Tradisi Lebaran di Jawa Timur, Ketahui Keunikan dan Keberagaman Budayanya

Mengenal beragam tradisi lebaran di Jawa Timur yang unik dan kaya makna, dari takbir keliling hingga festival balon udara. Simak keseruan perayaannya!

oleh Ayu Isti Prabandari Diperbarui 02 Apr 2025, 06:10 WIB
Diterbitkan 02 Apr 2025, 06:10 WIB
tradisi lebaran di jawa timur
tradisi lebaran di jawa timur ©Ilustrasi dibuat AI... Selengkapnya

Liputan6.com, Jakarta Lebaran di Jawa Timur adalah momen istimewa yang diwarnai dengan beragam tradisi unik nan kaya makna. Sebagai provinsi dengan populasi Muslim terbesar di Indonesia, Jawa Timur memiliki kekayaan budaya yang tercermin dalam perayaan Idul Fitri. Dari kota besar hingga pelosok desa, masyarakat Jawa Timur merayakan lebaran dengan cara-cara khas yang telah diwariskan secara turun-temurun. Mari kita telusuri lebih dalam keunikan tradisi lebaran di Jawa Timur yang menarik untuk diketahui.

Takbir Keliling: Menyemarakkan Malam Lebaran

Salah satu tradisi lebaran di Jawa Timur yang paling dinanti adalah takbir keliling. Pada malam menjelang Idul Fitri, suasana kampung dan kota dipenuhi lantunan takbir yang bergema. Anak-anak hingga orang dewasa berkeliling kampung sambil mengumandangkan takbir dengan penuh semangat.

Di beberapa daerah, takbir keliling diiringi dengan obor dari bambu yang menambah kemeriahan suasana. Warga berjajar di depan rumah menyambut rombongan takbir dengan suka cita. Tak jarang pula takbiran dilakukan dengan menggunakan mobil bak terbuka atau truk yang dilengkapi pengeras suara.

Tradisi ini bukan sekadar ritual, melainkan sarana mempererat persaudaraan antarwarga. Suasana kebersamaan terasa kental saat seluruh kampung berbaur dalam kemeriahan takbiran. Bagi anak-anak, momen ini menjadi kenangan indah masa kecil yang tak terlupakan.

Selain memeriahkan suasana, takbir keliling juga mengandung makna spiritual yang dalam. Lantunan takbir menjadi ungkapan syukur atas keberhasilan menjalankan ibadah puasa sebulan penuh. Sekaligus menjadi penanda datangnya hari kemenangan yang ditunggu-tunggu umat Muslim.

Ziarah Kubur: Mengenang dan Mendoakan Leluhur

Tradisi ziarah kubur menjadi bagian tak terpisahkan dari rangkaian lebaran di Jawa Timur. Baik sebelum maupun sesudah Idul Fitri, masyarakat berbondong-bondong mengunjungi makam keluarga dan leluhur. Momen ini menjadi kesempatan untuk mendoakan arwah yang telah mendahului serta membersihkan area pemakaman.

Ziarah kubur bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan cerminan penghormatan mendalam terhadap leluhur. Masyarakat Jawa Timur meyakini pentingnya menjaga hubungan dengan para pendahulu meski telah tiada. Tradisi ini juga menjadi sarana introspeksi diri dan pengingat akan kefanaan hidup di dunia.

Saat berziarah, keluarga biasanya membawa bunga tabur dan air untuk menyiram makam. Mereka membersihkan area kuburan dari rumput liar dan sampah. Setelah itu dilanjutkan dengan membaca doa dan tahlil bersama. Suasana haru dan khidmat terasa kental saat keluarga berkumpul mendoakan arwah leluhur.

Bagi sebagian masyarakat, ziarah kubur juga diyakini sebagai cara memohon berkah dan keselamatan. Namun esensi utamanya tetap pada penghormatan serta doa tulus untuk para pendahulu. Tradisi ini menjadi pengingat akan jasa dan nilai-nilai luhur yang diwariskan leluhur kepada generasi penerus.

Lebaran Ketupat: Perayaan Usai Puasa Syawal

Tradisi unik lainnya yang kental di Jawa Timur adalah Lebaran Ketupat atau Kupatan. Perayaan ini dilaksanakan seminggu setelah Idul Fitri, tepatnya pada tanggal 8 Syawal. Masyarakat merayakannya dengan membuat dan menyantap ketupat bersama-sama.

Lebaran Ketupat menjadi simbol penyempurnaan ibadah puasa. Setelah berpuasa Ramadhan sebulan penuh, dilanjutkan dengan puasa sunnah 6 hari di bulan Syawal. Perayaan Kupatan menandai selesainya rangkaian puasa tersebut. Ketupat yang berbentuk anyaman melambangkan pengakuan kesalahan dan permohonan maaf.

Di berbagai daerah Jawa Timur, Lebaran Ketupat dirayakan dengan cara yang beragam. Ada yang menggelar selamatan di masjid atau musholla dengan membawa ketupat dari rumah masing-masing. Ada pula yang merayakannya dengan menggelar festival ketupat seperti di Magetan. Ribuan ketupat dipajang di sepanjang jalan kampung untuk dinikmati bersama.

Selain ketupat, hidangan khas lain yang disajikan antara lain opor ayam, sayur lodeh, dan sambal goreng. Masyarakat saling berbagi makanan dengan tetangga dan kerabat sebagai simbol kebersamaan. Suasana kekeluargaan terasa kental saat warga berkumpul menyantap hidangan bersama-sama.

Lebaran Ketupat bukan sekadar perayaan kuliner, namun sarat makna filosofis. Ketupat yang terbuat dari beras putih melambangkan kesucian hati setelah bermaaf-maafan. Daun pembungkusnya yang hijau melambangkan kesuburan dan harapan. Perayaan ini menjadi momen untuk mempererat tali silaturahmi antarwarga.

Sungkeman: Tradisi Memohon Maaf dan Restu

Sungkeman menjadi salah satu tradisi lebaran yang masih kental dilakukan masyarakat Jawa Timur. Ritual ini biasanya dilakukan setelah menunaikan shalat Idul Fitri. Anak-anak akan berlutut di hadapan orang tua untuk meminta maaf dan memohon restu.

Dalam tradisi sungkeman, anak akan mencium tangan kedua orang tua sebagai simbol penghormatan. Mereka memohon ampun atas segala kesalahan yang pernah diperbuat. Orang tua kemudian memeluk dan mendoakan anaknya. Momen haru dan penuh makna ini menjadi puncak perayaan lebaran bagi keluarga.

Sungkeman bukan sekadar formalitas, melainkan ajang introspeksi diri dan pembaharuan hubungan. Anak-anak berkesempatan mengungkapkan rasa terima kasih atas kasih sayang dan pengorbanan orang tua. Sebaliknya, orang tua dapat menyampaikan nasihat serta harapan untuk masa depan anak-anaknya.

Tradisi ini mengajarkan nilai-nilai luhur seperti hormat pada orang tua, kerendahan hati, dan pentingnya saling memaafkan. Sungkeman menjadi momen untuk merajut kembali ikatan keluarga yang mungkin sempat renggang. Suasana haru dan penuh kehangatan mewarnai ritual yang sarat makna ini.

Festival Balon Udara: Tradisi Unik Khas Probolinggo

Salah satu tradisi lebaran unik di Jawa Timur adalah Festival Balon Udara di Probolinggo. Perayaan ini biasanya digelar pada hari ketujuh setelah Idul Fitri. Ribuan warga berkumpul untuk menerbangkan balon udara secara serentak, menciptakan pemandangan yang memukau di langit kota.

Festival ini relatif baru, namun telah menjadi daya tarik wisata yang diminati. Balon-balon berwarna-warni yang diterbangkan menjadi simbol harapan dan doa yang dipanjatkan ke langit. Masyarakat meyakini tradisi ini sebagai pembawa keberuntungan di tahun yang baru.

Persiapan festival dimulai jauh-jauh hari. Warga bergotong-royong membuat balon udara dari kertas minyak dengan berbagai bentuk dan ukuran. Ada yang berbentuk bola, tabung, hingga menyerupai hewan atau tokoh kartun. Balon-balon ini kemudian dihiasi dengan lukisan dan ornamen yang indah.

Saat hari H tiba, ribuan warga berkumpul di lapangan untuk menerbangkan balon secara bersamaan. Suasana meriah dan penuh warna tercipta saat ratusan balon mengudara. Pemandangan ini menjadi magnet yang menarik wisatawan dari berbagai daerah.

Meski sempat menuai kontroversi terkait keamanan penerbangan, kini festival ini telah diatur dengan ketat. Pihak berwenang mengawasi pelaksanaannya agar tidak mengganggu lalu lintas udara. Festival Balon Udara menjadi bukti kreativitas masyarakat dalam menciptakan tradisi baru yang unik.

Ater-Ater: Berbagi Kebahagiaan Lewat Makanan

Tradisi ater-ater atau saling mengirim makanan menjadi ciri khas lebaran di Jawa Timur. Beberapa hari setelah Idul Fitri, masyarakat saling mengantarkan makanan kepada tetangga dan kerabat. Kegiatan ini menjadi sarana mempererat tali silaturahmi dan berbagi kebahagiaan.

Makanan yang diantarkan biasanya berupa hidangan khas lebaran seperti ketupat, opor ayam, rendang, dan kue-kue tradisional. Setiap keluarga akan menyiapkan beberapa porsi untuk dibagikan ke rumah-rumah tetangga. Tradisi ini mencerminkan semangat berbagi dan kepedulian sosial yang tinggi.

Di beberapa daerah, ater-ater memiliki keunikan tersendiri. Di Madura misalnya, para wanita mengantarkan makanan dengan meletakkan nampan di atas kepala. Pemandangan unik ini menjadi daya tarik tersendiri saat lebaran di Pulau Garam.

Selain mempererat persaudaraan, ater-ater juga menjadi ajang berbagi rezeki dengan tetangga yang kurang mampu. Tradisi ini mengajarkan pentingnya berbagi kebahagiaan di tengah suasana lebaran. Meski sederhana, makna di balik tradisi ini sangatlah dalam.

Mudik: Pulang Kampung Demi Silaturahmi

Tradisi mudik menjadi fenomena besar yang mewarnai lebaran di Jawa Timur. Jutaan perantau dari berbagai kota besar kembali ke kampung halaman demi berkumpul dengan keluarga. Momen ini menjadi yang paling dinantikan sepanjang tahun.

Mudik bukan sekadar perjalanan fisik, namun juga perjalanan batin kembali ke akar. Para perantau rela menempuh perjalanan jauh dan berdesak-desakan demi bisa merayakan lebaran di kampung. Suasana haru sekaligus bahagia mewarnai momen berkumpulnya keluarga yang lama terpisah.

Tradisi ini membawa dampak luar biasa bagi perekonomian daerah. Peredaran uang meningkat tajam saat lebaran tiba. Pasar-pasar tradisional hingga pusat perbelanjaan modern diserbu pemudik yang berbelanja oleh-oleh dan kebutuhan lebaran.

Meski kerap menuai kritik karena kemacetan dan kecelakaan yang ditimbulkan, mudik tetap menjadi tradisi yang sulit ditinggalkan. Bagi masyarakat Jawa Timur, mudik adalah wujud bakti pada orang tua dan upaya menjaga silaturahmi dengan keluarga besar.

Tradisi Makan Besar Bersama Keluarga

Salah satu momen yang paling dinantikan saat lebaran adalah acara makan besar bersama keluarga. Tradisi ini menjadi ajang berkumpul dan berbagi kebahagiaan dengan orang-orang terdekat. Hidangan khas lebaran seperti opor ayam, rendang, ketupat, dan aneka kue tradisional tersaji di meja makan.

Makan besar biasanya dilakukan setelah shalat Idul Fitri dan sungkeman. Seluruh anggota keluarga berkumpul untuk menikmati hidangan yang telah disiapkan. Suasana hangat dan penuh canda tawa mewarnai acara makan bersama ini. Momen ini menjadi kesempatan untuk melepas rindu dan berbagi cerita dengan keluarga yang jarang bertemu.

Selain menikmati hidangan, tradisi makan besar juga menjadi ajang berbagi rezeki. Keluarga yang mampu biasanya mengundang sanak saudara atau tetangga yang kurang mampu untuk ikut makan bersama. Hal ini mencerminkan semangat berbagi dan kepedulian sosial yang tinggi.

Di beberapa daerah, tradisi makan besar memiliki keunikan tersendiri. Di Tulungagung misalnya, makan besar baru dilakukan pada tanggal 8 Syawal atau saat Lebaran Ketupat. Hidangan utamanya adalah ayam lodho khas Tulungagung yang pedas dan gurih.

