Pengertian dan Asal-Usul Itadakimasu
Liputan6.com, Jakarta Itadakimasu () merupakan ungkapan yang lazim diucapkan oleh masyarakat Jepang sebelum menyantap hidangan. Secara harfiah, kata ini berasal dari verba itadaku yang berarti "menerima dengan rendah hati". Dalam konteks makan, itadakimasu mengandung makna "saya akan dengan rendah hati menerima makanan ini".
Asal-usul penggunaan itadakimasu sebagai ungkapan sebelum makan dapat ditelusuri hingga era Perang Dunia II. Pada masa itu, kelangkaan pangan membuat masyarakat Jepang semakin menghargai setiap makanan yang mereka dapatkan. Ungkapan itadakimasu kemudian menjadi cara untuk mengekspresikan rasa syukur atas berkat makanan yang diterima.
Selain itu, itadakimasu juga memiliki akar dalam ajaran Buddhisme yang menjadi agama mayoritas di Jepang. Dalam pandangan Buddhis, mengucapkan itadakimasu merupakan bentuk penghormatan terhadap semua makhluk hidup yang telah berkorban demi menyediakan makanan tersebut, baik itu hewan maupun tumbuhan. Ungkapan ini juga ditujukan sebagai apresiasi kepada para petani, nelayan, koki, dan semua pihak yang terlibat dalam proses penyajian hidangan.
Advertisement
Dengan demikian, itadakimasu bukan sekadar formalitas, melainkan cerminan dari nilai-nilai luhur dalam budaya Jepang seperti rasa syukur, penghargaan terhadap alam, dan kesadaran akan jerih payah orang lain. Penggunaan ungkapan ini telah menjadi bagian integral dari etiket makan masyarakat Jepang hingga saat ini.
Cara Pengucapan dan Penggunaan yang Tepat
Meskipun tampak sederhana, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mengucapkan itadakimasu agar sesuai dengan etika dan budaya Jepang:
- Posisi tubuh: Duduk dengan tegak dan tenang di depan hidangan.
- Posisi tangan: Letakkan kedua telapak tangan di depan dada, seperti posisi berdoa.
- Menundukkan kepala: Tundukkan kepala sedikit sebagai tanda hormat.
- Ucapkan "itadakimasu" dengan jelas namun tidak terlalu keras.
- Setelah mengucapkan, barulah mulai menyantap hidangan.
Dalam situasi informal seperti makan bersama keluarga atau teman dekat, pengucapan itadakimasu bisa dilakukan dengan lebih santai. Namun pada acara formal atau saat makan bersama orang yang dihormati, penting untuk melakukannya dengan lebih khidmat.
Perlu diingat bahwa itadakimasu tidak hanya diucapkan saat akan makan makanan utama. Ungkapan ini juga digunakan ketika hendak menikmati camilan atau minuman. Bahkan saat menerima hadiah pun, itadakimasu bisa diucapkan sebagai bentuk terima kasih.
Beberapa variasi penggunaan itadakimasu dalam konteks yang berbeda:
- "Osaki ni itadakimasu" - diucapkan saat akan mulai makan lebih dulu dari yang lain
- "Itadakimasu gozaimasu" - bentuk lebih formal, biasa digunakan dalam situasi bisnis
- "Itadakimashita" - bentuk lampau, diucapkan setelah selesai makan sebagai ungkapan terima kasih
Dengan memahami dan mempraktikkan cara pengucapan yang tepat, kita dapat menunjukkan penghargaan terhadap budaya Jepang sekaligus memperdalam makna di balik ungkapan sederhana namun sarat nilai ini.
Advertisement
Makna Filosofis di Balik Itadakimasu
Di balik ungkapan sederhana itadakimasu, terkandung filosofi mendalam yang mencerminkan pandangan hidup masyarakat Jepang. Beberapa makna filosofis yang terkandung di dalamnya antara lain:
1. Kesadaran akan Keterhubungan dengan Alam
Itadakimasu merefleksikan kesadaran bahwa manusia adalah bagian dari alam, bukan entitas yang terpisah. Dengan mengucapkannya, seseorang mengakui bahwa hidupnya bergantung pada alam dan makhluk hidup lainnya. Ini sejalan dengan konsep "kesalingtergantungan" dalam ajaran Buddha.
2. Penghargaan terhadap Kehidupan
Dalam pandangan Buddhis, semua bentuk kehidupan memiliki nilai yang setara. Itadakimasu merupakan ungkapan terima kasih kepada makhluk hidup yang telah mengorbankan nyawanya agar manusia bisa bertahan hidup. Ini mengajarkan untuk tidak menyia-nyiakan makanan dan menghargai setiap suapan.
3. Rasa Syukur dan Kerendahan Hati
Mengucapkan itadakimasu adalah bentuk syukur atas berkat yang diterima. Ini juga mencerminkan sikap rendah hati, mengakui bahwa makanan yang dinikmati bukan semata-mata hasil jerih payah sendiri, melainkan berkat kerjasama banyak pihak.
4. Kesadaran Sosial
Itadakimasu mengingatkan akan peran berbagai profesi dalam rantai pangan, dari petani hingga koki. Ini memupuk rasa hormat terhadap pekerjaan orang lain dan kesadaran akan saling ketergantungan dalam masyarakat.
5. Mindfulness dalam Makan
Mengucapkan itadakimasu menciptakan jeda sejenak sebelum makan, membantu seseorang untuk lebih sadar dan fokus pada makanan yang akan disantap. Ini sejalan dengan konsep "mindful eating" yang kini populer di dunia kesehatan.
6. Harmoni dengan Lingkungan
Filosofi di balik itadakimasu mengajarkan untuk hidup selaras dengan alam, tidak mengeksploitasi secara berlebihan. Ini relevan dengan isu keberlanjutan lingkungan yang kini menjadi perhatian global.
Dengan memahami makna filosofis ini, kita dapat melihat bahwa itadakimasu bukan sekadar formalitas, melainkan cerminan nilai-nilai luhur yang relevan dengan kehidupan modern. Mempraktikkannya bisa menjadi langkah kecil menuju gaya hidup yang lebih bijak dan penuh kesadaran.
Perbandingan dengan Ungkapan Serupa di Budaya Lain
Meskipun itadakimasu memiliki keunikan tersendiri, konsep mengucapkan sesuatu sebelum makan sebenarnya ditemui di berbagai budaya di dunia. Berikut beberapa perbandingan dengan ungkapan serupa dari budaya lain:
1. "Bismillah" dalam Budaya Islam
Umat Muslim mengucapkan "Bismillahirrahmanirrahim" (Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang) sebelum makan. Meski motivasinya lebih bersifat religius, ada kesamaan dalam hal mengekspresikan rasa syukur kepada Sang Pencipta atas rezeki yang diterima.
2. "Buen Provecho" di Negara-negara Berbahasa Spanyol
Ungkapan ini mirip dengan "bon appétit" dalam bahasa Prancis, yang berarti "selamat menikmati". Meskipun tidak mengandung unsur spiritual seperti itadakimasu, ungkapan ini juga mencerminkan keramahan dan harapan agar orang lain menikmati makanannya.
3. "Smaklig Måltid" di Swedia
Berarti "selamat makan", ungkapan ini diucapkan sebagai bentuk sopan santun sebelum makan bersama. Meski tidak sekompleks itadakimasu, ada unsur penghargaan terhadap makanan dan kebersamaan.
4. Doa Sebelum Makan dalam Tradisi Kristen
Banyak umat Kristen berdoa sebelum makan untuk berterima kasih kepada Tuhan atas makanan yang disediakan. Ini memiliki kemiripan dengan itadakimasu dalam hal mengekspresikan rasa syukur, meski dengan latar belakang teologis yang berbeda.
5. "Ittadā" dalam Budaya India
Di beberapa daerah di India, orang mengucapkan "Ittadā" sebelum makan, yang berarti "makanan ini dipersembahkan". Konsepnya mirip dengan itadakimasu dalam hal menghargai makanan sebagai sesuatu yang suci.
Meski ada kesamaan dalam hal mengekspresikan rasa syukur atau sopan santun, itadakimasu tetap unik karena mencakup aspek penghargaan terhadap alam, makhluk hidup, dan semua pihak yang terlibat dalam penyajian makanan. Ini mencerminkan pandangan holistik masyarakat Jepang terhadap kehidupan dan lingkungan.
Dengan membandingkan itadakimasu dengan ungkapan serupa dari budaya lain, kita bisa melihat bahwa meski cara pengungkapannya berbeda, ada nilai universal berupa rasa syukur dan penghargaan terhadap makanan yang ditemui di berbagai belahan dunia.
Advertisement
Pengaruh Itadakimasu dalam Kehidupan Sehari-hari Masyarakat Jepang
Penggunaan itadakimasu telah menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari masyarakat Jepang, memberikan dampak yang melampaui sekadar ungkapan sebelum makan. Beberapa pengaruh signifikan dari praktik ini antara lain:
1. Pembentukan Karakter Sejak Dini
Anak-anak di Jepang diajarkan untuk mengucapkan itadakimasu sejak usia dini, baik di rumah maupun di sekolah. Ini menanamkan nilai-nilai seperti rasa syukur, penghargaan terhadap makanan, dan kesopanan dalam berperilaku. Praktik ini berkontribusi pada pembentukan karakter yang kuat dan beretika.
2. Memperkuat Ikatan Sosial
Mengucapkan itadakimasu bersama-sama sebelum makan, baik dalam lingkungan keluarga, sekolah, atau tempat kerja, menciptakan momen kebersamaan yang memperkuat ikatan sosial. Ini menjadi ritual sederhana namun bermakna yang menyatukan orang-orang dalam suasana yang positif.
3. Meningkatkan Kesadaran akan Pola Makan
Kebiasaan mengucapkan itadakimasu membuat seseorang lebih sadar akan apa yang akan dimakan. Ini dapat mendorong pola makan yang lebih sehat dan bijak, serta mengurangi kecenderungan untuk makan secara berlebihan atau membuang-buang makanan.
4. Melestarikan Tradisi Kuliner
Dengan menghargai setiap hidangan melalui itadakimasu, masyarakat Jepang secara tidak langsung turut melestarikan tradisi kuliner mereka. Ini menciptakan apresiasi yang mendalam terhadap masakan tradisional dan mendorong pelestarian resep-resep warisan.
5. Meningkatkan Kualitas Layanan di Industri Makanan
Kesadaran akan pentingnya itadakimasu mendorong para profesional di industri makanan, dari koki hingga pelayan restoran, untuk memberikan layanan terbaik. Mereka menyadari bahwa makanan yang mereka sajikan akan dihargai dengan ungkapan itadakimasu, sehingga termotivasi untuk memberikan kualitas terbaik.
6. Kontribusi pada Kesehatan Mental
Praktik mengucapkan itadakimasu dapat dilihat sebagai bentuk sederhana dari mindfulness. Momen berhenti sejenak untuk bersyukur sebelum makan dapat membantu mengurangi stres dan meningkatkan kesejahteraan mental secara keseluruhan.
7. Mendukung Gerakan Keberlanjutan
Filosofi di balik itadakimasu yang menekankan penghargaan terhadap alam dan sumber daya sejalan dengan prinsip-prinsip keberlanjutan. Ini mendorong masyarakat untuk lebih peduli terhadap isu-isu lingkungan dan mendukung praktik-praktik ramah lingkungan dalam industri makanan.
Dengan demikian, itadakimasu bukan hanya sekadar ungkapan, melainkan cerminan dari nilai-nilai luhur yang telah tertanam dalam dalam budaya Jepang. Pengaruhnya meresap ke berbagai aspek kehidupan, membentuk masyarakat yang lebih sadar, menghargai, dan harmonis dengan lingkungannya.
Tantangan dan Adaptasi Itadakimasu di Era Modern
Meskipun itadakimasu telah menjadi bagian integral dari budaya Jepang selama bertahun-tahun, praktik ini menghadapi beberapa tantangan di era modern. Namun, masyarakat Jepang juga menunjukkan kemampuan untuk beradaptasi dan mempertahankan esensi dari tradisi ini. Berikut beberapa tantangan dan adaptasi yang terjadi:
1. Gaya Hidup yang Semakin Sibuk
Dengan ritme kehidupan yang semakin cepat, terutama di kota-kota besar, banyak orang Jepang yang makan dengan terburu-buru atau sendirian. Ini bisa mengurangi kesempatan untuk mengucapkan itadakimasu dengan khidmat. Namun, banyak yang tetap berusaha mempertahankan tradisi ini, bahkan jika hanya diucapkan dalam hati sebelum makan cepat saji.
2. Pengaruh Globalisasi
Masuknya budaya asing, terutama dari Barat, telah mempengaruhi kebiasaan makan sebagian masyarakat Jepang. Beberapa orang mungkin merasa itadakimasu kurang relevan saat menyantap makanan non-Jepang. Namun, banyak juga yang justru menggunakan itadakimasu sebagai cara untuk mempertahankan identitas budaya mereka di tengah arus globalisasi.
3. Perkembangan Teknologi
Kebiasaan menggunakan smartphone saat makan bisa mengganggu ritual mengucapkan itadakimasu. Untuk mengatasi ini, beberapa keluarga dan institusi menerapkan aturan "no phone at the table" untuk mempertahankan momen kebersamaan dan penghargaan terhadap makanan.
4. Perubahan Struktur Keluarga
Dengan semakin banyaknya keluarga kecil atau single-person household, kesempatan untuk mengucapkan itadakimasu bersama-sama dalam lingkungan keluarga berkurang. Namun, ini justru mendorong munculnya komunitas-komunitas makan bersama di kalangan pekerja atau mahasiswa, di mana tradisi itadakimasu tetap dipertahankan.
5. Adaptasi dalam Dunia Digital
Di era media sosial, banyak orang Jepang yang tetap menuliskan "itadakimasu" saat memposting foto makanan mereka. Ini menunjukkan bahwa nilai-nilai di balik ungkapan tersebut tetap relevan dan diadaptasi ke dalam bentuk komunikasi modern.
6. Revitalisasi dalam Pendidikan
Menyadari pentingnya melestarikan tradisi ini, banyak sekolah di Jepang yang semakin menekankan pengajaran tentang makna di balik itadakimasu. Ini termasuk mengaitkannya dengan isu-isu kontemporer seperti keberlanjutan lingkungan dan kesehatan mental.
7. Inovasi dalam Industri Makanan
Restoran-restoran di Jepang mulai mengadopsi cara-cara kreatif untuk mempertahankan tradisi itadakimasu, seperti menyediakan kartu ucapan itadakimasu digital untuk pelanggan yang memesan makanan secara online.
Meskipun menghadapi berbagai tantangan, itadakimasu tetap memiliki tempat yang penting dalam budaya Jepang kontemporer. Kemampuan masyarakat untuk beradaptasi sambil mempertahankan esensi dari tradisi ini menunjukkan betapa dalamnya nilai-nilai tersebut tertanam dalam identitas budaya Jepang. Di tengah perubahan zaman, itadakimasu terus berevolusi, namun tetap menjadi pengingat akan pentingnya rasa syukur, penghargaan, dan kesadaran dalam kehidupan sehari-hari.
Advertisement
Kesimpulan
Itadakimasu jauh lebih dari sekadar ungkapan sebelum makan. Ia merupakan cerminan nilai-nilai luhur dalam budaya Jepang yang mencakup rasa syukur, penghargaan terhadap alam dan sesama, serta kesadaran akan keterhubungan segala hal dalam kehidupan. Meski menghadapi tantangan di era modern, tradisi ini tetap bertahan dan beradaptasi, menunjukkan relevansinya yang abadi.
Bagi mereka yang tertarik mempelajari bahasa dan budaya Jepang, memahami makna mendalam di balik itadakimasu bisa menjadi pintu masuk yang menarik. Ungkapan sederhana ini membuka wawasan tentang filosofi hidup masyarakat Jepang yang menjunjung tinggi harmoni dengan alam dan sesama.
Dalam konteks global, nilai-nilai yang terkandung dalam itadakimasu - seperti penghargaan terhadap makanan, kesadaran akan asal-usul yang kita konsumsi, dan rasa syukur - sangat relevan dengan isu-isu kontemporer seperti keberlanjutan lingkungan dan kesehatan mental. Mempraktikkan semangat itadakimasu, bahkan tanpa harus mengucapkannya, bisa menjadi langkah kecil menuju gaya hidup yang lebih bijak dan penuh kesadaran.
Pada akhirnya, itadakimasu mengajarkan kita untuk berhenti sejenak, menghargai apa yang ada di hadapan kita, dan mengakui keterhubungan kita dengan dunia yang lebih luas. Sebuah pelajaran sederhana namun mendalam yang bisa kita terapkan dalam berbagai aspek kehidupan, jauh melampaui meja makan.
