Ma'ruf Amin dan Mendagri Tito Soroti Dugaan Pencurian Alat Deteksi Gempa di Gunung Marapi

Wapres Ma'ruf Amin dan Mendagri Tito meminta, pihak-pihak terkait mengantisipasi dan mencegah terjadinya pencurian alat deteksi gempa di Gunung Marapi.

oleh Hanz Jimenez Salim diperbarui 07 Des 2023, 14:52 WIB
Diterbitkan 07 Des 2023, 14:31 WIB
Evakuasi korban erupsi Gunung Marapi
Foto selebaran yang diambil pada 4 Desember 2023 dan dirilis pada 5 Desember 2023 oleh Badan SAR Nasional (BASARNAS) ini menunjukkan para petugas penyelamat mengevakuasi salah satu korban dari lereng Gunung Marapi di Sumatra Barat. (Handout / BASARNAS / AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Wakil Presiden RI, Ma'ruf Amin, angkat bicara mengenai dugaan pencurian alat deteksi gempa di Gunung Marapi, Sumatera Barat.

Ma'ruf meminta, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Agam dan BPBD Tanah Datar bekerja sama dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) untuk memperketat pemantauan, termasuk terhadap alat deteksi gempa atau erupsi gunung api yang rawan hilang. Hal ini seperti terjadi pada alat pemantau Gunung Marapi yang sempat dicuri, sehingga erupsi sulit dideteksi.

"Seperti tadi dikatakan ada yang dicuri ya, itu supaya pengamanannya (diperketat). Jadi ke depan hal-hal seperti ini harus lebih dibenahi, hal-hal yang mencegah kemungkinan terjadinya pendakian pada saat situasi berbahaya," kata Ma'ruf dilansir dari Antara, Kamis (7/12/2023).

Hal yang sama juga disampaikan Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Tito Karnavian. Menurut dia, perlu langkah antisipasi guna mencegah terjadinya pencurian alat deteksi gempa.

Tito juga berencana mengadakan rapat dengan seluruh kepala daerah supaya lebih responsif dalam menghadapi potensi bencana di daerah masing-masing.

"Kami lakukan evaluasi mulai dari sistem peringatan dini yang harus dipikirkan langkah-langkah untuk bagaimana peralatan tersebut tidak sampai dicuri, dijaga melalui kerja sama dengan kepolisian, dengan yang menjaga konservasi, polisi hutan di sana," tambah Tito.

Selain sistem peringatan dini, menurut Tito, setiap daerah juga harus aktif menyelenggarakan simulasi respon bencana, seperti yang telah dilakukan oleh Sulawesi Barat.

"Masing-masing daerah perlu melakukan drill (simulasi) sehingga jangan sampai terjadi kejadian baru responsif. Jadi, sudah ada langkah-langkah kalau terjadi apa-apa ada plan A, plan B-nya," ujar mantan Kapolri itu.

* Follow Official WhatsApp Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.


Baterai Aki Stasiun Pemantauan Gunung Marapi Dicuri Bagaimana Pemantauan Aktivitasnya?

Gunung Marapi Erupsi
Gunung Marapi memuntahkan abu vulkanik dari kawahnya di Agam, Sumatera Barat, Indonesia, Selasa (5/12/2023). Pihak berwenang Indonesia pada Senin menghentikan pencarian belasan pendaki setelah gunung berapi Gunung Marapi meletus lagi, mengeluarkan semburan abu panas baru sebagai setinggi 800 meter (2.620 kaki) ke udara, kata para pejabat. (AP Photo/Givo Alputra)

Sebuah baterai stasiun pemantauan Gunung Marapi di Sumatera Barat hilang dicuri pada 30 Maret 2023, yang mengakibatkan terganggunya aktivitas gunung aktif tersebut untuk sementara.

Baterai aki yang dicuri itu, yakni Stasiun Guguak Solang yang terletak di arah selatan tenggaranya Gunung Marapi atau di Jorong Talang, Dasun Kenagarian Pasir Laweh, Kecamatan Sungai Tarab, Kabupaten Tanah Datar.

 Kepala Pos Pemantauan Gunung Api Marapi di Bukittinggi, Teguh Purnomo, mengatakan hilangnya aki tersebut diketahui karena terputusnya sinyal radio dari stasiun itu dan adanya laporan dari warga.

"Baterai Aki itu menurut Teguh bermerek SMT 12100 dengan harga jual sekitar Rp3 juta," jelasnya, Jumat, 7 April 2023. 

Pihaknya sudah melaporkan tindakan pencurian tersebut ke pihak kepolisian dan sedang dilakukan tahap penyidikan. Untuk sementara stasiun dibiarkan tidak beroperasi untuk proses penyelidikan.

Hal ini berdampak kepada pembacaan informasi seismograf atau aktivitas getaran gunung api dan mengurangi urgensi aktivitas gunung ai tersebut.

"Untuk gunung marapi, total ada delapan stasiun pemantau, sekarang hanya tujuh yang berfungsi, tentu akan mempengaruhi informasi aktivitas gunung yang beberapa waktu lalu mengalami erupsi," ia menambahkan.

Lanjutkan Membaca ↓

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya