Liputan6.com, Jakarta Di tengah tren kecerdasan buatan (AI) yang semakin mendominasi dunia seni, nama Hayao Miyazaki mencuat ke permukaan. Sutradara legendaris sekaligus pendiri Studio Ghibli ini dikenal dengan dedikasinya terhadap animasi tradisional, yang kaya akan detail, kehangatan, dan sentuhan tangan manusia.
Baca Juga
Advertisement
Belakangan ini, internet diramaikan oleh kemunculan gambar bergaya Studio Ghibli yang dihasilkan oleh AI. Hanya dengan memasukkan perintah tertentu, pengguna bisa mengubah foto biasa menjadi ilustrasi bernuansa magis ala film-film Ghibli. Tren ini dengan cepat menjadi viral di berbagai platform media sosial seperti Instagram dan X (dulu Twitter), memperlihatkan betapa AI mampu meniru estetika ikonik yang telah Miyazaki bangun selama puluhan tahun.
Namun, di balik fenomena ini, muncul perdebatan mengenai peran teknologi dalam seni. Miyazaki sendiri telah lama mengkritik penggunaan AI dalam animasi. Baginya, karya seni sejati lahir dari pengalaman, emosi, dan dedikasi manusia, bukan sekadar hasil algoritma. Sikapnya ini mencerminkan pandangan lebih luas tentang bagaimana teknologi seharusnya digunakan dalam industri kreatif. Berikut ulasan lebih lanjut tentang sosok Hayao Miyazaki yang Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Jumat (4/4/2025).
Hayao Miyazaki, Maestro Animasi dengan Dedikasi Tanpa Batas
Hayao Miyazaki adalah seorang visioner yang telah mengubah wajah industri animasi global. Lahir di Tokyo, Jepang, pada 5 Januari 1941, Miyazaki tumbuh dalam lingkungan yang dekat dengan dunia penerbangan. Ayahnya, Katsuji Miyazaki, adalah direktur perusahaan Miyazaki Airplane, yang memproduksi komponen pesawat tempur selama Perang Dunia II. Latar belakang ini secara tidak langsung memengaruhi karya-karyanya, yang sering kali menampilkan elemen penerbangan dan teknologi mesin dalam dunia fantasi yang ia ciptakan.
Sejak kecil, Miyazaki sudah menunjukkan ketertarikannya pada seni menggambar, khususnya manga. Awalnya, ia mengalami kesulitan menggambar manusia dan lebih sering melukis pesawat, tank, serta kapal perang. Ketertarikannya pada dunia manga semakin berkembang ketika ia mengenal karya Osamu Tezuka, sosok yang banyak menginspirasinya di awal karier. Namun, seiring waktu, Miyazaki menyadari bahwa meniru gaya Tezuka justru membatasi kreativitasnya, sehingga ia mulai mengembangkan gaya khasnya sendiri.
Meskipun kemudian ia menempuh pendidikan di Universitas Gakushuin dengan jurusan Ilmu Politik dan Ekonomi, kecintaannya pada seni tidak luntur. Ia aktif dalam klub penelitian sastra anak-anak, tempat ia semakin mendalami dunia manga dan animasi. Keputusan untuk mendalami animasi membawa Miyazaki ke dunia yang kemudian ia kuasai dengan penuh dedikasi.
Dengan keahliannya dalam menggambarkan dunia fantasi yang kaya detail serta narasi yang menyentuh, Miyazaki akhirnya mendirikan Studio Ghibli, rumah bagi film-film animasi legendaris seperti My Neighbor Totoro, Spirited Away, dan Princess Mononoke. Setiap karyanya tidak hanya menampilkan visual yang indah, tetapi juga menyampaikan pesan mendalam tentang alam, kemanusiaan, dan kehidupan.
Dikenal sebagai seorang perfeksionis, Miyazaki selalu menekankan pentingnya animasi tradisional yang dikerjakan dengan tangan, sebuah pendekatan yang semakin jarang ditemukan di era digital. Prinsip inilah yang membuatnya menjadi salah satu sosok paling dihormati dalam industri animasi, menjadikannya maestro sejati yang pengaruhnya akan terus hidup dalam setiap generasi pecinta film animasi.
Kecintaan Hayao Miyazaki pada Animasi
Miyazaki sempat beberapa kali mengumumkan pensiun, pertama kali setelah Princess Mononoke dan kemudian setelah The Wind Rises (2013). Namun, kecintaannya pada animasi membawanya kembali ke dunia perfilman. Proyek terbarunya, The Boy and the Heron (2023), kembali membuktikan bahwa semangatnya dalam menciptakan kisah yang magis dan menyentuh hati masih belum pudar.
Dengan warisan karyanya yang luar biasa, Hayao Miyazaki tetap menjadi simbol utama dalam dunia animasi, seorang seniman sejati yang terus menginspirasi generasi animator dan penonton di seluruh dunia.
Advertisement
Perjalanan Karier Hayao Miyazaki
Perjalanan karier Hayao Miyazaki dalam industri animasi dimulai pada tahun 1963 ketika ia bergabung dengan Toei Animation sebagai animator pemula. Bakatnya dengan cepat berkembang, dan ia mulai terlibat dalam berbagai proyek animasi besar. Salah satu kontribusi awalnya yang menonjol adalah dalam film Gulliver’s Travels Beyond the Moon, di mana idenya digunakan sebagai akhir dari film tersebut.
Langkah besar dalam kariernya terjadi pada tahun 1979 ketika ia menyutradarai film panjang pertamanya, Lupin III: The Castle of Cagliostro. Meskipun film ini tidak langsung sukses secara komersial, ia mendapat banyak pujian karena teknik animasinya yang inovatif dan penceritaannya yang menarik. Namun, titik balik sejati terjadi pada tahun 1984 dengan dirilisnya Nausicaä of the Valley of the Wind. Film ini sukses besar, tidak hanya secara finansial tetapi juga dalam membangun reputasi Miyazaki sebagai sutradara visioner. Keberhasilan ini menjadi fondasi bagi pendirian Studio Ghibli pada tahun 1985, yang ia dirikan bersama koleganya, Isao Takahata.
Era Keemasan Studio Ghibli
Di bawah naungan Studio Ghibli, Miyazaki menciptakan berbagai film animasi yang menjadi ikon dunia. Salah satu film yang paling berpengaruh adalah My Neighbor Totoro (1988), yang memperkenalkan karakter Totoro, yang kemudian menjadi maskot Studio Ghibli.
Film Princess Mononoke (1997) mencetak rekor box office di Jepang sebelum akhirnya dikalahkan oleh Titanic. Namun, puncak kejayaan Miyazaki datang melalui Spirited Away (2001), yang tidak hanya menjadi film anime terlaris saat itu tetapi juga memenangkan Academy Award untuk Best Animated Feature. Ini menjadikannya film anime pertama yang meraih penghargaan Oscar, sekaligus mengukuhkan Miyazaki sebagai salah satu maestro animasi paling berpengaruh di dunia.
Miyazaki dikenal dengan gaya khasnya yang sering mengangkat tema lingkungan, hubungan manusia dengan teknologi, serta karakter perempuan yang kuat dan mandiri. Ia juga dikenal sebagai kritikus kapitalisme dan globalisasi, yang tercermin dalam banyak karyanya.
Penghargaan dan Pengakuan Global untuk Hayao Miyazaki
Sepanjang kariernya, Miyazaki telah menerima berbagai penghargaan bergengsi. Filmnya Howl’s Moving Castle (2004) menerima Penghargaan Osella di Festival Film Internasional Venesia 2004. Ia juga dianugerahi Golden Lion untuk Prestasi Seumur Hidup di Festival Film Internasional Venesia 2005 dan Honorary Oscar® untuk Prestasi Seumur Hidup pada 2014 oleh Academy of Motion Picture Arts and Sciences.
Pada 2024, Miyazaki kembali mendapatkan penghargaan prestisius, yaitu Ramon Magsaysay Award, yang dikenal sebagai Nobel versi Asia. Penghargaan ini diberikan sebagai pengakuan atas dedikasinya seumur hidup dalam menggunakan animasi sebagai medium untuk menerangi kondisi manusia dan menginspirasi generasi muda.
Kritik Hayao Miyazaki terhadap AI dalam Animasi
Sebagai maestro animasi yang selalu menekankan pentingnya sentuhan manusia dalam seni, Hayao Miyazaki adalah salah satu sosok yang paling vokal dalam menentang penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam industri animasi. Baginya, seni bukan sekadar hasil algoritma, melainkan ekspresi jiwa, pengalaman, dan emosi manusia.
Dalam sebuah wawancara, Miyazaki pernah menyatakan bahwa animasi yang dibuat dengan AI adalah “penghinaan terhadap kehidupan itu sendiri.” Kritik ini mencerminkan pandangannya bahwa seni yang diciptakan tanpa jiwa dan pemahaman mendalam tentang kehidupan hanya akan menghasilkan karya yang kosong dan mekanis. Sikapnya ini semakin jelas ketika dalam sebuah demonstrasi teknologi AI pada 2016, ia melihat animasi makhluk tanpa kepala yang dibuat oleh algoritma. Miyazaki menyebut animasi tersebut "menyedihkan" dan mencerminkan kurangnya penghargaan terhadap nilai seni dan kehidupan.
Kritik keras Miyazaki terhadap AI semakin relevan di tengah tren viral yang berkembang di media sosial, di mana banyak pengguna mengubah foto mereka menjadi gambar bergaya Studio Ghibli menggunakan AI. Visual khas Studio Ghibli, yang kaya akan nuansa cat air dan detail tangan, kini bisa ditiru dalam hitungan detik oleh algoritma tanpa keterlibatan manusia. Fenomena ini menimbulkan perdebatan besar, terutama terkait hak cipta dan etika dalam seni.
Sebagian pihak menganggap penggunaan AI untuk menciptakan gambar bergaya Ghibli sebagai bentuk pelanggaran hak kekayaan intelektual. Gaya visual Studio Ghibli telah dibangun melalui proses kreatif bertahun-tahun oleh Miyazaki dan timnya, sehingga menirunya, bahkan dengan AI, dianggap tidak dapat diterima oleh banyak seniman dan penggemar. Salah satu pengguna media sosial menyebut bahwa penggunaan AI untuk menciptakan gambar ala Ghibli membuat seni yang penuh cinta terasa “murah.”
Namun, di sisi lain, ada pula yang berpendapat bahwa selama karya AI ini tidak digunakan untuk kepentingan komersial, maka penggunaannya masih dapat diterima. Dalam konteks hukum, Jepang sendiri memiliki regulasi hak cipta yang cukup longgar untuk pengembangan AI. Undang-Undang Hak Cipta Jepang yang direvisi pada 2018 mengizinkan penggunaan konten berhak cipta untuk analisis dan pelatihan AI tanpa perlu izin dari pemegang hak cipta. Hal ini memungkinkan perusahaan AI untuk menggunakan karya seni yang sudah ada sebagai bahan pelatihan, meskipun hasil akhirnya masih menjadi perdebatan hukum.
Masa Depan AI dalam Animasi
Meski secara legal AI mungkin masih berada dalam wilayah abu-abu, permasalahan etika tetap menjadi sorotan utama. Apakah menciptakan seni tanpa keterlibatan manusia masih bisa disebut sebagai karya seni? Apakah penggunaan AI untuk meniru gaya tertentu merupakan bentuk apresiasi atau justru eksploitasi?
Bagi Miyazaki, jawabannya jelas. Seni harus tetap memiliki sentuhan manusia, karena di sanalah letak keindahan dan makna sejatinya. Pandangannya ini mencerminkan keteguhan seorang seniman yang selalu mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan dalam setiap karyanya. Meskipun teknologi terus berkembang, kritik kerasnya terhadap AI menjadi pengingat bahwa tidak semua hal dapat (atau seharusnya) digantikan oleh mesin.
Advertisement
