Liputan6.com, Jakarta Kewajiban ibadah puasa bukanlah hal baru yang diperintahkan kepada umat Nabi Muhammad SAW saja. Jauh sebelum Islam datang, puasa telah disyariatkan kepada umat-umat terdahulu sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah SWT:
Â
Advertisement
Baca Juga
Advertisement
"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS. Al-Baqarah [2]: 183)
Ayat ini dengan jelas menunjukkan bahwa puasa adalah ibadah universal yang telah diperintahkan Allah kepada umat-umat sebelum kedatangan Islam. Puasa merupakan bentuk penghambaan diri dan pelatihan ketakwaan yang telah ada di sepanjang sejarah para nabi dan rasul.
Para ulama tafsir berbeda pendapat tentang maksud "orang-orang sebelum kamu" dalam ayat tersebut. Sebagian menafsirkan bahwa yang dimaksud adalah kewajiban puasanya, sementara yang lain memahaminya sebagai penekanan pada umat-umat yang berpuasa. Namun, semua mengarah pada kesimpulan yang sama: puasa telah diperintahkan kepada umat-umat terdahulu meskipun dengan cara, waktu, dan lama pelaksanaan yang berbeda.
Artikel ini akan mengupas sejarah puasa pada umat-umat terdahulu sebelum Nabi Muhammad SAW, bagaimana tahapan pensyariatan puasa dalam Islam, serta perbedaan antara puasa umat Islam dengan puasa umat-umat sebelumnya, sebagaimana telah Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Selasa (25/2/2025).
Sejarah Puasa Para Nabi Terdahulu
Ibadah puasa telah dilaksanakan oleh para nabi dan rasul sebelum Nabi Muhammad SAW. Melalui berbagai riwayat dan kitab tafsir, kita dapat menelusuri jejak ibadah puasa yang dilakukan oleh para nabi terdahulu sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Nabi Adam AS
Nabi Adam AS sebagai manusia pertama telah mengenal ibadah puasa. Menurut Ibnu Katsir, Nabi Adam AS berpuasa selama tiga hari setiap bulan sepanjang tahun. Hal ini dilakukannya sebagai bentuk pertobatan setelah tergelincir dari perintah Allah di surga.
Dalam Tafsir al-Tsa'labi (Beirut: Daru Ihya al-Turats, Cetakan I, 2002, Jilid 2, h. 62) disebutkan bahwa ketika diturunkan dari surga ke bumi, kulit Nabi Adam menghitam karena terbakar oleh matahari. Kemudian, Malaikat Jibril datang dan bertanya, "Wahai Adam, maukah tubuhmu kembali memutih?" Nabi Adam menjawab, "Tentu saja." Malaikat Jibril lalu memberitahunya untuk berpuasa pada tanggal 13, 14, dan 15 setiap bulan.
Setelah menjalankan puasa, pada hari pertama sepertiga tubuh Nabi Adam kembali putih, pada hari kedua dua pertiga tubuhnya memutih, dan pada hari ketiga seluruh tubuhnya putih kembali. Inilah yang kemudian dikenal sebagai puasa "ayyamul bidl" atau "hari-hari putih".
Riwayat lain menyebutkan bahwa Nabi Adam berpuasa pada tanggal 10 Muharram sebagai ungkapan syukur karena Allah SWT mempertemukannya kembali dengan Hawa di Arafah setelah keduanya terpisah ketika diturunkan ke bumi.
Nabi Nuh AS
Nabi Nuh AS juga dikenal melaksanakan ibadah puasa, terutama saat berada di atas bahtera selama banjir besar melanda kaumnya. Dalam Tafsir Al-Thabari dikemukakan bahwa Nabi Nuh AS melaksanakan puasa pada tanggal 10 Muharram (Asyura) sebagai bentuk syukur ketika kapalnya berlabuh dengan selamat di Gunung Judi.
Disebutkan pula bahwa pada awal bulan Rajab, Nabi Nuh AS mulai menaiki kapalnya dan bersama para penumpang lainnya berpuasa. Kapal itu berlayar hingga enam bulan lamanya. Pada bulan Muharram, kapal berlabuh di Gunung Judi, tepat pada hari Asyura. Nabi Nuh kemudian berpuasa dan memerintahkan seluruh penumpang, bahkan hewan bawaannya, untuk berpuasa sebagai bentuk syukur kepada Allah SWT.
Menurut riwayat Ibnu Majah yang dikutip oleh Ibnu Katsir, Nabi Nuh AS berpuasa sepanjang tahun kecuali pada dua hari raya. Ini menunjukkan konsistensi dan kesungguhan Nabi Nuh dalam beribadah puasa.
Nabi Ibrahim AS
Nabi Ibrahim AS, bapak para nabi dan rasul, juga melaksanakan ibadah puasa dalam kehidupannya. Salah satu momentum penting yang tercatat adalah ketika beliau berpuasa saat akan dilemparkan ke dalam api oleh Raja Namruz.
Setelah Raja Namruz memerintahkan pengumpulan kayu bakar untuk membakar Nabi Ibrahim AS, beliau tetap tenang dan menjalankan ibadah puasa sebagai bentuk ketaatan dan penyerahan diri kepada Allah SWT. Dalam keadaan berpuasa itulah, Nabi Ibrahim dilemparkan ke dalam api yang berkobar, namun Allah menjadikan api itu dingin dan tidak membakarnya.
Puasa yang dilakukan Nabi Ibrahim AS ini merupakan bentuk tawakkal dan keyakinan penuh terhadap pertolongan Allah SWT di saat-saat genting dalam hidupnya.
Nabi Musa AS
Nabi Musa AS dikenal melaksanakan puasa selama 40 hari ketika bermunajat di Gunung Tursina untuk menerima wahyu dari Allah SWT. Selama masa itu, beliau tidak makan dan minum, sepenuhnya bermunajat kepada Allah dalam keadaan yang suci.
Selain itu, Nabi Musa AS juga melaksanakan puasa pada hari Asyura (10 Muharram) sebagai ungkapan syukur atas keselamatannya dan Bani Israil dari kejaran Firaun. Hal ini dibuktikan dengan hadis riwayat Ibnu Abbas RA yang menceritakan bahwa ketika Rasulullah SAW tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura.
Ketika Rasulullah SAW bertanya, mereka menjawab, "Ini adalah hari yang agung dimana Allah menyelamatkan Musa dan menenggelamkan bala tentara Firaun. Maka kaum Yahudi berpuasa sebagai wujud syukur." Rasulullah SAW kemudian bersabda, "Aku tentu lebih utama terhadap Musa dan lebih berhak menjalankan puasa itu dibanding kalian." Maka beliau pun berpuasa dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa pada hari itu.
Nabi Daud AS
Nabi Daud AS memiliki metode puasa yang khas dan istimewa, yang kemudian dikenal sebagai "puasa Daud". Beliau berpuasa sehari dan berbuka sehari sepanjang hidupnya. Metode puasa ini dianggap sebagai puasa yang paling utama menurut sabda Rasulullah SAW.
Dalam hadis riwayat Bukhari, Rasulullah SAW bersabda:
Â
"Sebaik-baik shalat di sisi Allah adalah shalatnya Nabi Daud AS. Dan sebaik-baik puasa di sisi Allah adalah puasa Daud. Beliau tidur separuh malam, lalu shalat sepertiganya dan tidur seperenamnya lagi. Beliau puasa sehari dan berbuka sehari." (HR. Bukhari)
Dalam hadis lain, beliau menyatakan:
Â
"Puasalah sehari dan berbukalah sehari. Itu adalah puasanya Nabi Daud AS dan itu adalah puasa yang paling utama." (HR. Bukhari)
Puasa Daud diwajibkan bagi Nabi Daud AS dan umatnya untuk seumur hidup, berbeda dengan umat Nabi Muhammad SAW yang hanya diwajibkan puasa Ramadhan selama satu bulan dalam setahun.
Maryam
Puasa yang dilaksanakan oleh Maryam, ibunda Nabi Isa AS, memiliki keunikan tersendiri. Puasa beliau tidak hanya menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga menahan diri dari berbicara kepada manusia.
Hal ini disebutkan dalam Al-Quran:
Â
"Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah, 'Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun pada hari ini.'" (QS. Maryam: 26)
Ketika Maryam kembali ke kaumnya dengan membawa bayi Isa, dan ditanya tentang siapa ayah dari putera yang ada di gendongannya, Maryam tidak menjawab dengan perkataan karena sedang berpuasa yang tidak membolehkannya berbicara. Maryam hanya menunjuk kepada bayi Isa, dan Allah membuat bayi Isa berbicara untuk menjawab tuduhan terhadap ibunya.
Advertisement
Puasa dalam Agama-Agama Terdahulu
Selain para nabi, puasa juga menjadi ritual penting dalam berbagai agama dan bangsa-bangsa terdahulu. Bentuk puasa yang dilakukan beragam sesuai dengan ajaran dan keyakinan mereka masing-masing.
Yahudi
Umat Yahudi memiliki tradisi puasa yang khas, di mana mereka menahan diri sepenuhnya dari makanan dan minuman, termasuk air. Berbeda dengan puasa umat Islam, umat Yahudi bahkan melarang menggosok gigi pada puasa hari besar Yom Kippur dan Tisha B'Av, meskipun diperbolehkan pada puasa hari kecil.
Dalam teknis puasa Yahudi, memakan obat umumnya tidak dibenarkan kecuali atas rekomendasi dokter. Umat Yahudi yang mengamalkan ritual ini berpuasa hingga enam hari dalam setahun.
Selain itu, orang-orang Yahudi berpuasa ketika berkabung (hidad), sakit, atau dalam keadaan bahaya. Mereka juga berpuasa selama beberapa minggu berturut-turut setiap tahun sebagai peringatan atas hancurnya kota Yerusalem, serta berpuasa satu hari sebagai kaffarat (penebusan dosa).
Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, orang-orang Yahudi juga melaksanakan puasa Asyura pada tanggal 10 Muharram sebagai peringatan keselamatan Nabi Musa AS dari kejaran Firaun.
Nasrani/Katolik
Tradisi puasa dalam agama Nasrani/Katolik juga memiliki kekhasan tersendiri. Nabi Isa AS, sebagai nabi mereka, berpuasa selama 40 hari sebelum dimulainya masa kerasulan. Beliau juga berpuasa pada hari kaffarat yang dahulu pernah ditetapkan dalam syariat Nabi Musa AS.
Dalam perkembangannya, puasa di kalangan Nasrani/Katolik mengalami banyak perubahan. Ada berbagai jenis puasa yang dikenal, seperti:
- Puasa Mutlak: Jenis puasa di mana seseorang tidak makan dan minum sama sekali. Contohnya puasa Musa (40 hari 40 malam), puasa Ester (3 hari 3 malam), dan puasa Yesus (40 hari 40 malam).
- Puasa Normal: Pelaku tidak makan sama sekali tetapi boleh minum sebanyak-banyaknya. Contohnya puasa Daud versi mereka, yakni tidak makan dan semalaman berbaring di tanah.
- Puasa Sebagian: Puasa dengan menghindari makanan dan minuman tertentu selama waktu yang ditentukan. Contohnya puasa Daniel, yakni puasa 10 hari hanya makan sayur dan minum air putih.
Menariknya, di era modern, ketentuan puasa dalam agama Katolik tidak lagi ditetapkan oleh ajaran asli, melainkan oleh pemuka agama. Pada tahun 1966, Paus Paul VI mengubah peraturan ketat puasa dalam agama Katolik Kristen, menentukan aturan puasa bergantung pada situasi ekonomi setempat, dan menjadikan puasa sebagai ibadah sukarela.
Di Amerika Serikat, misalnya, hanya ada dua hari yang wajib berpuasa, yaitu Rabu Abu dan Jumat Agung. Hari Jumat Lent adalah hari menahan diri dari makan daging. Penganut Katolik juga diwajibkan mematuhi Puasa Eukaris, yang berarti tidak makan apa-apa kecuali minum air atau obat selama satu jam sebelum Eukaris (Komuni Kudus).
Bangsa-Bangsa Kuno
Tidak hanya dalam agama-agama samawi, puasa juga dipraktikkan oleh bangsa-bangsa kuno dengan berbagai tujuan dan cara pelaksanaan:
- Orang-Orang Mesir Kuno: Mereka telah mengenal puasa dan berlatih secara sengaja dengan tujuan agar ruh menjadi jernih, terutama pada hari-hari raya. Seluruh masyarakat ikut berpuasa, sementara para pemuka agama berpuasa lebih lama, dari tujuh hari hingga enam minggu setiap tahunnya.
- Orang-Orang Yunani: Mereka mengadopsi kebiasaan puasa dari Mesir Kuno. Semua orang berpuasa sebagai persembahan kepada sesembahan mereka selama beberapa hari berturut-turut sebelum berperang, dengan harapan mendapatkan kemenangan.
- Orang-Orang Cina: Masyarakat Cina melaksanakan puasa selama beberapa hari dan mewajibkannya pada diri mereka selama terjadi musibah dan malapetaka. Sebagian kelompok di Tibet bahkan melarang memakan makanan selama 24 jam berturut-turut, tidak menelan air liur, dan tidak memakan makanan apapun.
Tahapan Pensyariatan Puasa dalam Islam
Syariat puasa dalam Islam tidak langsung diturunkan dalam bentuk finalnya seperti yang kita kenal sekarang. Ada beberapa tahap yang dilalui hingga akhirnya puasa disyariatkan dalam bentuk yang sempurna sebagaimana dilaksanakan oleh umat Islam saat ini.
Tahap Awal
Pada awal-awal pensyariatan puasa dalam Islam, aturan dan tata caranya berbeda dengan yang kita laksanakan sekarang. Imam Al-Thabari dalam tafsirnya menyebutkan bahwa kaum Nasrani diwajibkan berpuasa Ramadhan dengan aturan tidak boleh makan dan minum setelah tidur (dari waktu isya hingga waktu isya berikutnya), juga tidak boleh bergaul suami-istri.
Tradisi ini pada awalnya juga diikuti oleh kaum Muslimin, termasuk Abu Qais ibn Shirmah dan Umar ibn Al-Khattab. Tata cara puasa pada masa awal Islam mengikuti ketentuan ini, di mana seseorang yang tertidur di malam hari setelah berbuka puasa tidak diperbolehkan lagi makan dan minum hingga waktu berbuka puasa esok harinya.
Hal ini dijelaskan dalam riwayat Al-Bara' ibn 'Azib: "Jika salah seorang sahabat berpuasa dan datang waktu berbuka, namun ia belum berbuka karena tidur, maka ia tidak lagi boleh makan dan minum pada malam itu hingga siang hari berikutnya dan berbuka di sore hari." (HR. Al-Bukhari)
Selain itu, orang yang telah shalat isya juga tidak diperbolehkan lagi makan, minum, atau berhubungan suami-istri meskipun belum tidur. Ketentuan ini ternyata cukup memberatkan para sahabat, sehingga banyak yang kesulitan menjalankannya.
Beberapa kejadian menjadi sebab turunnya ayat yang meringankan ketentuan tersebut. Salah satunya adalah yang dialami oleh Umar ibn Al-Khattab. Suatu malam, setelah berada di tempat Rasulullah SAW, Umar pulang ke rumah cukup malam dan mendapati istrinya sudah tertidur. Saat itu, Umar ingin bergaul dengan istrinya namun ditolak karena istrinya berkata, "Aku sudah tidur!" Meskipun demikian, Umar tetap bergaul dengan istrinya.
Keesokan harinya, Umar menemui Rasulullah SAW dan menceritakan kejadian semalam. Kisah ini menjadi salah satu sebab turunnya QS. Al-Baqarah [2]: 187 yang memberikan keringanan dalam tata cara puasa.
Tahap Akhir (Final)
Setelah turunnya QS. Al-Baqarah [2]: 187, syariat puasa mengalami perubahan signifikan yang memudahkan kaum Muslimin:
"Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu.
Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri'tikaf dalam masjid.
Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa." (QS. Al-Baqarah [2]: 187)
Ayat ini menetapkan ketentuan final bahwa kaum Muslimin diperbolehkan makan, minum, dan berhubungan suami-istri pada malam hari hingga terbit fajar, tanpa ada syarat harus sebelum tidur atau sebelum shalat isya. Ketentuan ini berlaku hingga sekarang.
Sebab lain turunnya ayat tersebut adalah peristiwa yang dialami oleh Qais ibn Shirmah Al-Anshari. Suatu hari, ia berpuasa dan saat waktu berbuka tiba, ia bertanya kepada istrinya apakah ada makanan. Istrinya menjawab tidak ada tetapi akan mencarikannya. Karena kelelahan bekerja seharian, Qais tertidur.
Ketika istrinya pulang dan mendapati suaminya telah tertidur, ia berkata, "Celakalah engkau!" Esoknya, Qais tetap berpuasa namun pada tengah hari ia pingsan. Kejadian itu disampaikan kepada Rasulullah SAW, dan kemudian turunlah ayat tersebut.
Imam Ibnul Qayyim menyebutkan bahwa puasa dalam Islam melalui tiga tahapan:
- Pertama, diwajibkan dengan kategori pilihan
- Kedua, memasuki tahap wajib, tetapi jika orang yang berpuasa tertidur sebelum makan, diharamkan baginya makan dan minum sampai malam berikutnya
- Ketiga, tahap yang telah ditetapkan oleh syariat hingga hari Kiamat, yaitu boleh makan, minum, dan berhubungan suami-istri di malam hari hingga terbit fajar
Advertisement
Perbedaan Puasa Umat Islam dengan Puasa Umat Terdahulu
Meskipun puasa telah disyariatkan kepada umat-umat terdahulu, terdapat beberapa perbedaan signifikan antara puasa yang dilaksanakan oleh umat Islam dengan puasa umat-umat sebelumnya.
Lebih Ringan
Perbedaan utama antara puasa umat Islam dengan puasa umat terdahulu adalah dari segi kemudahan dan keringanannya. Allah SWT dengan jelas menegaskan dalam Al-Quran:
Â
"Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu." (QS. Al-Baqarah [2]: 185)
Dibandingkan dengan puasa Maryam yang membatalkan puasa jika berbicara, puasa umat Islam jauh lebih ringan karena berbicara tidak membatalkan puasa. Selain itu, syariat Islam memberikan banyak rukhshah (keringanan) bagi mereka yang berhalangan puasa, seperti:
- Orang sakit diperbolehkan tidak puasa dan menggantinya di hari lain
- Musafir diperbolehkan menangguhkan puasanya
- Orang tua dan orang sakit yang tidak mungkin sembuh diperbolehkan membayar fidyah sebagai pengganti puasa
- Wanita hamil dan menyusui yang khawatir akan kesehatan dirinya atau anaknya diperbolehkan tidak puasa
Bentuk keringanan lainnya adalah diharamkannya puasa wishal (puasa terus-menerus tanpa berbuka) bagi umat Islam. Rasulullah SAW bersabda:
Â
"Rasulullah SAW melarang para sahabat berpuasa wishal sebagai bentuk kasih sayang kepada mereka. Para sahabat bertanya, 'Anda sendiri berpuasa wishal?' Beliau SAW menjawab, 'Aku tidak seperti kalian. Sesungguhnya Allah memberiku makan dan minum.'" (HR. Bukhari dan Muslim)
Lebih Sedikit Jumlah Harinya
Puasa wajib bagi umat Islam jumlahnya lebih sedikit dibandingkan dengan puasa yang diwajibkan kepada umat-umat terdahulu. Allah SWT berfirman:
"Hanya dalam beberapa hari yang tertentu." (QS. Al-Baqarah [2]: 184)
Umat Nabi Muhammad SAW hanya diwajibkan puasa selama satu bulan dalam setahun, yaitu bulan Ramadhan. Sementara itu, umat Nabi Daud AS diwajibkan puasa sehari dan berbuka sehari sepanjang tahun seumur hidup mereka. Meskipun pola puasa Daud berselang-seling, tetapi totalnya jauh lebih banyak dibandingkan puasa Ramadhan.
Disyariatkannya Makan Sahur
Perbedaan penting lainnya adalah disyariatkannya makan sahur bagi umat Islam. Meskipun hukumnya sunnah, Rasulullah SAW menegaskan bahwa makan sahur adalah pembeda antara puasa umat Islam dengan puasa ahli kitab (Yahudi dan Nasrani):
"Yang membedakan antara puasa kita dan puasa ahli kitab adalah makan sahur." (HR. Muslim)
Makan sahur memberikan kekuatan bagi orang yang berpuasa untuk menjalani aktivitas di siang hari. Rasulullah SAW bersabda:
"Mintalah bantuan dengan menyantap makan sahur agar kuat puasa di siang hari. Dan mintalah bantuan dengan tidur sejenak siang agar kuat shalat malam." (HR. Ibnu Majah)
Aturan yang Jelas dan Spesifik
Puasa dalam Islam memiliki aturan yang sangat jelas dan spesifik, baik waktu mulai dan berakhirnya puasa maupun hal-hal yang membatalkan puasa. Waktu puasa dimulai sejak terbit fajar shadiq hingga terbenam matahari, sebagaimana ditegaskan dalam QS. Al-Baqarah [2]: 187.
Hal-hal yang membatalkan puasa juga diatur dengan jelas, seperti makan, minum, hubungan suami-istri, dan hal-hal lain yang telah ditentukan dalam syariat. Demikian pula dengan adab dan sunnah puasa, seperti menyegerakan berbuka, berdoa saat berbuka, dan memperbanyak ibadah selama bulan Ramadhan.
Kejelasan aturan ini memberikan pedoman yang pasti bagi umat Islam dalam menjalankan ibadah puasa, sehingga tidak ada keraguan atau kebingungan dalam pelaksanaannya.
Puasa sebagai ibadah universal telah disyariatkan kepada umat-umat terdahulu sebelum umat Nabi Muhammad SAW. Para nabi dan rasul, dari Adam AS hingga Isa AS, telah melaksanakan ibadah puasa dengan berbagai bentuk dan tata cara sesuai dengan syariat yang diturunkan kepada mereka.
Meskipun beragam dalam bentuk dan pelaksanaannya, esensi puasa tetap sama, yaitu pengendalian diri dan peningkatan ketakwaan kepada Allah SWT. Puasa melatih kesabaran, kepedulian terhadap sesama, dan penguatan spiritual dalam menjalankan kehidupan.
Syariat puasa yang diberikan kepada umat Nabi Muhammad SAW merupakan penyempurnaan dari syariat-syariat sebelumnya, dengan berbagai keringanan dan kemudahan yang menunjukkan kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Sebagaimana firman-Nya: "Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu." (QS. Al-Baqarah [2]: 185)
Dengan memahami sejarah puasa umat terdahulu, kita dapat lebih menghargai nikmat syariat yang Allah berikan kepada kita dan menjalankan ibadah puasa dengan penuh kesungguhan dan keikhlasan, demi mencapai derajat ketakwaan yang diharapkan.
Wallahu a'lam bishawab.
