Ini Alasan Penderita Rabies Takut dengan Air

Jika seseorang digigit atau dicakar oleh hewan yang dicurigai rabies, langkah pertama yang harus dilakukan adalah membersihkan luka dengan sabun dan air mengalir selama minimal 15 menit.

oleh Switzy Sabandar Diperbarui 28 Mar 2025, 07:00 WIB
Diterbitkan 28 Mar 2025, 07:00 WIB
penyebab rabies
penyebab rabies ©Ilustrasi dibuat AI... Selengkapnya

Liputan6.com, Yogyakarta - Rabies, penyakit yang disebabkan oleh virus rabies (RABV), telah menjadi perhatian banyak orang karena gejalanya. Salah satu gejala yang paling mencolok adalah hidrofobia, atau ketakutan terhadap air.

Ketakutan ini bukan berasal dari gangguan psikologis, melainkan akibat respons fisik ketika penderita mencoba menelan air atau bahkan air liur mereka sendiri. Reaksi ini terjadi karena virus rabies telah memengaruhi sistem saraf pusat, termasuk otak, yang mengakibatkan kelumpuhan otot-otot saat menelan.

Mengutip dari The Journal of Veterinary Medical Science, ketika seseorang terinfeksi rabies, virus tersebut menyebar melalui sistem saraf menuju otak. Setelah mencapai otak, virus mulai merusak jaringan saraf dan mengganggu fungsi normal tubuh.

Salah satu area yang terkena dampak adalah otot-otot yang terlibat dalam proses menelan. Akibatnya, penderita rabies mengalami kesulitan besar saat mencoba menelan cairan, termasuk air.

Rasa sakit yang timbul sering digambarkan seperti menelan pecahan kaca, yang membuat penderita secara refleks menghindari air. Selain itu, virus rabies juga memiliki kemampuan untuk memengaruhi kelenjar ludah.

Virus rabies melakukan replikasi secara aktif di kelenjar ludah. Hal ini menyebabkan produksi air liur meningkat, tetapi penderita tidak dapat menelannya karena kelumpuhan otot menelan.

Akibatnya, air liur menumpuk di mulut, menambah ketidaknyamanan dan rasa sakit. Ketidakmampuan menelan air dan air liur ini menyebabkan dehidrasi parah pada penderita rabies.

Meskipun cairan dapat diberikan melalui infus, kondisi ini tidak cukup untuk menyelamatkan nyawa pasien. Pada tahap hidrofobia, penyakit rabies hampir selalu berakibat fatal.

Sekitar 99,9 persen penderita yang mencapai tahap ini akan meninggal dalam beberapa hari. Virus rabies memiliki mekanisme yang cerdas untuk memastikan kelangsungan hidupnya.

Dengan bereplikasi di kelenjar ludah, virus ini meningkatkan kemungkinan penularan ke inang baru melalui gigitan atau cakaran. Hal ini merupakan bagian dari strategi virus untuk bertahan hidup, karena inang yang terinfeksi akan mati dalam waktu singkat.

Oleh karena itu, hewan yang terinfeksi rabies sering kali menunjukkan perilaku agresif dan tidak terkendali, yang membuat virus menyebar lebih luas. Bagi manusia, rabies adalah penyakit yang sangat berbahaya.

Jika seseorang digigit atau dicakar oleh hewan yang dicurigai rabies, langkah pertama yang harus dilakukan adalah membersihkan luka dengan sabun dan air mengalir selama minimal 15 menit. Setelah itu, penderita harus segera mendapatkan vaksin anti-rabies (VAR) di puskesmas atau rumah sakit terdekat.

Penulis: Ade Yofi Faidzun

Promosi 1

Video Pilihan Hari Ini

Produksi Liputan6.com

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya