Mengenal Suku Bawean, Suku Terkecil yang Ada di Jawa Timur

Keunikan Suku Bawean terletak pada komposisi etnisnya yang merupakan perpaduan dari berbagai suku di Nusantara.

oleh Switzy Sabandar Diperbarui 28 Feb 2025, 01:00 WIB
Diterbitkan 28 Feb 2025, 01:00 WIB
[Bintang] Bawean
Pulau Bawean, Jawa Timur. (bawean.eastjava.com)... Selengkapnya

Liputan6.com, Gresik - Di tengah Laut Jawa, sekitar 120 kilometer utara Pulau Jawa, terdapat sebuah pulau yang menjadi rumah bagi salah satu suku terkecil di Jawa Timur. Suku Bawean, dengan populasi hanya berkisar 107.000 jiwa, telah membangun identitas budaya di Indonesia.

Mengutip dari berbagai sumber, Pulau Bawean termasuk dalam wilayah Kabupaten Gresik, Jawa Timur, dan terbagi menjadi dua kecamatan yaitu Sangkapura dan Tambak. Nama Bawean sendiri berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti sinar matahari.

Keunikan Suku Bawean terletak pada komposisi etnisnya yang merupakan perpaduan dari berbagai suku di Nusantara. Genetika dan budaya mereka terbentuk dari percampuran beberapa suku, yakni Madura, Melayu, Jawa, Banjar, Bugis, dan Makassar.

Masyarakat Bawean mayoritas menganut agama Islam. Perpaduan ini tercermin dalam berbagai tradisi seperti kercengan, cukur jambul, pencak Bawean, dikker, dan mandiling.

Tradisi-tradisi ini masih dilestarikan sebagai bagian dari upaya menjaga identitas mereka. Fenomena unik yang membedakan Suku Bawean dari kelompok etnis lainnya adalah julukan Pulau Putri yang disematkan pada pulau mereka.

Sebutan ini muncul karena budaya merantau yang telah melekat pada masyarakat Bawean sejak abad ke-19. Para laki-laki di pulau ini terkenal sebagai perantau untuk mencari nafkah di berbagai daerah di Indonesia.

Tidak hanya di negara sendiri, para perantau dari pulau ini juga berlarian ke negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia. Sementara itu, para wanita tinggal mengelola rumah dan lahan pertanian.

Suku Bawean memiliki rumah adat yang disebut Rumah Dhurung. Keunikan rumah ini terletak pada bangunan tambahan yang didirikan di depan rumah utama.

Bangunan tambahan ini berfungsi sebagai tempat menerima tamu dengan luas sekitar 2x3 meter. Bagian atas rumah dimanfaatkan sebagai tempat penyimpanan padi dan hasil pertanian lainnya.

Pakaian tradisional Suku Bawean, terbuat dari bahan sutra, katun, dan wol. pakaian ini dikenakan pada acara-acara formal dan upacara adat. Beberapa jenis pakaian adat Bawean antara lain baju kurung Bawean, baju pesak, dan baju taman, yang masing-masing dengan desain dan fungsi sosial yang berbeda.

Penulis: Ade Yofi Faidzun

Video Pilihan Hari Ini

EnamPlus

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya