Liputan6.com, Jakarta - Dalam kehidupan masyarakat Betawi, tradisi dan budaya memegang peranan penting dalam menjaga hubungan sosial dan kekeluargaan. Salah satu tradisi yang masih dipertahankan hingga kini, meskipun tidak sebanyak dulu, adalah tradisi Nyorog.
Tradisi ini merupakan bentuk penghormatan kepada orang yang lebih tua dengan cara mengirimkan atau memberikan paket makanan kepada mereka, terutama menjelang bulan Ramadan. Nyorog bukan hanya sekadar membagikan makanan, tetapi juga memiliki makna mendalam dalam mempererat tali persaudaraan serta menjaga nilai-nilai kebersamaan dalam keluarga besar Betawi.
Advertisement
Dalam praktiknya, tradisi nyorog biasanya dilakukan oleh anggota keluarga yang lebih muda—baik itu anak, cucu, atau keponakan—yang membawa makanan ke rumah anggota keluarga yang lebih tua seperti orang tua, kakek-nenek, paman, atau bibi.
Advertisement
Baca Juga
Paket makanan yang diberikan biasanya berisi hidangan khas Betawi seperti sayur gabus pucung, semur jengkol, ketupat, dan lauk-pauk lainnya. Selain sebagai bentuk penghormatan, Nyorog juga menjadi cara bagi keluarga muda untuk mempererat hubungan dengan generasi yang lebih tua, memperbaharui komunikasi, dan menunjukkan rasa kasih sayang dalam bentuk nyata.
Sejarah Nyorog sendiri berakar dari kebiasaan masyarakat Betawi di masa lalu yang mengutamakan hubungan kekeluargaan dan kebersamaan. Dahulu, masyarakat Betawi hidup dalam lingkungan yang erat dan saling mengenal satu sama lain.
Mereka tidak hanya berbagi makanan tetapi juga berbagi cerita, nasihat, dan doa untuk keselamatan serta kelancaran menjalankan ibadah puasa. Dalam konteks keislaman, Nyorog dapat diartikan sebagai manifestasi dari ajaran Islam mengenai pentingnya silaturahmi dan berbagi rezeki dengan sesama, terutama dengan keluarga.
Oleh karena itu, Nyorog bukan sekadar ritual tahunan, tetapi juga merupakan bagian dari pengamalan nilai-nilai agama dan budaya secara bersamaan. Namun, seiring dengan perkembangan zaman dan perubahan gaya hidup masyarakat perkotaan, tradisi ini semakin jarang ditemukan.
Banyak keluarga yang kini lebih memilih untuk bertemu hanya saat buka puasa bersama atau pada momen Lebaran, sehingga makna Nyorog sebagai bentuk penghormatan dan penyambung silaturahmi sebelum Ramadan semakin tergerus oleh kesibukan modernitas.
Kehidupan Masyarakat Betawi
Meskipun mengalami penurunan dalam praktiknya, beberapa keluarga Betawi masih berusaha mempertahankan tradisi ini, baik dalam bentuk aslinya maupun dengan beberapa adaptasi.
Jika dulu makanan diantar secara langsung ke rumah anggota keluarga yang lebih tua, kini ada juga yang melakukannya melalui pengiriman makanan lewat jasa kurir atau bahkan dalam bentuk uang maupun bingkisan modern seperti parsel Ramadan.
Hal ini menunjukkan bahwa meskipun zaman telah berubah, nilai-nilai inti dari tradisi Nyorog masih bisa dipertahankan dengan cara yang lebih sesuai dengan kehidupan saat ini.
Selain itu, beberapa komunitas dan pemerhati budaya Betawi juga berupaya menghidupkan kembali tradisi ini dengan mengadakan acara Nyorog bersama, di mana mereka berbagi makanan dengan sesama, termasuk dengan tetangga dan warga sekitar yang membutuhkan.
Hal ini membuktikan bahwa tradisi lokal seperti Nyorog tidak harus hilang begitu saja, tetapi dapat beradaptasi dan tetap hidup dalam kehidupan masyarakat modern. Sebagai bagian dari budaya Betawi yang kaya dan beragam, Nyorog seharusnya tidak hanya dipandang sebagai kebiasaan turun-temurun, tetapi juga sebagai warisan budaya yang memiliki nilai sosial tinggi.
Tradisi ini mengajarkan pentingnya berbagi, menghormati yang lebih tua, serta menjaga hubungan baik di dalam keluarga. Di tengah era digital yang sering kali membuat interaksi antar anggota keluarga menjadi lebih terbatas, Nyorog bisa menjadi momen penting untuk kembali memperkuat hubungan kekeluargaan secara langsung.
Oleh karena itu, mempertahankan dan melestarikan Nyorog bukan hanya sekadar menjaga tradisi, tetapi juga upaya untuk menjaga kehangatan dan keharmonisan dalam keluarga serta masyarakat.
Jika semakin banyak generasi muda yang memahami dan melaksanakan kembali tradisi ini, maka bukan tidak mungkin Nyorog bisa kembali menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Betawi yang lebih luas, tidak hanya sebatas ritual tahunan, tetapi sebagai budaya yang tetap relevan dalam kehidupan modern.
Penulis: Belvana Fasya Saad
Advertisement
