Liputan6.com, Jakarta - Fenomena masuk Islam atau menjadi mualaf di kalangan pesohor Indonesia kembali menjadi sorotan. Dalam beberapa waktu terakhir, lima figur publik dikabarkan telah mengucapkan dua kalimat syahadat.
Mereka adalah Mahalini, penyanyi muda berbakat; Bobon Santoso, konten kreator kuliner; Celine Evangelista, aktris ternama; Richard Lee, dokter kecantikan; serta Steven Wongso, kreator konten.
Fenomena ini tentu menimbulkan berbagai tanggapan di tengah masyarakat, terutama mengenai perjalanan spiritual yang mereka jalani. Bagi seorang mualaf, keputusan untuk masuk Islam bukan hanya sekadar perubahan identitas, tetapi juga tanggung jawab untuk menjalankan ajaran agama dengan benar.
Advertisement
Dalam konteks ini, penting untuk memahami apa yang menjadi kewajiban seorang mualaf setelah mereka memeluk Islam. Pemahaman ini tak hanya mencakup aspek ibadah, tetapi juga akhlak dan cara berinteraksi dengan orang lain, termasuk dengan keluarga yang belum beriman.
Ulama Pengasuh LPD Al Bahjah Cirebon KH Yahya Zainul Ma'arif atau Buya Yahya memberikan pesan yang mendalam bagi para mualaf. Menurutnya, mualaf harus memahami bahwa Islam bukan sekadar identitas, tetapi juga akhlak yang mencerminkan ajaran agama yang luhur.
"Syarat mualaf yang paling penting itu adalah karena sudah memakai gelar Islam, maka harus berakhlak Islam," ujar Buya Yahya dalam salah satu kajiannya.
Dalam video yang dinukil dari kanal YouTube @lathifahtv, Buya Yahya menegaskan bahwa seorang mualaf harus menunjukkan akhlak yang lebih baik dibanding sebelumnya. Hal ini menjadi bukti bahwa Islam adalah agama yang membawa rahmat bagi semesta alam.
"Wahai mualaf di mana pun Anda berada, selagi Anda berani masuk Islam, maka Anda wajib memiliki akhlak yang lebih baik, terutama terhadap keluarga dan saudara yang belum beriman," lanjutnya.
Â
Baca Juga
Simak Video Pilihan Ini:
Jangan Fokus pada Perubahan Status Agama Saja
Pesan ini ditekankan agar para mualaf tidak hanya berfokus pada perubahan status agama semata, tetapi juga memperbaiki hubungan sosial mereka dengan orang-orang di sekitar, termasuk yang belum memeluk Islam.
"Jika Anda masuk Islam, namun akhlak Anda tidak lebih baik dari sebelumnya, maka Anda justru mencoreng agama. Maka dari itu, Islam mengajarkan bahwa Anda harus lebih baik dalam bersikap, bahkan terhadap orang tua yang belum memeluk Islam," tegasnya.
Buya Yahya juga menekankan bahwa dalam Islam, seseorang tidak boleh bersikap buruk terhadap mereka yang berbeda keyakinan. Bahkan jika ada yang memusuhi, seorang Muslim tetap harus menunjukkan akhlak yang baik.
"Jika ada orang yang memusuhi Anda karena Anda masuk Islam, tetaplah bersikap baik. Akhlak mulia itulah yang harus dijunjung tinggi oleh seorang Muslim, termasuk para mualaf," tambahnya.
Dalam ajaran Islam, akhlak memiliki posisi yang sangat penting. Nabi Muhammad dikenal sebagai sosok yang memiliki akhlak paling mulia, sehingga umatnya diperintahkan untuk meneladaninya dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), mualaf didefinisikan sebagai orang yang baru masuk Islam. Ini merupakan perubahan besar yang memerlukan bimbingan agar seseorang dapat memahami Islam secara utuh.
Secara harfiah, istilah ini berasal dari bahasa Arab yang berarti "orang yang dijinakkan hatinya." Dalam konteks Islam, istilah ini lebih luas dan mencakup berbagai aspek spiritual, sosial, serta strategi dalam dakwah.
Advertisement
Tentang Mualaf
Mualaf sering kali mendapatkan dukungan dari komunitas Muslim. Hal ini bertujuan untuk membantu mereka menyesuaikan diri dengan ajaran Islam, baik dari segi ibadah maupun aspek sosial lainnya.
Dalam Islam, mualaf juga mencakup beberapa kategori. Salah satunya adalah mereka yang baru saja memeluk agama Islam dan masih dalam tahap pembelajaran serta adaptasi dengan ajaran agama.
Kategori lainnya adalah mereka yang imannya masih lemah. Oleh karena itu, bimbingan yang baik menjadi sangat penting agar mereka dapat menjalani kehidupan sebagai seorang Muslim dengan lebih mantap.
Dari sisi hukum Islam, mualaf adalah mereka yang telah mengucapkan dua kalimat syahadat. Mereka mengakui bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya.
Perjalanan seorang mualaf bukanlah sesuatu yang mudah. Mereka harus menghadapi berbagai tantangan, baik dari lingkungan sekitar maupun dari dalam diri sendiri.
Namun, dengan pemahaman yang benar serta bimbingan yang baik, seorang mualaf dapat menjalani kehidupan barunya dengan penuh keyakinan dan istiqamah dalam Islam.
Pesan Buya Yahya ini menjadi pengingat bagi siapa saja yang baru memeluk Islam agar tidak hanya berhenti pada perubahan status agama, tetapi juga menerapkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan akhlak yang mulia.
Penulis: Nugroho Purbo/Madrasah Diniyah Miftahul Huda 1 Cingebul
