Liputan6.com, Jakarta Dalam ajaran Islam, pernikahan atau nikah memiliki makna yang sangat mendalam dan mulia. Secara bahasa, kata nikah berasal dari bahasa Arab "an-nikah" yang berarti berkumpul, bersatu, atau bersetubuh. Sedangkan menurut istilah syariat, nikah adalah sebuah akad yang menghalalkan pergaulan antara seorang laki-laki dan perempuan yang bukan mahramnya sehingga menimbulkan hak dan kewajiban di antara keduanya.
Para ulama memberikan definisi yang sedikit berbeda namun memiliki esensi yang sama tentang makna nikah, di antaranya:
- Imam Maliki: Nikah adalah akad yang bertujuan untuk meraih kenikmatan dengan wanita yang bukan mahram, budak wanita, atau wanita penyembah berhala.
- Imam Syafi'i: Nikah adalah akad yang dengannya menjadi halal hubungan seksual antara pria dan wanita.
- Imam Hanafi: Nikah adalah akad yang memberikan faedah dihalalkannya bersenang-senang dengan pasangan.
- Imam Hanbali: Nikah adalah akad yang menggunakan lafaz inkah atau tazwij untuk memperoleh manfaat bersenang-senang.
Advertisement
Dari berbagai definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa inti dari pernikahan dalam Islam adalah sebuah ikatan suci antara laki-laki dan perempuan yang dihalalkan oleh Allah SWT. Pernikahan bukan hanya sekedar penyaluran hasrat biologis semata, namun memiliki tujuan yang lebih luhur yaitu untuk beribadah kepada Allah dan membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah.
Advertisement
Islam memandang pernikahan sebagai separuh dari agama. Hal ini berdasarkan hadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik:
"Barangsiapa menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi." (HR. Baihaqi)
Hadits ini menunjukkan betapa pentingnya kedudukan pernikahan dalam ajaran Islam. Dengan menikah, seorang muslim telah menyempurnakan separuh agamanya dan tinggal menyempurnakan separuh sisanya dengan ketakwaan kepada Allah SWT.
Tujuan Utama Pernikahan dalam Islam
Pernikahan dalam Islam memiliki beberapa tujuan mulia yang hendaknya dipahami dan dihayati oleh setiap muslim yang akan menikah. Berikut adalah tujuan-tujuan utama pernikahan menurut ajaran Islam:
1. Menjaga Kesucian Diri
Salah satu tujuan utama pernikahan adalah untuk menjaga kesucian diri dan menghindari perbuatan zina. Islam sangat menekankan pentingnya menjaga kehormatan dan kesucian diri. Melalui pernikahan yang sah, seorang muslim dapat menyalurkan hasrat biologisnya secara halal dan terhindar dari perbuatan maksiat. Allah SWT berfirman:
"Dan orang-orang yang tidak mampu menikah hendaklah menjaga kesucian (diri)nya, sampai Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya." (QS. An-Nur: 33)
2. Mewujudkan Ketenangan Jiwa
Pernikahan bertujuan untuk menciptakan ketenangan jiwa dan ketentraman hati bagi pasangan suami istri. Melalui ikatan pernikahan, seseorang akan menemukan pasangan hidup yang dapat menjadi sumber ketenangan dan kebahagiaan. Allah SWT berfirman:
"Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang." (QS. Ar-Rum: 21)
3. Melestarikan Keturunan
Tujuan lain dari pernikahan adalah untuk melanjutkan keturunan dan melestarikan umat manusia. Melalui pernikahan yang sah, akan lahir generasi penerus yang dapat meneruskan risalah Islam. Allah SWT berfirman:
"Allah menjadikan bagimu pasangan (suami atau istri) dari jenis kamu sendiri dan menjadikan anak dan cucu bagimu dari pasanganmu, serta memberimu rezeki dari yang baik." (QS. An-Nahl: 72)
4. Membangun Keluarga Sakinah
Pernikahan bertujuan untuk membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah (penuh ketentraman, cinta, dan kasih sayang). Keluarga yang harmonis akan menjadi fondasi bagi terbentuknya masyarakat yang baik. Rasulullah SAW bersabda:
"Tidak ada suatu pemberian dari orang tua kepada anaknya yang lebih utama daripada pendidikan yang baik." (HR. Tirmidzi)
5. Menyempurnakan Agama
Sebagaimana disebutkan dalam hadits sebelumnya, menikah adalah cara untuk menyempurnakan separuh agama. Dengan menikah, seorang muslim telah melaksanakan salah satu sunnah Rasulullah SAW dan menyempurnakan agamanya. Nabi Muhammad SAW bersabda:
"Menikah adalah sunnahku. Barangsiapa yang enggan melaksanakan sunnahku, maka ia bukan dari golonganku." (HR. Ibnu Majah)
Advertisement
Hikmah Pernikahan Menurut Ajaran Islam
Selain memiliki tujuan-tujuan mulia, pernikahan juga mengandung banyak hikmah dan manfaat bagi kehidupan manusia. Berikut adalah beberapa hikmah pernikahan menurut ajaran Islam:
1. Menjaga Pandangan dan Kehormatan
Dengan menikah, seseorang dapat lebih mudah menjaga pandangannya dari hal-hal yang diharamkan. Pernikahan juga menjadi benteng untuk menjaga kehormatan diri dari perbuatan zina. Allah SWT berfirman:
"Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat." (QS. An-Nur: 30)
2. Memperoleh Ketenangan dan Kasih Sayang
Melalui pernikahan, seseorang akan menemukan pasangan hidup yang dapat menjadi sumber ketenangan dan kasih sayang. Hubungan suami istri yang harmonis akan menciptakan suasana rumah tangga yang penuh cinta dan kasih sayang. Allah SWT berfirman:
"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang." (QS. Ar-Rum: 21)
3. Memperkuat Silaturahmi
Pernikahan tidak hanya menyatukan dua insan, tetapi juga mempersatukan dua keluarga besar. Hal ini akan memperluas jaringan silaturahmi dan memperkuat ikatan kekeluargaan. Rasulullah SAW bersabda:
"Tidak ada sesuatu yang lebih dicintai Allah selain rumah yang dibangun atas dasar pernikahan." (HR. Abu Dawud)
4. Mendapatkan Keturunan yang Shalih
Melalui pernikahan yang sah, diharapkan akan lahir keturunan yang shalih dan shalihah yang dapat menjadi penerus perjuangan dakwah Islam. Anak-anak yang lahir dari pernikahan yang sah akan mendapatkan pendidikan dan kasih sayang yang optimal dari kedua orang tuanya. Allah SWT berfirman:
"Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan." (QS. Al-Kahfi: 46)
5. Menyempurnakan Ibadah
Pernikahan dalam Islam tidak hanya dipandang sebagai hubungan antara dua insan, tetapi juga sebagai bentuk ibadah kepada Allah SWT. Setiap aktivitas dalam rumah tangga, jika diniatkan untuk mencari ridha Allah, akan bernilai ibadah. Rasulullah SAW bersabda:
"Dan pada kemaluan salah seorang di antara kalian (ketika berhubungan suami istri) terdapat sedekah." Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah salah seorang di antara kami mendapatkan pahala ketika menyalurkan syahwatnya?" Beliau menjawab, "Bagaimana pendapatmu jika dia menyalurkannya pada yang haram, bukankah dia berdosa? Maka demikian pula jika dia menyalurkannya pada yang halal, dia mendapatkan pahala." (HR. Muslim)
Hukum Nikah dalam Syariat Islam
Dalam syariat Islam, hukum menikah dapat berbeda-beda tergantung pada kondisi dan kemampuan seseorang. Berikut adalah penjelasan tentang hukum nikah dalam Islam:
1. Wajib
Menikah menjadi wajib bagi seseorang yang telah mampu secara fisik, mental, dan finansial, serta khawatir akan terjerumus dalam perbuatan zina jika tidak menikah. Dalam kondisi ini, menikah menjadi satu-satunya jalan untuk menghindari kemaksiatan.
2. Sunnah
Bagi seseorang yang telah mampu dan berkeinginan untuk menikah, namun masih dapat mengendalikan diri dari perbuatan zina, maka hukum menikah baginya adalah sunnah. Menikah dalam kondisi ini akan mendatangkan banyak keutamaan dan pahala.
3. Mubah
Menikah menjadi mubah (boleh) bagi seseorang yang tidak memiliki dorongan untuk menikah dan tidak khawatir akan terjerumus dalam perzinaan. Namun, menikah tetap lebih utama daripada membujang seumur hidup.
4. Makruh
Menikah dapat menjadi makruh bagi seseorang yang belum mampu memenuhi kewajiban dalam rumah tangga, baik secara fisik maupun finansial. Namun, jika ia khawatir akan terjerumus dalam perzinaan, maka menikah tetap lebih baik baginya.
5. Haram
Menikah menjadi haram jika seseorang yakin bahwa pernikahannya akan menyebabkan kezaliman atau penderitaan bagi pasangannya. Misalnya, jika ia tidak mampu memenuhi nafkah lahir dan batin, atau memiliki penyakit menular yang berbahaya.
Penting untuk diingat bahwa hukum menikah dapat berubah sesuai dengan kondisi dan situasi seseorang. Oleh karena itu, sebelum memutuskan untuk menikah, seseorang hendaknya mempertimbangkan dengan matang kesiapan dirinya dan berkonsultasi dengan orang yang lebih memahami agama.
Advertisement
Syarat Sah Pernikahan dalam Islam
Agar sebuah pernikahan dianggap sah menurut syariat Islam, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi. Berikut adalah syarat-syarat sah pernikahan dalam Islam:
1. Adanya Calon Suami dan Istri
Syarat pertama dan paling mendasar adalah adanya calon suami dan istri yang akan menikah. Keduanya harus memenuhi kriteria sebagai berikut:
- Beragama Islam
- Baligh (sudah dewasa)
- Berakal sehat
- Tidak dalam keadaan ihram haji atau umrah
- Tidak ada halangan syar'i untuk menikah (misalnya bukan mahram)
2. Adanya Wali
Wali adalah syarat yang harus ada dalam pernikahan, khususnya bagi calon mempelai wanita. Wali nikah harus memenuhi kriteria sebagai berikut:
- Laki-laki
- Muslim
- Baligh
- Berakal sehat
- Adil
- Tidak sedang ihram haji atau umrah
3. Adanya Saksi
Pernikahan harus disaksikan oleh minimal dua orang saksi. Syarat-syarat saksi nikah adalah:
- Laki-laki
- Muslim
- Baligh
- Berakal sehat
- Adil
- Dapat mendengar dan melihat
- Memahami bahasa yang digunakan dalam ijab qabul
4. Adanya Mahar
Mahar adalah pemberian wajib dari calon suami kepada calon istri. Mahar bisa berupa uang, barang, atau jasa yang memiliki nilai. Tidak ada batasan minimal atau maksimal untuk mahar, yang penting adalah kerelaan dari kedua belah pihak.
5. Ijab Qabul
Ijab qabul adalah ungkapan penyerahan dari wali nikah dan penerimaan dari calon suami. Ijab qabul harus diucapkan dengan jelas dan dapat didengar oleh para saksi. Syarat-syarat ijab qabul adalah:
- Menggunakan kata-kata yang jelas menunjukkan pernikahan
- Antara ijab dan qabul tidak terputus
- Orang yang mengucapkan ijab tidak menarik kembali ijabnya sebelum qabul diucapkan
- Diucapkan dalam satu majelis
6. Persetujuan Kedua Mempelai
Baik calon suami maupun calon istri harus menyatakan persetujuannya untuk menikah tanpa paksaan dari pihak manapun. Hal ini berdasarkan hadits Nabi Muhammad SAW:
"Janda tidak boleh dinikahkan hingga dimintai pendapatnya, dan gadis tidak boleh dinikahkan hingga dimintai izinnya." (HR. Bukhari dan Muslim)
Memenuhi syarat-syarat ini sangatlah penting untuk memastikan keabsahan pernikahan menurut syariat Islam. Pernikahan yang tidak memenuhi syarat-syarat ini dapat dianggap tidak sah dan berpotensi menimbulkan masalah di kemudian hari.
Rukun Nikah yang Wajib Dipenuhi
Selain syarat-syarat yang telah disebutkan sebelumnya, ada pula rukun-rukun nikah yang wajib dipenuhi agar pernikahan dianggap sah menurut syariat Islam. Rukun nikah adalah unsur-unsur yang harus ada dalam sebuah pernikahan. Berikut adalah penjelasan detail tentang rukun-rukun nikah:
1. Calon Suami
Calon suami harus memenuhi kriteria sebagai berikut:
- Beragama Islam
- Laki-laki
- Jelas orangnya
- Dapat memberikan persetujuan
- Tidak terdapat halangan perkawinan
2. Calon Istri
Calon istri harus memenuhi kriteria sebagai berikut:
- Beragama Islam
- Perempuan
- Jelas orangnya
- Dapat dimintai persetujuannya
- Tidak terdapat halangan perkawinan
3. Wali Nikah
Wali nikah adalah pihak yang mewakilkan pengantin perempuan dalam prosesi akad nikah. Wali nikah harus memenuhi syarat sebagai berikut:
- Laki-laki
- Dewasa
- Mempunyai hak perwalian
- Tidak terdapat halangan perwaliannya
4. Dua Orang Saksi
Saksi dalam pernikahan harus memenuhi kriteria sebagai berikut:
- Minimal dua orang laki-laki
- Beragama Islam
- Dewasa
- Berakal
- Dapat mendengar dan melihat
- Bebas dari paksaan
- Tidak sedang mengerjakan ihram
- Memahami bahasa yang dipergunakan untuk ijab qabul
5. Ijab dan Qabul
Ijab adalah ucapan penyerahan dari wali nikah atau yang mewakilinya. Qabul adalah ucapan penerimaan dari calon suami atau yang mewakilinya. Syarat-syarat ijab qabul adalah:
- Adanya pernyataan mengawinkan dari wali
- Adanya pernyataan penerimaan dari calon mempelai
- Menggunakan kata-kata nikah atau tazwij atau terjemahan dari kedua kata tersebut
- Antara ijab dan qabul bersambungan
- Orang yang terkait dengan ijab dan qabul tidak sedang ihram haji atau umrah
- Majelis ijab dan qabul itu harus dihadiri minimal empat orang yaitu calon mempelai atau wakilnya, wali dari mempelai wanita, dan dua orang saksi
Penting untuk diingat bahwa semua rukun nikah ini harus terpenuhi agar pernikahan dianggap sah menurut syariat Islam. Jika salah satu rukun tidak terpenuhi, maka pernikahan tersebut dapat dianggap batal atau tidak sah.
Advertisement
Manfaat Menikah bagi Kesehatan Fisik dan Mental
Selain memiliki nilai ibadah dan sosial, pernikahan juga memberikan berbagai manfaat bagi kesehatan fisik dan mental. Berikut adalah beberapa manfaat menikah yang telah dibuktikan secara ilmiah:
1. Meningkatkan Sistem Kekebalan Tubuh
Penelitian menunjukkan bahwa orang yang menikah memiliki sistem kekebalan tubuh yang lebih kuat dibandingkan dengan mereka yang belum menikah. Hal ini mungkin disebabkan oleh gaya hidup yang lebih teratur dan dukungan emosional dari pasangan.
2. Menurunkan Risiko Penyakit Jantung
Studi menunjukkan bahwa orang yang menikah memiliki risiko lebih rendah terkena penyakit jantung. Hal ini mungkin disebabkan oleh gaya hidup yang lebih sehat dan adanya dukungan untuk menjalani pola hidup sehat dari pasangan.
3. Meningkatkan Kesehatan Mental
Pernikahan yang harmonis dapat menjadi sumber dukungan emosional yang penting. Hal ini dapat membantu mengurangi stres, kecemasan, dan depresi. Pasangan hidup dapat menjadi tempat berbagi keluh kesah dan saling menguatkan.
4. Memperpanjang Usia
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa orang yang menikah cenderung memiliki usia harapan hidup yang lebih panjang dibandingkan dengan mereka yang tidak menikah. Hal ini mungkin terkait dengan gaya hidup yang lebih sehat dan adanya dukungan sosial.
5. Meningkatkan Kualitas Tidur
Tidur bersama pasangan dapat meningkatkan kualitas tidur. Kehadiran pasangan dapat memberikan rasa aman dan nyaman, yang membantu menciptakan suasana tidur yang lebih baik.
6. Mengurangi Perilaku Berisiko
Orang yang menikah cenderung mengurangi perilaku berisiko seperti merokok, minum alkohol berlebihan, atau menggunakan narkoba. Hal ini mungkin disebabkan oleh rasa tanggung jawab terhadap pasangan dan keluarga.
7. Meningkatkan Fungsi Kognitif
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa orang yang menikah memiliki fungsi kognitif yang lebih baik di usia tua. Interaksi sosial dan stimulasi mental dalam pernikahan mungkin berperan dalam menjaga kesehatan otak.
8. Menurunkan Tingkat Stres
Pernikahan yang sehat dapat membantu menurunkan tingkat stres. Dukungan emosional dari pasangan dapat membantu seseorang menghadapi tantangan hidup dengan lebih baik.
Perlu diingat bahwa manfaat-manfaat ini umumnya terkait dengan pernikahan yang sehat dan harmonis. Pernikahan yang penuh konflik justru dapat berdampak negatif pada kesehatan. Oleh karena itu, penting untuk membangun dan menjaga hubungan pernikahan yang sehat dan bahagia.
Tradisi Pernikahan dalam Budaya Islam
Meskipun Islam telah mengatur tata cara pernikahan secara umum, namun dalam praktiknya, tradisi pernikahan dapat berbeda-beda di berbagai belahan dunia Muslim. Berikut adalah beberapa tradisi pernikahan yang umum ditemui dalam budaya Islam:
1. Khitbah (Lamaran)
Proses pernikahan dalam Islam biasanya diawali dengan khitbah atau lamaran. Pihak laki-laki akan mengutus perwakilan untuk melamar calon mempelai wanita. Dalam tradisi ini, biasanya dibicarakan mengenai mahar dan rencana pernikahan.
2. Akad Nikah
Akad nikah adalah inti dari pernikahan Islam. Dalam tradisi banyak negara Muslim, akad nikah dilakukan di masjid atau di rumah mempelai wanita. Prosesi ini dihadiri oleh wali, saksi, dan tamu undangan.
3. Walimatul 'Urs (Resepsi Pernikahan)
Setelah akad nikah, biasanya diadakan walimatul 'urs atau pesta pernikahan. Tradisi ini bertujuan untuk mengumumkan pernikahan kepada masyarakat dan berbagi kebahagiaan dengan kerabat dan teman.
4. Malam Pertama
Dalam tradisi Islam, malam pertama dianggap sebagai momen yang sakral. Biasanya ada doa-doa khusus yang dibaca oleh pengantin sebelum berhubungan intim untuk pertama kalinya.
5. Tradisi Memberi Hadiah
Di banyak budaya Muslim, ada tradisi memberi hadiah kepada pengantin baru. Hadiah ini bisa berupa peralatan rumah tangga, perhiasan, atau uang.
6. Zafaf (Arak-arakan Pengantin)
Di beberapa negara Arab, ada tradisi zafaf di mana pengantin diarak keliling kota diiringi musik dan tarian tradisional.
7. Henna Night
Di beberapa negara Muslim, ada tradisi malam henna di mana pengantin wanita dan tamu-tamu wanitanya berkumpul untuk menghias tangan dan kaki dengan henna.
8. Tradisi Membaca Al-Quran
Di banyak pernikahan Muslim, ada tradisi membaca ayat-ayat Al-Quran tertentu, seperti Surat Ar-Rum ayat 21, yang berbicara tentang pernikahan.
Penting untuk diingat bahwa meskipun tradisi-tradisi ini umum ditemui, tidak semuanya merupakan bagian dari ajaran Islam. Beberapa mungkin hanya merupakan adat istiadat lokal. Dalam menjalankan tradisi pernikahan, yang terpenting adalah tidak melanggar syariat Islam dan tetap menjaga esensi pernikahan sebagai ibadah kepada Allah SWT.
Advertisement
Persiapan Menuju Pernikahan yang Islami
Persiapan menuju pernikahan yang Islami tidak hanya melibatkan aspek fisik dan material, tetapi juga aspek spiritual dan mental. Berikut adalah beberapa hal yang perlu diper siapkan menjelang pernikahan yang Islami:
1. Memperkuat Iman dan Taqwa
Persiapan yang paling utama menjelang pernikahan adalah memperkuat iman dan taqwa kepada Allah SWT. Calon pengantin perlu meningkatkan ibadah, memperbanyak membaca Al-Quran, dan mendalami ilmu agama. Hal ini akan membantu membangun fondasi spiritual yang kuat untuk kehidupan rumah tangga nantinya. Selain itu, memperkuat iman juga akan membantu calon pengantin menghadapi berbagai tantangan dalam proses persiapan pernikahan dengan lebih sabar dan bijaksana.
Beberapa langkah konkret yang bisa dilakukan untuk memperkuat iman dan taqwa antara lain:
- Rajin mengikuti kajian-kajian keislaman, terutama yang berkaitan dengan pernikahan dan kehidupan rumah tangga
- Memperbanyak ibadah sunnah seperti shalat tahajud, puasa sunnah, dan sedekah
- Meluangkan waktu untuk muhasabah atau introspeksi diri
- Mempelajari dan mengamalkan adab-adab Islami dalam pergaulan sehari-hari
- Membiasakan diri untuk selalu berdoa dan bertawakkal kepada Allah SWT
Dengan memperkuat iman dan taqwa, calon pengantin akan lebih siap secara spiritual untuk menjalani kehidupan pernikahan yang sesuai dengan ajaran Islam.
2. Menuntut Ilmu Pernikahan
Ilmu tentang pernikahan dalam Islam sangat penting untuk dipelajari oleh calon pengantin. Hal ini mencakup pengetahuan tentang hak dan kewajiban suami istri, adab-adab dalam rumah tangga, cara mengelola konflik, dan berbagai aspek lain dalam kehidupan berumah tangga. Menuntut ilmu pernikahan akan membantu calon pengantin memahami tanggung jawab mereka dan bagaimana menjalankan peran mereka dengan baik dalam rumah tangga.
Beberapa topik penting yang perlu dipelajari antara lain:
- Fiqih munakahat (hukum-hukum seputar pernikahan dalam Islam)
- Psikologi pernikahan
- Manajemen keuangan keluarga
- Pendidikan anak dalam Islam
- Etika pergaulan suami istri
- Cara mengatasi konflik dalam rumah tangga
Calon pengantin bisa mendapatkan ilmu ini melalui berbagai cara, seperti mengikuti kursus pra-nikah, membaca buku-buku Islami tentang pernikahan, atau berkonsultasi dengan ustadz atau konselor pernikahan Islam. Dengan bekal ilmu yang cukup, calon pengantin akan lebih siap menghadapi berbagai situasi dalam kehidupan rumah tangga nantinya.
3. Memilih Pasangan yang Tepat
Memilih pasangan yang tepat adalah langkah crucial dalam persiapan menuju pernikahan yang Islami. Islam mengajarkan untuk memilih pasangan berdasarkan kriteria yang baik, terutama agama dan akhlaknya. Rasulullah SAW bersabda: "Wanita dinikahi karena empat perkara; karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka pilihlah karena agamanya, niscaya kamu akan beruntung." (HR. Bukhari dan Muslim)
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memilih pasangan:
- Ketaatan dalam beragama
- Akhlak dan budi pekerti yang baik
- Kecocokan visi dan misi hidup
- Kematangan emosi dan finansial
- Latar belakang keluarga
- Kesehatan fisik dan mental
Proses memilih pasangan sebaiknya dilakukan dengan cara yang Islami, seperti melakukan ta'aruf (perkenalan) dengan didampingi mahram atau melalui perantara yang terpercaya. Penting juga untuk melakukan istikharah (shalat meminta petunjuk) sebelum mengambil keputusan final.
4. Mempersiapkan Mahar dan Biaya Pernikahan
Mahar adalah pemberian wajib dari calon suami kepada calon istri sebagai bentuk penghargaan dan tanda keseriusan. Dalam Islam, mahar tidak harus berupa barang yang mahal, yang terpenting adalah keikhlasan dan kesepakatan kedua belah pihak. Namun demikian, calon suami tetap perlu mempersiapkan mahar sebaik mungkin sesuai kemampuannya.
Selain mahar, biaya pernikahan juga perlu dipersiapkan dengan baik. Islam mengajarkan untuk tidak memberatkan diri dalam hal biaya pernikahan. Yang terpenting adalah niat yang ikhlas dan pelaksanaan yang sesuai syariat, bukan kemewahan pesta. Beberapa hal yang perlu dipersiapkan terkait biaya pernikahan:
- Biaya akad nikah dan administrasi
- Biaya walimah (resepsi pernikahan)
- Biaya persiapan rumah tangga (jika akan langsung tinggal bersama)
- Dana darurat untuk hal-hal tak terduga
Dalam mempersiapkan biaya, penting untuk melakukan perencanaan keuangan yang matang dan realistis. Hindari berhutang atau memaksakan diri di luar kemampuan hanya demi pesta yang mewah.
5. Mempersiapkan Fisik dan Kesehatan
Persiapan fisik dan kesehatan juga penting menjelang pernikahan. Hal ini mencakup pemeriksaan kesehatan pra-nikah, menjaga pola makan yang sehat, berolahraga teratur, dan istirahat yang cukup. Pemeriksaan kesehatan pra-nikah penting dilakukan untuk mendeteksi adanya penyakit atau kondisi kesehatan tertentu yang mungkin berpengaruh pada kehidupan pernikahan atau keturunan nantinya.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam persiapan fisik dan kesehatan:
- Melakukan pemeriksaan kesehatan menyeluruh, termasuk tes darah, tes kesuburan, dan skrining penyakit menular
- Menjaga pola makan sehat dan seimbang
- Berolahraga secara teratur
- Menghindari kebiasaan buruk seperti merokok atau mengonsumsi alkohol
- Menjaga kebersihan dan kesehatan diri
- Memastikan imunisasi yang diperlukan sudah lengkap
Dengan mempersiapkan fisik dan kesehatan dengan baik, calon pengantin akan lebih siap menghadapi tantangan dalam kehidupan pernikahan dan membangun keluarga yang sehat.
6. Mempersiapkan Mental dan Emosi
Persiapan mental dan emosi sangat penting dalam menghadapi pernikahan. Hal ini mencakup kesiapan untuk berkomitmen, kemampuan mengelola emosi, dan keterampilan berkomunikasi. Calon pengantin perlu memahami bahwa pernikahan bukan hanya tentang cinta dan kebahagiaan, tetapi juga tentang tanggung jawab dan pengorbanan.
Beberapa aspek yang perlu dipersiapkan dalam hal mental dan emosi:
- Membangun kesadaran diri dan pemahaman akan kekuatan dan kelemahan pribadi
- Belajar mengelola emosi dan stres
- Mengembangkan keterampilan komunikasi yang efektif
- Membangun sikap saling pengertian dan toleransi
- Belajar cara menyelesaikan konflik secara konstruktif
- Mempersiapkan diri untuk peran baru sebagai suami atau istri
Persiapan mental dan emosi bisa dilakukan melalui berbagai cara, seperti mengikuti konseling pra-nikah, berdiskusi dengan pasangan tentang harapan dan kekhawatiran, atau belajar dari pengalaman orang-orang yang sudah menikah.
Tantangan dalam Kehidupan Pernikahan
Meskipun pernikahan membawa banyak kebahagiaan dan berkah, namun tidak berarti kehidupan pernikahan akan selalu mulus tanpa tantangan. Berikut adalah beberapa tantangan umum yang sering dihadapi dalam kehidupan pernikahan dan bagaimana mengatasinya secara Islami:
1. Perbedaan Karakter dan Kebiasaan
Setiap individu memiliki karakter dan kebiasaan yang unik. Ketika dua orang dengan latar belakang berbeda hidup bersama, perbedaan-perbedaan ini bisa menjadi sumber konflik. Misalnya, satu pihak mungkin sangat teratur dan rapi, sementara yang lain lebih santai dan kurang peduli dengan kerapian.
Cara mengatasi:
- Membangun sikap saling memahami dan menghargai perbedaan
- Bersedia untuk berkompromi dan menyesuaikan diri
- Fokus pada kesamaan dan nilai-nilai yang dipegang bersama
- Berkomunikasi dengan baik untuk mencari jalan tengah
- Mengingat bahwa perbedaan bisa menjadi sumber kekuatan jika dikelola dengan bijak
Islam mengajarkan untuk bersikap lemah lembut dan penuh kasih sayang terhadap pasangan. Allah SWT berfirman: "Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang." (QS. Ar-Rum: 21)
2. Masalah Keuangan
Masalah keuangan sering menjadi sumber konflik dalam rumah tangga. Perbedaan gaya hidup, prioritas pengeluaran, atau cara mengelola keuangan bisa menimbulkan ketegangan antara suami dan istri.
Cara mengatasi:
- Membuat perencanaan keuangan bersama
- Bersikap terbuka dan jujur tentang kondisi keuangan
- Menetapkan prioritas pengeluaran yang disepakati bersama
- Belajar hidup sederhana dan qana'ah (merasa cukup dengan apa yang dimiliki)
- Saling mendukung dalam upaya meningkatkan penghasilan
- Menghindari hutang yang tidak perlu
Islam mengajarkan untuk hidup sederhana dan tidak berlebih-lebihan. Allah SWT berfirman: "Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian." (QS. Al-Furqan: 67)
3. Campur Tangan Pihak Ketiga
Campur tangan pihak ketiga, seperti orang tua atau mertua, sering kali menjadi sumber konflik dalam rumah tangga. Meskipun niat mereka baik, namun campur tangan yang berlebihan bisa mengganggu keharmonisan pasangan.
Cara mengatasi:
- Menetapkan batasan yang jelas namun tetap menghormati orang tua
- Berkomunikasi dengan baik antara suami istri untuk menyikapi campur tangan pihak luar
- Bersikap tegas namun tetap sopan dalam menolak campur tangan yang tidak perlu
- Menjaga privasi rumah tangga
- Mengajak orang tua atau mertua berdiskusi dengan cara yang baik jika diperlukan
Islam mengajarkan untuk berbakti kepada orang tua, namun juga menekankan pentingnya menjaga keutuhan rumah tangga. Allah SWT berfirman: "Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu." (QS. Luqman: 14)
4. Kurangnya Komunikasi
Komunikasi yang buruk atau kurang bisa menjadi akar dari berbagai masalah dalam rumah tangga. Kesalahpahaman, perasaan tidak dihargai, atau kekecewaan sering kali berakar dari kurangnya komunikasi yang efektif antara suami dan istri.
Cara mengatasi:
- Meluangkan waktu khusus untuk berkomunikasi setiap hari
- Belajar untuk menjadi pendengar yang baik
- Mengekspresikan perasaan dan pikiran dengan cara yang konstruktif
- Menghindari menyalahkan atau mengkritik secara berlebihan
- Bersikap terbuka dan jujur dalam berkomunikasi
- Memahami bahasa cinta pasangan
Islam sangat menekankan pentingnya komunikasi yang baik dalam rumah tangga. Allah SWT berfirman: "Dan bergaullah dengan mereka secara patut." (QS. An-Nisa: 19)
5. Perbedaan Tingkat Religiusitas
Perbedaan tingkat religiusitas antara suami dan istri bisa menjadi sumber konflik dalam rumah tangga. Misalnya, satu pihak mungkin sangat taat beragama sementara yang lain lebih longgar dalam menjalankan ajaran agama.
Cara mengatasi:
- Saling mengingatkan dengan cara yang lembut dan penuh hikmah
- Memberikan teladan yang baik tanpa memaksa
- Bersabar dan terus berdoa untuk hidayah pasangan
- Menciptakan lingkungan rumah yang kondusif untuk beribadah
- Mengajak pasangan untuk mengikuti kajian atau kegiatan keagamaan bersama
- Menghargai proses dan perkembangan spiritual masing-masing
Islam mengajarkan untuk saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Allah SWT berfirman: "Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran." (QS. Al-Asr: 1-3)
Advertisement
Tips Membangun Rumah Tangga Sakinah
Membangun rumah tangga yang sakinah, mawaddah, warahmah adalah dambaan setiap pasangan Muslim. Berikut adalah beberapa tips praktis untuk mewujudkan rumah tangga yang harmonis dan diberkahi Allah SWT:
1. Menjadikan Allah SWT sebagai Tujuan Utama
Fondasi utama rumah tangga sakinah adalah menjadikan Allah SWT sebagai tujuan utama dalam setiap aspek kehidupan. Ini berarti setiap keputusan dan tindakan dalam rumah tangga harus didasarkan pada ridha Allah SWT.
Langkah-langkah praktis:
- Memulai setiap hari dengan doa bersama
- Menjadikan ibadah sebagai prioritas dalam keluarga
- Mengajarkan dan mempraktikkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari
- Selalu bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT
- Meminta petunjuk Allah SWT dalam setiap pengambilan keputusan penting
Allah SWT berfirman: "Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi." (QS. Al-Qasas: 77)
2. Membangun Komunikasi yang Efektif
Komunikasi yang baik adalah kunci utama dalam membangun rumah tangga yang harmonis. Suami istri perlu saling terbuka, jujur, dan mendengarkan satu sama lain dengan penuh perhatian.
Tips membangun komunikasi yang efektif:
- Meluangkan waktu khusus untuk berbincang setiap hari
- Mendengarkan dengan aktif tanpa menghakimi
- Menggunakan bahasa yang positif dan membangun
- Menghindari kata-kata kasar atau merendahkan
- Bersikap empati terhadap perasaan pasangan
- Membiasakan untuk saling meminta maaf dan memaafkan
Rasulullah SAW bersabda: "Orang yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik terhadap keluargaku." (HR. Tirmidzi)
3. Saling Menghargai dan Mendukung
Rumah tangga yang sakinah dibangun atas dasar saling menghargai dan mendukung antara suami dan istri. Masing-masing pihak perlu menghargai peran dan kontribusi pasangannya dalam rumah tangga.
Cara mempraktikkan sikap saling menghargai dan mendukung:
- Mengucapkan terima kasih atas hal-hal kecil yang dilakukan pasangan
- Memberikan pujian dan apresiasi secara tulus
- Mendukung hobi dan minat pasangan selama tidak bertentangan dengan syariat
- Membantu pasangan dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya
- Menghargai pendapat dan keputusan pasangan
- Menjaga privasi dan rahasia rumah tangga
Allah SWT berfirman: "Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang." (QS. Ar-Rum: 21)
4. Menjaga Keharmonisan Intimasi
Intimasi yang harmonis antara suami istri adalah salah satu faktor penting dalam membangun rumah tangga yang sakinah. Islam memandang hubungan intim suami istri sebagai ibadah jika dilakukan dengan niat yang benar dan sesuai syariat.
Tips menjaga keharmonisan intimasi:
- Memahami dan memenuhi hak dan kewajiban suami istri dalam hal intimasi
- Menjaga kebersihan dan penampilan diri
- Menciptakan suasana romantis dalam rumah tangga
- Bersikap lembut dan penuh kasih sayang dalam berhubungan intim
- Menghindari pemaksaan atau kekerasan dalam hubungan intim
- Menjaga privasi dan tidak membicarakan masalah intimasi dengan orang lain
Rasulullah SAW bersabda: "Jika salah seorang di antara kalian bersetubuh dengan istrinya, maka itu adalah sedekah." (HR. Muslim)
5. Mengelola Keuangan dengan Bijak
Pengelolaan keuangan yang bijak adalah salah satu kunci keharmonisan rumah tangga. Suami istri perlu bekerja sama dalam mengelola keuangan keluarga dengan baik.
Tips mengelola keuangan rumah tangga:
- Membuat anggaran bulanan bersama
- Menetapkan prioritas pengeluaran
- Menabung secara rutin untuk masa depan
- Menghindari hutang yang tidak perlu
- Bersedekah dan mengeluarkan zakat
- Bersikap jujur dan terbuka dalam hal keuangan
- Hidup sederhana dan qana'ah (merasa cukup)
Allah SWT berfirman: "Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian." (QS. Al-Furqan: 67)
Tanya Jawab Seputar Pernikahan dalam Islam
Berikut adalah beberapa pertanyaan umum seputar pernikahan dalam Islam beserta jawabannya:
1. Apakah Pacaran Diperbolehkan dalam Islam?
Pacaran dalam pengertian umum, di mana ada pergaulan bebas antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram, tidak diperbolehkan dalam Islam. Islam mengajarkan untuk menjaga kesucian diri dan menghindari perbuatan yang mendekati zina.
Namun, Islam memperbolehkan proses ta'aruf (perkenalan) yang dilakukan dengan cara yang Islami, seperti:
- Dilakukan dengan niat untuk menikah
- Didampingi oleh mahram atau wali
- Tidak melakukan khalwat (berduaan di tempat sepi)
- Menjaga batasan-batasan syariat dalam berinteraksi
- Fokus pada mengenal karakter dan visi hidup, bukan pada aspek fisik semata
Allah SWT berfirman: "Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk." (QS. Al-Isra: 32)
2. Bagaimana Hukum Nikah Siri dalam Islam?
Nikah siri, dalam pengertian pernikahan yang memenuhi syarat dan rukun nikah menurut syariat Islam namun tidak dicatatkan secara resmi di Kantor Urusan Agama (KUA), pada dasarnya sah secara agama. Namun, nikah siri tidak dianjurkan karena dapat menimbulkan berbagai masalah di kemudian hari.
Beberapa alasan mengapa nikah siri tidak dianjurkan:
- Tidak memiliki kekuatan hukum di mata negara
- Dapat merugikan istri dan anak dalam hal warisan dan hak-hak lainnya
- Berpotensi menimbulkan fitnah di masyarakat
- Menyulitkan dalam urusan administrasi seperti pembuatan akta kelahiran anak
Oleh karena itu, sebaiknya pernikahan dilakukan secara resmi dan dicatatkan di KUA untuk menghindari masalah di kemudian hari.
3. Apakah Boleh Menikah Beda Agama dalam Islam?
Dalam Islam, hukum menikah beda agama berbeda antara laki-laki dan perempuan:
1. Laki-laki Muslim:
- Boleh menikahi wanita ahli kitab (Yahudi atau Nasrani) dengan syarat wanita tersebut menjaga kesucian dirinya
- Tidak boleh menikahi wanita musyrik atau penyembah berhala
2. Perempuan Muslimah:
- Tidak diperbolehkan menikah dengan laki-laki non-Muslim, baik ahli kitab maupun yang lainnya
Allah SWT berfirman: "Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu." (QS. Al-Baqarah: 221)
Meskipun ada kelonggaran bagi laki-laki Muslim untuk menikahi wanita ahli kitab, namun banyak ulama kontemporer yang tidak menganjurkan hal ini karena berbagai pertimbangan, terutama terkait pendidikan anak dan keharmonisan rumah tangga.
4. Bagaimana Hukum Poligami dalam Islam?
Poligami (beristri lebih dari satu) diperbolehkan dalam Islam dengan syarat-syarat tertentu. Allah SWT berfirman:
"Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya." (QS. An-Nisa: 3)
Syarat-syarat poligami dalam Islam:
- Mampu berlaku adil terhadap istri-istrinya dalam hal nafkah, tempat tinggal, dan giliran
- Mampu menjaga diri untuk tidak terperdaya dengan istri-istrinya
- Mampu menjaga kehormatan dan tidak menyakiti perasaan istri-istrinya
- Memiliki kemampuan finansial yang cukup
- Memiliki alasan yang dibenarkan syariat, seperti istri tidak dapat memberikan keturunan atau sakit yang tidak memungkinkan melayani suami
Penting untuk dicatat bahwa meskipun diperbolehkan, poligami bukanlah anjuran dalam Islam. Monogami tetap menjadi pilihan utama jika seseorang khawatir tidak dapat berlaku adil.
5. Apa Hukum Perceraian dalam Islam?
Perceraian dalam Islam diperbolehkan namun sangat dibenci oleh Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda: "Perkara halal yang paling dibenci Allah adalah talak (perceraian)." (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah)
Meskipun diperbolehkan, perceraian hanya boleh dilakukan sebagai jalan terakhir setelah segala upaya rekonsiliasi telah dilakukan. Islam mengajarkan untuk selalu berusaha memperbaiki hubungan dan menyelesaikan masalah dengan cara yang baik.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait perceraian dalam Islam:
- Perceraian harus dilakukan dengan cara yang baik dan tidak menyakiti perasaan pasangan
- Suami yang menceraikan istrinya harus memberikan mut'ah (pemberian) sebagai penghibur hati
- Istri yang diceraikan berhak atas nafkah selama masa iddah (masa tunggu)
- Hak asuh anak diatur sesuai dengan ketentuan syariat dan kesepakatan bersama
- Harta bersama dibagi sesuai kesepakatan atau ketentuan hukum yang berlaku
Allah SWT berfirman: "Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma'ruf atau menceraikan dengan cara yang baik." (QS. Al-Baqarah: 229)
6. Bagaimana Islam Memandang Pernikahan Dini?
Islam tidak menetapkan batasan usia spesifik untuk menikah. Namun, Islam mengajarkan bahwa seseorang harus sudah baligh (dewasa secara biologis) dan memiliki kesiapan mental dan finansial sebelum menikah.
Beberapa pertimbangan terkait pernikahan dini dalam Islam:
- Kematangan fisik dan mental sangat penting untuk menjalankan peran sebagai suami atau istri
- Kemampuan untuk memenuhi tanggung jawab dalam rumah tangga harus dipertimbangkan
- Pendidikan dan kesiapan karir sebaiknya tidak terabaikan karena pernikahan dini
- Risiko kesehatan, terutama bagi perempuan yang hamil di usia muda, perlu dipertimbangkan
- Pernikahan dini dapat menghambat perkembangan pribadi dan sosial seseorang
Meskipun tidak ada larangan eksplisit tentang pernikahan dini dalam Islam, banyak ulama kontemporer yang tidak menganjurkannya karena berbagai pertimbangan di atas. Mereka menekankan pentingnya kesiapan mental, emosional, dan finansial sebelum memasuki jenjang pernikahan.
7. Apa Hukum Kontrasepsi dalam Islam?
Islam pada dasarnya menganjurkan umatnya untuk memiliki keturunan. Namun, penggunaan kontrasepsi diperbolehkan dengan beberapa syarat dan pertimbangan tertentu.
