Liputan6.com, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan sesi pertama pada Jumat, (28/2/2025) kembali turun dan ditutup di level 6.300,14 atau turun 2,86% dibandingkan pembukaan di level 6.485,44.
Penurunan ini membuat IHSG dalam sepekan merosot hingga 7,39%, sementara secara year-to-date (ytd), pasar saham Indonesia telah terkoreksi sebesar 11,01%.
Baca Juga
Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Iman Rachman menuturkan, pelemahan pasar saham yang cukup tajam ini disebabkan oleh tiga faktor utama. Antara lain sentimen global, kondisi domestik, dan kinerja perusahaan yang tercatat di BEI.
Advertisement
"Dari sisi global, perang tarif Amerika Serikat (AS) di bawah Trump 2.0 masih menjadi faktor utama. Banyak dana yang mengalir kembali ke AS karena faktor keamanan dan stabilitas. Selain itu, ancaman tarif perdagangan terus muncul, seperti yang baru-baru ini terjadi dengan Meksiko, Kanada, dan bahkan Uni Emirat Arab (UAE),” ujar Iman dalam temu media, Jumat (28/2/2025).
Iman menyoroti kebijakan suku bunga The Federal Reserve (the Fed) atau bank sentral Amerika Serikat (AS) yang masih bertahan di level tinggi lebih lama dari yang diharapkan. Sebelumnya, sempat ada ekspektasi suku bunga akan mulai turun. Selain itu, kebijakan Bank of Korea yang memangkas suku bunga ke 2,75% pada Februari 2025, yang merupakan level terendah sejak Agustus 2022, turut mempengaruhi pergerakan IHSG.
"Dari pembaruan terakhir yang saya lihat, kemungkinan The Fed hanya akan menurunkan suku bunga sekali tahun ini. Kita tahu bahwa suku bunga sangat berpengaruh terhadap pasar saham dan instrumen ekuitas. Jika suku bunga di AS tetap tinggi, investor cenderung memilih aset yang lebih aman,” tambahnya.
Sisi Domestik
Dari sisi domestik, Iman menjelaskan bahwa turunnya peringkat pasar saham Indonesia oleh Morgan Stanley serta laporan keuangan emiten yang berada di bawah ekspektasi juga menjadi faktor yang menekan IHSG.
Iman mencatat, saat ini sekitar 40% dari investor di pasar saham Indonesia berasal dari luar negeri. Jika tekanan terus berlanjut, dampaknya akan semakin besar, terutama karena sekitar 40% dari 60% investor domestik merupakan investor ritel.
“Dulu, mayoritas investor di pasar saham adalah domestik dan ritel, sehingga saat terjadi penurunan, pasar bisa cepat pulih. Sekarang, dengan banyaknya investor ritel yang mulai keluar, situasi menjadi lebih sulit," ujar Iman.
Di sisi lain, arus modal asing yang terus keluar dari pasar saham Indonesia juga menjadi faktor yang membebani. Per 27 Februari 2025, nilai jual bersih (net sell) asing telah mencapai Rp 17,2 triliun secara ytd.
Advertisement
Koreksi Ini Bisa Jadi Peluang
Meskipun aksi jual asing masih mendominasi, Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Stocknow.id, Hendra Wardhana menilai kondisi ini juga membuka peluang bagi investor lokal yang jeli dalam mencari saham berfundamental kuat dengan valuasi menarik. Hendra menilai bahwa aksi jual asing yang besar justru bisa menjadi peluang bagi investor domestik.
"Investor asing memang sedang melakukan rebalancing portofolio, terutama setelah Morgan Stanley menurunkan peringkat MSCI Indonesia. Namun, ini tidak selalu berarti kondisi pasar kita memburuk secara fundamental. Justru bagi investor lokal, koreksi seperti ini bisa menjadi kesempatan untuk masuk ke saham-saham yang sedang undervalued,” ujar Hendra.
Ia menuturkan, sektor perbankan, meskipun saat ini tertekan, masih memiliki prospek jangka panjang yang kuat. "Selama likuiditas tetap terjaga dan pertumbuhan kredit masih positif, sektor perbankan tetap menarik. Ini lebih ke sentimen jangka pendek,” katanya.
Selain itu, sektor tambang, terutama emas dan nikel, bisa menjadi pilihan defensif di tengah ketidakpastian pasar.
"Harga emas dan nikel yang cenderung stabil bisa menjadi katalis positif bagi saham-saham tambang seperti ANTM dan MDKA,” tambahnya.
Dari sisi teknikal, IHSG saat ini berada dalam tren turun dengan kecenderungan menguji level support psikologis di 6.400. Jika level ini tidak mampu bertahan, tekanan jual bisa semakin besar. Namun, jika muncul sentimen positif, rebound teknikal masih berpotensi terjadi dengan resistance di 6.600.
