Liputan6.com, Jakarta Ruwatan merupakan salah satu tradisi yang masih dilestarikan oleh sebagian masyarakat Jawa hingga saat ini. Upacara sakral ini memiliki makna mendalam sebagai sarana penyucian diri dan pembebasan dari kesialan atau malapetaka. Mari kita telusuri lebih dalam mengenai tujuan, manfaat, serta tata cara pelaksanaan ruwatan.
Pengertian dan Sejarah Ruwatan
Ruwatan berasal dari kata "ruwat" dalam bahasa Jawa yang berarti dilepaskan atau dibebaskan. Secara harfiah, ruwatan dapat diartikan sebagai upaya untuk membebaskan atau melepaskan seseorang dari hukuman atau kutukan yang diyakini dapat mendatangkan malapetaka.
Tradisi ini memiliki akar yang kuat dalam mitologi Jawa, khususnya cerita pewayangan. Konon, asal-usul ruwatan berkaitan dengan kisah Batara Kala, putra Batara Guru yang terlahir dari nafsu yang tidak terkendali. Batara Kala kemudian tumbuh menjadi sosok raksasa yang gemar memangsa manusia, terutama mereka yang dianggap "sukerta" atau memiliki nasib sial.
Untuk melindungi manusia dari ancaman Batara Kala, maka diadakanlah upacara ruwatan. Ritual ini dipercaya dapat membersihkan seseorang dari kesialan dan melindunginya dari marabahaya. Seiring waktu, tradisi ruwatan berkembang menjadi sarana penyucian diri yang lebih luas, tidak hanya terbatas pada perlindungan dari Batara Kala.
Advertisement
Tujuan Utama Pelaksanaan Ruwatan
Ruwatan dilaksanakan dengan beberapa tujuan utama, di antaranya:
- Pembersihan diri dari kesialan dan malapetaka
- Perlindungan dari gangguan roh jahat atau kekuatan negatif
- Peningkatan keselamatan dan kesejahteraan hidup
- Penyucian jiwa dan raga
- Pencapaian ketentraman batin
- Penghormatan terhadap leluhur dan kekuatan alam
- Pelestarian nilai-nilai budaya dan kearifan lokal
Secara lebih mendalam, ruwatan bertujuan untuk menciptakan keseimbangan antara mikrokosmos (diri manusia) dengan makrokosmos (alam semesta). Melalui ritual ini, seseorang diharapkan dapat menemukan harmoni dalam hidupnya, baik secara lahiriah maupun batiniah.
Siapa Saja yang Perlu Diruwat?
Dalam tradisi Jawa, terdapat beberapa golongan orang yang dianggap perlu menjalani ruwatan, yang dikenal dengan istilah "wong sukerta". Mereka yang termasuk dalam kategori ini antara lain:
- Ontang-anting: anak laki-laki tunggal
- Unting-unting: anak perempuan tunggal
- Uger-uger lawang: dua bersaudara laki-laki
- Kembang sepasang: dua bersaudara perempuan
- Pandawa: lima bersaudara laki-laki
- Pandawi: lima bersaudara perempuan
- Julung wangi: anak yang lahir saat matahari terbenam
- Tiba sampir: anak yang lahir bersamaan dengan jatuhnya pohon
- Margana: anak yang lahir saat dalam perjalanan
Selain itu, ruwatan juga dapat dilakukan bagi mereka yang mengalami kesialan berulang dalam hidup, atau merasa terganggu oleh energi negatif. Namun perlu diingat, pelaksanaan ruwatan sebaiknya dilakukan atas dasar keyakinan dan kebutuhan spiritual, bukan semata-mata mengikuti tradisi tanpa pemahaman.
Advertisement
Kapan dan Di Mana Ruwatan Dilaksanakan?
Pemilihan waktu dan tempat pelaksanaan ruwatan biasanya ditentukan melalui perhitungan hari baik menurut penanggalan Jawa. Beberapa momen yang sering dipilih antara lain:
- Bulan Sura (Muharram): dianggap sebagai bulan yang sakral dan penuh berkah
- Hari kelahiran orang yang akan diruwat
- Saat gerhana matahari atau bulan
- Pada peringatan hari-hari besar Jawa
Tempat pelaksanaan ruwatan dapat bervariasi, tergantung pada skala dan jenis ruwatan yang dilakukan. Beberapa lokasi yang umum digunakan meliputi:
- Rumah pribadi
- Balai desa atau pendopo
- Tempat-tempat yang dianggap keramat
- Tepi sungai atau pantai
- Candi atau situs bersejarah
Pemilihan tempat ini seringkali dikaitkan dengan tujuan khusus dari ruwatan yang dilaksanakan. Misalnya, ruwatan untuk membersihkan desa dari malapetaka mungkin akan dilakukan di balai desa, sementara ruwatan pribadi bisa dilaksanakan di rumah.
Tata Cara Pelaksanaan Ruwatan
Prosesi ruwatan umumnya terdiri dari beberapa tahapan utama, meskipun detailnya dapat bervariasi tergantung pada tradisi setempat dan jenis ruwatan yang dilakukan. Berikut adalah gambaran umum tata cara pelaksanaan ruwatan:
- Persiapan: Meliputi penentuan waktu dan tempat yang tepat, serta penyiapan berbagai sesaji dan perlengkapan ritual.
- Siraman: Orang yang akan diruwat dimandikan dengan air kembang setaman sebagai simbol pembersihan diri.
- Penyajian sesaji: Berbagai sesaji dipersiapkan sebagai persembahan dan sarana komunikasi dengan alam gaib.
- Pagelaran wayang kulit: Dalang akan memainkan lakon Murwakala, yang menceritakan kisah Batara Kala.
- Pemotongan rambut: Sebagai simbol penyucian dan pelepasan dari kesialan.
- Pembacaan mantra atau doa: Dilakukan oleh pemimpin upacara untuk memohon perlindungan dan keselamatan.
- Pelepasan sukerta: Biasanya dilambangkan dengan melepaskan hewan seperti burung atau ikan.
- Selamatan: Acara makan bersama sebagai ungkapan syukur dan doa bersama.
Penting untuk dicatat bahwa setiap tahapan dalam ruwatan memiliki makna simbolis yang mendalam. Misalnya, siraman melambangkan pembersihan diri dari segala kotoran lahir dan batin, sementara pemotongan rambut menyimbolkan pelepasan dari nasib buruk yang melekat pada diri seseorang.
Advertisement
Perlengkapan dan Sesaji dalam Ruwatan
Pelaksanaan ruwatan memerlukan berbagai perlengkapan dan sesaji khusus. Masing-masing memiliki makna simbolis tersendiri. Beberapa di antaranya adalah:
- Kemenyan wangi: sebagai sarana komunikasi dengan alam gaib
- Kain mori putih: melambangkan kesucian
- Berbagai jenis nasi (nasi kuning, nasi merah, nasi putih): simbol kemakmuran
- Kain batik: mewakili identitas dan warisan budaya Jawa
- Bunga setaman: terdiri dari mawar, melati, dan kenanga, melambangkan keharuman dan kebajikan
- Air dari tujuh sumber: simbol pembersihan yang menyeluruh
- Jajanan pasar: melambangkan keragaman kehidupan
- Pisang raja: simbol kemuliaan dan kebijaksanaan
- Kelapa muda: melambangkan kesegaran dan kehidupan baru
Selain itu, dalam pagelaran wayang kulit untuk ruwatan, diperlukan perlengkapan khusus seperti seperangkat gamelan, wayang kulit lengkap, kelir (layar), dan blencong (lampu tradisional).
Manfaat Ruwatan bagi Kehidupan
Meskipun berakar pada kepercayaan tradisional, ruwatan dipercaya membawa berbagai manfaat bagi kehidupan, baik secara spiritual maupun psikologis. Beberapa manfaat tersebut antara lain:
- Ketenangan batin: Ruwatan dapat memberikan rasa aman dan tenteram, terutama bagi mereka yang meyakininya.
- Introspeksi diri: Proses persiapan dan pelaksanaan ruwatan mendorong seseorang untuk melakukan perenungan dan evaluasi diri.
- Penguatan ikatan sosial: Sebagai ritual yang melibatkan banyak orang, ruwatan dapat mempererat hubungan dalam masyarakat.
- Pelestarian budaya: Melalui ruwatan, nilai-nilai dan kearifan lokal dapat terus dijaga dan diwariskan.
- Peningkatan kesadaran spiritual: Ruwatan dapat menjadi sarana untuk mendekatkan diri pada Yang Maha Kuasa dan alam semesta.
- Pembebasan dari beban psikologis: Bagi yang meyakininya, ruwatan bisa menjadi cara untuk melepaskan diri dari rasa bersalah atau kecemasan.
- Motivasi untuk perubahan positif: Setelah diruwat, seseorang seringkali termotivasi untuk menjalani hidup yang lebih baik.
Penting untuk diingat bahwa manfaat-manfaat ini sangat terkait dengan keyakinan dan pemahaman individu terhadap makna ruwatan itu sendiri.
Advertisement
Perbedaan Ruwatan dengan Ritual Penyucian Lainnya
Meskipun memiliki tujuan serupa yaitu penyucian diri, ruwatan memiliki beberapa perbedaan mendasar dengan ritual penyucian lainnya. Berikut beberapa perbedaan tersebut:
- Latar belakang mitologi: Ruwatan memiliki akar kuat dalam mitologi Jawa, khususnya cerita Batara Kala, yang tidak ditemui dalam ritual penyucian lainnya.
- Kompleksitas ritual: Ruwatan umumnya lebih kompleks dan memerlukan persiapan lebih panjang dibandingkan ritual penyucian pada umumnya.
- Penggunaan wayang kulit: Pagelaran wayang kulit dengan lakon Murwakala merupakan ciri khas ruwatan yang tidak ada dalam ritual penyucian lain.
- Sasaran ritual: Ruwatan memiliki sasaran khusus yaitu orang-orang yang dianggap "sukerta", sementara ritual penyucian lain bisa ditujukan untuk umum.
- Peran dalang: Dalam ruwatan, dalang memiliki peran sentral sebagai pemimpin ritual, yang tidak dijumpai dalam ritual penyucian lainnya.
- Durasi pelaksanaan: Ruwatan biasanya berlangsung lebih lama, bisa seharian penuh atau bahkan lebih.
- Aspek seni dan budaya: Ruwatan tidak hanya ritual spiritual, tetapi juga mengandung unsur seni dan pelestarian budaya yang kuat.
Meskipun demikian, perlu diingat bahwa semua ritual penyucian, termasuk ruwatan, pada dasarnya memiliki tujuan yang sama yaitu membersihkan diri dan mencapai keseimbangan spiritual.
Kontroversi dan Kritik terhadap Tradisi Ruwatan
Seperti halnya banyak tradisi kuno, ruwatan juga tidak lepas dari kontroversi dan kritik. Beberapa pandangan kritis terhadap tradisi ini antara lain:
- Dianggap tidak rasional: Beberapa pihak menganggap kepercayaan terhadap kesialan dan kutukan yang mendasari ruwatan tidak sesuai dengan pemikiran modern yang lebih rasional.
- Potensi eksploitasi: Ada kekhawatiran bahwa tradisi ini bisa dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk kepentingan pribadi, misalnya dengan menarik biaya yang tidak wajar.
- Bertentangan dengan ajaran agama: Beberapa pemuka agama menganggap praktik ruwatan tidak sesuai dengan ajaran agama tertentu, terutama terkait aspek kepercayaan terhadap kekuatan gaib.
- Diskriminasi gender: Kritik muncul terkait pembedaan perlakuan antara laki-laki dan perempuan dalam penentuan siapa yang perlu diruwat.
- Pemborosan sumber daya: Pelaksanaan ruwatan yang rumit dan memerlukan banyak sesaji dianggap sebagai pemborosan, terutama di tengah kondisi ekonomi yang sulit.
- Potensi menciptakan ketergantungan psikologis: Ada kekhawatiran bahwa kepercayaan terhadap ruwatan bisa membuat seseorang terlalu bergantung pada ritual eksternal daripada berusaha mengatasi masalah secara aktif.
Menyikapi berbagai kritik ini, banyak praktisi ruwatan modern yang berupaya untuk mereinterpretasi makna ritual ini agar lebih relevan dengan konteks kekinian, sambil tetap mempertahankan esensi spiritualnya.
Advertisement
Perkembangan Ruwatan di Era Modern
Seiring perkembangan zaman, tradisi ruwatan juga mengalami berbagai perubahan dan adaptasi. Beberapa perkembangan yang dapat diamati antara lain:
- Penyederhanaan ritual: Banyak pelaksanaan ruwatan yang kini dilakukan dengan cara yang lebih sederhana, menyesuaikan dengan keterbatasan waktu dan sumber daya.
- Reinterpretasi makna: Para budayawan dan praktisi spiritual modern berupaya menafsirkan ulang makna ruwatan agar lebih relevan dengan konteks kehidupan saat ini.
- Penggunaan teknologi: Beberapa elemen ruwatan kini bisa dilakukan dengan bantuan teknologi, misalnya streaming pagelaran wayang kulit untuk peserta yang tidak bisa hadir secara fisik.
- Integrasi dengan nilai-nilai agama: Ada upaya untuk mengharmoniskan praktik ruwatan dengan ajaran agama, terutama di kalangan masyarakat Jawa yang beragama Islam.
- Ruwatan massal: Untuk efisiensi dan menjangkau lebih banyak orang, kini sering diadakan ruwatan massal yang melibatkan banyak peserta sekaligus.
- Aspek wisata budaya: Di beberapa daerah, ruwatan mulai dipromosikan sebagai atraksi wisata budaya yang bisa menarik minat wisatawan.
- Penelitian akademis: Semakin banyak studi ilmiah yang dilakukan untuk mengkaji makna dan dampak psikologis dari tradisi ruwatan.
Meskipun mengalami berbagai perubahan, esensi ruwatan sebagai sarana penyucian diri dan pencapaian keseimbangan spiritual tetap dipertahankan. Hal ini menunjukkan daya tahan dan fleksibilitas tradisi ini dalam menghadapi perubahan zaman.
Kesimpulan
Ruwatan merupakan tradisi Jawa yang kaya akan makna dan nilai-nilai luhur. Meskipun berakar pada kepercayaan kuno, ritual ini tetap relevan di era modern sebagai sarana introspeksi diri dan pencapaian keseimbangan spiritual. Tujuan utama ruwatan, yaitu pembersihan diri dari kesialan dan pencapaian ketentraman batin, mencerminkan kearifan lokal dalam memahami hubungan antara manusia, alam, dan kekuatan yang lebih tinggi.
Dalam pelaksanaannya, ruwatan melibatkan berbagai elemen budaya seperti wayang kulit, sesaji, dan mantra-mantra tradisional. Setiap tahapan dan perlengkapan dalam ritual ini memiliki makna simbolis yang mendalam, mencerminkan kompleksitas pemikiran dan spiritualitas Jawa.
Di tengah arus modernisasi, tradisi ruwatan terus mengalami adaptasi dan reinterpretasi. Hal ini menunjukkan fleksibilitas budaya Jawa dalam menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman, sambil tetap mempertahankan esensi spiritualnya. Meskipun menghadapi berbagai kritik dan tantangan, ruwatan tetap menjadi bagian penting dari warisan budaya Indonesia yang patut dilestarikan dan dipahami secara lebih mendalam.
Pemahaman terhadap tradisi ruwatan tidak hanya penting sebagai upaya pelestarian budaya, tetapi juga sebagai sarana untuk menggali kearifan lokal yang bisa memberikan perspektif baru dalam menghadapi tantangan kehidupan modern. Dengan pendekatan yang bijak dan terbuka, tradisi ini bisa terus memberikan manfaat bagi masyarakat, baik secara spiritual maupun kultural.
Advertisement
