Makan Sahur Termasuk Sunnah: Pengertian, Manfaat, dan Hukumnya dalam Islam

Makan sahur termasuk amalan sunnah yang sangat dianjurkan dalam Islam, memberikan banyak manfaat fisik dan spiritual. Ketahui waktu terbaik, hukum, dan manfaat lengkapnya di sini!

oleh Woro Anjar Verianty Diperbarui 27 Feb 2025, 12:00 WIB
Diterbitkan 27 Feb 2025, 12:00 WIB
Ilustrasi puasa, buka puasa, sahur
(Photo by Dan DeAlmeida on Unsplash)... Selengkapnya

Liputan6.com, Jakarta Makan sahur termasuk salah satu amalan yang sangat dianjurkan bagi umat Muslim yang menjalankan ibadah puasa, khususnya di bulan Ramadan. Sebagai rutinitas yang dilakukan sebelum terbitnya fajar, makan sahur termasuk dalam kategori sunnah yang memiliki nilai religius tinggi dan telah diteladankan oleh Nabi Muhammad SAW. Meskipun bukan sebuah kewajiban, makan sahur termasuk amalan yang memiliki banyak keutamaan dan manfaat, baik dari segi spiritual maupun kesehatan.

Dalam pandangan Islam, makan sahur termasuk bagian integral dari ibadah puasa yang menyempurnakan proses peribadatan selama bulan Ramadhan. Banyak ulama menegaskan bahwa makan sahur termasuk sunnah muakkadah (sangat dianjurkan) berdasarkan hadits dan sunnah Rasulullah SAW yang konsisten melakukannya dan menganjurkan para sahabatnya untuk melakukan hal yang sama. Dengan mengikuti anjuran ini, seorang Muslim tidak hanya mendapatkan keberkahan dalam beribadah tetapi juga memperoleh energi yang cukup untuk menjalani aktivitas selama berpuasa.

Para ahli kesehatan dan nutrisi modern juga menegaskan bahwa makan sahur termasuk kebiasaan yang sangat baik untuk kesehatan tubuh. Dengan asupan makanan dan cairan yang tepat saat sahur, tubuh dapat mempertahankan energi dan cairan selama periode puasa yang panjang. Makan sahur termasuk salah satu cara efektif untuk mencegah dehidrasi, menjaga kadar gula darah tetap stabil, dan mempertahankan fokus serta produktivitas selama menjalankan ibadah puasa. Kombinasi antara nilai religius dan manfaat kesehatan inilah yang menjadikan sahur sebagai praktik yang sangat dianjurkan dalam Islam.

Berikut penjelasan lengkapnya, yang telah Liputan6.com rangkum pada Kamis (27/2).

Pengertian Makan Sahur dalam Islam

Ilustrasi buka puasa, sahur, Islami, Ramadan
Ilustrasi buka puasa, sahur, Islami, Ramadan. (Photo by Thirdman from Pexels)... Selengkapnya

Sahur dalam terminologi Islam merujuk pada makanan dan minuman yang dikonsumsi oleh seorang Muslim sebelum terbitnya fajar atau menjelang adzan Subuh sebagai persiapan untuk menjalankan ibadah puasa. Istilah sahur berasal dari kata "sahar" dalam bahasa Arab yang berarti waktu menjelang fajar atau dini hari. Dalam konteks puasa Ramadan, sahur menjadi ritual penting yang memiliki dimensi spiritual dan praktis sekaligus.

Secara historis, praktik sahur telah ada sejak masa Nabi Muhammad SAW dan menjadi bagian dari sunnah beliau yang diteruskan oleh para sahabat dan generasi Muslim selanjutnya. Rasulullah SAW sangat menekankan pentingnya sahur sebagaimana tercatat dalam berbagai hadits shahih. Salah satu hadits yang populer adalah yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, di mana Nabi bersabda:

تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً

"Tasahharū fa inna fis-sahūri barakah"

Artinya: "Bersahurlah kalian, karena sesungguhnya di dalam sahur itu terdapat keberkahan." (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini secara eksplisit menunjukkan anjuran kuat dari Nabi Muhammad SAW untuk melaksanakan sahur sebelum berpuasa, dengan menjanjikan keberkahan bagi yang menjalankannya. Keberkahan yang dimaksud di sini mencakup aspek spiritual berupa pahala melaksanakan sunnah, serta aspek fisik berupa energi dan kekuatan untuk menjalankan puasa dengan lebih baik.

Dalam praktiknya, makan sahur idealnya dilakukan pada waktu yang tidak terlalu jauh dari waktu imsak (awal waktu puasa). Bahkan, terdapat anjuran untuk mengakhirkan sahur, sebagaimana hadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Ahmad:

إِنَّا مَعْشَرَ الْأَنْبِيَاءِ أُمِرْنَا بِتَعْجِيلِ الْإِفْطَارِ وَتَأْخِيرِ السَّحُورِ وَوَضْعِ الْأَيْمَانِ عَلَى الشَّمَائِلِ فِي الصَّلَاةِ

"Innā ma'syaral anbiyā'i umirnā bita'jīlil ifṭāri wa ta'khīris-sahūri wa waḍ'il aymāni 'alasy-syamā'ili fiṣ-ṣalāh"

Artinya: "Sesungguhnya kami para nabi diperintahkan untuk menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur serta meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri dalam shalat." (HR. Ahmad)

Hadits ini menunjukkan bahwa mengakhirkan waktu sahur hingga mendekati waktu imsak merupakan praktik yang dianjurkan dalam Islam. Hal ini memiliki hikmah agar masa puasa tidak terlalu panjang dan juga memberi kesempatan bagi tubuh untuk menyerap nutrisi dari makanan sahur dengan lebih baik sebelum memasuki periode puasa.

 

Hukum Makan Sahur dalam Perspektif Islam

Dalam fikih Islam, hukum makan sahur termasuk dalam kategori sunnah muakkadah, yaitu amalan yang sangat dianjurkan namun tidak sampai pada tingkat wajib. Meskipun demikian, intensitas anjuran untuk melakukan sahur sangat kuat, sebagaimana ditunjukkan oleh konsistensi Nabi Muhammad SAW dalam melaksanakannya dan menganjurkannya kepada para sahabat.

Para ulama dari berbagai mazhab telah sepakat tentang hukum sahur ini. Imam an-Nawawi dalam kitabnya Syarah Shahih Muslim menyatakan bahwa para ulama telah bersepakat (ijma') bahwa sahur adalah sunnah yang dianjurkan dan bukan merupakan kewajiban. Bagi seorang Muslim, melaksanakan sahur akan mendapatkan pahala sebagai pelaksana sunnah, namun tidak berdosa jika meninggalkannya.

Dalil utama yang menjadi dasar hukum sahur adalah hadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik:

تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً

"Tasahharū fa inna fis-sahūri barakah"

Artinya: "Bersahurlah kalian, karena sesungguhnya di dalam sahur itu terdapat keberkahan." (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits lain yang memperkuat anjuran sahur adalah yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban:

اسْتَعِينُوا بِطَعَامِ السَّحَرِ عَلَى صِيَامِ النَّهَارِ، وَبِقَيْلُولَةِ النَّهَارِ عَلَى قِيَامِ اللَّيْلِ

"Ista'īnū biṭa'āmis-sahari 'alā ṣiyāmin-nahāri, wa biqailūlatin-nahāri 'alā qiyāmil-lail"

Artinya: "Bantulah puasa di siang hari dengan makan sahur, dan bantulah shalat malam dengan tidur siang." (HR. Ibnu Hibban)

Hadits ini mengandung hikmah bahwa sahur merupakan persiapan penting untuk menjalankan puasa dengan lebih baik, sebagaimana tidur siang membantu seseorang untuk beribadah di malam hari dengan lebih optimal.

Dalam praktiknya, anjuran untuk sahur berlaku untuk semua jenis puasa, baik puasa wajib di bulan Ramadan maupun puasa sunnah di luar Ramadan. Meskipun demikian, anjuran ini lebih ditekankan untuk puasa Ramadan karena durasinya yang panjang (sebulan penuh) dan statusnya sebagai ibadah wajib yang memerlukan persiapan fisik dan spiritual yang lebih.

Para ulama juga menyebutkan bahwa minimal sahur adalah dengan meminum seteguk air, meskipun tentu lebih baik jika dilakukan dengan makanan yang bergizi dan mencukupi kebutuhan tubuh selama berpuasa. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa keberkahan sahur dapat diraih bahkan dengan konsumsi yang sedikit, namun tentu lebih optimal jika dilakukan dengan makanan yang cukup dan bergizi.

 

Keutamaan dan Hikmah Makan Sahur

Makan sahur memiliki berbagai keutamaan dan hikmah yang mendalam, baik dari perspektif religius maupun praktis. Memahami keutamaan-keutamaan ini dapat meningkatkan motivasi umat Muslim untuk melaksanakan sahur dengan lebih baik dan penuh kesadaran. Berikut adalah beberapa keutamaan dan hikmah dari makan sahur:

1. Keberkahan (Barakah)

Sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi Muhammad SAW:

تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً

"Tasahharū fa inna fis-sahūri barakah"

Artinya: "Bersahurlah kalian, karena sesungguhnya di dalam sahur itu terdapat keberkahan." (HR. Bukhari dan Muslim)

Keberkahan (barakah) dalam Islam merupakan konsep yang luas, mencakup tambahan kebaikan dari Allah SWT yang tidak terhitung dan tidak terduga. Dalam konteks sahur, keberkahan ini dapat berupa pahala, kemudahan dalam menjalankan puasa, peningkatan kualitas ibadah, dan manfaat kesehatan yang didapatkan.

2. Perbedaan dengan Praktik Ahli Kitab

Sahur juga menjadi pembeda antara puasa umat Islam dengan puasa yang dilakukan oleh Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani). Nabi Muhammad SAW bersabda:

فَصْلُ مَا بَيْنَ صِيَامِنَا وَصِيَامِ أَهْلِ الْكِتَابِ أَكْلَةُ السَّحَرِ

"Faṣlu mā baina ṣiyāminā wa ṣiyāmi ahlil kitābi aklatus-sahar"

Artinya: "Perbedaan antara puasa kita dan puasa Ahli Kitab adalah adanya makan sahur." (HR. Muslim)

Hadits ini menunjukkan bahwa sahur merupakan karakteristik unik dari puasa dalam Islam yang membedakannya dari praktik puasa dalam agama lain. Hal ini menjadi bagian dari identitas Muslim dalam beribadah.

3. Mendapatkan Salawat dari Allah dan Para Malaikat

Orang yang bersahur mendapatkan kemuliaan berupa salawat (doa dan rahmat) dari Allah SWT dan para malaikat. Nabi Muhammad SAW bersabda:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الْمُتَسَحِّرِينَ

"Innallāha wa malā'ikatahu yuṣallūna 'alal mutasahhirīn"

Artinya: "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersalawat kepada orang-orang yang makan sahur." (HR. Ahmad)

Mendapatkan salawat dari Allah dan para malaikat merupakan kehormatan dan kemuliaan yang besar bagi seorang hamba. Salawat Allah berarti rahmat dan ampunan-Nya, sedangkan salawat malaikat berarti doa dan istighfar untuk hamba tersebut.

4. Meneladani Sunnah Nabi

Melaksanakan sahur merupakan bentuk meneladani sunnah Nabi Muhammad SAW yang konsisten melakukannya selama hidupnya. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, Nabi bersabda:

نِعْمَ سَحُورُ الْمُؤْمِنِ التَّمْرُ

"Ni'ma sahūrul mu'mini at-tamr"

Artinya: "Sebaik-baik sahur bagi seorang mukmin adalah kurma." (HR. Abu Daud)

Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi Muhammad SAW tidak hanya menganjurkan sahur tetapi juga memberikan contoh praktis tentang makanan yang baik untuk sahur. Meneladani Rasulullah dalam segala aspek kehidupan, termasuk dalam cara berpuasa, merupakan bentuk kecintaan dan ketaatan seorang muslim kepada beliau.

5. Hikmah Praktis untuk Kesehatan

Selain keutamaan religius, sahur juga memiliki hikmah praktis berupa manfaat kesehatan. Sahur membantu menyediakan energi dan cairan yang diperlukan tubuh selama berpuasa, mencegah dehidrasi, menjaga kadar gula darah tetap stabil, dan membantu tubuh untuk tetap produktif selama menjalankan ibadah puasa.

Para ahli kesehatan modern menegaskan bahwa pola makan dengan jeda waktu tertentu (intermittent fasting) seperti yang dipraktikkan dalam puasa Islam dengan adanya sahur dan iftar (berbuka) memiliki banyak manfaat kesehatan, termasuk peningkatan metabolisme, detoksifikasi tubuh, dan potensi penurunan berat badan yang sehat.

Dengan memahami berbagai keutamaan dan hikmah sahur ini, umat Muslim dapat melaksanakan sahur tidak hanya sebagai rutinitas selama bulan Ramadan, tetapi sebagai ibadah yang penuh makna dan kesadaran akan manfaatnya baik secara spiritual maupun fisik.

 

Tata Cara dan Adab Makan Sahur

Dalam Islam, setiap ibadah dan ritual memiliki tata cara dan adab tertentu yang dianjurkan untuk diikuti agar mendapatkan manfaat optimal. Demikian pula dengan sahur, terdapat berbagai adab dan tata cara yang dianjurkan berdasarkan sunnah Nabi Muhammad SAW dan ajaran para ulama. Berikut adalah tata cara dan adab makan sahur:

1. Mengakhirkan Waktu Sahur

Salah satu adab penting dalam sahur adalah mengakhirkannya hingga mendekati waktu imsak (awal puasa). Hal ini berdasarkan hadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Zaid bin Tsabit:

تَسَحَّرْنَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَامَ إِلَى الصَّلَاةِ قُلْتُ كَمْ كَانَ بَيْنَهُمَا قَالَ قَدْرُ خَمْسِينَ آيَةً

"Tasahharnā ma'an-nabiyyi ṣallallāhu 'alaihi wa sallama thumma qāma ilaṣ-ṣalāti qultu kam kāna bainahumā qāla qadru khamsīna āyah"

Artinya: "Kami makan sahur bersama Nabi SAW, kemudian beliau berdiri untuk shalat. Aku bertanya, 'Berapa jarak antara keduanya?' Beliau menjawab, 'Kira-kira (waktu yang diperlukan untuk membaca) 50 ayat.'" (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi Muhammad SAW mengakhirkan sahurnya hingga waktu yang relatif dekat dengan waktu shalat Subuh. Para ulama menjelaskan bahwa hikmah dari mengakhirkan sahur adalah untuk memperpendek durasi puasa dan memberikan energi yang lebih bertahan lama selama berpuasa.

2. Memilih Makanan yang Baik dan Bergizi

Pemilihan jenis makanan untuk sahur sangat penting untuk menunjang kesehatan dan stamina selama berpuasa. Nabi Muhammad SAW pernah bersabda:

نِعْمَ سَحُورُ الْمُؤْمِنِ التَّمْرُ

"Ni'ma sahūrul mu'mini at-tamr"

Artinya: "Sebaik-baik sahur bagi seorang mukmin adalah kurma." (HR. Abu Daud)

Hadits ini menunjukkan bahwa kurma merupakan salah satu makanan yang direkomendasikan untuk sahur karena kandungan nutrisinya yang tinggi dan kemampuannya untuk memberikan energi yang bertahan lama. Selain kurma, para ahli gizi menyarankan untuk mengonsumsi makanan yang kaya protein, serat, dan kompleks karbohidrat saat sahur, serta menghindari makanan yang terlalu asin, manis, atau berlemak tinggi.

3. Minum Air yang Cukup

Mengonsumsi air putih yang cukup saat sahur sangat penting untuk mencegah dehidrasi selama berpuasa. Nabi Muhammad SAW sangat menganjurkan ummatnya untuk memperhatikan asupan air, sebagaimana dalam hadits:

تَسَحَّرُوا وَلَوْ بِجَرْعَةٍ مِنْ مَاءٍ

"Tasahharū wa lau bijar'atin min mā'"

Artinya: "Bersahurlah kalian walaupun hanya dengan seteguk air." (HR. Ibnu Hibban)

Hadits ini menekankan pentingnya sahur, bahkan jika hanya dengan minuman, yang menunjukkan bahwa hidrasi merupakan aspek krusial dalam persiapan puasa.

4. Memulai dengan Doa dan Basmalah

Seperti halnya aktivitas makan pada umumnya dalam Islam, sahur dianjurkan dimulai dengan membaca basmalah (bismillahirrahmanirrahim) dan diakhiri dengan hamdalah (alhamdulillah). Membaca doa sebelum dan sesudah makan merupakan bentuk pengakuan bahwa rezeki berasal dari Allah SWT dan ungkapan syukur atas nikmat-Nya.

5. Tidak Berlebihan dalam Makan

Islam mengajarkan moderasi dalam segala hal, termasuk dalam konsumsi makanan. Makan sahur sebaiknya tidak berlebihan hingga terlalu kenyang, karena hal ini dapat menyebabkan rasa malas dan mengantuk setelahnya, serta potensial menimbulkan masalah pencernaan selama berpuasa. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an:

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

"Wa kulū wasyrabū wa lā tusrifū, innahū lā yuhibbul musrifīn"

Artinya: "Dan makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan." (QS. Al-A'raf: 31)

6. Menjaga Kebersamaan Keluarga

Sahur merupakan momen yang baik untuk berkumpul bersama keluarga, memperkuat ikatan, dan saling mengingatkan dalam kebaikan. Nabi Muhammad SAW sering melakukan sahur bersama keluarga dan para sahabatnya, menunjukkan nilai sosial dari ritual ini.

7. Memanfaatkan Waktu untuk Ibadah

Waktu sahur merupakan bagian dari sepertiga malam terakhir, yang merupakan waktu mustajab (dikabulkan) untuk berdoa. Setelah sahur, dianjurkan untuk memanfaatkan waktu yang tersisa sebelum imsak untuk beribadah, seperti shalat tahajud, membaca Al-Qur'an, atau berdoa.

Dengan memperhatikan tata cara dan adab sahur ini, umat Muslim dapat memaksimalkan manfaat dari sahur, baik secara spiritual maupun secara fisik, sehingga dapat menjalankan ibadah puasa dengan lebih baik dan penuh keberkahan.

 

Manfaat Makan Sahur bagi Kesehatan

Makan sahur tidak hanya memiliki dimensi spiritual dalam Islam, tetapi juga memberikan berbagai manfaat kesehatan yang signifikan. Penelitian modern dalam bidang nutrisi dan kedokteran telah mengonfirmasi banyak hikmah di balik anjuran sahur yang telah diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW lebih dari 14 abad yang lalu. Berikut adalah berbagai manfaat kesehatan dari makan sahur:

1. Menjaga Stabilitas Gula Darah

Makan sahur membantu menjaga kadar gula darah tetap stabil selama berpuasa. Ketika seseorang berpuasa tanpa sahur, risiko hipoglikemia (gula darah rendah) meningkat, yang dapat menyebabkan gejala seperti pusing, lemah, dan sulit berkonsentrasi. Dengan makan sahur, tubuh memiliki waktu untuk mencerna makanan dan menyimpan glukosa sebagai glikogen di hati, yang kemudian dapat dikonversi kembali menjadi glukosa saat dibutuhkan selama puasa.

Para ahli kesehatan merekomendasikan konsumsi makanan dengan indeks glikemik rendah saat sahur, seperti gandum utuh, kacang-kacangan, dan protein, yang dicerna lebih lambat dan memberikan energi yang lebih stabil dan bertahan lama.

2. Mencegah Dehidrasi

Konsumsi air yang cukup saat sahur sangat penting untuk mencegah dehidrasi selama berpuasa, terutama saat puasa dilakukan di musim panas atau di daerah dengan iklim panas. Dehidrasi dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan, termasuk sakit kepala, kelelahan, gangguan konsentrasi, dan dalam kasus yang parah, dapat menyebabkan gangguan fungsi ginjal.

Selain minum air putih, mengonsumsi makanan dengan kandungan air tinggi seperti buah-buahan dan sayuran saat sahur juga dapat membantu menjaga hidrasi tubuh selama berpuasa. Para ahli kesehatan menyarankan untuk minum setidaknya 8 gelas air sejak berbuka hingga sahur, dengan sebagian besar dikonsumsi saat sahur.

3. Menjaga Fungsi Metabolisme

Puasa tanpa sahur dapat memperlambat metabolisme tubuh karena tubuh memasuki mode "kelaparan". Namun, dengan makan sahur, metabolisme tubuh tetap terjaga karena tubuh mendapatkan nutrisi yang diperlukan, meskipun kemudian memasuki periode puasa. Hal ini penting untuk menjaga berat badan yang sehat dan fungsi organ yang optimal.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa pola makan dengan jeda waktu tertentu (intermittent fasting) seperti yang dipraktikkan dalam puasa Ramadan dengan adanya sahur dan iftar dapat membantu meningkatkan sensitivitas insulin, memperbaiki profil lipid, dan bahkan memiliki efek neuroprotektif yang baik untuk kesehatan otak.

4. Menyediakan Nutrisi Esensial

Sahur memberikan kesempatan untuk mengonsumsi makanan bergizi yang menyediakan vitamin, mineral, dan nutrisi esensial lainnya yang diperlukan tubuh. Tanpa sahur, tubuh mungkin kekurangan nutrisi penting selama periode puasa yang panjang.

Makanan yang kaya nutrisi seperti buah-buahan, sayuran, biji-bijian utuh, protein tanpa lemak, dan lemak sehat sangat direkomendasikan untuk sahur. Nabi Muhammad SAW sendiri menyarankan kurma sebagai makanan sahur yang baik, dan penelitian modern menunjukkan bahwa kurma kaya akan serat, potasium, magnesium, dan antioksidan yang bermanfaat bagi kesehatan.

5. Mencegah Overeating saat Berbuka

Makan sahur dapat membantu mencegah makan berlebihan (overeating) saat berbuka puasa. Saat seseorang melewatkan sahur dan berpuasa dalam keadaan sangat lapar, terdapat kecenderungan untuk makan terlalu banyak dan terlalu cepat saat berbuka, yang dapat menyebabkan masalah pencernaan dan peningkatan berat badan.

Dengan makan sahur yang seimbang, rasa lapar saat berbuka menjadi lebih terkendali, memungkinkan untuk makan dengan lebih teratur dan perlahan, yang lebih baik untuk pencernaan dan kesehatan secara keseluruhan.

6. Meningkatkan Konsentrasi dan Produktivitas

Asupan nutrisi yang tepat saat sahur dapat membantu menjaga konsentrasi dan produktivitas selama berpuasa. Penelitian menunjukkan bahwa makanan yang kaya akan kompleks karbohidrat, protein, dan lemak sehat di sahur dapat membantu menjaga fungsi kognitif dan mengurangi kelelahan selama puasa.

Hal ini sangat penting bagi mereka yang perlu melakukan aktivitas fisik atau mental yang intens selama berpuasa, seperti bekerja, belajar, atau menjalankan tugas-tugas sehari-hari lainnya.

7. Memperkuat Sistem Kekebalan Tubuh

Dengan konsumsi makanan bergizi saat sahur, sistem kekebalan tubuh dapat tetap berfungsi dengan baik selama puasa. Nutrisi seperti vitamin C, vitamin D, zinc, dan antioksidan yang dikonsumsi saat sahur dapat membantu memperkuat imunitas dan melindungi tubuh dari infeksi dan penyakit.

Penekanan pada makanan yang kaya nutrisi saat sahur sejalan dengan prinsip ajaran Islam tentang kesehatan dan kebersihan, di mana Nabi Muhammad SAW telah menekankan pentingnya menjaga kesehatan sebagai bagian dari tanggung jawab seorang Muslim.

8. Meningkatkan Kualitas Tidur

Sahur yang tepat dapat membantu meningkatkan kualitas tidur setelah seharian berpuasa. Makanan yang mengandung triptofan, seperti susu, pisang, dan kacang-kacangan, yang dikonsumsi saat sahur dapat membantu produksi serotonin dan melatonin yang berperan dalam regulasi tidur.

Tidur yang berkualitas sangat penting untuk pemulihan tubuh, konsolidasi memori, dan persiapan untuk aktivitas hari berikutnya, terutama selama bulan Ramadan ketika banyak Muslim juga menjalankan ibadah tambahan di malam hari, seperti shalat tarawih.

Dengan memahami berbagai manfaat kesehatan dari sahur ini, umat Muslim dapat lebih menghargai hikmah di balik anjuran Nabi Muhammad SAW untuk bersahur sebelum berpuasa. Pemahaman ini juga dapat memotivasi untuk melaksanakan sahur dengan lebih baik dan dengan pilihan makanan yang lebih sehat, sehingga dapat menjalankan ibadah puasa dengan lebih optimal.

Makan sahur termasuk amalan sunnah yang sangat dianjurkan dalam Islam, khususnya bagi mereka yang menjalankan ibadah puasa. Berdasarkan hadits-hadits sahih dari Nabi Muhammad SAW, sahur memiliki keberkahan dan keutamaan yang besar, serta menjadi pembeda antara puasa umat Islam dengan puasa umat lain. Anjuran untuk melaksanakan sahur ini tidak hanya memiliki dimensi spiritual tetapi juga didukung oleh bukti ilmiah modern tentang manfaatnya bagi kesehatan.

 
Lanjutkan Membaca ↓
Loading

Video Pilihan Hari Ini

EnamPlus

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya