubungan dengan perempuan lain."

"Saya awalnya berpikir itu adalah konspirasi kapitalis yang eksploitatif terhadap perempuan, kemudian saya bertemu dengan semua perempuan ini, yang memiliki kehidupan yang fantastis karena itu, dan melihat bagaimana bisnis tersebut memberdayakan mereka."

Gagal Jadi Relevan

Produk Tupperware (Foto: Tupperware.com)
Produk Tupperware (Foto: Tupperware.com)... Selengkapnya

"Itu adalah produk yang dirancang dengan sangat brilian, yang jadi ajaib karena cara penjualannya," tambah Prof Clarke. "Tapi di dunia digital ini, model tatap muka tidak lagi relevan." Narasi serupa dikatakan Neil Saunders, direktur pelaksana ritel di konsultan GlobalData.

Saunders mengatakan, Tupperware telah "gagal berubah seiring waktu" dalam hal produk dan distribusinya. Ia menyoroti bahwa metode penjualan langsung melalui pihak-pihaknya "tidak relevan" dengan pelanggan muda maupun tua.

Konsumen yang lebih muda, sebut dia, telah menggunakan produk lebih ramah lingkungan, seperti kertas lilin lebah untuk menjaga makanan tetap segar. Richard Hyman, analis ritel lainnya, mengatakan bahwa prinsip dasar produk Tupperware "tidak sulit ditiru" perusahaan lain.

Berkaca pada persaingan yang ketat, ia mengatakan perusahaan tersebut "sudah berjalan dengan baik." Perusahaan telah melakukan sejumlah upaya mendiversifikasi strateginya, termasuk dengan berjualan di jaringan ritel AS Target dan jaringan ritel lain di seluruh dunia, serta memperluas jangkauan untuk mencakup produk memasak lainnya.

Infografis Serba-serbi Rumah Ramah Lingkungan
Infografis Serba-serbi Rumah Ramah Lingkungan. (Liputan6.com/Triyasni)... Selengkapnya
Lanjutkan Membaca ↓
Loading

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya