Rencana Kerja Pemerintah 2021 Pertimbangkan Dampak Corona

Pemerintah menetapkan angka pertumbuhan ekonomi pada tahun 2020 sebesar 5,2 persen.

oleh Liputan6.com diperbarui 24 Feb 2020, 18:09 WIB
Diterbitkan 24 Feb 2020, 18:09 WIB
Tiba di Istana, Tiga Wajah Baru Calon Menteri Jokowi Lambaikan Tangan
Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Umum PPP Suharso Monoarfa tiba di Istana Negara, Selasa (22/10/2019). Kedatangan Suharso Monoarfa menyusul sejumlah tokoh yang sebelumnya datang ke Istana terkait penetapan Calon Menteri Kabinet Kerja Jilid 2. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Suharso Monoarfa mengatakan, pemerintah mempertimbangkan efek virus Corona dan kebijakan Donald Trump dalam menetapkan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) tahun 2021.

"Ya tentu, kalau asumsi makro ekonomi kan kita selama ini ikutin keadaan lingkungan strategis nasional," ujar dia seusai membuka Rapat Kerja Nasional di Kantornya, Jakarta, Senin (24/2/2020).

Namun ia mengakui perubahan terkait RKP 2021 masih mungkin terjadi, jika penyebaran Corona virus di nilai mengkhawatirkan. "Kalo memang ada terjadi perubahan ya kita menyesuaikan," imbuh dia.

Dalam acara RKP 2021, diketahui pemerintah menetapkan angka pertumbuhan ekonomi pada tahun 2020 sebesar 5,2  persen. "Kan tadi kita milihnya 5,2 persen," papar dia.

Dalam kesempatan yang sama, Suharso menyebutkan selain Corona virus, Donald Trump yang merupakan presiden Amerika Serikat. Ikut menjadi pertimbangan pemerintah dalam menetakan RKP 2021.

 

* Follow Official WhatsApp Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:


Dampak Kebijakan Trump

Tiba di Istana, Tiga Wajah Baru Calon Menteri Jokowi Lambaikan Tangan
Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Umum PPP Suharso Monoarfa tiba di Istana Negara, Selasa (22/10/2019). Kedatangan Suharso Monoarfa menyusul sejumlah tokoh yang sebelumnya datang ke Istana terkait penetapan Calon Menteri Kabinet Kerja Jilid 2. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Pemerintah menilai kebijakan yang dikeluarkan Trump kerap merugikan mitra bisnis. "Dia tidak membuka, sehingga mudah sekali menekan mitra dagang nya," tegas dia.

Kebijakan tersebut di nilai hanya mementingkan negaranya, dan mengabaikan kepentingan negara mitra bisnis-nya. "terlalu bersifat populis dan protektif," lanjut dia.

Dengan lantang ia menyebut jika Trump tetap berkuasa, dapat mengancam pertumbuhan ekonomi global. "Kalau (Trump) terpilih, pertumbuhan ekonomi global menurun," tegas dia.

Suharso lu menyarankan Trump untuk lebih berkaca pada situasi ekonomi global yang terjadi. Dengan merubah kebijakannya agar lebih bersifat fleksibel dan mempertimbangkan kepentingan mitranya.

Ia juga menolak diri nya di sebut golongan anti Donald Trump. "Bukan berarti kita anti trump, tidak," pungkas dia.

Reporter : Sulaeman

Sumber: Merdeka.com

Lanjutkan Membaca ↓

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya