Liputan6.com, Bandung - Bulan Ramadan 1446 Hijriah tinggal menghitung waktu. Setiap tahunnya seluruh umat muslim menjalankan ibadah puasa pada bulan penuh berkah ini.
Dalam ritual ibadah yang wajib dilaksanakan umat muslim setahun sekali ini, kerap diiringi berbagai kegiatan tradisi positif salah satunya meminta maaf kepada orang lain sebelum menjalankannya.
Advertisement
Baca Juga
Mengutip dari laman Yayasan Percikan Iman Bandung yang dipimpin Ustad Aam Amiruddin, sampai saat ini masih belum menemukan nash hadis yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW memerintahkan atau mencontohkan kita untuk saling bermaafan, khususnya pada saat menjelang masuknya bulan Ramadan.
Advertisement
Entahlah barangkali ada ustaz atau ulama hadis yang menemukan dalilnya. Tentu kalau ada dan shahih (sah) serta eksplisit redaksinya, kita pun perlu untuk melakukannya.
Adapun bermaaf-maafan secara umum, tidak terkait dengan masuknya bulan Ramadan, sudah tidak perlu dipermasalahkan lagi. Begitu banyak dalil untuk meminta maaf dan memberi maaf. Salah satunya adalah firman Allah SWT berikut ini:
"Maka maafkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS. Al-Baqarah: 109)
Demikian juga di dalam ayat lain disebutkan bahwa memaafkan orang lain adalah sifat orang bertakwa. Sementara, tujuan kita berpuasa adalah juga agar kita menjadi orang yang bertakwa.
"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, yaitu orang-orang yang menafkahkan, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan." (QS. Ali Imran: 132-133)
Di dalam ayat lain, disebutkan bahwa memaafkan kesalahan orang lain itu mendekatkan kita kepada sifat takwa. Dan takwa adalah tujuan dari kita berpuasa.
"Dan memberi maaf itu lebih dekat kepada takwa." (QS. Al-Baqarah: 237)
Â
Ibadah yang Mulia
Memaafkan kesalahan orang lain adalah sebuah ibadah yang mulia. Dan sebagai muslim, Allah SWT telah mewajibkan kita untuk memberi maaf kepada orang lain.
Sehingga hukum memberi maaf itu adalah wajib ‘ain, sebagaimana firman Allah SWT berikut ini:
"Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh." (QS. Al-A’raf: 199)
Selain itu, memaafkan kesalahan orang lain yang telah berbuat salah itu akan diganjar oleh Allah SWT dengan ampunan atas dosa-dosa kita kepada Allah.
"Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. An-Nuur: 22)
Meski pun seorang yang dizalimi dibenarkan untuk membalas, namun memaafkan jauh lebih baik, di mana Allah akan memberi ganjaran dan pahala tersendiri.
Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas Allah.
"Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim." (QS. Asy-Syura: 40)
Â
Advertisement
Waktu yang Tepat untuk Saling Memaafkan
Secara umum saling bermaafan itu dilakukan kapan saja, tidak harus menunggu even Ramadan atau Idul Fitri. Karena memang tidak ada hadis atau atsar yang menunjukkan ke arah sana.
Namun kalau ditelusuri lebih jauh, mengapa sampai muncul tren demikian? Salah satu analisisnya adalah bahwa bulan Ramadan itu adalah bulan pencucian dosa. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW tentang hal itu.
Dari Abi Hurairah ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda:
"Siapa yang menegakkan Ramadhan dengan iman dan ihtisab, maka Allah telah mengampuni dosanya yang telah lalu." (HR Bukhari dan Muslim)
Jika Allah SWT sudah menjanjikan pengampunan dosa, maka tinggal memikirkan bagaimana meminta maaf kepada sesama manusia.
Sebab dosa yang bersifat langsung kepada Allah SWT pasti diampuni sesuai janji Allah SWT, tapi bagaimana dengan dosa kepada sesama manusia? Jangankan orang yang menjalankan Ramadan, bahkan mereka yang mati syahid sekalipun, jika masih ada sangkutan dosa kepada orang lain, tetap belum bisa masuk surga.
Oleh karena itu, biar bisa dipastikan semua dosa terampuni, maka selain minta ampun kepada Allah di bulan Ramadan, juga meminta maaf kepada sesama manusia, agar bisa lebih lengkap.
Maka meski tidak ada dalil khusus yang menunjukkan bahwa Rasulullah SAW melakukan saling bermafaan menjelang Ramadan, tetapi tidak ada salahnya bila setiap orang melakukannya.
Memang seharusnya bukan hanya pada momentum Ramadan saja, sebab meminta maaf itu dilakukan kapan saja dan kepada siapa saja.
Idealnya yang dilakukan bukan sekedar berbasa-basi minta maaf atau memaafkan, tetapi juga menyelesaikan semua urusan. Seperti hutang-hutang dan lainnya.
Tujuannya agar ketika memasuki Ramadan, kita sudah bersih dari segala sangkutan kepada sesama manusia.
Beramaafan boleh dilakukan kapan saja, menjelang Ramadan, sesudahnya atau pun di luar bulan itu. Dan rasanya tidak perlu disampaikan mengeluarkan vonis bid’ah (melenceng) bila ada fenomena demikian, hanya lantaran tidak ada dalil yang bersifat eksplisit.
Sebab kalau semua harus demikian, maka hidup kita ini akan selalu dibatasi dengan beragam bid’ah. Bukankah ceramah tarawih, ceramah subuh, ceramah zuhur, ceramah menjelang berbuka puasa, bahkan kepanitiaan i’tikaf Ramadan, pesantren kilat Ramadan, undangan berbuka puasa bersama, semuanya pun tidak ada dalilnya yang bersifat eksplisit.
Lalu apakah kita akan mengatakan bahwa semua orang yang melakukan kegiatan itu sebagai ahli bid’ah dan calon penghuni neraka? Kenapa jadi mudah sekali membuat vonis masuk neraka?
Apakah semua kegiatan itu dianggap sebagai sebuah penyimpangan esensial dari ajaran Islam? Hanya lantaran dianggap tidak sesuai dengan apa terjadi di masa nabi? Kita umat Islam tetap bisa membedakan mana ibadah mahdhah yang esensial, dan mana yang merupakan kegiatan yang bersifat teknis non formal.
Semua yang disebutkan itu hanya semata kegiatan untuk memanfaatkan momentum Ramadan agar lebih berarti. Sama sekali tidak ada kaitannya dengan niat untuk merusak dan menambahi masalah agama.
Namun kita tetap menghormati kecenderungan saudara-saudara kita yang gigih mempertahankan umat dari ancaman dan bahaya bid’ah. Selamat datang Ramadan, selamat berpuasa bagi mereka yang menjalankannya.
