Kisah Al-Qashwa Unta Kesayangan Rasulullah SAW, Setia Menemani Perjalanan Dakwah

Kisah Al-Qashwa unta kesayangan Rasulullah SAW yang menemani hijrah hingga penentuan lokasi Masjid Nabawi.

oleh Selma Intania Hafidha Diperbarui 07 Mar 2025, 17:15 WIB
Diterbitkan 07 Mar 2025, 17:15 WIB
Ilustrasi unta
Ilustrasi muslim. Image by Free-Photos from Pixabay... Selengkapnya

Liputan6.com, Jakarta Al-Qashwa unta kesayangan Rasulullah SAW memiliki peran penting dalam sejarah Islam. Unta berwarna putih bercampur merah dan hitam ini dikenal karena kecepatannya. Kecepatan lari Al-Qashwa juga menjadikannya tunggangan yang ideal bagi Nabi dalam berbagai situasi.

Unta kesayangan Rasulullah SAW ini memiliki banyak keistimewaan dan beberapa julukan, seperti Al-Adba (karena telinga terpotong), Jad'a (pemakan apa saja), dan Ashba (karena memiliki prinsip).

Perjalanan hidup Al-Qashwa erat kaitannya dengan perjalanan dakwah dan kehidupan Rasulullah SAW, mulai dari masa jahiliyah hingga wafatnya Nabi. Unta ini menjadi saksi bisu perjuangan Nabi dalam menyebarkan Islam di tengah tantangan dan ancaman dari kaum Quraisy.

Kesetiaan Al-Qashwa kepada Nabi Muhammad SAW sangat luar biasa. Bahkan setelah wafatnya Nabi, unta ini menolak makan dan minum seakan turut berduka cita atas wafatnya Nabi Muhamad SAW.

Kisah Al-Qashwa unta kesayangan Rasulullah SAW ini dilansir Liputan6.com dari berbagai sumber, Selasa (4/3/2025).

Asal Usul Al-Qashwa

Ilustrasi unta
Ilustrasi unta (dok.unsplash/@ Wolfgang Hasselmann)... Selengkapnya

Al-Qashwa adalah unta betina yang dimiliki oleh Rasulullah SAW setelah dibeli dari Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Sebelum menjadi milik Rasulullah SAW, unta ini awalnya milik seorang laki-laki dari Bani Qais yang kemudian menjualnya kepada Abu Bakar. Setelah itu, Rasulullah SAW membelinya dengan harga 400 dirham.

Unta ini memiliki ciri khas yang membuatnya mudah dikenali. Ia memiliki tubuh yang kokoh dan kuat dengan warna yang khas serta kemampuan untuk bertahan dalam perjalanan panjang tanpa menunjukkan tanda-tanda kelelahan yang berarti. Keistimewaannya ini menjadikannya pilihan utama bagi Rasulullah SAW dalam berbagai perjalanan penting.

Karakteristik dan Keistimewaan Al-Qashwa

Ilustrasi Unta (iStock)
Ilustrasi Unta (iStock)... Selengkapnya

Al-Qashwa digambarkan memiliki tubuh yang besar dibandingkan unta lainnya. Warna kulitnya didominasi putih, dengan campuran warna merah dan hitam. Selain kecepatannya, Al-Qashwa juga dikenal karena sifatnya yang mau memakan makanan apa saja (Jad'a).

Nama Al-Qashwa sendiri memiliki makna tersendiri, meskipun detailnya masih menjadi perdebatan. Namun, nama ini mencerminkan karakteristik dan peran penting unta tersebut dalam kehidupan Nabi Muhammad SAW.

Sifat-sifat Al-Qashwa, seperti kesetiaan dan ketaatannya kepada Nabi, menjadikannya lebih dari sekadar hewan tunggangan. Ia menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah dan perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW.

Al-Qashwa bukan sekadar unta biasa, tetapi memiliki banyak keistimewaan yang membedakannya dari hewan lainnya:

1. Tunggangan Rasulullah SAW dalam banyak perjalanan penting, termasuk hijrah dan haji.

2. Dikenal dengan ketahanan dan kecepatannya, meskipun begitu, unta ini tidak pernah berlari terlalu kencang, tetapi tetap stabil dan kuat dalam perjalanan panjang.

3. Memiliki kehormatan dalam Islam, karena menjadi bagian dari sejarah dakwah dan perjalanan Rasulullah SAW.

4. Memilih lokasi pembangunan Masjid Nabawi, yang hingga kini menjadi salah satu tempat paling suci bagi umat Islam.

5. Menjadi saksi khutbah terakhir Rasulullah SAW, yang berisi pesan-pesan penting bagi umat Islam.

 

Peran Penting Al-Qashwa dalam Sejarah Islam

Alasan Ketampanan Nabi Muhammad dengan Ketampanan Nabi Yusuf
Ilustrasi Ketampanan Nabi Muhammad (Sumber: Pinterest.com)... Selengkapnya

Al-Qashwa dalam Hijrah ke Madinah

Al-Qashwa menjadi bagian penting dalam perjalanan Hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah. Ketika kaum Quraisy semakin menindas kaum Muslimin di Makkah, Allah memerintahkan Nabi untuk berhijrah ke Madinah. Dalam perjalanan panjang yang penuh tantangan tersebut, Rasulullah SAW menunggangi Al-Qashwa. Unta ini dengan kesetiaannya menemani beliau melewati padang pasir yang luas dan panas hingga akhirnya tiba di Madinah dengan selamat.

Perjalanan hijrah ini bukanlah perjalanan yang mudah. Rasulullah SAW bersama sahabatnya, Abu Bakar, harus melalui berbagai rintangan, termasuk ancaman dari kaum Quraisy yang mengejar mereka. Namun dengan kehendak Allah, mereka berhasil tiba dengan selamat di Madinah. Al-Qashwa memainkan peran penting dalam perjalanan ini karena ketangguhan dan kemampuannya untuk bertahan dalam kondisi sulit.

Al-Qashwa dalam Peristiwa Masjid Nabawi

Setibanya di Madinah, Rasulullah SAW tidak langsung memilih tempat untuk tinggal dan membangun masjid. Sebagai gantinya, beliau membiarkan Al-Qashwa berjalan sendiri dan di tempat di mana unta itu berhenti, Rasulullah SAW memutuskan untuk mendirikan rumah dan Masjid Nabawi. Peristiwa ini menunjukkan bahwa Al-Qashwa memiliki keistimewaan dan seolah mendapat petunjuk dari Allah dalam menentukan lokasi yang diberkahi.

Masjid Nabawi hingga kini menjadi salah satu tempat paling suci dalam Islam. Keputusan Rasulullah SAW untuk membiarkan Al-Qashwa menentukan lokasi pembangunan masjid ini menunjukkan bagaimana setiap aspek dalam kehidupan beliau selalu penuh dengan hikmah dan keberkahan.

Al-Qashwa dalam Peristiwa Haji Wada'

Salah satu peristiwa besar lainnya di mana Al-Qashwa berperan adalah Haji Wada' (haji perpisahan) Rasulullah SAW. Dalam perjalanan haji ini, Rasulullah SAW kembali menunggangi unta kesayangannya untuk menyampaikan khutbah terakhir kepada umat Islam. Al-Qashwa menjadi saksi betapa Rasulullah SAW memberikan nasihat-nasihat terakhir kepada umatnya sebelum beliau wafat.

Dalam khutbah ini, Rasulullah SAW menyampaikan pesan-pesan penting tentang persatuan umat Islam, larangan menumpahkan darah sesama Muslim, serta penegasan akan kesetaraan manusia di hadapan Allah. Al-Qashwa yang telah menemani perjalanan hidup Rasulullah SAW, menjadi bagian dari momen bersejarah yang dikenang oleh umat Islam hingga hari ini.

 

Wafatnya Al-Qashwa

Ilustrasi unta
Ilustrasi unta (iStock)... Selengkapnya

Setelah Rasulullah SAW wafat, Al-Qashwa mengalami kesedihan mendalam. Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa unta ini tidak mau makan dan minum setelah kepergian Nabi SAW. Akhirnya, Al-Qashwa pun wafat dengan cara yang cukup menyedihkan, seolah merasakan kehilangan yang besar terhadap pemiliknya yang begitu dicintainya.

Kisah ini mengingatkan kita bahwa hewan pun memiliki perasaan dan kesetiaan yang mendalam. Al-Qashwa telah menjadi sahabat setia Rasulullah SAW selama bertahun-tahun, dan kehilangan beliau membawa dampak yang besar bagi unta ini.

Lanjutkan Membaca ↓
Loading

Video Pilihan Hari Ini

Produksi Liputan6.com

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya