Kata Aktivis soal PSIM Yogyakarta Menang: Kebangkitan Lebih dari Sepak Bola

Aktivis Sosial Puspita Wijayanti menilai, kebangkitan PSIM Yogyakarta sebagai sesuatu yang lebih besar dari sekadar prestasi di lapangan.

oleh Tim News Diperbarui 27 Feb 2025, 23:58 WIB
Diterbitkan 27 Feb 2025, 13:03 WIB
Foto: PSIM Juara Pegadaian Liga 2 2024/2025, Tumbangkan Bhayangkara FC 2-1 di Menit Injury Time
Pemain PSIM Yogyakarta melakukan selebrasi ke gawang Bhayangkara FC saat laga final Pegadaian Liga 2 2024/2025 melawan PSIM Yogyakarta di Stadion Manahan, Solo, Jawa Tengah, Rabu (26/02/2025). (Bola.com/Abdul Aziz)... Selengkapnya

Liputan6.com, Jakarta - Perserikatan Sepak Bola Indonesia Mataram (PSIM Yogyakarta) resmi kembali ke Liga 1 setelah menang 2-1 atas PSPS Pekanbaru pada Senin 17 Februari 2025 lalu. Kemenangan ini mengakhiri penantian 18 tahun dan menjadi momen bersejarah bagi sepak bola Yogyakarta.

Bagi masyarakat Yogyakarta, PSIM lebih dari sekadar klub sepak bola. Klub yang berdiri sejak 1929 ini telah menjadi bagian dari identitas kota dan simbol perjuangan sejak era kolonial.

Hal itu pula seperti disampaikan Aktivis Sosial Puspita Wijayanti. Dia menilai, kebangkitan PSIM sebagai sesuatu yang lebih besar dari sekadar prestasi di lapangan.

"Ini bukan hanya soal sepak bola, tapi kebangkitan sebuah kota yang tak pernah kehilangan semangat," ujar Puspita melalui keterangan tertulis, Kamis (27/2/2025).

Dia yang juga merupakan seorang dokter mengatakan, dalam banyak kasus, klub sepak bola menjadi bagian dari identitas dan ekonomi sebuah kota, seperti Borussia Dortmund di Jerman atau Barcelona di Spanyol.

"PSIM memiliki potensi serupa dalam memperkuat kebanggaan Yogyakarta. Selain membangkitkan gairah sepak bola, keberhasilan PSIM juga menggerakkan ekonomi rakyat. Sepak bola bisa menjadi lokomotif ekonomi, menghidupkan usaha kecil dan industri kreatif lokal," papar Puspita.

Menurut dia, atmosfer Mandala Krida yang kembali bergelora juga bisa menjadi daya tarik wisata. Yogyakarta, kata Puspita, dapat mengembangkan wisata sepak bola seperti yang dilakukan kota-kota besar dunia.

"PSIM juga bisa menjadi simbol budaya Yogyakarta dengan menggabungkan seni lokal dalam yel-yel suporter. Perpaduan sepak bola dengan budaya khas Jogja bisa menjadi identitas unik klub ini," terang dia.

 

Promosi 1

Harus Miliki Sistem Pembinaan

Aktivis Sosial Puspita Wijayanti menilai, kebangkitan PSIM Yogyakarta sebagai sesuatu yang lebih besar dari sekadar prestasi di lapangan.
Aktivis Sosial Puspita Wijayanti menilai, kebangkitan PSIM Yogyakarta sebagai sesuatu yang lebih besar dari sekadar prestasi di lapangan. (Ist)... Selengkapnya

Puspita mengatakan, untuk menjaga kebangkitan ini, PSIM harus memiliki sistem pembinaan pemain muda yang kuat. Menurut dia, klub-klub besar dunia membangun akademi sendiri agar tidak hanya bergantung pada transfer pemain.

"Sebagai kota pendidikan, Yogyakarta dapat mengintegrasikan sepak bola dengan akademisi. Pendidikan dan olahraga harus berjalan berdampingan agar mencetak atlet yang berkarakter," papar Puspita.

Namun, lanjut dia, kebangkitan PSIM harus dikelola dengan baik agar tidak sekadar euforia sesaat. Manajemen yang profesional dan transparan menjadi kunci keberlanjutan klub ke depan.

"Dengan dukungan penuh dari masyarakat, pemerintah, dan dunia usaha, PSIM bisa lebih dari sekadar klub sepak bola. Kebangkitan PSIM adalah kebangkitan Yogyakarta sebagai kota yang berdaya dan berbudaya," tutup Puspita.

Infografis Ragam Tanggapan FIFA Kawal Transformasi Sepak Bola Nasional Pasca-Tragedi Kanjuruhan. (Liputan6.com/Abdillah)
Infografis Ragam Tanggapan FIFA Kawal Transformasi Sepak Bola Nasional Pasca-Tragedi Kanjuruhan. (Liputan6.com/Abdillah)... Selengkapnya
Lanjutkan Membaca ↓
Loading

Video Pilihan Hari Ini

EnamPlus

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya