Liputan6.com, Jakarta Lebaran atau Hari Raya Idul Fitri merupakan momen istimewa bagi umat Muslim di seluruh dunia, termasuk masyarakat Melayu. Bagi komunitas ini, perayaan Lebaran bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan juga cerminan kekayaan budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun. Tradisi lebaran pada masyarakat Melayu memiliki keunikan tersendiri yang menjadikannya berbeda dengan perayaan di daerah lain.
Makna Mendalam di Balik Tradisi Lebaran Melayu
Perayaan Lebaran dalam tradisi Melayu sarat dengan nilai-nilai luhur yang mencerminkan identitas budaya mereka. Lebih dari sekadar momen bermaaf-maafan, Lebaran menjadi ajang untuk mempererat tali silaturahmi dan memperkuat ikatan kekeluargaan. Nilai-nilai seperti kebersamaan, kedamaian, dan kepedulian sosial sangat dijunjung tinggi dalam setiap prosesi dan kegiatan yang dilakukan.
Masyarakat Melayu memandang Lebaran sebagai momentum untuk introspeksi diri dan pembaruan spiritual. Mereka percaya bahwa dengan memaafkan dan meminta maaf, seseorang dapat memulai lembaran baru dengan hati yang bersih. Tradisi-tradisi yang dijalankan selama Lebaran juga mengajarkan pentingnya menghormati orang tua, menyayangi yang lebih muda, dan menjaga keharmonisan dalam bermasyarakat.
Advertisement
Persiapan Menyambut Lebaran ala Masyarakat Melayu
Persiapan Lebaran dalam masyarakat Melayu dimulai jauh-jauh hari sebelum hari H. Beberapa minggu menjelang Idul Fitri, masyarakat mulai membersihkan rumah dan lingkungan sekitar. Kegiatan ini dikenal dengan istilah "gotong royong" yang mencerminkan semangat kebersamaan dan kerjasama dalam komunitas.
Selain itu, masyarakat Melayu juga memiliki tradisi membuat berbagai hidangan khas Lebaran. Proses memasak ini biasanya dilakukan bersama-sama oleh anggota keluarga, terutama para wanita. Hidangan seperti ketupat, rendang, dan lemang menjadi menu wajib yang tidak boleh absen di meja makan saat Lebaran.
Persiapan lainnya termasuk membeli pakaian baru, yang dalam tradisi Melayu disebut "baju raya". Pakaian ini biasanya berupa baju kurung untuk wanita dan baju Melayu untuk pria, yang mencerminkan identitas budaya mereka. Membeli pakaian baru tidak hanya sebagai simbol pembaruan diri, tetapi juga sebagai bentuk rasa syukur atas rezeki yang telah diterima selama setahun.
Tradisi Unik: Lampu Colok sebagai Penerang Spiritual
Salah satu tradisi yang paling menonjol dalam perayaan Lebaran masyarakat Melayu adalah penggunaan lampu colok. Tradisi ini terutama populer di wilayah Riau dan sekitarnya. Lampu colok, yang juga dikenal sebagai "pelite" atau "pelito" dalam bahasa Melayu, adalah lampu tradisional yang terbuat dari bambu, kaleng, atau botol bekas yang diisi dengan minyak tanah dan dilengkapi sumbu.
Masyarakat Melayu menyalakan lampu colok ini pada malam-malam terakhir Ramadan hingga malam takbiran. Lampu-lampu ini biasanya dipasang di depan rumah atau di sepanjang jalan kampung, menciptakan pemandangan yang indah dan menyentuh. Lebih dari sekadar penerangan, lampu colok memiliki makna simbolis yang mendalam.
Dalam kepercayaan masyarakat Melayu, cahaya dari lampu colok melambangkan penerangan spiritual. Mereka percaya bahwa cahaya ini dapat membantu menerangi jalan menuju kebaikan dan membersihkan hati dari kegelapan. Tradisi ini juga dianggap sebagai bentuk penghormatan terhadap arwah leluhur dan sebagai simbol harapan akan masa depan yang lebih cerah.
Beberapa daerah di Riau bahkan mengadakan Festival Lampu Colok sebagai upaya untuk melestarikan tradisi ini. Festival ini tidak hanya menjadi ajang kreativitas masyarakat dalam membuat lampu colok dengan berbagai bentuk dan desain, tetapi juga menjadi daya tarik wisata yang unik.
Advertisement
Berbalas Kunjung: Memperkuat Tali Silaturahmi
Tradisi berbalas kunjung merupakan salah satu ciri khas perayaan Lebaran dalam masyarakat Melayu, terutama di daerah Pontianak, Kalimantan Barat. Tradisi ini lebih dari sekadar kunjungan biasa; ia memiliki aturan dan tata cara tersendiri yang mencerminkan nilai-nilai sosial dan religius yang mendalam.
Prosesi berbalas kunjung dimulai dengan mengunjungi rumah sanak saudara, baik keluarga dekat maupun jauh. Kunjungan ini biasanya dilakukan secara berombongan, menciptakan suasana yang meriah dan penuh keakraban. Setiba di rumah yang dikunjungi, tamu akan melakukan sungkeman kepada tuan rumah yang lebih tua sebagai bentuk penghormatan dan permohonan maaf.
Setelah sungkeman, biasanya ada sesi mendengarkan tausiah atau nasehat agama yang disampaikan oleh sesepuh keluarga. Momen ini menjadi kesempatan untuk saling mengingatkan akan nilai-nilai kebaikan dan pentingnya menjaga hubungan kekeluargaan. Setelah itu, tuan rumah akan menyajikan berbagai hidangan khas Lebaran untuk dinikmati bersama.
Tradisi berbalas kunjung ini bisa berlangsung hingga beberapa hari, bahkan ada yang sampai sebulan lamanya. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya silaturahmi bagi masyarakat Melayu. Melalui tradisi ini, ikatan keluarga diperkuat, perselisihan diakhiri, dan nilai-nilai kebersamaan ditanamkan kepada generasi muda.
Baraan: Tradisi Berhari Raya di Bengkalis
Di Pulau Bengkalis, Riau, terdapat tradisi unik yang disebut Baraan. Kata 'bara'an' berarti berombongan atau beramai-ramai. Tradisi ini menekankan nilai kebersamaan dan silaturahmi dalam merayakan Lebaran.
Pelaksanaan Baraan dimulai sejak 1 Syawal dan bisa berlangsung hingga sepekan lamanya. Masyarakat secara bersamaan, baik tua, muda, pria, maupun wanita, mengunjungi rumah-rumah tetangga dan kerabat secara bergiliran. Di setiap rumah yang dikunjungi, mereka saling bermaaf-maafan, berdoa bersama, dan menikmati hidangan yang telah disiapkan oleh tuan rumah.
Hidangan khas yang disajikan dalam tradisi Baraan sangat beragam, namun yang paling umum adalah ketupat dan opor ayam. Selain itu, berbagai jenis kue tradisional Melayu juga disajikan untuk menambah semarak perayaan. Makanan-makanan ini disiapkan dengan penuh cinta dan keikhlasan oleh tuan rumah, mencerminkan semangat berbagi dan keramahtamahan masyarakat Melayu.
Tradisi Baraan tidak hanya memperkuat ikatan sosial, tetapi juga mengajarkan nilai-nilai positif seperti saling menghormati, berbagi, dan peduli terhadap sesama. Bagi para perantau, Baraan menjadi salah satu alasan kuat untuk pulang kampung saat Lebaran, karena mereka sangat merindukan suasana kebersamaan yang tercipta melalui tradisi ini.
Advertisement
Malam Tujuh Likur: Kenduri Penuh Berkah
Tradisi Malam Tujuh Likur merupakan salah satu warisan budaya yang masih dilestarikan oleh masyarakat Melayu di Kepulauan Riau, khususnya di Kecamatan Moro, Kabupaten Karimun. Tradisi ini berupa kenduri atau acara makan bersama yang dilakukan seminggu sebelum malam Lailatul Qadar, tepatnya pada tanggal 27 Ramadan.
Malam Tujuh Likur diadakan sebagai ungkapan syukur atas nikmat Allah SWT dan untuk memperingati malam yang penuh berkah bagi umat Islam. Pada malam puncaknya, masyarakat saling mengunjungi rumah-rumah warga, menikmati hidangan dan kue tradisional yang telah disiapkan, serta saling mendoakan keberkahan, rahmat, dan rezeki bagi keluarga yang dikunjungi.
Prosesi kenduri Malam Tujuh Likur dilakukan secara gotong royong, mencerminkan semangat kebersamaan yang kuat dalam masyarakat Melayu. Setiap keluarga akan menyiapkan hidangan khas Lebaran untuk dibagikan kepada tetangga dan kerabat. Suasana penuh kekeluargaan dan keakraban tercipta saat mereka berkumpul bersama, menikmati hidangan, dan saling mendoakan.
Tradisi ini tidak hanya memiliki makna religius, tetapi juga menjadi momen untuk mempererat tali silaturahmi antar warga. Melalui Malam Tujuh Likur, masyarakat Melayu mengajarkan pentingnya berbagi kebahagiaan dan keberkahan dengan sesama, terutama di bulan suci Ramadan.
Nyembah Belari: Tradisi Unik di Bintan
Di Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau, terdapat tradisi Lebaran yang unik bernama Nyembah Belari. Keunikan tradisi ini terletak pada cara anak-anak yang hanya berdiri di teras rumah dan menadahkan tangan untuk menerima pernak-pernik dari orang yang lewat.
Prosesi Nyembah Belari dilakukan dengan warga mengunjungi rumah-rumah, terutama di sekitar masjid raya. Mereka akan berlari atau berjalan cepat sambil membawa pernak-pernik seperti uang, permen, atau mainan kecil. Anak-anak yang menunggu di teras rumah akan menadahkan tangan untuk menerima pemberian tersebut.
Partisipasi anak-anak sangat dominan dalam tradisi Nyembah Belari. Mereka dengan antusias menunggu di teras rumah untuk menerima pemberian dari warga yang lewat. Tradisi ini mengajarkan anak-anak tentang pentingnya bersyukur dan menghargai pemberian orang lain.
Nilai sosial yang terkandung dalam tradisi Nyembah Belari adalah berbagi dan kepedulian terhadap sesama. Tradisi ini mempererat hubungan antar warga dan menciptakan suasana penuh keceriaan saat Lebaran. Melalui Nyembah Belari, masyarakat Melayu di Bintan menanamkan nilai-nilai kebaikan dan kebersamaan kepada generasi muda.
Advertisement
Balimau Kasai: Ritual Penyucian Diri
Balimau Kasai merupakan tradisi masyarakat Melayu Riau untuk menyambut bulan Ramadan. Tradisi ini berupa ritual mandi dengan air jeruk nipis dan rempah-rempah lainnya, sebagai simbol penyucian diri sebelum memasuki bulan suci. Meskipun dilaksanakan sebelum Ramadan, Balimau Kasai memiliki kaitan erat dengan persiapan menyambut Lebaran.
Bahan-bahan yang digunakan dalam Balimau Kasai adalah air jeruk nipis atau purut, serta berbagai rempah-rempah yang harum. Campuran ini dipercaya dapat membersihkan badan dan jiwa dari kotoran dan dosa. Selain itu, aroma rempah-rempah juga dipercaya dapat memberikan ketenangan dan kesegaran.
Prosesi Balimau Kasai dimulai dengan mandi bersama menggunakan campuran air jeruk dan rempah-rempah. Ritual ini biasanya dilakukan di sungai atau tempat-tempat terbuka. Setelah mandi, masyarakat biasanya melanjutkan dengan makan bersama dan berbagai kegiatan lainnya yang memperkuat ikatan sosial.
Makna spiritual Balimau Kasai sangat kental dalam tradisi Melayu. Ritual ini melambangkan penyucian diri lahir dan batin sebelum memasuki bulan Ramadan. Dengan membersihkan diri secara fisik dan spiritual, masyarakat Melayu berharap dapat menjalankan ibadah puasa dengan lebih khusyuk dan mendapatkan berkah yang melimpah, yang kemudian akan terbawa hingga perayaan Lebaran.
Tepuk Tepung Tawar: Tradisi Syukur dan Doa
Tepuk Tepung Tawar adalah tradisi Melayu yang dilakukan sebagai ungkapan syukur atas keberhasilan atau acara penting, termasuk dalam perayaan Lebaran. Tradisi ini melibatkan penaburan ramuan seperti tepung beras putih dan kuning, serta berbagai bahan lainnya, yang masing-masing memiliki makna simbolis tersendiri.
Prosesi Tepuk Tepung Tawar dilakukan dengan menaburkan campuran tepung dan ramuan ke atas kepala orang yang akan diberi tepung tawar. Sambil menaburkan, biasanya dibacakan doa-doa khusus untuk menolak bala, menghilangkan penyakit, dan mendatangkan keberkahan. Tradisi ini mencerminkan kepercayaan masyarakat Melayu akan kekuatan doa dan ritual dalam membawa kebaikan.
Dalam konteks Lebaran, Tepuk Tepung Tawar sering dilakukan sebagai bagian dari ritual menyambut hari raya. Prosesi ini bisa dilakukan terhadap anggota keluarga, terutama orang tua atau sesepuh, sebagai bentuk penghormatan dan permohonan doa restu. Selain itu, tradisi ini juga bisa dilakukan terhadap tamu yang berkunjung sebagai bentuk penyambutan yang hangat.
Makna simbolis Tepuk Tepung Tawar sangat kaya. Tepung melambangkan kesucian dan ketulusan hati, sementara ramuan lainnya memiliki makna tersendiri, seperti beras kuning yang melambangkan kemakmuran. Melalui tradisi ini, masyarakat Melayu menyampaikan harapan agar orang yang diberi tepung tawar selalu dijauhkan dari marabahaya dan mendapatkan keberkahan dalam hidupnya.
Advertisement
Kuliner Khas Lebaran Melayu: Cita Rasa Warisan Leluhur
Perayaan Lebaran dalam tradisi Melayu tidak lengkap tanpa kehadiran hidangan-hidangan khas yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan ini. Setiap hidangan memiliki makna dan sejarahnya sendiri, mencerminkan kekayaan kuliner Melayu yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Ketupat menjadi makanan ikonik yang wajib ada di setiap rumah saat Lebaran. Proses pembuatan ketupat yang memerlukan ketelatenan dalam menganyam daun kelapa muda menjadikannya tidak hanya sekadar hidangan, tetapi juga simbol kesabaran dan keterampilan dalam budaya Melayu. Ketupat biasanya disajikan dengan berbagai lauk pauk, seperti rendang atau opor ayam.
Lemang, hidangan nasi yang dimasak dalam bambu, memiliki posisi istimewa dalam tradisi kuliner Hari Raya. Proses pembuatannya yang unik, dimana beras dimasak dalam bambu yang dilapisi daun pisang, menghasilkan cita rasa dan aroma yang khas. Lemang biasanya disajikan bersama rendang, yang merupakan masakan daging dengan bumbu rempah khas Melayu.
Kuih raya atau kue lebaran menjadi sajian yang tidak boleh ketinggalan dalam perayaan ini. Berbagai jenis kue tradisional, baik yang kering maupun basah, disiapkan untuk menyambut tamu yang berkunjung. Setiap jenis kuih memiliki rasa dan bentuk yang unik, mencerminkan kekayaan kuliner tradisional Melayu.
Tradisi memasak dan menyajikan hidangan Hari Raya juga menjadi momen untuk menurunkan resep-resep tradisional dari generasi ke generasi. Para ibu akan mengajarkan anak-anak mereka cara membuat hidangan khas ini, memastikan bahwa warisan kuliner Melayu tetap terjaga. Melalui hidangan-hidangan ini, masyarakat Melayu tidak hanya berbagi makanan, tetapi juga mewariskan nilai-nilai budaya dan kekeluargaan.
Pakaian Tradisional: Kemegahan Busana Raya
Pakaian tradisional memegang peranan penting dalam perayaan Hari Raya di masyarakat Melayu. Baju Melayu untuk pria dan Baju Kurung untuk wanita menjadi pilihan utama yang menampilkan keanggunan dan keagungan budaya Melayu. Setiap tahun, desainer-desainer lokal berlomba menciptakan interpretasi modern dari pakaian tradisional ini, sambil tetap mempertahankan elemen-elemen klasik yang menjadi ciri khasnya.
Baju Melayu, yang dikenakan oleh pria, hadir dalam berbagai variasi warna dan motif. Pakaian ini terdiri dari atasan longgar dengan kerah tegak, celana panjang, dan dilengkapi dengan kain samping atau songket yang dikenakan di pinggang. Penggunaan songket dengan motif-motif tradisional menambah nilai estetika dan kemewahan pada penampilan pemakainya.
Baju Kurung, pakaian tradisional wanita Melayu, mencerminkan kesopanan dan keanggunan pemakainya. Desainnya yang longgar dan menutupi tubuh tidak hanya memenuhi syariat Islam tetapi juga memberikan kenyamanan. Perkembangan mode telah menghadirkan berbagai interpretasi modern Baju Kurung, namun tetap mempertahankan esensi dan nilai-nilai tradisionalnya.
Warna-warna cerah dan motif-motif khas Melayu menjadi pilihan populer dalam berbusana saat Hari Raya. Setiap warna memiliki makna simbolis tersendiri, dan pemilihan warna sering kali mencerminkan status sosial atau pesan tertentu yang ingin disampaikan pemakainya. Melalui pakaian tradisional ini, masyarakat Melayu tidak hanya menampilkan identitas budaya mereka, tetapi juga melestarikan warisan leluhur dalam bentuk yang indah dan bermakna.
Advertisement
Dekorasi dan Ornamen: Mempercantik Suasana Raya
Dekorasi rumah menjadi bagian penting dalam menyambut Hari Raya dalam tradisi Melayu. Selain lampu colok yang telah dibahas sebelumnya, ada berbagai elemen dekorasi lain yang digunakan untuk menciptakan suasana meriah dan penuh makna.
Ketupat yang masih dalam bentuk anyaman daun kelapa muda sering digantung sebagai hiasan di rumah-rumah. Selain nilai estetikanya, ketupat dalam bentuk anyaman ini juga melambangkan kesabaran dan ketelatenan yang diperlukan dalam menganyamnya. Hiasan ketupat ini biasanya akan tetap dipajang hingga beberapa minggu setelah Hari Raya.
Penggunaan kain-kain berwarna-warni, terutama yang bermotif tradisional Melayu, juga menjadi ciri khas dekorasi Lebaran. Kain-kain ini bisa digunakan sebagai taplak meja, penutup kursi, atau digantung sebagai hiasan dinding. Motif-motif seperti pucuk rebung, bunga melati, atau kaligrafi Islam sering menjadi pilihan populer.
Bunga-bunga segar, terutama bunga rampai yang terdiri dari berbagai jenis bunga dan daun wangi, juga menjadi bagian dari dekorasi Lebaran. Bunga-bunga ini tidak hanya mempercantik ruangan tetapi juga memberikan aroma segar yang menyambut tamu yang berkunjung.
Di ruang tamu, biasanya disediakan tempat khusus untuk meletakkan Al-Quran dan tasbih, sebagai pengingat akan makna spiritual dari perayaan Lebaran. Beberapa keluarga juga menambahkan foto-foto keluarga atau lukisan kaligrafi Islam sebagai bagian dari dekorasi.
Pusat-pusat perbelanjaan dan ruang publik juga tidak ketinggalan dalam memeriahkan suasana Hari Raya. Dekorasi yang megah dengan kombinasi warna-warni tradisional Melayu menciptakan atmosfer perayaan yang meriah. Elemen-elemen dekorasi modern sering dipadukan dengan motif-motif tradisional, menciptakan tampilan yang kontemporer namun tetap menghormati warisan budaya.
Aktivitas Sosial dan Keagamaan: Memperkuat Nilai Spiritual
Perayaan Hari Raya dalam tradisi Melayu tidak terlepas dari aktivitas sosial dan keagamaan yang memperdalam makna spiritual perayaan ini. Sholat Ied berjamaah di masjid menjadi ritual utama yang menandai dimulainya perayaan Hari Raya. Ribuan umat Muslim berkumpul di masjid-masjid, mengenakan pakaian terbaik mereka, untuk melaksanakan ibadah bersama-sama dalam suasana yang khusyuk dan penuh makna.
Tradisi ziarah kubur juga menjadi bagian penting dalam rangkaian perayaan Hari Raya. Masyarakat Melayu mengunjungi makam keluarga dan kerabat yang telah mendahului, membersihkan area pemakaman, dan mendoakan arwah mereka. Kegiatan ini bukan sekadar ritual, tetapi juga menjadi pengingat akan kehidupan dan momen untuk mengenang jasa serta kebaikan orang-orang yang telah tiada.
Kegiatan amal dan berbagi dengan sesama mendapat perhatian khusus selama periode Hari Raya. Banyak masyarakat Melayu yang berpartisipasi dalam berbagai program sosial, seperti membagikan makanan, memberikan santunan kepada anak yatim, atau membantu mereka yang kurang beruntung. Aktivitas ini mencerminkan nilai-nilai Islam yang mengajarkan pentingnya berbagi kebahagiaan dengan sesama.
Selain itu, tradisi membaca Al-Quran bersama keluarga atau menghadiri pengajian khusus Lebaran juga menjadi bagian dari aktivitas spiritual selama perayaan ini. Kegiatan-kegiatan ini tidak hanya memperkuat ikatan keluarga dan komunitas, tetapi juga mengingatkan akan esensi sejati dari perayaan Idul Fitri sebagai momen untuk meningkatkan ketakwaan dan memperbaiki diri.
Advertisement
Duit Raya: Tradisi Memberi yang Penuh Makna
Duit Raya merupakan tradisi memberikan uang kepada anak-anak dan mereka yang lebih muda sebagai bentuk kasih sayang dan keberkahan. Tradisi ini memiliki makna mendalam sebagai simbol berbagi kebahagiaan dan kemakmuran. Amplop hijau khas yang digunakan untuk membungkus Duit Raya melambangkan kesegaran dan harapan akan kehidupan yang lebih baik.
Etika dalam memberikan dan menerima Duit Raya sangat diperhatikan dalam tradisi Melayu. Pemberian dilakukan dengan tangan kanan dan disertai ucapan yang baik, sementara penerima diharapkan menerima dengan kedua tangan sebagai bentuk penghormatan. Anak-anak juga diajarkan untuk mengucapkan terima kasih dan mendoakan pemberi Duit Raya.
Besaran Duit Raya bervariasi tergantung pada kemampuan pemberi dan hubungan kekerabatan. Yang terpenting bukanlah jumlah uang yang diberikan, melainkan niat baik dan keberkahan yang menyertainya. Tradisi ini juga mengajarkan nilai-nilai positif kepada anak-anak tentang pentingnya menghormati orang yang lebih tua dan berbagi dengan sesama.
Melalui tradisi Duit Raya, masyarakat Melayu tidak hanya berbagi kebahagiaan secara material, tetapi juga menanamkan nilai-nilai moral dan etika kepada generasi muda. Tradisi ini menjadi sarana untuk mempererat hubungan antar generasi dan menjaga kesinambungan nilai-nilai budaya Melayu.
Kesimpulan
Tradisi lebaran pada masyarakat Melayu merupakan warisan budaya yang kaya akan makna dan nilai-nilai luhur. Dari lampu colok yang menerangi malam-malam terakhir Ramadan, hingga tradisi berbalas kunjung yang memperkuat tali silaturahmi, setiap elemen dalam perayaan ini mencerminkan identitas dan kearifan lokal masyarakat Melayu.
Keunikan tradisi-tradisi ini tidak hanya menjadi daya tarik budaya, tetapi juga menjadi sarana untuk melestarikan nilai-nilai kebersamaan, kepedulian sosial, dan spiritualitas dalam kehidupan modern. Meskipun zaman terus berubah, esensi dari perayaan Lebaran dalam masyarakat Melayu tetap terjaga, menciptakan harmoni antara warisan masa lalu dan tuntutan masa kini.
Penting bagi generasi muda untuk terus mempelajari dan melestarikan tradisi-tradisi ini. Dengan memahami makna di balik setiap ritual dan kebiasaan, mereka tidak hanya menjaga warisan budaya, tetapi juga mempertahankan nilai-nilai yang menjadi fondasi kehidupan bermasyarakat yang harmonis.
Pada akhirnya, tradisi lebaran pada masyarakat Melayu bukan sekadar serangkaian kegiatan atau ritual, melainkan cerminan dari filosofi hidup yang menjunjung tinggi kebersamaan, spiritualitas, dan penghormatan terhadap leluhur. Melalui perayaan ini, masyarakat Melayu tidak hanya merayakan kemenangan setelah berpuasa, tetapi juga memperbarui komitmen mereka untuk hidup dalam keharmonisan dan kebajikan.
Advertisement