Beberapa pandangan tentang kontrasepsi dalam Islam:
- Kontrasepsi yang bersifat sementara (seperti pil KB atau kondom) umumnya diperbolehkan jika ada alasan yang dibenarkan syariat
- Kontrasepsi permanen (seperti vasektomi atau tubektomi) umumnya tidak dianjurkan kecuali ada alasan medis yang kuat
- Penggunaan kontrasepsi harus atas persetujuan kedua belah pihak (suami dan istri)
- Metode kontrasepsi yang digunakan tidak boleh membahayakan kesehatan
- Niat penggunaan kontrasepsi bukan untuk menghindari tanggung jawab atau karena takut miskin
Alasan-alasan yang umumnya diterima untuk penggunaan kontrasepsi antara lain:
- Kesehatan ibu yang tidak memungkinkan untuk hamil atau melahirkan
- Jarak kelahiran yang terlalu dekat yang dapat membahayakan kesehatan ibu dan anak
- Kondisi ekonomi yang belum memadai untuk menambah anak
- Untuk memberikan kesempatan pada ibu untuk menyusui anak secara optimal
Penting untuk berkonsultasi dengan ahli agama dan dokter sebelum memutuskan untuk menggunakan kontrasepsi.
8. Bagaimana Islam Memandang Adopsi Anak?
Islam memandang adopsi anak sebagai perbuatan mulia, terutama jika dilakukan dengan niat untuk menolong anak yatim atau anak terlantar. Namun, ada beberapa ketentuan yang perlu diperhatikan dalam adopsi menurut Islam:
- Anak angkat tidak boleh dinasabkan kepada orang tua angkatnya
- Anak angkat tetap memakai nama bapak kandungnya
- Anak angkat tidak berhak atas warisan orang tua angkat, kecuali melalui wasiat
- Anak angkat bukan mahram bagi orang tua angkatnya, sehingga tetap berlaku aturan hijab dan pernikahan
- Orang tua angkat boleh memberikan hibah atau wasiat kepada anak angkatnya
Allah SWT berfirman: "Allah tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri). Yang demikian itu hanyalah perkataanmu di mulutmu saja. Dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan (yang benar)." (QS. Al-Ahzab: 4)
Meskipun ada batasan-batasan tersebut, Islam tetap menganjurkan untuk menyayangi dan merawat anak angkat dengan sebaik-baiknya, sebagaimana Rasulullah SAW bersabda: "Aku dan orang yang menanggung anak yatim (kedudukannya) di surga seperti ini," kemudian beliau mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah beliau, serta agak merenggangkan keduanya. (HR. Bukhari)
9. Apa Hukum Nikah Mut'ah dalam Islam?
Nikah mut'ah, atau pernikahan kontrak sementara, adalah bentuk pernikahan yang dilarang dalam Islam menurut mayoritas ulama. Meskipun pada awal Islam pernah diperbolehkan dalam situasi tertentu, namun kemudian diharamkan secara permanen.
Beberapa alasan pelarangan nikah mut'ah:
- Bertentangan dengan tujuan pernikahan yang seharusnya bersifat langgeng
- Dapat merugikan dan merendahkan martabat wanita
- Berpotensi menimbulkan masalah dalam nasab dan warisan
- Dapat menjadi celah untuk melegalkan perzinaan
- Bertentangan dengan konsep keluarga sakinah dalam Islam
Rasulullah SAW bersabda: "Wahai manusia, aku pernah mengizinkan kalian untuk melakukan nikah mut'ah. Ketahuilah, sesungguhnya Allah telah mengharamkannya sampai hari kiamat." (HR. Muslim)
Mayoritas ulama sepakat bahwa nikah mut'ah telah diharamkan dan tidak sesuai dengan ajaran Islam yang menjunjung tinggi nilai-nilai pernikahan dan keluarga.
10. Bagaimana Islam Memandang Pernikahan Beda Suku atau Ras?
Islam tidak memandang perbedaan suku atau ras sebagai halangan dalam pernikahan. Justru, Islam mengajarkan bahwa manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku untuk saling mengenal, bukan untuk saling membedakan atau merasa lebih tinggi satu sama lain.
Allah SWT berfirman: "Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." (QS. Al-Hujurat: 13)
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pernikahan beda suku atau ras:
- Yang terpenting adalah kesamaan agama dan akhlak, bukan suku atau ras
- Perbedaan budaya perlu dipahami dan dihormati oleh kedua belah pihak
- Komunikasi yang baik sangat penting untuk mengatasi perbedaan latar belakang
- Keluarga dari kedua belah pihak perlu diedukasi untuk menghindari prasangka atau diskriminasi
- Pasangan perlu mempersiapkan diri untuk menghadapi tantangan sosial yang mungkin muncul
Rasulullah SAW sendiri menikahkan Zaid bin Haritsah (mantan budak) dengan Zainab binti Jahsy (wanita bangsawan Quraisy) untuk menunjukkan bahwa dalam Islam, kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh status sosial atau asal-usulnya, melainkan oleh ketakwaannya kepada Allah SWT.
Advertisement
Kesimpulan
Pernikahan dalam Islam adalah ikatan suci yang memiliki tujuan mulia, yaitu untuk beribadah kepada Allah SWT dan membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah. Melalui pernikahan, seorang muslim dapat menyempurnakan separuh agamanya, menjaga kesucian diri, dan memperoleh ketenangan jiwa.
Dalam menjalani kehidupan pernikahan, pasangan suami istri perlu memahami dan menjalankan hak dan kewajiban masing-masing sesuai dengan ajaran Islam. Komunikasi yang baik, saling pengertian, dan komitmen untuk terus memperbaiki diri adalah kunci utama dalam membangun rumah tangga yang harmonis.
Meskipun akan ada tantangan dan cobaan dalam perjalanan rumah tangga, namun dengan berpegang teguh pada ajaran Islam dan selalu memohon petunjuk Allah SWT, setiap pasangan dapat melewati rintangan tersebut dan membangun keluarga yang diberkahi.
Semoga artikel ini dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang tujuan dan makna pernikahan dalam Islam, serta menjadi panduan bagi mereka yang sedang mempersiapkan diri untuk menikah atau yang sudah menjalani kehidupan pernikahan. Wallahu a'lam bishawab.
