Liputan6.com, Blora - Pembelajaran tatap muka di sekolah secara terbatas mau tak mau harus dijalankan Pemkab Blora. Pemkab khawatir banyak anak memilih tidak sekolah alias putus sekolah akibat kebijakan belajar jarak jauh.
Baca Juga
Advertisement
Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Blora, Hendi Purnomo saat dikonfirmasi menyampaikan, Bupati Blora dan sejumlah pihak lain pada rapat koordinasi di Setda Blora beberapa waktu lalu sepakat belajar tatap muka digelar kembali.
"Karena kalau tidak dibuka, dampak negatifnya jadi banyak anak yang drop out," ujar Hendi.
Kini, mulai dari pendidikan SD sampai SMP yang di bawah naungan Disdik Kabupaten Blora telah diizinkan melangsungkan belajar tatap muka di sekolah secara terbatas.
"Semua sudah kami izinkan, sudah 100 persen yang masuk," kata Hendi, sapaannya.
Simak video pilihan berikut ini:
179 Putus Sekolah
Berdasarkan catatan Disdik Kabupaten Blora, yang putus sekolah kini sudah mencapai ratusan siswa yang terdiri dari siswa SD dan SMP se-16 Kecamatan di Kabupaten Blora selama pandemi Covid-19.
"Data terakhir ada 179 siswa yang putus sekolah di masa pandemi ini," tambah Sekretaris Disdik Kabupaten Blora, Endang Rukmiyati.
Lebih lanjut, Endang membeberkan bahwa rata-rata siswa putu sekolah penyebabnya dikarenakan oleh orang tua meminta anaknya untuk membantu bekerja.
"Kondisi (putuh sekolah) ini tentunya memprihatinkan," pungkasnya.
Diketahui, PTM secara terbatas digelar dengan syarat utama yakni mematuhi protokol kesehatan dan ketentuan sekolah. Semata-mata demi memutus mata rantai penyebaran Covid-19 dan mencegah munculnya kluster sekolah.
Advertisement