Liputan6.com, Jakarta - Negara Indonesia dinyatakan bebas dari black list atau daftar hitam negara yang rawan pencucian uang dan pendanaan terorisme. Hal itu diputuskan dalam sidang Badan Financial Action Task Force (FATF) di Paris, Prancis, Selasa 24 Februari kemarin.
"Iya, benar, jadi mereka (FATF) yang anggotanya terdiri dari puluhan negara anggota telah sepakat, Indonesia tak lagi masuk daftar," ujar Ketua Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) M Yusuf saat dikonfirmasi Liputan6.com di Jakarta, Kamis (26/2/2015).
FATF merupakan badan yang dibentuk negara-negara anggota Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) untuk memerangi kejahatan pencucian uang dalam skala internasional.
Dijelaskan M Yusuf, status greylist saat ini merupakan hasil kerja keras Pemerintah Indonesia yang berupaya menerapkan standar yang ditentukan oleh FATF untuk menjadi negara yang bebas dari daftar hitam negara rawan pencucian uang dan pendanaan teroris.
"Kami, PPATK, Polri, Mahkamah Agung, dan legislatif telah melakukan prosedur yang diminta dan sudah melaksanakan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2013 tentang Anti Pendanaan Terorisme secara konsisten," ujar dia.
Kata M Yusuf, 2 tahun sebelumnya, Indonesia belum memiliki Undang-Undang Antipendanaan Terorisme. Sehingga, NKRI masuk daftar hitam. Setahun kemudian, Pemerintah dan DPR membuat Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2013.
"Dan penerapannya hingga saat ini telah diakui dunia. Amerika Serikat telah mengusulkan Indonesia tak lagi masuk daftar," ungkap dia.
Pimpinan PPATK itu menambahkan, pihak FATF selanjutnya akan mengunjungi Indonesia untuk melihat secara detail bagaimana mekanisme pencegahan pencucian uang dan anti-pendanaan teroris itu diterapkan.
"Pada Mei mendatang (2015) mereka akan datang, dan kira-kira Juni telah dinyatakan secara resmi, hasilnya, bahwa Indonesia sudah fix keluar dari black list," tandas M Yusuf. (Riz)
RI Bebas dari Daftar Hitam Pencucian Uang dan Pendanaan Terorisme
Indonesia tak lagi berstatus negara rawan pencucian uang, berdasarkan sidang Badan Financial Action Task Force (FATF) di Paris.
Diperbarui 26 Feb 2015, 06:33 WIBDiterbitkan 26 Feb 2015, 06:33 WIB
Advertisement
Video Pilihan Hari Ini
Produksi Liputan6.com
powered by
POPULER
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Berita Terbaru
Arus Balik Hari Ini, One Way Masih Berlaku di Tol Kalikangkung-Cikopo Arah Jakarta
Israel Tingkatkan Eskalasi di Gaza hingga Suriah, Tewaskan Petinggi Hamas Hassan Farhat di Lebanon
Momen Prabowo Bertukar Ucapan Selamat Idul Fitri 1446 H ke 5 Pemimpin Negara
Serial Remaja 'ADOLESCENCE' Unggul di Netflix, Kalahkan 'Stranger Things 3'
Resep Udang Asam Manis Saus Tiram, Berikut Tips Pengolahan dan Penyajiannya
Bacaan Doa Terlanjur Ghibah Lengkap Beserta Arti, Mohon Ampunan
Benarkah Indonesia Masih Aman dari Dampak Tarif Resiprokal Trump?
Gus Baha Ungkap Perbedaan Gaya Dzikir Abu Bakar dan Umar bin Khattab, Utama Mana?
Resep dan Cara Membuat Bento Sehat untuk Kolesterol atau Diet Gula
7 Potret Pemandangan Depan Rumah Lesti Kejora di Cianjur, Ada Curug Bak di Villa
Tips Rawat Kaca Mobil Sebelum Arus Balik Lebaran 2025: Hindari Kecelakaan!
Antisipasi Kepadatan, Jasa Marga Berlakukan Contraflow di Tol Jagorawi Arah Puncak