Harap-Harap Cemas Menanti Keputusan The Fed, Harga Emas Dunia Melemah

Harga emas tergelincir kembali ke USD 1.900 dalam jangka pendek. Bagaimana prospek ke depannya di tengah pertemuan Bank Sentral AS atau the Fed?

oleh Tira Santia diperbarui 31 Jan 2023, 07:30 WIB
Diterbitkan 31 Jan 2023, 07:30 WIB
Ilustrasi Harga Emas Hari Ini di Dunia. Foto: DAVID GRAY | AFP
Ilustrasi Harga Emas Hari Ini di Dunia. Foto: DAVID GRAY | AFP

Liputan6.com, Jakarta - Harga emas sedikit turun dalam perdagangan yang berombak pada Senin. Pelemahan harga emas hari ini terjadi di tengah ekspektasi perlambatan kenaikan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau the Fed.

Mengutip CNBC, Selasa (31/1/2023), harga emas di pasar spot naik tipis 0,2 persen menjadi USD 1.924,05 per ons pada pukul 13:40. ET. Sedangkan harga emas berjangka AS turun tipis 0,3 persen menjadi USD 1.922,9 per ons.

“Cara The Fed menyampaikan cerita itu akan tercermin di pasar emas,” kata analis pasar senior RJO Futures, Daniel Pavilonis.

“Gambaran yang lebih besar di sini adalah jika Fed memperlambat kenaikan suku bunga, inflasi akan kembali menderu. Jika Fed berhenti sebentar dan inflasi masih ada - saya pikir dalam skenario itu emas akan lepas landas." tambah dia.

Pelaku pasar mengharapkan kenaikan suku bunga hanya 25 basis poin saja pada pertemuan Komite Pasar Terbuka the Fed yang berlangsung pada 31 Januari - 1 Februari.

Pertemuan akan membawa suku bunga kebijakan ke kisaran 4,5 persen - 4,75 persen. Angka ini di bawah level 5 persen plus yang diminta oleh sebagian besar pembuat kebijakan Fed.

Emas, yang tidak memberikan keuntungan dari bunga, cenderung menguntungkan ketika suku bunga rendah karena mampu bersaing dengan obligasi. Kebalikannya, emas sulit bersaing ketika bunga tinggi karena harus bersaing dengan obligasi yang memberikan keuntungan dari bunga sekaligus harga.

Ekspektasi perlambatan kenaikan suku bunga Fed muncul usai inflasi menjadi tolok ukur Fed mengalami penurunan untuk bulan kedua berturut-turut pada Desember. Hal ini menempatkan ekonomi pada jalur pertumbuhan yang lebih rendah menuju 2023.

Namun, jumlah orang yang mengajukan tunjangan pengangguran terus menurun - menandakan pasar tenaga kerja yang ketat yang dapat memaksa Fed untuk mempertahankan kenaikan suku bunga.

"Kejutan hawkish dari Fed dapat melihat harga emas tergelincir kembali ke USD 1.900 dalam jangka pendek," kata Michael Hewson, kepala analis pasar di CMC Markets, dalam sebuah catatan.

* Follow Official WhatsApp Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.


Prediksi Harga Emas di Tengah Gonjang-Ganjing Ekonomi Global

Harga Emas Antam Naik Jadi Rp 666 Ribu per Gram
Penampakan emas batangan di gerai Butik Emas Antam di Jakarta, Jumat (5/10). Pada perdagangan Kamis 4 Oktober 2018, harga emas Antam berada di posisi Rp 665 ribu per gram. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Harga Emas telah diperdagangkan naik sepanjang 2023 dan saat ini berada di sekitar USD 1.930 per ons. Namun, harga emas diprediksi akan mengalami penurunan drastis kembali jika terjadi gejolak ekonomi di global.

"Emas bukanlah tempat yang aman. Saya memperkirakan bahwa emas akan turun menjadi USD 900 hingga USD 1.000. Itu akan jauh lebih sedikit daripada komoditas lain, masih turun 40 hingga 45 persen dari sini," kata Pendiri HS Dent Harry Dent, dikutip dari Kitco News, Senin (30/1/2023).

Dent mengatakan bahwa kebijakan moneter yang dilakukan Federal Reserve menyebabkan ledakan di sebagian besar kelas aset, terutama saham.

"Booming saham dari 2009 hingga akhir 2021 adalah 120 persen artifisial. Itu hanya [The Fed] yang semakin merangsang untuk menjaga pasar saham tetap naik… Itu adalah obat keuangan yang beracun, yang ketika akhirnya turun dan gagal, Anda mengalami kemacetan," ujarnya.

Dia memperkirakan bahwa "kehancuran besar-besaran" akan terjadi, di tengah pasar yang sudah bearish, setelah NASDAQ mencapai level terendah 2022 di 10.088.

"Saya merasa titik terendah terakhir untuk saham saat ini kemungkinan besar terjadi Juli atau lebih dari 2024. Jadi, kita masih dalam tahap awal. Untuk mengetahui bahwa kehancuran ini berlanjut dan akan jauh lebih dalam, kita perlu menembus titik terendah terakhir, yaitu 10.088."

Gelombang berikutnya ke bawah akan terjadi setelah level kritis. Dari rekor tertinggi sepanjang masa, Dent memperkirakan NASDAQ turun 92 persen dan S&P 500 turun 86 persen.

 


Harga Emas Jatuh

Harga Emas Terus Bersinar di Tahun 2020, Penjualan Emas Antam Capai Rp 6,41 T
Untuk memperkuat nilai tambah produk emas, Antam terus melakukan inovasi produk dan penjualan.

Harga emas juga akan jatuh, bersama dengan aset lainnya, menjadi USD 900 per ons, kata Dent, tetapi pada akhirnya akan mencapai USD 4.000 setelah pasar pulih dan ledakan ekonomi berikutnya terjadi.

Meskipun memperkirakan harga emas akan rendah pada tahun 2024, Dent mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi di India menjadi pertanda baik untuk perkiraan harga emas jangka panjang. Dia menyinggung secara khusus konsumsi emas di negara yang merupakan importir emas terbesar kedua di dunia itu.

"Jika India adalah hal besar berikutnya, emas akan meledak, karena orang India membeli dan menggunakan emas untuk keamanan dan perhiasan dan yang lainnya. Jadi, emas, untuk alasan mendasar, akan berhasil dan naik pada ledakan berikutnya," pungkas Dent. 

Infografis Modus Robot Trading Net89, Sudah Ada 8 Tersangka Kasus Investasi Bodong
Infografis Modus Robot Trading Net89, Sudah Ada 8 Tersangka Kasus Investasi Bodong (Liputan6.com/Triyasni)
Lanjutkan Membaca ↓

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya