Investor Ini Akan Borong Semua Bitcoin Jika Harganya Anjlok ke Level USD 1,00

Banyak analis menilai Bitcoin didukung oleh faktor fundamental antara lain adopsi institusional yang luas dan jumlah pasokan yang terbatas hanya 21 juta koin.

oleh Gagas Yoga Pratomo Diperbarui 28 Feb 2025, 18:30 WIB
Diterbitkan 28 Feb 2025, 18:30 WIB
Investor Ini Akan Borong Semua Bitcoin Jika Harganya Anjlok ke Level USD 1,00
Michael Saylor, Ketua MicroStrategy yang kini dikenal sebagai Strategy kembali menggemparkan dunia kripto dengan pernyataannya ia akan membeli semua Bitcoin jika harganya jatuh ke USD 1,00. (Foto: Vadim Artyukhin/Unsplash)... Selengkapnya

Liputan6.com, Jakarta - Michael Saylor, Ketua MicroStrategy yang kini dikenal sebagai Strategy kembali menggemparkan dunia kripto dengan pernyataannya ia akan membeli semua Bitcoin jika harganya jatuh ke USD 1,00.

Meski terdengar berlebihan, komentar ini muncul sebagai respons terhadap kekhawatiran tentang risiko leverage dan potensi likuidasi MicroStrategy di tengah fluktuasi pasar kripto.

"Banyak orang tidak benar-benar berpikir. Mereka seperti MicroStrategy akan dilikuidasi pada Bitcoin. Jika bitcoin bisa mencapai USD 1 per Bitcoin, kami tidak akan dilikuidasi. Kami hanya akan membeli semua Bitcoin," kata Saylor dalam sebuah podcast, dikutip dari Yahoo Finance, Jumat (28/2/2025).

Bitcoin Tidak Mungkin Turun ke USD 1,00

Banyak analis mengakui Bitcoin didukung oleh faktor fundamental yang kuat, seperti adopsi institusional yang luas dan jumlah pasokan yang terbatas hanya 21 juta koin. Sejarah juga menunjukkan meskipun harga BTC mengalami penurunan drastis, permintaannya tidak pernah benar-benar hilang.

Banyak institusi keuangan besar seperti BlackRock, Fidelity, dan bahkan MicroStrategy sendiri telah menginvestasikan miliaran dolar dalam Bitcoin. Jika harga BTC turun, pembeli besar seperti mereka kemungkinan akan masuk lebih dulu sebelum nilainya jatuh terlalu dalam.

Selain itu, operasional penambangan Bitcoin membutuhkan biaya tinggi. Jika harga BTC terlalu rendah, penambang akan menghentikan aktivitasnya, mengurangi pasokan koin di pasar. Ini pada akhirnya akan membantu menstabilkan harga.

Kapitalisasi pasar Bitcoin juga masih berada di atas USD 1,6 triliun dengan volume perdagangan harian yang mencapai miliaran dolar. Agar harga Bitcoin benar-benar anjlok ke USD 1, hampir semua pemegang BTC harus panik dan menjual aset mereka sesuatu yang sangat tidak realistis terjadi dalam dunia kripto.

Promosi 1

Kondisi Terkini Pasar Bitcoin

Ilustrasi aset kripto Bitcoin. (Foto By AI)
Ilustrasi aset kripto Bitcoin. (Foto By AI)... Selengkapnya

Dalam beberapa waktu terakhir, Bitcoin mengalami penurunan 10% dan kini berada di level USD 84.000, setelah sebelumnya bergerak di antara kisaran USD 90.000 hingga USD 110.000.

Para analis mengaitkan penurunan ini dengan kekhawatiran pasar terhadap inflasi serta tarif yang diusulkan oleh Donald Trump terhadap Uni Eropa.

Paul Howard, Direktur Senior di Wincent, menyebut, ini tampak seperti koreksi harga utama yang diharapkan menyusul peristiwa jual berita pada 20 Januari. 

"Kontrak berjangka CME menunjukkan masih ada ruang bagi harga untuk turun, berpotensi stabil di kisaran pertengahan USD 70.000,” ujar Howard

Selain itu, beberapa investor juga melihat hubungan antara turunnya harga Bitcoin dan arus keluar dana dari ETF Bitcoin, yang mencapai hampir USD 1 miliar pada hari Selasa.

Sementara itu, harga emas justru melonjak 10%, memicu pertanyaan tentang apakah Bitcoin masih bisa dianggap sebagai aset lindung nilai terhadap ketidakpastian ekonomi.

"Meneliti ETF emas selama enam tahun terakhir, pergerakan harga mereka menunjukkan sedikit korelasi dengan Bitcoin,” pungkas Howard.

 

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

 

ETF Bitcoin Catat Arus Keluar Rp 16,3 Triliun, Terbesar Sejak Pertama Kali Diluncurkan

Aset digital kripto Bitcoin. (Foto by AI)
Aset digital kripto Bitcoin. (Foto by AI)... Selengkapnya

Sebelumnya, Bitcoin mengalami penurunan tajam di bawah USD 84.000 atau setara Rp 1,37 miliar (asumsi kurs Rp 16.370 per dolar AS), mencatat penurunan lebih dari 5% dalam 24 jam terakhir. Pelemahan bitcoin ini terjadi setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan rencana untuk mengenakan tarif sebesar 25% pada Uni Eropa.

"Kami telah membuat keputusan, dan kami akan segera mengumumkannya. Tarifnya akan menjadi 25 persen," kata Trump, dikutip dari Yahoo Finance, Kamis (27/2/2025), seperti yang dilaporkan oleh Financial Times. 

Donald Trump juga mengkritik kebijakan perdagangan UE dengan menegaskan UE dibentuk untuk mempermainkan AS.

Ketidakpastian akibat kebijakan tarif ini juga mempengaruhi pasar saham. Awalnya, Dow Jones Industrial Average sempat naik 245 poin, tetapi berbalik turun 0,4% di akhir sesi. S&P 500 juga mengalami penurunan tipis kurang dari 0,1%, sementara Nasdaq Composite masih mencatat kenaikan kecil sebesar 0,1%.

Bitcoin Menguji Support di Kisaran USD 75.000 hingga USD 85.000

Sebelum mengalami penurunan ini, Bitcoin sempat melewati level USD 85.000 pada awal bulan. Namun, menurut Alex Thorn, Kepala Riset di Galaxy Digital, Bitcoin tidak memiliki support yang kuat di antara kisaran USD 75.000 hingga USD 85.000.

"Sebagian besar ada pergerakan antara USD 75 ribu hingga USD 85 ribu. Hampir tidak ada koin yang bergerak onchain dalam kisaran itu, karena kami melesat melewatinya dengan sangat cepat pada bulan November. Pasar mungkin ingin menguji kisaran itu, ujarnya.

Tak hanya Bitcoin, mata uang kripto lain seperti Ether (ETH) juga ikut tertekan, turun ke USD 2.330. Sementara itu, BNB dan Solana juga mengalami penurunan di tengah aksi jual besar-besaran di pasar kripto.

 

Tarif Trump dan Inflasi: Dampak Lebih Luas ke Ekonomi AS

Ilustrasi aset kripto Bitcoin. (Foto By AI)
Ilustrasi aset kripto Bitcoin. (Foto By AI)... Selengkapnya

Selain menekan pasar kripto dan saham, kebijakan tarif Trump juga memicu kekhawatiran terhadap inflasi di AS. Analis memperkirakan bahwa tarif 25% terhadap barang-barang dari Uni Eropa, serta tarif serupa untuk Kanada dan Meksiko, dapat meningkatkan harga berbagai produk.

Laporan dari Kobeissi Letter menyebutkan bahwa tarif ini bisa menambah sekitar USD 3.000 pada harga sekitar 16 juta mobil yang dijual di AS setiap tahunnya. Selain itu, harga bahan makanan juga diperkirakan naik, mengingat lebih dari 60% produk segar di AS berasal dari Meksiko.

 

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

 

INFOGRAFIS: 10 Mata Uang Kripto dengan Valuasi Terbesar (Liputan6.com / Abdillah)
INFOGRAFIS: 10 Mata Uang Kripto dengan Valuasi Terbesar (Liputan6.com / Abdillah)... Selengkapnya
Lanjutkan Membaca ↓
Loading

Video Pilihan Hari Ini

EnamPlus

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya