Mitos dan Fakta tentang Darah Tinggi yang Sering Beredar di Masyarakat, Simak Ulasannya

Simak sejumlah mitos dan fakta seputar darah tinggi yang sering beredar di masyarakat.

oleh Edelweis Lararenjana Diperbarui 05 Apr 2025, 16:52 WIB
Diterbitkan 05 Apr 2025, 16:52 WIB
hipertensi
Ilustrasi cek tekanan darah/Copyright unsplash.com/Mufid Majnun... Selengkapnya

Liputan6.com, Jakarta Penyakit darah tinggi atau hipertensi menjadi salah satu masalah kesehatan yang cukup umum di masyarakat. Kondisi ini sering kali dianggap remeh karena gejalanya bisa tidak terasa, padahal dalam jangka panjang bisa menyebabkan komplikasi serius seperti serangan jantung, stroke, hingga kerusakan ginjal. Di tengah banyaknya informasi yang beredar, sayangnya tak sedikit mitos yang dipercaya oleh masyarakat tanpa dasar medis yang kuat.

Banyak orang masih percaya bahwa darah tinggi hanya menyerang orang tua, atau bahwa penderita hipertensi harus menghindari semua jenis garam tanpa terkecuali. Ada pula yang meyakini bahwa jika tekanan darah sudah kembali normal, maka pengobatan bisa dihentikan begitu saja. Padahal, pemahaman yang keliru seperti ini bisa berdampak buruk bagi kesehatan jangka panjang.

Untuk itu, penting bagi kita untuk mengenali mana yang benar dan mana yang hanya mitos. Berikut sejumlah mitos dan fakta seputar darah tinggi yang sering beredar di masyarakat. 

7 Mitos dan Fakta tentang Darah Tinggi yang Sering Beredar di Masyarakat

Ilustrasi hipertensi pada milenial
Ilustrasi hipertensi pada milenial. Photo by Mockup Graphics on Unsplash... Selengkapnya

Berikut adalah beberapa mitos dan fakta tentang darah tinggi (hipertensi) yang sering beredar di masyarakat, lengkap dengan penjelasannya agar kamu tidak salah paham:

1. Mitos: Darah tinggi hanya menyerang orang lanjut usia

Fakta: Meskipun risiko hipertensi meningkat seiring bertambahnya usia, anak muda juga bisa terkena darah tinggi, terutama jika memiliki gaya hidup tidak sehat seperti jarang olahraga, merokok, stres berlebihan, atau mengonsumsi makanan tinggi garam dan lemak jenuh.

2. Mitos: Jika tekanan darah sudah normal, obat bisa dihentikan

Fakta: Penghentian obat tanpa pengawasan dokter bisa berbahaya dan menyebabkan tekanan darah naik lagi. Banyak pasien hipertensi perlu minum obat seumur hidup agar tekanan darah tetap stabil. Setiap perubahan pengobatan harus berdasarkan anjuran medis.

3. Mitos: Semua garam harus dihindari

Fakta: Yang perlu dibatasi adalah natrium, bukan garam dalam arti luas. Beberapa jenis garam, seperti garam rendah natrium atau garam himalaya, bisa menjadi alternatif. Namun, tetap perlu dikonsumsi dalam jumlah yang wajar.

4. Mitos: Tidak ada gejala berarti tidak ada darah tinggi

Fakta: Hipertensi sering disebut "silent killer" karena bisa terjadi tanpa gejala. Banyak orang baru sadar mereka mengidap hipertensi setelah mengalami komplikasi serius. Rutin memeriksa tekanan darah adalah langkah pencegahan terbaik.

5. Mitos: Darah tinggi bisa disembuhkan total 

Fakta: Hipertensi tidak bisa disembuhkan, tetapi bisa dikontrol. Dengan pola makan sehat, olahraga rutin, manajemen stres, dan pengobatan yang tepat, penderita hipertensi bisa menjalani hidup normal dan aktif.

6. Mitos: Minum kopi pasti menyebabkan darah tinggi

Fakta: Efek kopi terhadap tekanan darah berbeda-beda pada setiap orang. Pada beberapa orang, konsumsi kafein memang bisa menaikkan tekanan darah sementara, tetapi tidak selalu menyebabkan hipertensi jika dikonsumsi dalam batas wajar.

7. Mitos: Hipertensi hanya karena faktor keturunan

Fakta: Meskipun faktor genetik berperan, gaya hidup memegang peran penting. Seseorang dengan riwayat keluarga hipertensi bisa mencegahnya dengan menjaga pola makan, rutin berolahraga, dan menghindari stres.

Cara Mengatasi Darah Tinggi dengan Efektif

Hipertensi
Ilustrasi Pemeriksaan pada Lansia Credit: pexels.com/Gunjan... Selengkapnya

Berikut adalah beberapa cara mengatasi darah tinggi (hipertensi) dengan efektif yang bisa kamu terapkan untuk menjaga tekanan darah tetap stabil dan mencegah komplikasi:

1. Rutin Mengonsumsi Obat Sesuai Resep Dokter

Pengobatan medis tetap menjadi pilar utama dalam mengontrol hipertensi, terutama jika tekanan darah sudah cukup tinggi. Jangan pernah menghentikan obat tanpa konsultasi dengan dokter, bahkan jika tekanan darah terasa normal. Konsistensi minum obat sangat penting untuk mencegah lonjakan tekanan darah yang bisa berakibat fatal.

2. Batasi Konsumsi Garam (Natrium)

Garam, khususnya natrium, memiliki efek langsung terhadap peningkatan tekanan darah. Batas konsumsi natrium ideal adalah 1.500–2.300 mg per hari (sekitar 1 sendok teh garam). Hindari makanan olahan, kalengan, fast food, dan bumbu instan yang biasanya tinggi natrium.

3. Perbanyak Konsumsi Sayur dan Buah Segar

Pola makan sehat seperti DASH (Dietary Approaches to Stop Hypertension) sangat disarankan bagi penderita hipertensi. Perbanyak sayuran, buah-buahan, biji-bijian, serta makanan rendah lemak. Kandungan kalium, magnesium, dan serat dalam sayur dan buah bisa membantu menurunkan tekanan darah secara alami.

4. Rutin Berolahraga

Aktivitas fisik seperti jalan cepat, bersepeda, berenang, atau yoga selama 30 menit sehari, 5 kali seminggu sangat bermanfaat untuk menurunkan dan menjaga tekanan darah tetap stabil. Selain itu, olahraga juga membantu menjaga berat badan dan mengurangi stres.

5. Kurangi Stres dan Kelola Emosi

Stres berkepanjangan bisa memicu lonjakan tekanan darah. Coba lakukan teknik relaksasi seperti meditasi, pernapasan dalam, mendengarkan musik, atau sekadar jalan santai di pagi hari. Jangan remehkan pentingnya istirahat cukup dan tidur berkualitas.

6. Berhenti Merokok dan Batasi Konsumsi Alkohol

Merokok menyebabkan pembuluh darah menyempit dan jantung bekerja lebih keras, sehingga menaikkan tekanan darah. Sementara konsumsi alkohol yang berlebihan juga bisa memperburuk hipertensi. Jika kamu merokok atau sering minum alkohol, menghentikannya bisa berdampak besar pada kesehatan jantung dan tekanan darah.

7. Pantau Tekanan Darah Secara Berkala

Rutin mengecek tekanan darah di rumah atau ke fasilitas kesehatan membantu kamu mengetahui apakah pengobatan dan gaya hidup yang kamu jalani sudah efektif. Catat hasilnya dalam jurnal agar bisa didiskusikan saat kontrol ke dokter.

Pertanyaan Umum Seputar Mitos dan Fakta tentang Darah Tinggi

1. Apakah darah tinggi hanya menyerang orang tua?

Tidak. Meskipun lebih umum pada usia lanjut, anak muda juga bisa mengalami hipertensi, terutama jika memiliki gaya hidup tidak sehat seperti jarang olahraga, konsumsi makanan tinggi garam, stres, dan merokok.

2. Benarkah kalau tekanan darah sudah normal, obat bisa dihentikan?

Tidak benar. Tekanan darah yang normal bisa jadi hasil dari pengobatan yang sedang berlangsung. Menghentikan obat tanpa petunjuk dokter bisa menyebabkan tekanan darah naik lagi dan meningkatkan risiko komplikasi.

3. Apakah semua garam harus dihindari?

Tidak. Yang perlu dibatasi adalah natrium, bukan garam sepenuhnya. Kamu masih bisa mengonsumsi garam rendah natrium dalam jumlah kecil. Yang penting adalah menjaga asupan harian tetap di bawah 2.300 mg natrium.

4. Apa benar hipertensi tidak memiliki gejala?

Ya, benar. Hipertensi sering dijuluki sebagai “silent killer” karena bisa terjadi tanpa gejala yang jelas. Banyak orang baru mengetahui dirinya hipertensi setelah terjadi komplikasi serius, seperti stroke atau serangan jantung.

5. Apakah kopi selalu menyebabkan darah tinggi?

Tidak selalu. Efek kafein pada tekanan darah berbeda-beda pada setiap orang. Pada sebagian orang, konsumsi kopi bisa menaikkan tekanan darah sementara, tetapi tidak selalu menyebabkan hipertensi jika dikonsumsi dalam batas wajar.

6. Bisakah hipertensi sembuh total?

Tidak bisa sembuh total, tapi bisa dikendalikan. Dengan pola hidup sehat, olahraga teratur, mengelola stres, dan mengikuti pengobatan yang tepat, tekanan darah bisa tetap stabil dan risiko komplikasi dapat diminimalkan.

7. Apakah keturunan adalah satu-satunya penyebab darah tinggi?

Tidak. Meskipun faktor genetik berpengaruh, gaya hidup punya peran besar. Orang tanpa riwayat keluarga bisa terkena hipertensi jika pola hidupnya buruk, dan sebaliknya, orang dengan riwayat keluarga bisa mencegah hipertensi dengan gaya hidup sehat.

Lanjutkan Membaca ↓
Loading

Video Pilihan Hari Ini

EnamPlus

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya