Impor Beras 2 Juta Ton Sudah Diproses, Buat Apa Saja?

Pemerintah sudah memproses impor beras 2 juta ton untuk tahun 2024 ini. Ini jadi kelanjutan impor beras yang dilakukan sejak 2023 lalu.

oleh Arief Rahman Hakim diperbarui 29 Jan 2024, 21:00 WIB
Diterbitkan 29 Jan 2024, 21:00 WIB
Proses bongkar muat beras impor dari Vietnam yang akan digunakan untuk pemenuhan stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP). (Dok Bapanas)
Proses bongkar muat beras impor dari Vietnam yang akan digunakan untuk pemenuhan stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP). (Dok Bapanas)

Liputan6.com, Jakarta Pemerintah sudah memproses impor beras 2 juta ton untuk tahun 2024 ini. Ini jadi kelanjutan impor beras yang dilakukan sejak 2023 lalu.

Hal ini diungkap Direktur Utama Perum Bulog Bayu Krisnamurthi. Bayu menegaskan proses impor beras 2 juta ton sudah berjalan.

"Sudah dalam proses," kata Bayu di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Senin (29/1/2024).

Dia mengungkap alasan pemerintah kembali membuka keran impor beras. Diantaranya untuk pemenuhan stok beras dalam negeri.

Selanjutnya, untuk digunakan melanjutkan proses penyebaran bantuan pangan beras. Lalu, akan digunakan juga untuk Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) atau operasi pasar.

Diketahui, langkah-langkah tersebut jadi jurus andalan pemerintah dalam menjaga harga beras di pasaran.

"Semua sedang kita laksanakan untuk bisa mendukung program tugas Bulog bantuan pangan dan SPHP," jelasnya.

Tambah Impor Tahun Ini

Sebelumnya, Wakil Presiden RI Ma'ruf Amin menjelaskan bahwa rencana pemerintah untuk impor beras sebanyak 5 juta ton pada tahun ini sebenarnya lebih bersifat antisipatif.

"Itu sifatnya antisipasi, belum tentu dilaksanakan," katanya dikutip dari Antara, Sabtu (27/1/2024).

Menurut dia, nanti akan dilihat kalau memang dalam rangka memenuhi kebutuhan pangan ternyata tidak mencukupi khususnta dalam hal beras. Misalnya hasil panen tidak bagus maka bisa saja dilakukan.

"Kalau memang dalam rangka mencukupi kebutuhan itu panennya kurang bagus, ada kekurangan. Dalam rangka mencukupi itu," katanya.

"Intinya, kalau itu terpaksa, itu dilakukan, dan kami akan lihat panen-panen yang akan terjadi nanti seperti apa," lanjutnya.

Mengenai jumlah impor beras, kata dia, tentunya akan disesuaikan dengan kebutuhan nantinya, apalagi nanti juga melihat dampak fenomena El Nino terhadap sektor pertanian.

"Antisipasi akibat daripada El Nino, kalau terjadi seperti yang dikhawatirkan berarti harus impor sampai 5 juta ton. Sebab, kalau tidak tercukupi kan jadi masalah," katanya.

 


Potensi Impor Beras

Ilustrasi bongkar muat beras impor (Istimewa)
Ilustrasi bongkar muat beras impor (Istimewa)

Sebelumnya, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebutkan Indonesia berpotensi untuk mengimpor beras hingga 5 juta ton pada 2024 akibat tantangan pertanian yang semakin kompleks dan potensi krisis pangan dunia.

Meningkatnya permintaan akan pangan pascapandemi COVID-19 menyebabkan harga pangan semakin mahal yang dapat mendorong terjadinya darurat pangan global dan dapat berpotensi mengancam stabilitas sosial ekonomi dan politik Indonesia.

Pada 2023, kata Mentan, Indonesia telah memutuskan untuk mengimpor 3,5 juta ton beras, dan berpeluang mencapai 5 juta tahun 2024.

 


Stabilkan Harga Beras

Perum Bulog mengimpor beras dari beberapa negara total mencapai 500 ribu ton. Pada Jumat (16/12/2022), fase pertama impor telah tiba di pelabuhan Tanjung Priok.
Perum Bulog mengimpor beras dari beberapa negara total mencapai 500 ribu ton. Pada Jumat (16/12/2022), fase pertama impor telah tiba di pelabuhan Tanjung Priok.

Pemerintah Indonesia pada awalnya hanya mengimpor 2 juta ton yang proses importasinya sudah dimulai sejak awal 2023.

Namun, demi menjaga stabilisasi harga dan pasokan beras jelang akhir 2023 dan pesta demokrasi pemilu yang akan terjadi pada Februari 2024, pemerintah kembali memutuskan untuk mengimpor beras 1,5 juta ton lagi sehingga total impor beras pada 2023 mencapai 3,5 juta ton.

Selain ada restriksi ekspor dari negara-negara produsen pangan, El Nino yang berdampak terhadap penurunan produksi beras dari yang tahun lalu 31 juta ton dan menjadi 30 juta ton pada tahun ini menjadi alasan pemerintah untuk kembali menambah kuota impor.

Lanjutkan Membaca ↓
Loading

Video Pilihan Hari Ini

Video Terkini

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya