Indeks Kepercayaan Industri RI Turun, Gara-Gara Ini

Kemenperin mengungkapkan bahwa angka Indeks Kepercayaan Industri tersebut menandai sedikit perlambatan hingga 0,17 poin, di mana pada bulan Februari 2025 nilai IKI mencapai 53,15.

oleh Natasha Khairunisa Amani Diperbarui 26 Mar 2025, 13:31 WIB
Diterbitkan 26 Mar 2025, 13:31 WIB
PPnBM Diperpanjang, Industri Otomotif akan Membaik
Pekerja memeriksa kualitas komponen otomotif di pabrik PT Dharma Polimetal (Dharma Group), kawasan Delta Silicon, Cikarang. Perusahaan manufaktur komponen otomotif optimistis perpanjangan PPnBM dan tren penjualan kendaraan roda empat (4 wheeler/4W) yang mulai positif. (Liputan6.com/HO/Dharma)... Selengkapnya

Liputan6.com, Jakarta Indeks Kepercayaan Industri (IKI) di Indonesia mencapai nilai sebesar 52,98, pada Maret 2025.

Juru Bicara Kementerian Perindustrian, Febri Hendri Antoni Arief mengungkapkan bahwa angka tersebut menandai sedikit perlambatan hingga 0,17 poin, di mana pada bulan Februari 2025 nilai IKI mencapai 53,15.

Nilai IKI pada Maret 2025 juga melambat 0,07 poin dari yang tercatat di periode yang sama tahun lalu sebesar 53,05.

“Sebanyak 21 subsektor mengalami ekspansi, di mana kontribusi 21 subsektor yang ekspansi tersebut terhadap PDB triwulan IV 2024 sebesar 96,5 persen,” ungkap Febri dalam Konferensi Pers IKI Maret 2025 yang disiarkan pada Rabu (26/3/2025).

Artinya, dari 23 subsektor yang dikelola oleh Kementerian Perindustrian, hampir sebagian besar subsektor penyumbang PDB nasional berada pada posisi atau berstatus ekspansi.

Peningkatan IKI Tertinggi

Febri mengungkapkan, subsektor dengan nilai IKI tertinggi adalah industri percetakan reproduksi media rekaman, industri farmasi, produk obat kimia, dan obat tradisional.

“Untuk industri yang mengalami ekspansi paling tinggi, kita lihat industri pencetakan dan reproduksi media rekaman, dan industri farmasi, mengalami ekspansi, memiliki IKI tertinggi,,” bebernya.

Sementara itu, terdapat dua subsektor yang mengalami kontraksi yakni subsektor karet, barang dari karet, barang dari plastik, serta subsektor industri furniture.

Adapun industri pencetakan dan reproduksi itu yant mengalami permintaan yang cukup tinggi, terutama terkait dengan kemasan produk industri makanan dan minuman.

“Kita tahu bahwa industri makanan dan minuman banyak melakukan produksi dalam menyambut bulan Ramadan dan Lebaran, sehingga membutuhkan banyak pengemasan produk,” imbuh Febri

Industri farmasi, produksi obat kimia dan obat tradisional juga mengalami permintaan yang cukup tinggi, terutama pada sisi industri farmasi. Febri menjelaskan, perkembangan ini disebabkan karena meningkatnya permintaan di subsektor tersebut.

Percapatan ekspansi terjadi juga pada nilai IKI persediaan produk sebesar 0,34 poin, menjadi 53,86.

“Nilai ini di atas 50, artinya ekspansif,” beber Febri.

 

Promosi 1

Kegiatan Usaha Dalam Kondisi Stabil

manufaktur adalah
manufaktur adalah ©Ilustrasi dibuat Stable Diffusion... Selengkapnya

Febri juga mengungkapkan, kegiatan usaha dalam negeri secara umum masih tergolong baik.

“Sebanyak 78,1 persen responden menyatakan kegiatan usahanya membaik dan stabil,” katanya.

Namun, proporsi industri yang menyatakan kondisi usahanya pada bulan Maret 2025 membaik, ada sebanyak 31,1 persen. Angka ini sedikit menurun sebanyak 0,8 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

 

Ada Penurunan Usaha dan Optimisme Kondisi Industri

Industri Komponen Otomotif Bersiap Tingkatkan Penetrasi 4W
Pekerja memeriksa produk dan kualitas komponen otomotif di pabrik PT Dharma Polimetal (Dharma Group), kawasan Delta Silicon, Cikarang, Jawa Barat. Perusahaan manufaktur Triputra Group menargetkan penjualan hingga 38.81 % atau senilai Rp 3,08 triliun pada 2021. (Liputan6.com/HO/Dharma)... Selengkapnya

Presentasi responden yang mengungkapkan usahanya menurun juga sedikit menurun menjadi 21,9 persen di bulan Maret 2025.

“Pandangan usaha terhadap kondisi industri untuk 6 bulan ke depan, kami bisa garisbawahi bahwa ada penurunan sedikit optimisme pelaku usaha,” kata Febri.

Optimisme pengusaha menurun dibandingkan Februari 2025 menjadi sebesar 69,2 persen.

“Itu artinya turun sebesar 3,0 persen dibandingkan pada bulan Februari 2025,” lanjutnya.

Begitu juga pelaku usaha industri yang menyatakan kondisi usahanya tetap stabil, naik 3,3 persen menjadi sebesar 24,5 persen.

Meski demikian, presentasi pesimisme pelaku usaha menurun 0,3 persen di bulan Maret menjadi sebesar 6,3 persen.Displaying Siaran Pers_Pernyataan Menperin LSPI_FINAL.doc.

Lanjutkan Membaca ↓
Loading

Video Pilihan Hari Ini

Produksi Liputan6.com

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya