Liputan6.com, Yogyakarta - Setiap daerah di Indonesia memilki ragam tradisi khas dalam menyambut Ramadan, termasuk di Jawa Tengah. Tahun ini, ada banyak tradisi jelang Ramadan yang digelar di berbagai daerah di Jawa Tengah.
Bukan sekadar seremonial, setiap tradisi mengandung makna mendalam, baik itu sebagai ajang silaturahmi maupun simbol penyucian diri. Mengutip dari visitjawatengah.jatengprov.go.id, berikut ragam tradisi Ramadan Jawa Tengah:
Advertisement
1. Dugderan dan Warak Ngendog
Advertisement
Tradisi dugder atau dugderan telah menjadi agenda tahunan di Kota Semarang jelang Ramadan. Tahun ini, dalam Semarang Calendar of Events 2025 tertulis bahwa masyarakat Kota Semarang akan kembali merayakan datangnya bulan Ramadan dengan dugderan.
Baca Juga
Dugderan adalah pesta hiburan atau festival khas Kota Semarang. Tahun ini, dugderan digelar pada 17-26 Februari 2025.
Sementara itu, Warak Ngendog adalah maskot dugderan yang ditampilkan dalam puncak kirab dugderan. Warak Ngendog adalah hewan mitologi. Ia memiliki badan berbentuk kambing dengan leher panjang seperti unta, berkepala naga, dan terdapat telur pada ujung ekornya.
Umumnya, tradisi ini ditandai dengan pemukulan bedug dan membunyikan meriam. Pelaksanaannya diawali dengan pemukulan bedug di Balaikota Semarang dan dilanjutkan dengan arak-arakan Warak Ngendog menuju Masjid Agung.
2. Gebyuran Bustaman
Gebyuran Bustaman adalah upacara perang air yang dilaksanakan masyarakat Kampung Bustaman, Kota Semarang. Tradisi ini dimaksudkan untuk membersihkan diri dari dosa-dosa sebelum berpuasa.
Konon, tradisi ini sudah ada sejak 1742. Kyai Bustam adalah sosok yang mempelopori tradisi ini. Tahun ini, gebyuran bustaman akan diselenggarakan pada 25 Februari 2025.
3. Grebeg Makukuhan
Grebeg makukuhan merupakan salah satu tradisi menyambut Ramadan yang dilaksanakan masyarakat Desa Kedu, Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Tahun ini, tradisi ini telah sukses digelar pada 6-9 Februari 2025.
Dalam pelaksanaannya, tradisi ini diawali dengan pengajian akbar, khoul Ki Ageng Makukuhan, sadranan, pentas wayang kedu, pentas kesenian berjudul Keindahan Budaya dalam Seni dan Kreatifitas Masyarakat, serta kirab agung dan kirab langse. Tradisi ini rutin dilaksanakan setiap tahunnya sebagai ajang menyambut Ramadan, tepatnya dimulai pada malam Jumat Kliwon terakhir sebelum bulan puasa.
Â
Megengan
4. MegenganÂ
Megengan merupakan tradisi yang digelar masyarakat Demak menjelang Ramadan. Tahun ini, tradisi megengan akan dilaksanakan di Alun-Alun Demak pada H-1 jelang Ramadan.
Tradisi ini dimeriahkan dengan kirab budaya. Terkait nama, kata megengan berasal dari bahasa Jawa yang berarti menahan. Pelaksanaan tradisi ini bertujuan untuk mengingatkan masyarakat akan datangnya bulan Ramadan.
5. Padusan
Padusan merupakan tradisi Jawa dalam menyambut bulan suci Ramadan. Makna tradisi ini adalah sebagai penyucian jiwa dan raga sebelum melaksanakan ibadah puasa.
Tahun ini, Pemerintah Kabupaten Klaten akan menyelenggarakan padusan di Obyek Mata Air Cokro (OMAC), Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Umumnya, tradisi padusan diisi dengan serangkaian acara, mulai dari kirab kendi berisi air dari 21 sumber mata air di Kabupaten Klaten, kirab gunungan sedekah bumi, sebaran kue apem dan udik-udik, serta hiburan.
Selain Klaten, Pemerintah Kabupaten Boyolali juga akan melaksanakan padusan. Tradisi padusan di Boyolali akan dilaksanakan di Umbul Pengging dan Umbul Tlatar yang diawali dengan kirab budaya dan dilanjutkan dengan ritual padusan oleh duta wisata.
Penulis: Resla
Advertisement
