Liputan6.com, Yogyakarta - Hari Kepanduan Sedunia yang diperingati setiap 22 Februari merujuk pada peringatan hari lahir Bapak Pandu Sedunia, Baden Powell. Ia adalah sosok yang memelopori gerakan kepanduan yang ada di seluruh dunia, termasuk pramuka di Indonesia.
Baden Powell lahir di London pada 22 Februari 1857. Peringatan Hari Kepanduan Sedunia juga dimaksudnya untuk mengenang dan mengapresiasi jasa-jasa Baden Powell agar dapat diteruskan oleh generasi selanjutnya.
Jasa Baden Powell bisa dilihat dari keberadaan organisasi kepanduan di Indonedia, pramuka. Mengutip dari laman Museum Sumpah Pemuda Kemdikbud, awal lahirnya pramuka di Indonesia ditandai dengan munculnya cabang milik Belanda yang bernama Nederlandesche Padvinders Organisatie (NPO) pada 1912.
Advertisement
Baca Juga
Pada 1916, nama tersebut berubah menjadi Nederlands Indische Padvinders Vereniging (NIVP). Masih di tahun yang sama, Mangkunegara VII membentuk organisasi kepanduan pertama Indonesia yang diberi nama Javaansche Padvinder Organisatie (JPO).
JPO memancing munculnya beberapa organisasi sejenis, seperti Hizbul Wahton (HM) pada 1918, Jong Java Padvinderij (JJP) pada 1923, Nationale Padvinders (NP), Nationaal Indonesische Padvinderij (NATIPIJ), serta Pandoe Pemoeda Sumatra (PPS). Pada 1926, lahir organisasi Indonesische Padvinderij Organisatie (INPO) yang merupakan peleburan dari dua organisasi kepanduan, yakni Nationale Padvinderij Organisatie (NPO) dan Jong Indonesische Padvinderij Organisatie (JIPO).
Semakin menjamurnya organisasi pramuka milik Indonesia, Belanda pun melarang penggunaan istilah Padvinder untuk digubakan sebagai nama organisasi kepramukaan di luar milik Belanda.
Selanjutnya, K.H Agus Salim memperkenalkan istilah Pandu atau Kepanduan untuk menyebut organisasi kepramukaan milik Indonesia. Pada 23 Mei 1928, lahir Persaudaraan Antar Pandu Indonesia (PAPI). PAPI beranggotakan INPO, SIAP, NATIPIJ, dan PPS.
Setelah kemerdekaan RI, Pandu Rakyat Indonesia lahir pada 28 Desember 1945. Kepanduan tersebut bersifat nasional.
Dalam perjalanan sejarah kepanduan di Indonesia, jumlah organisasi kepanduan pun berkembang hingga ratusan organisasi. Jumlah tersebut dibagi menjadi beberapa federasi.
Namun, terdapat kelemahan dari beberapa federasi tersebut. Hingga akhirnya dibentuklah Persatuan Kepanduan Indonesia (Perkindo).
Sayangnya, langkah ini juga terkendala karena kurangnya kekompakan antaranggota. Pada 1960, pemerintah dan MPRS mulai berupaya membenahi organisasi kepramukaan di Indonesia.
Hingga pada 9 Maret 1961, Presiden Soekarno mengumpulkan tokoh-tokoh dari gerakan kepramukaan indonesia. Saat itu, Soekarno mengatakan bahwa organisasi kepanduan harus diperbarui, aktivitas pendidikan harus diganti, dan seluruh organisasi kepanduan harus dilebur menjadi satu dengah nama Pramuka.
Dalam kesempatan tersebut, Presiden membentuk panitia pembentukan gerakan Pramuka yang tediri dari Sultan Hamengkubuwono XI, Prof. Prijono, Dr A Aziz Saleh, serta Achmadi. Peristiwa ini kemudian dikenal sebagai Hari Tunas Gerakan Pramuka.
Pada 20 Mei 1961, lahirlah Keputusan Presiden Nomor 238 Tahun 1961 tentang Gerakan Pramuka. Peristiwa ini kemudian disebut sebagai Hari permulaan Tahun kerja.
Pada 30 Juli 1961 bertempat di Istora Senayan, seluruh tokoh–tokoh kepanduan indonesia menyatakan menggabungkan diri dengan orgnaisasi gerakan Pramuka. Hari bersejarah tersebut kemudian dikenal sebagai Hari Ikrar Gerakan Pramuka.
Pada 14 Agustus 1961, dilakukan Majelis Pimpinan Nasional (Mapinas) dengan diketuai Preiden Soekarno dengan didampingi wakil ketua I Sultan Hamengkubuwono XI dan wakil ketua II Brigjen TNI Dr A Azis Saleh. Pada saat itulah, gerakan pramuka diperkenalkan ke publik.
Hal ini ditandai dengan penyerahan panji-panji pramuka oleh Presiden Sukarno kepada tokoh-tokoh pramuka. Peristiwa ini kemudian dikenal sebagai Hari Pramuka Nasional.
Penulis: Resla