Pemimpin Arab Dukung Rencana Mesir untuk Relokasi Gaza: Mulai dari Bersihkan Ranjau hingga Perumahan Sementara

Pada pertemuan di Kairo pada hari Selasa (4/3), para pemimpin regional mendukung usulan balasan terhadap rencana Presiden AS Donald Trump untuk mengusir 2,3 juta penduduk Gaza dan membangun kembali wilayah Palestina.

oleh Tanti Yulianingsih Diperbarui 06 Mar 2025, 23:27 WIB
Diterbitkan 06 Mar 2025, 14:07 WIB
Suka Cita Warga Gaza Berbuka Puasa di Hari Pertama Ramadan
Gaza. (Bashar TALEB/AFP)... Selengkapnya

Liputan6.com, Dubai - Para pemimpin Arab telah mendukung rencana Mesir untuk membangun kembali Gaza yang hancur akibat perang, yang akan memungkinkan penduduknya tetap tinggal di wilayah tersebut, kata Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi.

Pada pertemuan di Kairo pada hari Selasa (4/3), mengutip Al Jazeera, Kamis (6/3/2025), para pemimpin regional mendukung usulan balasan terhadap rencana Presiden AS Donald Trump untuk mengusir 2,3 juta penduduk Gaza dan membangun kembali wilayah Palestina.

Para peserta summit (pertemuan puncak) atau KTT tersebut termasuk emir Qatar, wakil presiden Uni Emirat Arab, dan menteri luar negeri Arab Saudi. Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonios Guterres juga hadir.

Rencana Mesir untuk rekonstruksi Gaza, mencakup fase pemulihan awal yang ditujukan untuk membersihkan ranjau di wilayah tersebut dan menyediakan perumahan sementara, diikuti oleh fase rekonstruksi yang lebih panjang yang difokuskan pada pembangunan kembali infrastruktur penting, menurut laporan media.

Pertanyaan penting lainnya tentang masa depan Gaza adalah siapa yang akan memerintah daerah kantong itu dan negara mana yang akan menyediakan miliaran dolar yang dibutuhkan untuk membangun kembali wilayah yang hancur itu.

El-Sisi mengatakan Mesir telah bekerja sama dengan Palestina dalam pembentukan sebuah komite administratif yang terdiri dari teknokrat Palestina yang independen dan profesional yang diberi tugas untuk memerintah Gaza. Komite tersebut akan bertanggung jawab untuk mengawasi bantuan kemanusiaan dan mengelola urusan Jalur Gaza untuk sementara waktu, sebagai persiapan untuk kembalinya Otoritas Palestina (PA), katanya.

Presiden Palestina Mahmoud Abbas, yang mengepalai PA, mengatakan ia menyambut baik gagasan Mesir dan mendesak Trump untuk mendukung rencana tersebut yang tidak melibatkan pengusiran penduduk Palestina.

Abbas, yang berkuasa sejak 2005, juga mengatakan bahwa ia siap menyelenggarakan pemilihan presiden dan parlemen jika keadaan memungkinkan, dan menambahkan bahwa PA-nya adalah satu-satunya kekuatan pemerintahan dan militer yang sah di wilayah Palestina yang diduduki.

Hamas mengatakan pihaknya menolak solusi apa pun yang dipaksakan terhadap Jalur Gaza oleh pihak luar.

"Kami mengharapkan peran Arab yang efektif untuk mengakhiri tragedi kemanusiaan yang disebabkan oleh pendudukan di Jalur Gaza … dan menggagalkan rencana pendudukan [Israel] untuk menggusur [warga Palestina]," kata kelompok itu dalam sebuah pernyataan pada hari Selasa (4/3).

Usulan apa pun akan membutuhkan dukungan besar dari negara-negara Teluk Arab yang kaya minyak seperti Uni Emirat Arab dan Arab Saudi, yang memiliki miliaran dolar yang dibutuhkan untuk meluncurkan rencana tersebut.

Gencatan Senjata Gaza berakhir

15 Bulan Perang Israel-Hamas, Begini Kondisi Kota Rafah di Gaza
Foto udara memperlihatkan orang-orang berjalan melewati reruntuhan rumah di Rafah, Jalur Gaza Selatan pada 20 Januari 2025. (Foto oleh AFP)... Selengkapnya

KTT luar biasa itu diadakan beberapa hari setelah fase pertama gencatan senjata Israel-Hamas di Gaza berakhir. Israel diketahui mengingkari ketentuan kesepakatan tersebut dengan menolak memulai negosiasi tahap kedua, dan malah mendorong perpanjangan tahap pertama kesepakatan.

Israel mengumumkan pada hari Minggu (2/3) bahwa mereka akan menghentikan masuknya bantuan kemanusiaan dan pasokan lainnya ke Gaza dan memperkenalkan proposal gencatan senjata baru yang katanya didukung oleh AS.

Adapun selama 42 hari tahap pertama, 25 tawanan hidup dan sisa-sisa delapan tawanan mati dikembalikan ke Israel dengan imbalan sekitar 2.000 tahanan dan sandera Palestina.

Semua tawanan hidup yang tersisa akan dibebaskan pada fase kedua gencatan senjata, tetapi Hamas dan Israel masih menemui jalan buntu mengenai cara memperpanjang gencatan senjata.

Berdasarkan usulan baru Israel, Hamas diharuskan membebaskan setengah dari tawanannya yang tersisa dengan imbalan perpanjangan gencatan senjata dan janji untuk merundingkan gencatan senjata yang langgeng. Israel tidak menyebutkan pembebasan lebih banyak tahanan Palestina – yang merupakan komponen kunci tahap pertama.

Hamas menuduh Israel berusaha menyabotase perjanjian yang ada, yang menyerukan kedua belah pihak untuk berunding mengenai pengembalian tawanan yang tersisa dengan imbalan lebih banyak tahanan Palestina, penarikan penuh pasukan Israel dari Gaza dan gencatan senjata yang langgeng. Tetapi tidak ada negosiasi substantif yang dilakukan.,

Lanjutkan Membaca ↓
Loading

Video Pilihan Hari Ini

EnamPlus

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya