Liputan6.com, Teheran - Presiden Iran Masoud Pezeshkian memecat Wakil Presiden Bidang Urusan Parlementer Shahram Dabiri setelah yang bersangkutan diketahui melakukan perjalanan mewah ke Kutub Selatan selama liburan Nowruz. Dalam keputusan yang dikeluarkan pada Sabtu (5/4/2025), Pezeshkian menyatakan bahwa setelah meninjau laporan terkait perjalanan tersebut, dia memutuskan memberhentikan Dabiri dari jabatannya.
Pezeshkian menegaskan bahwa perjalanan mewah yang dilakukan pejabat negara, meskipun dibiayai dengan dana pribadi, tidak dapat dibenarkan dan bertentangan dengan gaya hidup sederhana yang seharusnya diterapkan oleh pejabat Iran.
Baca Juga
"Persahabatan lama kita dan jasa-jasa Anda yang tidak ternilai sebagai wakil presiden urusan parlemen tidak menghalangi kita untuk mengutamakan kejujuran, keadilan, dan janji-janji yang kita buat kepada rakyat," ungkap Pezeshkian kepada Dabiri seperti dikutip dari Al Mayadeen.
Advertisement
Pada awal Maret, parlemen Iran memecat Menteri Keuangan Abdolnaser Hemmati terkait inflasi yang terus meningkat dan melemahnya mata uang negara itu. Hemmati, yang sebelumnya menjabat sebagai gubernur bank sentral, kehilangan dukungan mayoritas dalam pemungutan suara, dengan 182 dari 273 anggota parlemen yang hadir setuju untuk mengakhiri jabatannya.
Pezeshkian sebelumnya membela Hemmati dengan mengatakan bahwa Iran sedang menghadapi perang ekonomi dengan musuh dan masalah ekonomi yang dihadapi bukanlah kesalahan satu orang saja. Namun, kritik keras datang dari anggota parlemen yang menyalahkan kebijakan Hemmati atas kondisi ekonomi yang semakin buruk. Mereka menyebutkan bahwa rakyat sudah tidak mampu lagi menanggung inflasi yang semakin tinggi dan harga barang, terutama obat-obatan dan peralatan medis, semakin tak terjangkau.
Â
Sanksi Internasional
Pezeshkian, yang mulai menjabat pada bulan Juli dengan tujuan memperbaiki ekonomi dan mengurangi dampak sanksi Barat, menyaksikan penurunan nilai rial semakin parah, terutama setelah jatuhnya pemerintahan Bashar al-Assad di Suriah pada Desember 2024.
Sehari sebelum pemerintah Assad runtuh, nilai dolar Amerika Serikat (AS) di pasar gelap tercatat sekitar 717.000 rial. Sementara itu, Hemmati membela kebijakan ekonominya dengan menyatakan bahwa nilai tukar yang tertekan bukanlah gambaran kondisi sebenarnya, melainkan akibat ekspektasi inflasi yang tinggi.
Setelah pemecatan Hemmati, Rahmatollah Akrami, seorang deputi menteri ekonomi, diangkat sebagai menteri keuangan sementara. Ekonomi Iran memang telah lama terpengaruh oleh sanksi internasional yang dipimpin oleh AS. Inflasi yang terus meningkat sejak AS menarik diri dari kesepakatan nuklir pada tahun 2018 semakin memperburuk kondisi ekonomi di negara tersebut.
Sejak saat itu, Iran mengalami tekanan ekonomi yang besar dengan inflasi tinggi, pengangguran yang meningkat, dan depresiasi mata uang yang tajam. Pada tahun 2018, Masoud Karbasian juga dipecat dari jabatan menteri ekonomi akibat kondisi ekonomi yang memburuk. Inflasi di Iran dilaporkan melebihi 30 persen setiap tahunnya, dengan angka mencapai 44 persen pada tahun 2023.
Advertisement
