Liputan6.com, Jakarta Parental abduction adalah tindak melarikan, membawa, menyembunyikan anak yang dilakukan oleh salah satu orangtua kandung dari orangtua satunya selaku pemilik hak asuh.
Menurut data yang diungkap Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), kasus parental abduction di Indonesia menimpa 476 anak sejak 2011-2017.
Advertisement
Baca Juga
Bukan data paling mutakhir, tapi angka ini menggambarkan bahwa parental abduction adalah hal serius yang perlu diperhatikan pemerintah. Psikolog Anak, Seto Mulyadi mengungkapkan parental abduction berdampak buruk bagi anak.
Advertisement
"Dampak dari parental abduction sangat berbahaya bagi anak termasuk dampak psikologis, gangguan emosional, sosial, serta perkembangan anak," kata Ketua Lembaga Perlindungan Anak di Indonesia (LPAI) itu saat hadir secara daring dalam temu media di Jakarta, Selasa (11/2/2025).
“Jika kita telaah lagi, saat kedua orangtua memiliki hubungan yang tidak baik dan ini disadari oleh anaknya, tentu akan ada pertanyaan dalam diri anaknya, apalagi ketika ia melihat bahwa ada bentuk usaha dari salah satu orangtua yang ‘menculiknya’ dan menyembunyikannya dari orangtua lainnya,” kata pria yang akrab disapa Kak Seto.
Contoh Kasus Parental Abduction
Salah satu contoh kasus parental abduction yang terjadi di Indonesia, dialami oleh anak dari ibu bernama Angelia Susanto.
“Saya sudah lima tahun terpisah dari anak saya yang waktu itu umurnya enam tahun. Dia diculik di atas jembatan Casablanca dan ini cara ngambilnya kayak mafia banget,” kata Angelia dalam kesempatan yang sama.
Menurutnya, parental abduction atau perampasan anak oleh mantan suami yang merupakan warga negara Filipina prosesnya mirip dengan kasus yang banyak terjadi di Filipina.
“Di Filipina sering banget anak jalan ke sekolah diculik dengan polisi bersenjata. Ini mirip, anak saya disetop oleh oknum polisi bermotor besar, polisi jalan raya gitu, sopirnya diberhentikan disibukkan oleh polisi, ditanya macam-macam, dibilang mau ditilang.”
“Kemudian ada mobil yang tidak dikenal datang dan langsung mengambil anak saya. Dia ngaku bapaknya, sopir tidak kenal tapi sopir dibentak oleh polisi supaya tidak melakukan apa-apa. Jadi gaya-gayanya sangat mafia banget,” kenang Angelia Susanto.
Dia ingat betul, kasus ini terjadi pada 30 Januari 2020 pukul 06.00 pagi dan sejak saat itu ia tak pernah bertemu lagi dengan sang anak.
“Sejak itu saya tidak pernah melihat, ketemu, mendengar, anak saya sama sekali. Saat ini harusnya EJ (inisial anak) sudah 12 tahun, tapi dia sama sekali enggak kontak saya. Saya percaya brainwash (cuci otak) itu nyata dan terjadi,” kata Angelia Susanto.
Lima Tahun Terpisah dengan Anak Tanpa Kabar
Angelia menyayangkan, ada oknum polisi yang bisa membantu proses parental abduction. Dan hingga kini polisi itu tak terlacak identitasnya.
Genap lima tahun, parental abduction memisahkan Angelia dengan sang anak. Selama itu pula ia tak mengetahui sang anak berada di belahan dunia yang mana dan bagaimana kabarnya.
“Sampai sekarang saya tidak tahu mereka (EJ dan mantan suami) ada di mana, di belahan dunia yang mana. Saya tidak tahu apakah mereka masih hidup atau tidak. Tidak ada data yang bisa menunjukkan mereka ada di mana. Data imigrasi saya cek setiap tahun dan setiap saat tidak pernah ada data yang menunjukkan.”
Padahal, dokumen EJ ada di Angelia, sehingga jika pun EJ berhasil dibawa ke luar negeri, berarti sang mantan suami diduga melakukan pemalsuan dokumen, hal ini masih menjadi pertanyaan di benak Angel.
Advertisement
Motif Parental Abduction
Bebagai upaya telah dilakukan Angel untuk menemukan kembali sang anak. Termasuk membuat laporan sana-sini, sayangnya, upaya itu tak kunjung membuahkan hasil yang memuaskan.
“Saya bilang (mantan suami) penculik karena MK (Mahkamah Konstitusi) melegalkan bahwa itu adalah penculikan, mengambil paksa anak. Karena mantan suami kita itu rata-rata KDRT (kekerasan dalam rumah tangga).”
Lantas, apakah parental abduction terjadi akibat ayah terlalu sayang sehingga merampas anak dari ibu, atau semata-mata ingin balas dendam pada mantan istri?
“Kalau ditanya apakah motifnya sayang anak atau karena mau balas dendam pada mantan istri, saya bilang karena mau balas dendam,” kata Angel kepada Health Liputan6.com.
Korban KDRT
Selama menjalin rumah tangga dengan mantan suami, Angel tak jarang mendapat perlakuan buruk bahkan KDRT.
“Saya dipukulin bolak-balik selama 25 tahun kita berumah tangga, dan itu enggak apa-apa karena waktu itu cuman kita berdua aja. Tapi setelah anak saya lahir, saya enggak bisa. Antara saya yang mati atau anak saya yang mati dan saya tidak mau menunggu sampai itu terjadi biar jadi berita viral.”
“Saya enggak punya foto, enggak punya bukti karena saat saya dipukulin atau didorong keluar dari mobil, dari gedung bertingkat itu masih dalam status perkawinan. Saya tidak pernah bikin visum, bodohnya, saya tidak pernah bikin rekaman, karena saya anggap masih suami istri, kita harus memperbaiki ini, saya tidak mengenal perceraian,” jelasnya.
Setelah sang anak lahir, ia mantap bercerai dan sang mantan suami mengincar anak tersebut. Padahal, setelah cerai, Angel tetap memberi akses mantan suami untuk bertemu EJ.
“Anak saya bawa ketemu sama dia (mantan suami), makanya anak kenal sekali sama bapaknya, setiap minggu setiap dua minggu anak saya bawa ketemu sama bapaknya. Kita selalu pergi bersama-sama karena saya pikir anak perlu merasakan punya dua orangtua yang utuh.”
Tanpa disangka, penculikan pun terjadi, dan kini Angel berharap negara hadir untuk membantu para korban parental abduction agar kembali ke pelukan pemilik hak asuh.
Advertisement
