Alasan Pemerintah Tetapkan 1 Ramadhan 1446 H pada 1 Maret 2025

Pemerintah menetapkan 1 Ramadhan 1446 H/2025 M pada hari Sabtu, 1 Maret 2025.

oleh Muhammad Radityo Priyasmoro Diperbarui 28 Feb 2025, 20:54 WIB
Diterbitkan 28 Feb 2025, 20:54 WIB
Menteri Agama Nasaruddin Umar dalam jumpa pers hasil sidang isbat penentuan awal Ramadhan 1446 H di Kantor Kementerian Agama (Kemenag) di Jakarta, Jumat (28/2/2025).
Menteri Agama Nasaruddin Umar dalam jumpa pers hasil sidang isbat penentuan awal Ramadhan 1446 H di Kantor Kementerian Agama (Kemenag) di Jakarta, Jumat (28/2/2025). (Foto: Kemenag)... Selengkapnya

 

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah menetapkan 1 Ramadhan 1446 H/2025 M pada hari Sabtu, 1 Maret 2025. Penetapan ini didasarkan pada keputusan sidang isbat (penetapan) 1 Ramadhan 1446 H yang dipimpin Menteri Agama Nasaruddin Umar di Kantor Kementerian Agama, Jalan MH Thamrin Nomor 6, Jakarta, Jumat (28/2/2025).

"Sidang Isbat secara mufakat menetapkan 1 Ramadhan 1446 H jatuh pada Sabtu, 1 Maret 2025," kata Nasaruddin Umar dalam konferensi pers usai Sidang Isbat Penetapan 1 Ramadhan 1446 H, Jumat.

Menurut Nasaruddin, ada dua alasan yang dipaparkan saat Sidang Isbat sebelum keputusan tersebut diambil. Dua alasan tersebut menjadi faktor utama 1 Ramadhan 1446 H ditetapkan pada 1 Maret 2025.

Alasan pertama, para peserta sidang telah mendengar paparan Tim Hisab Rukyat Kemenag yang menyebutkan pada hari rukyat tanggal 28 Februari 2025 M, tinggi hilal di seluruh wilayah NKRI antara: 3° 05‘ 55“ atau 3,10 derajat s.d. 4° 40‘ 96“ atau 4,68 derajat,” kata Menag.

"Dengan sudut elongasi antara 4° 47‘ 02“ atau 4,78 derajat s.d. 6° 24‘ 14“ atau 6,40 derajat," jelas Nasaruddin.

Artinya, lanjut Imam Besar Masjid Istiqlal ini, secara hisab posisi hilal di Indonesia saat sidang isbat awal Ramadan 1446 H, pada hari rukyat 29 Sya’ban 1446 H/28 Februari 2025 M posisi hilal di wilayah NKRI ada yang telah memenuhi kriteria tinggi hilal minimum 3° dan sudut elongasi minimum 6,4°.

"Ini sesuai dengan kriteria baru yang ditetapkan MABIMS (Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura). Diketahui, pada 2021 Menteri Agama anggota MABIMS menyepakati kriteria baru yaitu tinggi hilal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat," ungkap Nasaruddin.

Begitu pun di wilayah Barat Laut di Provinsi Aceh, termasuk di Sabang dan Banda Aceh yang juga telah memenuhi kriteria visibilitas hilal MABIMS (3-6,4°).

"Oleh karenanya menjelang awal Ramadan 1446 H pada hari rukyat di daerah yang telah memenuhi imkan rukyat ini secara teoritis memungkinkan hilal awal Ramadan 1446 H dapat dirukyat," ujarnya.

 

Promosi 1

Alasan Kedua

Menteri Agama Nasaruddin Umar dalam jumpa pers hasil sidang isbat penentuan awal Ramadhan 1446 H di Kantor Kementerian Agama (Kemenag) di Jakarta, Jumat (28/2/2025).
Menteri Agama Nasaruddin Umar dalam jumpa pers hasil sidang isbat penentuan awal Ramadhan 1446 H di Kantor Kementerian Agama (Kemenag) di Jakarta, Jumat (28/2/2025). (dokumentasi Kemenag)... Selengkapnya

Alasan kedua, adalah terkonfirmasinya pernyataan para perukyah yang diturunkan Kemenag adalah tahun ini, rukyah dilaksanakan Kemenag di 125 titik di Indonesia.

"Kita mendengar laporan dari sejumlah perukyah hilal yang bekerja di bawah sumpah, mulai dari Aceh hingga Papua. Di 125 titik tersebut, tadi dilaporkan oleh Dirjen Bimas Islam, bahwa ada dua perukyah di Aceh yang melihat hilal. Keduanya juga telah disumpah atas pernyataannya tersebut," ujar Menag.

"Karena dua alasan tersebut, sidang Isbat menyepakati 1 Ramadhan 1446 H jatuh pada hari Sabtu, 1 Maret 2025," tandas Nasaruddin.

 

Infografis tradisi bersih-bersih sambut Ramadan
Infografis Sejumlah daerah memiliki tradisi 'bersih-bersih diri' dengan cara mandi menyambut Ramadan (dok. Liputan6.com/Tri Yasni)... Selengkapnya
Lanjutkan Membaca ↓
Loading

Video Pilihan Hari Ini

EnamPlus

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya