Hamas Tolak Proposal Gencatan Senjata Israel, Negosiasi Gaza Tetap Buntu?

Hamas menolak proposal gencatan senjata terbaru dari Israel, menilai proposal tersebut menggagalkan upaya perdamaian yang dimediasi Mesir dan Qatar.

oleh Tanti Yulianingsih Diperbarui 03 Apr 2025, 16:15 WIB
Diterbitkan 03 Apr 2025, 16:15 WIB
Ilustrasi Hamas Palestina (3)
Ilustrasi Hamas Palestina. (Liputan6.com/Andri Wiranuari)... Selengkapnya

Liputan6.com, Gaza - Hamas telah menolak usulan terbaru Israel terkait gencatan senjata Gaza, dua pejabat dari gerakan tersebut mengatakan kepada AFP pada hari Rabu (2/4/2025).

"Hamas telah memutuskan untuk tidak menindaklanjuti usulan terbaru Israel yang disampaikan melalui para mediator," kata salah seorang pejabat, yang berbicara dengan syarat anonim seperti dikutip dari AFP, Kamis (3/4).

Mereka menuduh Israel "memblokir usulan dari Mesir dan Qatar dan mencoba menggagalkan kesepakatan apa pun."

Mengonfirmasi penolakan gerakan Palestina untuk bernegosiasi berdasarkan usulan terbaru Israel, pejabat Hamas kedua meminta “para mediator dan masyarakat internasional untuk memaksa (Israel) agar berkomitmen pada usulan para mediator.”

Setelah dua bulan gencatan senjata di Gaza dan beberapa minggu negosiasi yang gagal untuk memperpanjangnya, Israel melanjutkan pemboman dan serangan militernya di Gaza pada tanggal 18 Maret, dengan mengklaim bahwa tekanan militer adalah satu-satunya cara untuk memaksa Hamas membebaskan sekitar 60 sandera, hidup atau mati, yang masih ditahannya.

Mesir, Qatar, dan Amerika Serikat berupaya menjadi penengah gencatan senjata baru dan mengamankan pembebasan sandera Israel yang tersisa.

Sebelumnya, seorang pejabat senior Hamas mengatakan pada hari Sabtu (29/3) bahwa kelompok itu telah menyetujui proposal gencatan senjata baru, sementara kantor PM Netanyahu mengatakan Israel telah mengajukan tawaran balasan. Rinciannya masih dirahasiakan.

Menurut salah satu pejabat Hamas, proposal Mesir-Qatar mencakup gencatan senjata selama 50 hari di mana Hamas akan membebaskan lima tentara Israel, termasuk satu yang memegang kewarganegaraan AS, sebagai imbalan atas pembebasan 250 warga Palestina yang dipenjara oleh Israel, termasuk 150 yang menjalani hukuman seumur hidup.

Israel juga akan membebaskan 2.000 warga Palestina yang ditangkap oleh tentara Israel di Jalur Gaza sejak 7 Oktober 2023, tanggal serangan mematikan Hamas yang memicu perang.

Sumber yang sama mengatakan proposal yang diterima oleh Hamas pada hari Sabtu (29/3) juga mencakup penarikan tentara Israel dari wilayah Gaza tempat mereka ditempatkan kembali sejak 18 Maret dan masuknya bantuan kemanusiaan.

Adapun tahap pertama gencatan senjata, yang dimulai pada 19 Januari, menghasilkan pemulangan 33 sandera Israel, delapan di antaranya tewas, sebagai imbalan atas pembebasan sekitar 1.800 tahanan Palestina.

Dari 251 sandera yang diculik selama serangan 7 Oktober, 58 orang masih berada di Gaza, 34 di antaranya tewas, menurut tentara Israel.

 

Video Pilihan Hari Ini

EnamPlus

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya