Tren Joget-Joget Bagi THR Lebaran 2025 Disebut Mirip Tarian Yahudi, Benarkah?

Video yang memperlihatkan orang yang disebut berpakaian mirip Yahudi melakukan tarian senada seketika viral di media sosial. Banyak warganet yang mengaitkan joget-joget tersebut berasal dari kaum Yahudi. Lantas, benarkah?

oleh Muhamad Husni Tamami Diperbarui 05 Apr 2025, 05:30 WIB
Diterbitkan 05 Apr 2025, 05:30 WIB
Tren Joget THR Lebaran 2025 Disebut Mirip Tarian Orang Yahudi
Tren joget THR lebaran 2025 disebut mirip tarian orang Yahudi. (Foto: Istimewa)... Selengkapnya

Liputan6.com, Jakarta - Bagi-bagi tunjangan hari raya (THR) kepada sanak keluarga merupakan hal yang biasa setiap momen lebaran Idul Fitri. Terlepas dari bagaimana cara membagikannya, memberikan THR kepada anak, keponakan, dan lainnya sudah menjadi tradisi yang tak bisa ditinggalkan.

Hal menarik, ketika media sosial masif digunakan, cara membagikan THR yang viral karena tak biasa selalu diikuti oleh pengguna media sosial lainnya. Tahun ini, trennya adalah membagikan THR sembari joget-joget.

Seketika banyak yang mengikuti tren joget bagi-bagi THR. Bahkan, videonya selalu muncul di halaman awal media sosial alias FYP (for you page). Usut punya usut, tren joget bagi-bagi THR ini mirip seperti tarian yang dilakukan orang-orang Yahudi.  

Video yang memperlihatkan orang yang disebut berpakaian mirip Yahudi melakukan tarian senada seketika viral di media sosial. Banyak warganet yang mengaitkan joget-joget tersebut berasal dari kaum Yahudi. Lantas, benarkah?

Pendakwah Ustadz Abu Bakar Al Akhdhory mengingatkan agar muslim tidak langsung ikut-ikutan tentang tren yang hangat di media sosial (medsos). Ia menyoroti joget-joget bagi THR yang menurutnya tidak selaras dengan ajaran Islam.

Joget-joget untuk THR ternyata tarian yang biasa dilakukan Yahoodi! (Kalaupun bukan khas mereka, namun musik dan joget-jogetnya tetap mungkar),” tulisnya dikutip dari Instagram @abubakar_alakhdhory, Jumat (4/4/2025).

 

Saksikan Video Pilihan Ini:

Muslim Sering Takut Ketinggalan

Ilustrasi muslim berzikir,berdoa
Ilustrasi muslim berzikir,berdoa. (Photo Copyright by Freepik)... Selengkapnya

Ustadz Abu Bakar Al Akhdhory menyayangkan dalam suasana lebaran Idul Fitri 1446 H ini banyak berseliweran video joget-joget antre menerima THR. Ia tak mempermasalahkan bagi-bagi THR-nya, tapi ia menyoroti cara memberikannya. 

“Subhanallah. Yang kami sayangkan tentunya dari seorang muslim dan muslimah diriingi dengan musik, ya walaupun hanya sekadar konten, maka THR tidak masalah, berbagi hadiah tidak masalah. Hanya saja jangan sampai dicemari dengan bumbu-bumbu dosa. Semoga Allah SWT memberikan taufik kepada muslimin dan muslimat,” tuturnya.

Ustadz Abu Bakar menilai masih banyak masyarakat Indonesia yang takut ketinggalan dengan tren baru di media sosial. Pada akhirnya ikut-ikutan dan tidak mencari tahu bagaimana latar belakangnya.

“Oknum masyarakat kita ini sering latah dengan yang viral. Kalau dalam kebaikan sih ok, tapi dalam hak-hal kayak gini? Velocity lah, joget THR lah dan lain-lain. Saya menyampaikan ini dalam rangka mengingkari, bukan berarti merasa diri ini lebih suci,” tambahnya.

Ustadz Abu Bakar memohon maaf jika apa yang ia sampaikan menyinggung banyak orang, terlebih bagi para kreator konten yang sering memanfaatkan tren untuk meningkatkan engagement.

“Maaf, jika ada yang tersinggung. Memang niat dakwah itu ‘menyinggung’ tapi tentu dengan niatan kebaikan. Semoga Allah jauhkan kita dari keburukan, Allah mudahkan dalam kebaikan,” tandasnya.

Beragam Versi

Digital Detox Efektif untuk Menjaga Kesehatan Otak dan Meningkatkan Produktivitas
Ilustrasi sedang scrolling media sosial. © (Foundry/https://pixabay.com/)... Selengkapnya

Menurut jurnalis salah satu televisi swasta, Iqbal Himawan di Instagram @iqbalhimawan_, video tarian yang beredar di internet diunggah pada 6 Februari 2014. Video tersebut menunjukkan tarian yang dilakukan di sebuah pernikahan Israel oleh para pria Chassidic.

“(Chassidic) semacam aliran Hasid Yahudi, dalam Yudaisme Ortodoks menekankan pendekatan spiritual terhadap kehidupan Yahudi, dengan penganut yang dikenal sebagai Hasidim atau Chassidim,” tulisnya.

Ia menambahkan, tarian tersebut dilakukan dalam formasi barisan tradisional yang disebut Honga, tetapi langkah yang mereka lakukan disebut Bunny Hop. Tarian ini disebut berasal dari Balboa High School di San Francisco sekitar tahun 1952. 

Ada juga yang menyebut tarian tersebut berasal dari Finlandia, yakni Jenkka. Ini merupakan versi lokal dari tarian populer abad ke-19, 'Scottish', yang serupa dengan formasi peserta tarian yang berbaris Letkajennkka. Tarian ini disebut muncul pada 1960-an.

“Versi lain menyebut, tarian ini juga mirip dengan folk dance dari Romania, dan Albania,” tulisnya.

Iqbal Himawan menambahkan bahwa bagi pria Yahudi yang religius, keahlian dalam menari tidak terlalu dihargai. Hal ini karena waktu dan energinya dinilai lebih baik digunakan untuk belajar dan mendalami agama.

Lanjutkan Membaca ↓
Loading

Video Pilihan Hari Ini

EnamPlus

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya