Buktikan Janji Xi Jinping, China Impor Rp 841,5 Triliun Produk Agrikultur dari ASEAN

PM China Li Qiang mengatakan, Presiden China Xi Jinping berkomitmen untuk mengeluarkan USD 150 miliar, atau setara Rp 2.295 triliun (kurs Rp 15.300) untuk mengimpor produk agrikultur dari Asia Tenggara.

oleh Maulandy Rizki Bayu Kencana diperbarui 06 Sep 2023, 12:10 WIB
Diterbitkan 06 Sep 2023, 12:10 WIB
Perdana Menteri Republik Rakyat Tiongkok (RRT) Li Qiang dalam pidato pembukaan di 20th ASEAN-China Summit sebagai rangkaian KTT ke-43 ASEAN, Rabu (6/9/2023). (Youtube Sekretariat Presiden)
Perdana Menteri Republik Rakyat Tiongkok (RRT) Li Qiang dalam pidato pembukaan di 20th ASEAN-China Summit sebagai rangkaian KTT ke-43 ASEAN, Rabu (6/9/2023). (Youtube Sekretariat Presiden)

Liputan6.com, Jakarta PM China Li Qiang mengatakan, Presiden China Xi Jinping berkomitmen untuk mengeluarkan USD 150 miliar, atau setara Rp 2.295 triliun (kurs Rp 15.300) untuk mengimpor produk agrikultur dari negara ASEAN.

Janji itu diutarakan Xi Jinping dalam rangka memperingati dialog ekonomi China-ASEAN ke-30 tahun pada 2021 silam.

"Untuk memperingati dialog ekonomi China-ASEAN ke-30 tahun pada 2021, Presiden Xi Jinping berjanji China bakal mengeluarkan USD 150 miliar untuk membeli produk agrikultur Asia Tenggara selama 5 tahun ke depan," ujar Li Qiang dalam ASEAN-China Summit ke-26 di JCC, Jakarta, Rabu (6/9/2023).

Baru berjalan 2 tahun, sambung Li Qiang, China telah mengeluarkan lebih dari USD 55 miliar, atau setara Rp 841,5 triliun untuk mengimpor produk agrikultur dari negara anggota ASEAN.

"Sekarang, lebih dari USD 55 miliar dari produk-produk ini telah dilakukan importasi, lebih cepat dari yang diharapkan," sebut Li Qiang.

Impor dari ASEAN

Adapun importasi produk agrikultural dari ASEAN ke China ini jadi bagian dari hubungan perdagangan dengan volume besar. Li Qiang menyebut, pada 2022 saja volume dagang China dan ASEAN mencapai nilai USD 970 miliar, atau setara Rp 14.841 triliun.

"Tahun lalu, volume perdagangan kita telah mencapai USD 970 miliar. Itu dua kali lebih besar dari volume perdagangan satu dekade silam," kata PM China Li Qiang.


KTT ASEAN 2023, Jokowi: Ketergantungan 78% pada Energi Fosil Harus Dikurangi

Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke-43. (Arief/Liputan6.com)
Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke-43. (Arief/Liputan6.com)

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyebut porsi penggunaan energi dari negara-negara ASEAN. Menurutnya, saat ini, 78 persen penggunaan energi dari ASEAN masih bergantung pada energi fosil.

Besarnya porsi ini, kata Jokowi, butuh dikurangi kedepannya. Seiring dengan perhatian dunia global terhadap bauran energi baru terbarukan (EBT).

"Ketergantungan ASEAN terhadap 78 persen sumber energi fosil harus dikurangi," kata dia saat membuka Konferensi Tingkat Tinggi atau KTT ASEAN-Korea Selatan, di JCC Senayan, Jakarta, Rabu (6/9/2023).

Di hadapan Presiden Korea Selatan Yoon Suk-Yeul dan jajarannya, Jokowi membuka peluang adanya kerja sama untuk meningkatkan bauran EBT tadi. Namun, kerja sama yang dimaksudkan Jokowi tak sebatas pada sektor energi saja, tapi juga potensi ekonomi digital.

"Disaat yang sama dalam 1 dekade kedepan ekonomi digital di ASEAN diperkirakan menyumbang USD 1 triliun GDP kawasan," ungkapnya.

"Namun transisi energi dan transformasi digital butuh investasi dan transfer teknologi ayng tak sedikit, sehingga dibutuhkan kolaborasi dan kemitraan untuk mewujudkanya," sambung Kepala Negara.

Kemitraan ASEAN dan KorselDia menegaskan, kemitraan negara-negara ASEAN dengan Republic of Korea merupakan salah satu yang cukup positif kedepannya.

"Bagi Indonesia, kemitraan ASEAN-Korea adalah partnership of the future," kata Jokowi.


Jokowi Bertemu PM China, Ingin ASEAN Jadi Mitra Strategis Perdagangan Dunia

Presiden Jokowi dalam pidato pembukaan di 20th ASEAN-China Summit sebagai rangkaian KTT ke-43 ASEAN, Rabu (6/9/2023). (Youtube Sekretariat Presiden)
Presiden Jokowi dalam pidato pembukaan di 20th ASEAN-China Summit sebagai rangkaian KTT ke-43 ASEAN, Rabu (6/9/2023). (Youtube Sekretariat Presiden)

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menghadiri ASEAN-China Summit ke-26 di Jakarta Convention Center (JCC), Rabu (6/9/2023). Jokowi bertemu langsung dengan Perdana Menteri China, Li Qiang.

Pada kesempatan itu, Jokowi mengatakan, China merupakan satu dari empat mitra dialog ASEAN yang memiliki status mitra strategis komprehensif. China juga telah melakukan aksesi selama 20 tahun terhadap Perjanjian Persahabatan dan Kerjasama di Asia Tenggara.

Sehingga, Jokowi menekankan bahwa itu perlu dimaknai dengan merealisasikan kerjasama konkret yang saling menguntungkan. Itu hanya bisa terjadi jika masing-masing pihak meningkatkan kepercayaan satu sama lain.

"Hal tersebut hanya bisa dilakukan jika kita memiliki trust satu sama lain yang tentu saja harus dibangun dan dipelihara oleh semua pihak. Trust dan kerjasama konkret ini lah yang dapat menjadi positif force bagi stabilitas dan perdagangan kawasan," ujar Jokowi.

Saling Bergandengan

Menimpali pernyataan Jokowi, PM China Li Qiang menyatakan, Presiden Xi Jinping juga telah bertujuan agar China dan ASEAN bisa bergandengan tangan menyambut masa depan.

Lebih dari 10 tahun lalu, ia menambahkan, China dan ASEAN telah berkolaborasi dan berkontribusi terhadap kesuksesan masing-masing. Meskipun dunia dihadapi perubahan besar yang belum pernah terjadi sebelumnya, ia menganggap keduanya telah bergerak ke jalur yang tepat.

"China dikenal sebagai negara ekonomi terbesar kedua dunia, dan kombinasi produk domestik bruto ASEAN telah menjadi yang terbesar kelima di dunia," kata Li Qiang.

"Tidak peduli bagaimana situasi internasional berkembang, China dan ASEAN tetap menjaga pertukaran dan komunikasi yang erat, menghormati jalur perkembangan satu sama lain, dan mengakomodasi kepentingan satu sama lain," tuturnya.

 


Ekonom: KTT ASEAN Jadi Momentum Indonesia Perkuat Ekonomi

Presiden Jokowi melakukan pertemuan bilateral dengan Presiden Bangladesh disela-sela KTT ASEAN di Jakarta, Rabu (6/9/2023).
Presiden Jokowi melakukan pertemuan bilateral dengan Presiden Bangladesh disela-sela KTT ASEAN di Jakarta, Rabu (6/9/2023). (Foto: Agus Suparto-Fotografer Presiden Jokowi)

Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-43 ASEAN digelar di Jakarta pada 5-7 September 2023. Dalam KTT ini akan ada kesepakatan regional dan juga dengan beberapa lembaga internasional.

Pengamat Ekonomi dari Indonesia Strategic and Economics Action Institution Ronny P Sasmita, menilai agenda tersebut merupakan Keketuaan Indonesia yang sifatnya sangat strategis.

Menurutnya, momentum Keketuaan Indonesia dalam KTT ASEAN 2023 kali ini harus dimanfaatkan dengan baik dan menjadikan ajang untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia dalam hal regional saja mampu memimpin.

"Secara geopolitik, momen ini harus mampu digunakan sebagai ajang untuk menunjukan kepada dunia soal kepemimpinan regional Indonesia," kata Ronny kepada Liputan6.com, Selasa (5/9/2023).

Lebih lanjut, Ronny mengatakan, dunia boleh saja terpecah antara Barat dan kekuatan baru yang anti barat, anggota-anggota BRICS plus boleh saja bereforia soal dunia multipolar dan dedolarisasi, tapi ASEAN adalah domain Indonesia.

"Apapun yang terkait dengan ASEAN, maka Indonesia harus dilibatkan dan harus diajak bicara," ujarnya.

Secara ekonomi, Indonesia adalah negara dengan kue ekonomi terbesar, negara dengan penduduk terbesar, dan negara dengan pertumbuhan ekonomi paling agresif.

 

Infografis KTT ASEAN Ke-43 2023 Digelar di Jakarta. (Liputan6.com/Gotri/Abdillah)
Infografis KTT ASEAN Ke-43 2023 Digelar di Jakarta. (Liputan6.com/Gotri/Abdillah)
Lanjutkan Membaca ↓
Loading

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya