Liputan6.com, Jakarta - Perbedaan pendapat dalam berbagai hal kerap terjadi di tengah masyarakat. Tidak jarang, perbedaan tersebut memicu perdebatan panjang yang justru tidak menghasilkan solusi, terutama ketika para pihak yang berdebat tidak memiliki ilmu yang cukup tentang topik yang mereka bahas.
Fenomena ini menjadi perhatian banyak ulama, termasuk KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau yang lebih dikenal dengan Gus Baha. Dalam sebuah ceramahnya, Gus Baha menyoroti kebiasaan sebagian orang yang gemar berdebat tanpa mendalami ilmu terlebih dahulu.
Dalam pandangan Gus Baha, orang yang sering berdebat tanpa ilmu bisa jadi disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, karena ketidaktahuan atau kebodohan. Kedua, karena sifat sombong. Dan ketiga, karena tidak memiliki kesibukan yang lebih bermanfaat.
Advertisement
Pernyataan ini dikutip Liputan6.com dari ceramahnya di kanal YouTube @SUDARNOPRANOTO. Dalam tayangan tersebut, Gus Baha mengkritik bagaimana sebagian orang terlalu cepat mengomentari hal-hal yang sebenarnya berada di luar kapasitas mereka.
Salah satu contoh yang diangkat adalah perdebatan mengenai perbedaan penentuan awal Syawal antara NU dan Muhammadiyah. Menurut Gus Baha, banyak orang sibuk berdebat tentang perbedaan metode yang digunakan oleh kedua organisasi tersebut tanpa memahami ilmu falak secara mendalam.
Padahal, jika ingin memahami alasan perbedaan tersebut, seharusnya seseorang belajar ilmu falak. Dengan memahami ilmu astronomi, maka segala tuduhan dan kecurigaan terhadap satu pihak tidak akan terjadi.
Namun yang sering terjadi, banyak orang justru lebih suka mengomentari sesuatu tanpa dasar ilmu. Mereka berdebat dengan penuh emosi, tetapi tidak mau bersusah payah untuk mendalami ilmu yang berkaitan dengan persoalan yang diperdebatkan.
Baca Juga
Simak Video Pilihan Ini:
Tak Punya Ilmunya Jangan Ikut-ikutan
Gus Baha juga menyinggung kecenderungan sebagian orang yang mudah menuduh pemerintah lebih condong kepada salah satu pihak dalam menetapkan awal bulan Hijriyah. Padahal, jika seseorang memahami ilmu falak, semua keputusan bisa dijelaskan secara objektif.
Ilmu astronomi adalah ilmu pasti yang memiliki dasar perhitungan yang jelas. Tidak seharusnya persoalan ini dikaitkan dengan politik atau kepentingan tertentu.
Bagi orang yang memang tidak memiliki dasar ilmu dalam bidang ini, sebaiknya tidak ikut-ikutan berdebat. Jika tetap ingin memahami, maka jalan terbaik adalah belajar dengan sungguh-sungguh, bukan sekadar ikut berkomentar tanpa landasan ilmu.
Menurut Gus Baha, salah satu penyakit masyarakat saat ini adalah terlalu cepat beropini tanpa memiliki pengetahuan yang cukup. Hal ini sering kali menyebabkan kegaduhan yang tidak perlu.
Alih-alih mencari kebenaran, perdebatan semacam ini justru hanya memperkeruh suasana dan membuat masyarakat semakin terpecah-belah.
Seharusnya, jika seseorang tidak memahami suatu persoalan, maka yang paling bijak adalah bertanya kepada ahlinya. Dengan demikian, penjelasan yang didapatkan lebih akurat dan tidak sekadar berdasarkan asumsi pribadi.
Advertisement
Ilmu Kedudukannya Tinggi
Selain itu, Gus Baha juga mengingatkan bahwa dalam Islam, ilmu memiliki kedudukan yang sangat tinggi. Seorang Muslim yang baik seharusnya lebih mengutamakan pencarian ilmu daripada sekadar berdebat tanpa arah.
Orang yang memahami ilmu dengan baik akan lebih bijak dalam menyikapi perbedaan. Mereka tidak mudah terpancing emosi dan lebih mampu melihat suatu persoalan dengan sudut pandang yang lebih luas.
Jika semua orang mau belajar dan mendalami ilmu sesuai bidangnya, maka berbagai perbedaan yang ada tidak akan menjadi pemicu perpecahan. Sebaliknya, perbedaan tersebut justru bisa menjadi ladang diskusi yang sehat dan saling melengkapi.
Gus Baha berharap agar masyarakat lebih fokus dalam menambah wawasan dibandingkan hanya sibuk berdebat. Dengan begitu, umat Islam bisa lebih maju dalam berbagai bidang tanpa harus terjebak dalam konflik yang tidak perlu.
Berhenti sejenak untuk belajar dan merenung jauh lebih baik daripada terjebak dalam perdebatan yang tidak berujung. Dengan pemahaman yang lebih dalam, seseorang akan lebih mudah menerima perbedaan dan tidak mudah terprovokasi oleh opini yang tidak berdasar.
Di akhir ceramahnya, Gus Baha menegaskan bahwa ilmu bukan sekadar untuk dipelajari, tetapi juga harus diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan ilmu yang benar, seseorang bisa lebih bijak dalam berbicara dan bertindak.
Penulis: Nugroho Purbo/Madrasah Diniyah Miftahul Huda 1 Cingebul