Ilustrasi lebaran
Ilustrasi silaturahmi Lebaran. (c) Shutterstock/Odua Images... Selengkapnya

Tradisi 'Serba Baru' Saat Lebaran

Mengenakan pakaian dan perlengkapan baru saat lebaran menjadi tradisi yang tak terpisahkan di Jawa Timur. Masyarakat berlomba-lomba tampil istimewa di hari yang fitri. Baju baru, sepatu baru, hingga peralatan rumah tangga baru menjadi incaran menjelang lebaran tiba.

Tradisi ini bukan sekadar pamer atau gengsi semata. Ada filosofi mendalam di baliknya, yakni menyambut hari kemenangan dengan penampilan yang bersih dan suci. Pakaian baru melambangkan pembaharuan diri setelah sebulan berpuasa. Sekaligus simbol harapan akan kehidupan yang lebih baik di tahun mendatang.

Menjelang lebaran, pusat perbelanjaan diserbu pembeli yang berburu baju dan perlengkapan baru. Pasar tradisional hingga mal modern dipenuhi pengunjung. Fenomena ini tentu berdampak positif bagi perekonomian daerah. Omzet penjualan melonjak tajam di musim lebaran.

Meski demikian, tradisi ini juga menuai kritik karena dianggap mendorong konsumtivisme. Beberapa tokoh agama mengingatkan agar tidak berlebihan dalam berbelanja. Esensi lebaran bukan pada kemewahan penampilan, melainkan pada ketulusan hati untuk saling memaafkan.

Halal Bihalal: Mempererat Silaturahmi

Tradisi halal bihalal menjadi puncak dari rangkaian perayaan lebaran di Jawa Timur. Acara ini biasanya digelar beberapa hari atau minggu setelah Idul Fitri. Halal bihalal menjadi ajang silaturahmi dan saling bermaaf-maafan dalam lingkup yang lebih luas.

Berbagai komunitas menggelar acara halal bihalal, mulai dari lingkungan RT/RW, kantor, sekolah, hingga organisasi kemasyarakatan. Acaranya bisa berupa pertemuan santai atau lebih formal dengan ceramah agama. Inti dari halal bihalal adalah mempererat tali persaudaraan dan membersihkan diri dari kesalahan.

Dalam acara halal bihalal, peserta saling bersalaman dan mengucapkan permohonan maaf. Suasana haru sekaligus bahagia tercipta saat orang-orang yang lama tak berjumpa kembali bertemu. Momen ini menjadi kesempatan untuk merajut kembali hubungan yang mungkin sempat renggang.

Selain silaturahmi, halal bihalal juga menjadi ajang berbagi pengalaman dan bertukar informasi. Bagi perantau yang mudik, ini menjadi kesempatan untuk bertemu teman-teman lama. Acara biasanya ditutup dengan makan bersama yang menambah kehangatan suasana.

Kesimpulan

Tradisi lebaran di Jawa Timur mencerminkan kekayaan budaya dan kearifan lokal yang masih terjaga. Setiap daerah memiliki keunikan tersendiri dalam merayakan momen fitri ini. Dari takbir keliling yang meriah hingga festival balon udara yang memukau, semua itu menjadi warna-warni yang memperkaya khazanah budaya Nusantara.

Meski zaman terus berubah, esensi dari tradisi-tradisi tersebut tetap sama. Yaitu mempererat tali silaturahmi, berbagi kebahagiaan, dan membersihkan diri lahir batin. Lebaran menjadi momen istimewa untuk merajut kembali ikatan kekeluargaan dan persaudaraan yang mungkin sempat renggang.

Penting bagi generasi muda untuk terus melestarikan tradisi-tradisi ini. Tentu dengan penyesuaian sesuai perkembangan zaman, namun tanpa menghilangkan esensi dan nilai-nilai luhur di dalamnya. Dengan demikian, keindahan tradisi lebaran di Jawa Timur akan terus lestari dan menjadi kebanggaan bersama.

Lanjutkan Membaca ↓
Loading

Disclaimer: Artikel ini ditulis ulang oleh redaksi dengan menggunakan Artificial Intelligence

Video Pilihan Hari Ini

EnamPlus

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya