Liputan6.com, Karibia - Juara dunia F1, Lewis Hamilton tersangkut sengkata dengan pihak pengembang villa mewah di Karibia berharga lebih dari 3,5 juta poundsterling (Rp 60,7 miliar). Pengembang itu bakal menuntut Hamilton ke jalur hukum karena kabur setelah bangunan rampung.
Perpisahan dengan Nicole Scherzinger menjadi alasan utama, Hamilton melanggar perjanjian kepada pengembang. Ketika masih bersama, Hamilton dan Nicole berencana membangun sebuah villa mewah di Karibia untuk berlibur.
Advertisement
Â
Namun, rencana itu berantakan setelah keduanya berpisah. Padahal, bangunan tersebut sudah berdiri sesuai dengan permintaan Hamilton dan Nicole. Tempat peristirahatan ini memiliki lima kamar tidur dan sebuah ruang rekaman untuk mantan personel Pussycat Dolls ini.
Baca Juga
Menurut pihak pengembang, villa ini sangat menajubkan, karena segudang fasilitas. Bukan sekadar studio rekaman, villa ini memiliki ruang kebugaran pribadi dengan pemandangan terbaik di Karibia. Dermaga kecil menjadi pelengkap bangunan ini. Pengembang asal Italia yang mengerjakan proyek itu, Bernardo Bertucci siap melaporkan Hamilton karena kasus penipuan.
"Saya benar-benar percaya dan kami membuat banyak perubahan dari desain asli," keluh Bertucci sebagaimana dilansir dari The Sun.
Bernardo menyatakan, Hamilton sangat bersemangat ketika menemuinya beberapa waktu lalu mengenai pembangunan villa mewah ini. Pembalap Mercedes GP ini akan menempati villa ini setelah pensiun dari balap.
Â
Tapi rencana tinggal kenangan. Hamilton tiba-tiba saja memutuskan perjanjian secara sepihak melalui e-mail setelah putus dari pacarnya. "Suatu hari, ketika pembangunan Villa itu setengah berjalan, saya menerima email dari dia, tidak ingin melanjutkan proyek ini."
Kekecewaan mendalam langsung dirasakan Bernardo setelah menerima surat elektronik itu."Sangat menyedihkan, tapi sudah terjadi. Saya cukup yakin, dia tahu telah berbuat salah pada saya." Bernardo sendiri mengaku enggan melanjutkan perkara ini ke jalur hukum. "Tetapi, sangat sulit menjual villa pribadi seperti ini."