Liputan6.com, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak di zona merah pada pertengahan Maret 2025. Misalnya, pada perdagangan awal pekan ini, Senin 24 Maret 2025, IHSG turun tajam hingga menyentuh level 5.967, kemudian nilai tukar rupiah melemah di kisaran Rp 16.600 per dolar AS Selasa 25 Maret 2025.
Merespons hal tersebut, Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial Bank Indonesia (BI), Solikin M. Juhro, menegaskan meski ada gejolak pasar, kondisi ekonomi Indonesia tidak dapat disimpulkan buruk begitu saja.
Baca Juga
Ia menuturkan, penting bagi masyarakat untuk memahami meski ada sentimen negatif yang berkembang, perekonomian Indonesia tetap memiliki fundamental yang kuat.
Advertisement
"Ini yang harus dipahami seakan-akan ekonomi kita itu, dengan tempo hari IHSG yang turun drastis, yang juga pelemahan nilai tukar, seakan-akan ekonomi kita itu jelek gitu, padahal enggak gitu," kata Solikin dalam Taklimat Media, di Kantor Bank Indonesia, Jakarta, Rabu (26/3/2025).
Solikin menjelaskan meskipun ada penurunan pada IHSG dan pelemahan nilai tukar, indikator-indikator makroekonomi Indonesia masih menunjukkan angka yang sehat.
Hal itu dibuktikan, Indonesia masih mampu mencatatkan angka pertumbuhan ekonomi sekitar 5 persen meski dalam kondisi yang tidak mudah.
"Tapi intinya fundamental kita itu masih bagus begitu. Ya memang, coba kalau dibanding-bandingkan kita lihat saja gitu. Ya kita pertumbuhan ekonomi, kita 5 persen dalam kondisi yang kayak gitu bisa tembus 5 persen gitu," ujarnya.
Selain itu, inflasi Indonesia tercatat pada level yang cukup terkendali, yaitu 1,5 persen, jauh lebih rendah dibandingkan negara-negara seperti, Vietnam atau India yang mengalami inflasi lebih tinggi meskipun dengan pertumbuhan ekonomi yang serupa.
"Tapi Vietnam inflasinya lebih tinggi, India inflasinya juga 5 persen, kita cuma inflasinya 1,5 persen. Ya ini tadi ada trade-offnya. Jadi, diskusi kebijakan ya, biasanya itu kalau kita punya berbagai permasalahan, which is itu kita harus berbagai sasaran," katanya.
Â
Pengelolaan Prioritas Ekonomi
Solikin juga menekankan pentingnya komunikasi yang baik untuk membentuk persepsi yang tepat tentang ekonomi Indonesia. Ia menyebut kebijakan ekonomi sering kali melibatkan trade-off, di mana pemerintah harus memilih prioritas yang tepat di antara berbagai masalah yang ada.
Dalam hal ini, BI selalu berusaha mengoptimalkan kondisi ekonomi Indonesia, tanpa mengorbankan satu dimensi untuk mencapai dimensi lain.
Solikin menjelaskan mengenai konsep "overriding objective" atau sasaran utama kebijakan ekonomi. Sasaran utama tersebut adalah stabilitas, terutama dalam mengendalikan inflasi. Meskipun berbagai sektor ekonomi harus dioptimalkan, tujuan utama tetap pada pencapaian stabilitas ekonomi yang berkelanjutan.
"Intinya kita mengopimakan, jadi kita enggak akan mengorbankan satu dimensi begitu. Walaupun nanti pada akhirnya, kalau adanya yang dikorbankan, ada namanya overriding objective. Ya kayak kita dalam Indonesia, ada masalah, masalah nilai tukar, masalah inflasi, masalah perbankan, masalah macam-macam," ujarnya.
Advertisement
Kondisi Ekonomi Indonesia yang Seimbang
Solikin menekankan kondisi ekonomi Indonesia saat ini masih cukup seimbang. Semua indikator ekonomi baik dari sisi pertumbuhan, inflasi, utang, dan sektor keuangan masih menunjukkan angka yang cukup baik, yang menjadi dasar untuk optimisme.
"Kita melihatnya harus secara view-nya. Sama kita lihat, ini kita secara overall ya, kita bicara growth, inflasi, pertumbuhan, utangkan.Semua ini dalam kondisi yang quite balanced," ujarnya.
Dengan demikian, Solikin berharap agar masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh sentimen pasar atau persepsi negatif yang sering muncul, dan lebih memahami ekonomi Indonesia memiliki landasan yang kuat untuk terus berkembang.
