Dear Trump, Iran Siap Lakukan Dialog yang Setara

Iran sendiri sebelumnya sudah menyatakan siap untuk berdialog, namun menolak pembicaraan langsung di bawah ancaman dan tekanan.

oleh Khairisa Ferida Diperbarui 06 Apr 2025, 08:01 WIB
Diterbitkan 06 Apr 2025, 08:01 WIB
Ilustrasi nuklir Iran
Ilustrasi nuklir Iran (AFP)... Selengkapnya

Liputan6.com, Teheran - Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada Sabtu (5/4/2025) mengatakan bahwa negaranya siap untuk berdialog dengan Amerika Serikat (AS) sebagai mitra yang setara, tanpa menjelaskan apakah Teheran akan berpartisipasi dalam pembicaraan langsung. Pernyataan ini muncul setelah Presiden Donald Trump, yang telah mendesak Teheran untuk mengadakan negosiasi terkait program nuklirnya, mengancam akan mengebom Iran jika upaya diplomasi gagal.

"Republik Islam Iran ingin berdialog dengan kedudukan yang setara," kata Pezeshkian dalam sebuah pertemuan, menurut situs web kepresidenan seperti dikutip Al Arabiya.

Pada Kamis (3/4), Trump mengatakan bahwa dia lebih memilih mengadakan "pembicaraan langsung" dengan Iran.

"Saya rasa itu akan lebih cepat dan Anda akan lebih memahami pihak lain dibandingkan jika Anda menggunakan perantara," ujar Trump.

Namun, pada Sabtu, Pezeshkian bertanya, "Jika Anda menginginkan negosiasi, lalu apa gunanya mengancam?"

"Hari ini, AS tidak hanya merendahkan Iran, tetapi juga dunia," tambah Pezeshkian, yang tampaknya merujuk pada kebijakan-kebijakan terbaru yang diambil Trump, termasuk memberlakukan tarif impor.

 

Peringatan Iran

Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada 4 Februari 2025 di Gedung Putih.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada 4 Februari 2025 di Gedung Putih. (Dok. AP Photo/Alex Brandon)... Selengkapnya

Negara-negara Barat, yang dipimpin oleh AS, selama beberapa dekade telah menuduh Teheran berusaha mengembangkan senjata nuklir. Iran membantah tuduhan tersebut dan bersikeras bahwa kegiatan nuklirnya semata-mata untuk tujuan sipil.

Pada tahun 2015, negara ini mencapai kesepakatan bersejarah dengan anggota tetap Dewan Keamanan PBB, yaitu AS, Prancis, China, Rusia, dan Inggris, serta Jerman, untuk mengendalikan kegiatan nuklirnya. Kesepakatan ini memberikan pembebasan sanksi sebagai imbalan atas pembatasan terhadap kegiatan nuklir Iran.

Tahun 2018, saat Trump menjabat sebagai presiden, AS menarik diri dari kesepakatan tersebut dan memberlakukan kembali sanksi. Sebagai tanggapan, Iran mengurangi komitmennya terhadap kesepakatan dan mempercepat program nuklirnya.

Pada Senin (31/3), Ali Larijani, penasihat dekat pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei, memperingatkan bahwa meskipun negaranya tidak berencana mengembangkan senjata nuklir, namun mereka tidak akan punya pilihan selain melakukannya jika terdapat ancaman serangan.

Lanjutkan Membaca ↓
Loading

Video Pilihan Hari Ini

Produksi Liputan6.com

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya