Akan Ada Blood Moon pada 13 Maret, Apakah Terlihat dari Indonesia?

Gerhana ini dapat disaksikan di berbagai wilayah di dunia, terutama di Amerika Utara dan Selatan yang akan mendapatkan pemandangan terbaik. Beberapa bagian Eropa dapat melihat gerhana saat bulan terbenam, sementara Asia Timur dapat menyaksikannya saat bulan terbit

oleh Switzy Sabandar Diperbarui 01 Mar 2025, 03:00 WIB
Diterbitkan 01 Mar 2025, 03:00 WIB
Gerhana Bulan Total di Jakarta
Foto fenomena gerhana bulan total di kota Jakarta, Sabtu (28/7). Gerhana bulan total "Micro Blood Moon" tersebut merupakan yang terlama pada abad ini dengan total waktu termasuk fase penumbra dan parsial selama enam jam lebih. (Liputan6.com/Johan Tallo)... Selengkapnya

Liputan6.com, Jakarta - Gerhana bulan total atau Blood Moon diprediksi akan terjadi pada 13 hingga 14 Maret 2025. Dikutip dari Space pada Jumat (28/02/2025), fenomena langit ini akan membuat bulan tampak merah selama sekitar 65 menit.

Warna merah pada bulan terjadi akibat pembiasan cahaya matahari yang melintasi atmosfer bumi, di mana panjang gelombang cahaya merah lebih mudah diteruskan, sementara cahaya biru dan hijau lebih banyak diserap. Fenomena inilah yang memberi bulan tampilan merah darah, sebuah pemandangan yang memukau dan menakjubkan.

Gerhana bulan ini dapat disaksikan di berbagai wilayah di dunia, terutama di Amerika Utara dan Selatan yang akan mendapatkan pemandangan terbaik. Beberapa bagian Eropa dapat melihat gerhana saat bulan terbenam, sementara Asia Timur dapat menyaksikannya saat bulan terbit.

Fenomena ini merupakan kesempatan langka bagi pengamat langit di seluruh dunia untuk menikmati keindahan gerhana bulan total. Bahkan, bagi mereka yang berada di luar jalur pengamatan langsung, ada berbagai cara untuk menyaksikan gerhana ini melalui siaran langsung.

Titik puncak gerhana akan terjadi tepat di atas Samudra Pasifik, yang artinya sebagian besar wilayah yang berada di sekitarnya akan mendapatkan pengalaman terbaik dari fenomena ini. Gerhana bulan total kali ini akan berlangsung lebih dari enam jam, dimulai dengan fase penumbral pada pukul 11:57 malam EDT hingga 1:09 pagi EDT.

Fase penumbral adalah fase awal di mana bulan hanya melewati bayangan luar Bumi, menyebabkan perubahan cahaya yang sangat halus di permukaan bulan. Fase parsial akan terjadi dari pukul 1:09 hingga 2:26 pagi EDT, di mana sebagian bulan mulai memasuki bayangan Bumi, dan akan tampak seperti bulan memudar secara perlahan.

Setelah itu, fase totalitas akan berlangsung dari pukul 2:26 hingga 3:31 pagi EDT. Inilah saat bulan sepenuhnya memasuki bayangan Bumi, tampak berwarna merah darah yang memukau.

Setelah fase totalitas, fase parsial kembali terjadi hingga pukul 4:47 pagi EDT, sebelum akhirnya gerhana berakhir dengan fase penumbral pada pukul 6 pagi EDT. Gerhana bulan ini dapat diamati dengan mata telanjang tanpa alat bantu khusus, memberikan kesempatan bagi siapa saja untuk menyaksikan keindahan alam ini.

Di Amerika Utara, semua fase gerhana dapat diamati dari seluruh wilayah AS, Kanada, dan Meksiko. Sebagian besar Amerika Selatan, termasuk Brasil, Argentina, dan Chili, juga dapat menyaksikan gerhana secara penuh. Di Eropa, wilayah barat seperti Spanyol, Prancis, dan Inggris dapat melihat gerhana sebelum bulan terbenam.

Afrika bagian barat, termasuk Maroko dan Senegal, juga berkesempatan menyaksikan totalitas. Sementara itu, di Oseania, Selandia Baru dapat melihat fase akhir gerhana saat bulan terbit.

Namun, sayangnya, bagi pengamat di Indonesia, gerhana bulan total kali ini akan terjadi pada pagi hingga sore hari waktu WIB, sehingga tidak bisa diamati langsung dari wilayah tersebut. Meskipun demikian, Anda masih bisa menikmati momen langka ini melalui berbagai siaran langsung yang disediakan oleh laman-laman astronomi terkemuka seperti Space dan platform streaming lainnya yang akan menyiarkan gerhana ini secara langsung.

(Tifani)

Promosi 1

Video Pilihan Hari Ini

EnamPlus

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya