Lailatul Qadar Tanggal Berapa? Begini Prediksinya Menurut Pendapat Imam Gazali

Tidak ada kepastian tanggal Lailatul Qadar 2025, namun beberapa ulama memprediksi malam istimewa itu jatuh pada tanggal 22, 27, atau 29 Maret 2025, berdasarkan metode perhitungan yang berbeda. Perbanyak ibadah di 10 malam terakhir Ramadan!

oleh Fitriyani Puspa Samodra Diperbarui 26 Mar 2025, 18:40 WIB
Diterbitkan 26 Mar 2025, 18:40 WIB
Warga Dubai Sholat Tahajud di Malam Lailatul Qadar
Lailatul Qadar Tanggal Berapa (AFP/Karim Sahib)... Selengkapnya

Liputan6.com, Jakarta Lailatul Qadar adalah malam penuh kemuliaan yang dinantikan oleh setiap Muslim di bulan Ramadan. Dalam Al-Qur'an, malam ini disebut sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan serta malam di mana Al-Qur'an pertama kali diturunkan dan para malaikat turun membawa ketentuan dari Allah SWT. 

Keutamaannya yang begitu besar menjadikan Lailatul Qadar sebagai momen istimewa yang penuh dengan keberkahan dan ampunan. Namun, kapan tepatnya Lailatul Qadar terjadi? Rasulullah SAW memberikan petunjuk bahwa malam ini berada di antara malam-malam ganjil dalam sepuluh hari terakhir Ramadan.

Meski tanggal pastinya dirahasiakan, umat Islam dianjurkan untuk mencarinya dengan penuh keimanan dan ketakwaan. Berikut ulasan lengkapnya, dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber, Rabu (26/3/2025).

Misteri Lailatul Qadar: Mengapa Waktunya Dirahasiakan?

Lailatul Qadar adalah malam yang penuh kemuliaan, di mana Al-Qur'an pertama kali diturunkan dan segala doa dikabulkan. Malam ini disebut dalam Al-Qur'an sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan, menjadikannya momen yang paling dinanti oleh umat Islam di seluruh dunia. Namun, satu hal yang tetap menjadi misteri adalah tidak ada yang tahu kapan tepatnya malam ini terjadi.

Rahasia di balik ketidakpastian tanggal Lailatul Qadar bukanlah tanpa hikmah. Jika malam ini memiliki waktu yang pasti, banyak orang mungkin hanya akan bersungguh-sungguh beribadah pada malam tersebut dan lalai di malam-malam lainnya. Justru dengan menyembunyikannya, Allah SWT memberikan kesempatan kepada setiap Muslim untuk memperbanyak ibadah sepanjang sepuluh malam terakhir Ramadan, terutama pada malam-malam ganjil. Rasulullah SAW bersabda:

"Carilah oleh kalian keutamaan Lailatul Qadar pada malam-malam ganjil di sepuluh malam terakhir bulan Ramadan." (HR. Bukhari & Muslim)

Dalam berbagai pendapat ulama, Lailatul Qadar diyakini terjadi pada salah satu dari malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadan, yaitu malam ke-21, 23, 25, 27, atau 29. Namun, tidak ada yang dapat memastikan malam yang mana. Beberapa ulama juga berpendapat bahwa Lailatul Qadar dapat berpindah setiap tahunnya, sehingga seseorang yang benar-benar ingin mendapatkannya harus bersungguh-sungguh dalam ibadah sepanjang sepuluh malam terakhir.

Hikmah besar dari dirahasiakannya Lailatul Qadar adalah agar umat Islam tidak hanya mencari malam tersebut berdasarkan tanda-tanda, tetapi dengan usaha dan ibadah yang tulus. Rasulullah SAW sendiri meningkatkan ibadahnya di sepuluh malam terakhir Ramadan dengan lebih sungguh-sungguh, sebagaimana diriwayatkan oleh Aisyah RA:

"Apabila telah masuk sepuluh malam terakhir Ramadan, Rasulullah SAW mengencangkan ikat pinggangnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya." (HR. Bukhari & Muslim)

Maka, cara terbaik untuk memperoleh keberkahan Lailatul Qadar adalah dengan menghidupkan seluruh sepuluh malam terakhir dengan ibadah. Jangan hanya menunggu tanda-tanda atau berspekulasi kapan malam tersebut terjadi, tetapi manfaatkan kesempatan ini dengan memperbanyak shalat malam, membaca Al-Qur'an, berzikir, berdoa, dan melakukan i'tikaf.

Pendapat Imam Al-Ghazali tentang Kapan Terjadinya Lailatul Qadar

Lailatul Qadar adalah malam penuh kemuliaan yang dirahasiakan oleh Allah SWT. Namun, berbagai ulama telah mencoba mengidentifikasi polanya, salah satunya adalah Imam Al-Ghazali. Dalam kitab I’anatut Thalibin, beliau menyusun metode prediksi waktu terjadinya Lailatul Qadar berdasarkan hari pertama bulan Ramadan.

Menurut Imam Al-Ghazali, pola terjadinya Lailatul Qadar adalah sebagai berikut:

  • Jika Ramadan dimulai pada Ahad atau Rabu, maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-29.
  • Jika dimulai pada Senin, maka jatuh pada malam ke-21.
  • Jika dimulai pada Selasa atau Jumat, maka jatuh pada malam ke-27.
  • Jika dimulai pada Kamis, maka jatuh pada malam ke-25.
  • Jika dimulai pada Sabtu, maka jatuh pada malam ke-23.

Panduan ini juga didukung oleh Syekh Abu Hasan asy-Syadzili, yang dalam pengalaman pribadinya menemukan bahwa Lailatul Qadar selalu sesuai dengan pola tersebut.

Berdasarkan metode ini, karena Ramadan 1446 H dimulai pada hari Sabtu, 1 Maret 2025, maka malam Lailatul Qadar diperkirakan jatuh pada malam ke-23, yakni Sabtu malam Ahad, 22 Maret 2025.

Namun, penting untuk diingat bahwa pendapat ini bukanlah kepastian mutlak. Lailatul Qadar tetap menjadi rahasia Allah SWT dan bisa terjadi kapan saja di sepuluh malam terakhir Ramadan. Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan untuk tidak hanya berpatokan pada satu malam, tetapi menghidupkan seluruh sepuluh malam terakhir dengan ibadah agar tidak melewatkan keberkahannya.

Ciri-ciri Malam Lailatul Qadar

Lailatul Qadar adalah malam yang penuh keberkahan dan kemuliaan, lebih baik dari seribu bulan. Meskipun waktu pastinya dirahasiakan, Rasulullah SAW dan para ulama memberikan beberapa tanda yang dapat menjadi petunjuk untuk mengenali malam istimewa ini. Berikut adalah ciri-ciri yang sering dikaitkan dengan Lailatul Qadar:

1. Langit Terlihat Cerah dan Tenang

Pada malam Lailatul Qadar, langit tampak cerah tanpa mendung, badai, atau hujan deras. Suasana langit terlihat bersih dan memberikan kesan ketenangan.

2. Udara Sejuk dan Tidak Panas

Suhu udara pada malam ini terasa sejuk dan nyaman, tidak terlalu panas maupun dingin. Salah satu tanda malam Lailatul Qadar adalah cuaca yang tenang, tidak panas, dan tidak hujan.

3. Suasana Malam yang Hening dan Damai

Pada malam ini, suasana terasa lebih tenang dibandingkan malam-malam biasanya. Suara binatang malam seperti jangkrik dan anjing lebih jarang terdengar, menciptakan atmosfer yang mendukung untuk beribadah dengan penuh kekhusyukan.

4. Matahari Terbit dengan Cahaya Lembut

Pada pagi hari setelah Lailatul Qadar, matahari terbit dengan sinar yang tidak menyilaukan, berwarna putih kemerahan, dan tidak menyebarkan cahaya terlalu terang. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Muslim dari Ubay bin Ka’ab:

"Tandanya ialah pada pagi harinya matahari terbit berwarna putih tanpa memancarkan sinar ke segala penjuru." (HR. Muslim no. 762)

5. Hati Terasa Tenang dan Nyaman

Selain tanda-tanda fisik, malam ini juga memiliki tanda batin. Orang yang menghidupkan Lailatul Qadar dengan ibadah sering merasakan ketenangan jiwa, kekhusyukan dalam beribadah, serta kedekatan yang lebih mendalam dengan Allah SWT.

6. Keberkahan dalam Doa dan Ibadah

Malam ini dipenuhi dengan keberkahan. Orang yang beribadah di dalamnya merasakan kemudahan dalam berdoa, ketenangan dalam hati, dan peningkatan keimanan.

 

Lanjutkan Membaca ↓
Loading

Video Pilihan Hari Ini

EnamPlus

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya