PR Prabowo-Gibran Banyak, Salah Satunya Batasi Impor

Ekonom menilai pekerjaan rumah (PR) bagi Pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming salah satu yang utama yakni, harus bisa membatasi impor.

oleh Tira Santia diperbarui 28 Jul 2024, 16:00 WIB
Diterbitkan 28 Jul 2024, 16:00 WIB
Prabowo Subianto didampingi Gibran Rakabuming Raka menyampaikan pidato usai resmi ditetapkan Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia (KPU RI) sebagai Presiden dan Wakil Presiden Terpilih 2024.
Prabowo Subianto didampingi Gibran Rakabuming Raka menyampaikan pidato usai resmi ditetapkan Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia (KPU RI) sebagai Presiden dan Wakil Presiden Terpilih 2024. (Tangkapan Layar YouTube KPU)

Liputan6.com, Jakarta Ekonom sekaligus Direktur Eksekutif Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) Fahmi Wibawa, mengatakan pekerjaan rumah (PR) bagi Pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming salah satu yang utama yakni, harus bisa membatasi impor.

"Jadi, di era Prabowo Gibran selanjutnya Itu tantangan yang harus kita address dari sekian banyak yang kita sebutkan tadi yang kita selesaikan adalah bahwa kita perlu kembali lagi membatasi impor," kata Fahmi dalam dikusi terkait tantangan ekonomi politik Pemerintahan Baru: Menyambut Kabinet Prabowo-Gibran, Minggu (28/7/2024).

Alasanya, karena Indonesia harus kembali menjadi negara produsen, bukan terus menerus menjadi negara konsumsi.

Pasalnya, Indonesia itu kaya dengan sumber daya alam yang melimpah, maka sudah seharusnya dikelola dan diproduksi sendiri dibandingkan dimanfaatkan oleh negara lain.

"Kenapa demikian karena kita harus tetap kembali pada visi menjadi kreator negara yang membuat tidak hanya menjadi negara yang mengkonsumsi," ujarnya.

Pentingnya Batasi Impor

Menurutnya, membatasi impor sangat penting. Karena jika Indonesia ketergantungan terhadap impor untuk memenuhi semua kebutuhan, maka mentalitas Indonesia akan menurun sebagai produsen.

"Ini penting sekali supaya kita tidak hanya sekedar mentalitas kita itu mentalitas yang mengambil jalan pintas, karena kalau mengambil jalan pintas kita tidak punya sumber untuk mengoptimalkan raw material atau bahan baku yang sudah kaya kita miliki kalau kita dininabobokan," ujarnya.

 

* Follow Official WhatsApp Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.


Data Impor Indonesia

FOTO: Ekspor Impor Indonesia Merosot Akibat Pandemi COVID-19
Aktivitas bongkar muat kontainer di dermaga ekspor impor Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Rabu (5/8/2020). Menurut BPS, pandemi COVID-19 mengkibatkan impor barang dan jasa kontraksi -16,96 persen merosot dari kuartal II/2019 yang terkontraksi -6,84 persen yoy. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

Sebagai informasi, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), impor Indonesia pada Juni 2024 mencapai USD 18,45 miliar. Capaian tersebut turun sebesar 4,89 persen dibanding bulan sebelumnya.

Untuk rinciannya, impor migas tercatat USD3,27 miliar atau turun sebesar 19,01 persen, jika dibandingkan bulan sebelumnya USD2,75 miliar. Sementara itu, impor nonmigas tercatat USD15,18 miliar atau mengalami penurunan sebesar 8,83 persen secara bulanan dibandingkan Mei 2024 sebesar USD16,65 miliar.

Penurunan nilai impor secara bulanan ini disebabkan oleh penurunan nilai impor nonmigas dengan andil penurunan sebesar 7,58 persen. Secara tahunan, nilai impor Juni 2024 meningkat 7,58 persen dimana nilai impor migas dan nonmigas masing-masing naik sebesar 47,17 persen dan 1,69 persen.

Kenaikan impor migas yang cukup tinggi ini didorong oleh penignkatan nilai impor minyak mentah, dan nilai impor hasil minyak. Amalia menyampaikan perkembangan impor menurut penggunaan.

 


Utamakan Kebutuhan Dalam Negeri

Perdagangan Ekspor Impor di Masa Pandemi
Sebuah kapal bersandar di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (4/12/2020). Perbaikan kinerja ekspor dari Kuartal II sebesar minus 11,7 persen menjadi minus 10,8 persen di Kuartal III dan kuartal IV menjdi pijakan untuk perbaikan ditahun 2021. (merdeka.com/Imam Buhori)

Meskipun impor mengalami penurunan, Fahmi menilai sudah seharusnya Indonesia mengelola sumber daya alam atau bahan mentah di dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan sendiri dibanding impor.

"Bahwa kita punya sekian banyak bahan mentah dan sumber daya alam yang banyak tapi orang lain memanfaatkan, maka kita hanya sekedar menjadi penonton," pungkasnya.

Lanjutkan Membaca ↓

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Video Pilihan Hari Ini

Video Terkini

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya