6 Fakta Menarik Masjid Besar Puro Pakualaman di Yogyakarta yang Didirikan pada Abad ke-18

Temukan enam fakta menarik tentang Masjid Puro Pakualaman, tempat bersejarah yang kaya akan budaya dan seni di Yogyakarta.

oleh Dyah Ayu Pamela Diperbarui 27 Mar 2025, 05:00 WIB
Diterbitkan 27 Mar 2025, 05:00 WIB
Masjid Agung Pura Pakualaman
Masjid Agung Pura Pakualaman. (Dok: IG @nur.hanifah.ahmad https://www.instagram.com/p/C48e-quS7KR/?igsh=MWhjNW8wa3B2ejVmbw==)... Selengkapnya

Liputan6.com, Jakarta - Masjid Besar Puro Pakualam, yang terletak di Kauman, Kecamatan Paku Alam, Yogyakarta, adalah salah satu masjid bersejarah yang memiliki banyak cerita menarik di baliknya. Masjid ini didirikan pada 1831 oleh Sri Paku Alam II, setelah Perang Diponegoro, sebagai tempat ibadah yang juga mencerminkan kekayaan budaya lokal.

Mengutip dari laman Dunia Masjid, Kamis (26/3/2025), selain menjadi tempat salat, masjid ini juga menjadi simbol dari sejarah dan seni yang berkembang di Yogyakarta. Salah satu hal menarik tentang masjid ini adalah keberadaannya yang tidak lepas dari instruksi putra pendiri Keraton Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubowono I.

Masjid ini menjadi salah satu warisan budaya yang masih terjaga hingga saat ini. Dengan desain arsitektur yang khas, masjid ini menggambarkan perpaduan antara budaya Jawa dan Islam yang terjalin harmonis.

Masih banyak hal mengenai Masjid Besar Puro Pakualaman selain sejarahnya. Berikut adalah enam fakta menarik tentang Masjid Puro Pakualaman yang dirangkum Tim Lifestyle Liputan6.com dari berbagai sumber.

1. Sejarah Pendirian Masjid

Masjid Puro Pakualaman didirikan oleh Sri Paku Alam II, yang merupakan pengganti Paku Alam I. Pendirian masjid ini ditandai dengan keberadaan batu tulis yang masih dapat dibaca pada dinding serambi masjid. Prasasti tersebut ditulis dalam huruf Arab dan huruf Jawa, yang menunjukkan pentingnya pengaruh budaya lokal dalam sejarah pembangunan masjid ini.

Promosi 1

2. Arsitektur yang Menarik

Masjid Agung Pura Pakualaman. (Dok: IG @nur.hanifah.ahmad https://www.instagram.com/p/C48e-quS7KR/?igsh=MWhjNW8wa3B2ejVmbw==)
Masjid Agung Pura Pakualaman. (Dok: IG @nur.hanifah.ahmad https://www.instagram.com/p/C48e-quS7KR/?igsh=MWhjNW8wa3B2ejVmbw==) ... Selengkapnya

Masjid Agung Puro Pakualaman ini memiliki bentuk segi empat dan ruangannya dirancang khusus untuk ibadah salat. Ruangan masjid ini terbilang cukup sederhana, namun memiliki keindahan tersendiri yang menyiratkan bangunan di abad ke-18.

Dulu, serambi masjid ini sempit, namun kini telah diperluas untuk menampung lebih banyak jamaah dengan luas bangunan masjid total 144 meter persegi. Selain itu, terdapat krepyak, alat pelindung bagi Sri Paku Alam saat salat berjamaah, yang kini dapat digunakan oleh siapa saja.

3. Renovasi dan Perbaikan Masjid Besar Paku Alaman

Masjid Puro Pakualaman telah mengalami beberapa kali renovasi, termasuk pada masa Sri Paku Alam VII. Prasasti yang ada di masjid ini juga menjadi saksi bisu dari perbaikan yang dilakukan. Prasasti tersebut berisi informasi terkait waktu berdirinya masjid dan juga mengenai tahun pendirinya, yang menunjukkan betapa pentingnya sejarah masjid ini bagi masyarakat sekitar.

 

4. Peninggalan Budaya dan Seni

Masjid Agung Pura Pakualaman di Yogyakarta. (Dok: IG @nur.hanifah.ahmad https://www.instagram.com/p/C48e-quS7KR/?igsh=MWhjNW8wa3B2ejVmbw==)
Masjid Agung Pura Pakualaman. (Dok: IG @nur.hanifah.ahmad https://www.instagram.com/p/C48e-quS7KR/?igsh=MWhjNW8wa3B2ejVmbw==)... Selengkapnya

 

Sri Paku Alam II bukan hanya seorang pemimpin, tetapi juga seorang seniman ulung. Ia dikenal menghasilkan karya seni, termasuk tari dan sastra.

KGP Adipati Paku Alam II, yang lahir 25 Juni 1786, juga menulis sastra Serat Baratayuda dan Serat Dewarud yang berisi penjabaran dua kalimat syahadat dan sifat Allah yang dua puluh. Ia bahkan ikut menciptakan tari Beksan Bandayuda, Ladrang, Inum, Lawung Ageng, Gadung Mlati, dan Puspa Wama.

Beberapa tari yang diciptakannya, seperti Beksan Bandayuda dan Ladrang, hingga kini masih dipertunjukkan. Ini menunjukkan bahwa masjid ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat kebudayaan.

Sri Paduka Paku Alam II menuliskan sebagai berikut, "Barangsiapa yang akan masuk Masjid Puro Paku Alam, saya mengharap dengan sangat agar membasuh diri atau bersuci hingga bersih, juga agar turut menjaga kebersihan dengan menyapu serambi masjid dan halamannya."

5. Fasilitas yang Tersedia

Masjid Agung Pura Pakualaman di Yogyakarta. (Dok: IG @nur.hanifah.ahmad https://www.instagram.com/p/C48e-quS7KR/?igsh=MWhjNW8wa3B2ejVmbw==)
Masjid Agung Pura Pakualaman di Yogyakarta. (Dok: IG @nur.hanifah.ahmad https://www.instagram.com/p/C48e-quS7KR/?igsh=MWhjNW8wa3B2ejVmbw==)... Selengkapnya

Di dalam masjid terdapat berbagai fasilitas, seperti mimbar masjid Keraton, kipas angin, dan lampu gantung yang indah. Masjid ini juga memiliki perpustakaan dan tempat untuk menyimpan beduk.

Pintu masjid terbuat dari kayu jati dan di dalamnya terdapat serambi yang luas, membuat suasana shalat semakin nyaman. Meski tampak sederhana, tapi masjid ini sangat terawat oleh pengurus dan warga sekitarnya sebagaimana bangunan bersejarah. 

6. Kegiatan Keagamaan yang Rutin

Setiap Ahad pagi, masjid ini mengadakan pengajian umum yang diisi oleh ustadz terkenal di Yogyakarta. Kegiatan ini tidak hanya menarik jamaah dari sekitar, tetapi juga menjadi daya tarik bagi wisatawan yang ingin mengenal lebih dalam tentang budaya dan agama di Yogyakarta. Ini menunjukkan bahwa masjid ini tetap hidup dan berfungsi sebagai pusat kegiatan keagamaan yang aktif.

Masjid Puro Mangkualam bukan hanya sekadar tempat ibadah, tetapi juga merupakan simbol dari sejarah, budaya, dan seni yang kaya di Yogyakarta. Dengan segala keunikan dan fakta menarik yang dimilikinya, masjid ini layak untuk dikunjungi dan dipelajari lebih dalam.

Infografis: Masjid Indah dan Ikonik di Indonesia
Infografis: Masjid Indah dan Ikonik di Indonesia. (Triyasni/Liputan6.com)... Selengkapnya
Lanjutkan Membaca ↓
Loading

Video Pilihan Hari Ini

EnamPlus

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya