Liputan6.com, Jakarta - Selalu saja , jika mendekati berakhirnya bulan suci Ramadhan dan mengawai bulan Syawal masyarakat Indonesia diperlihatkan fenomena bak tradisi tahunan. Preman, seringkali berbaju organisasi masyarakat (Ormas), beraksi, berkeliaran di sudut kota mencari mangsa meminta tunjangan hari taya (THR) dengan berbagai dalih.
Sasarannya, pengusaha, pabrik bahkan pedagang kecil tak luput dari ulah mereka. Otomatis ha ini membuat banyak pedagang dan pengusaha yang mengaku was-was dengan permintaan yangkadang tak wajar tersebut.
Wah, repotnya bukan hanya meminta uang dan barang, preman ini juga tak segan menggeluarkan kata makian, kata kotor bahkan terdapat intimidasi dari mereka.
Advertisement
Ini sebenarnya sudah berlangsung lama, namun hanya menjadi rahasia umum saja, namun akhir-akhir ini lambat laun merangkak naik ke media sosiial. Masyarakat geram dan marah dengan ulah preman ini, pengadilan netizen pun mulai dijalankan sering berujung polisi bertindak.
Kondisi semacam ini menyita perhatian publik, tak terkecuali para tokoh agama yang kerap memberikan pencerahan terkait fenomena sosial yang kerap berulang. Salah satunya adalah pendakwah muda Ustadz Adi Hidayat.
Baca Juga
Simak Video Pilihan Ini:
Preman Pensiun Era Harun Al Rasyid
Dikutip dari kanal YouTube @NgajiSebentar, Ustadz Adi Hidayat turut menyoroti fenomena preman yang meminta THR tersebut. Dalam tausiyahnya, ia justru mengaitkan kejadian ini dengan kisah menarik tentang preman yang memutuskan untuk pensiun.
Ustadz Adi Hidayat mengisahkan bahwa sejak zaman dahulu, preman yang memutuskan berhenti dari dunia kelam sebenarnya sudah ada. Bahkan, kisah preman pensiun ini menjadi inspirasi dan pelajaran yang berharga.
Dikisahkan, seorang preman memutuskan untuk benar-benar meninggalkan dunia hitam dan mendekatkan diri kepada Allah. Preman tersebut berhenti dari aktivitas kriminalnya dan memilih untuk beribadah.
Preman itu memilih untuk pergi ke Makkah dan Madinah guna memperdalam ibadah. Ia mengasingkan diri dan menjauh dari lingkungan yang pernah menjerumuskannya.
Yang menarik, pada waktu itu khalifah atau pemimpin umat, Harun Ar-Rasyid, mendapatkan mimpi yang sangat aneh. Dalam mimpinya, Harun Ar-Rasyid diarahkan untuk mencari seorang hamba yang sangat dekat kepada Allah.
Lebih mengejutkan lagi, dalam mimpi tersebut disebutkan langsung nama sang preman. Khalifah pun diperintahkan dalam mimpinya untuk menemui preman yang kini sudah berubah menjadi ahli ibadah.
"Bayangkan, seorang mantan begal, mantan perampok, tiba-tiba berubah total menjadi sosok yang begitu taat dan dekat dengan Allah. Perubahan yang luar biasa itu pun menjadi buah bibir," kata UAH.
Preman yang dulu ditakuti masyarakat kini justru menjadi panutan. Ia dikenal sebagai sosok yang sangat saleh dan rajin beribadah tanpa pamrih.
Kisah ini menyebar luas di masyarakat. Orang-orang yang dulu mengenalnya sebagai perampok kini melihatnya sebagai hamba yang sangat dekat dengan Allah.
Advertisement
Pelajaran Berharga Kisah Preman Pensiun
"Masyarakat pun mulai memviralkan kisah perubahan preman tersebut. Sosok preman yang dahulu ditakuti kini malah menjadi teladan dalam hal beribadah," ujarnya.
Namun, sosok tersebut memilih untuk tetap mengasingkan diri. Ia tidak ingin dikenal karena masa lalunya atau dipuja-puji karena perubahan yang dialaminya.
Preman itu hanya ingin fokus kepada Allah, meninggalkan urusan dunia yang pernah membuatnya jauh dari kebaikan. Ia lebih memilih menjadi hamba yang rendah hati.
Ustadz Adi Hidayat menyampaikan kisah ini agar menjadi pelajaran bagi semua. Bahwa tidak ada yang terlambat bagi siapa pun untuk berubah menjadi lebih baik.
Kisah ini sekaligus menjadi sindiran halus bagi preman-preman yang masih gemar meminta THR. Bahwa seharusnya, momentum Ramadhan digunakan untuk memperbaiki diri, bukan malah memperalat situasi.
Ustadz Adi Hidayat menegaskan, jika preman zaman dahulu saja bisa pensiun dan berubah menjadi ahli ibadah, tentu preman zaman sekarang pun bisa melakukan hal yang sama. Asalkan ada niat yang kuat.
Pesan utama dari kisah ini adalah tentang harapan dan perubahan. Tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki diri dan mendekatkan diri kepada Allah, apalagi di bulan Ramadhan.
Kisah preman pensiun yang diceritakan Ustadz Adi Hidayat menjadi refleksi yang kuat, khususnya bagi mereka yang masih terjebak dalam dunia premanisme. Bahwa pintu taubat selalu terbuka bagi siapa saja yang mau kembali.
Penulis: Nugroho Purbo/Madrasah Diniyah Miftahul Huda 1 Cingebul
