Hadits Malam Lailatul Qadar: Malam Mulia yang Lebih Baik dari Seribu Bulan

Lailatul Qadar, malam lebih baik dari seribu bulan, waktunya dirahasiakan Allah; perbanyak ibadah di 10 malam terakhir Ramadhan, khususnya malam ganjil, dan panjatkan doa.

oleh Woro Anjar Verianty Diperbarui 27 Mar 2025, 17:40 WIB
Diterbitkan 27 Mar 2025, 17:40 WIB
Tanda-tanda Datangnya Malam Lailatul Qadar
Ilustrasi masjid. Credit: pexels.com/Stephan... Selengkapnya

Liputan6.com, Jakarta Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh keberkahan bagi umat Islam di seluruh dunia. Di antara keistimewaan bulan suci ini terdapat satu malam yang memiliki kemuliaan luar biasa, yaitu malam Lailatul Qadar. Banyak hadits malam Lailatul Qadar yang menjelaskan tentang keutamaan dan keistimewaan malam tersebut, menjadikannya momen yang sangat dinantikan oleh setiap muslim untuk meningkatkan ibadah dan mendapatkan keberkahan berlipat ganda.

Para ulama telah meriwayatkan berbagai hadits malam Lailatul Qadar dari Rasulullah SAW yang memberikan petunjuk tentang kapan terjadinya malam mulia ini dan bagaimana cara mencarinya. Melalui hadits malam Lailatul Qadar, kita mengetahui bahwa malam tersebut biasanya terjadi pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan, terutama pada malam-malam ganjil. Keistimewaan malam ini juga dijelaskan dalam Al-Quran surah Al-Qadr yang menegaskan bahwa malam tersebut lebih baik dari seribu bulan.

Memahami hadits malam Lailatul Qadar menjadi sangat penting bagi umat Islam untuk bisa memanfaatkan kesempatan emas ini dengan optimal. Berbagai riwayat menunjukkan bahwa barangsiapa yang beribadah pada malam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan harapan akan pahala, maka Allah SWT akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu. 

Berikut ini telah Liputan6.com rangkum berbagai hadits tentang malam Lailatul Qadar, pada Kamis (27/3).

Promosi 1

Hadits Tentang Waktu Terjadinya Malam Lailatul Qadar

Ada banyak hadits yang menjelaskan tentang kapan terjadinya malam Lailatul Qadar. Meskipun terdapat beberapa perbedaan pendapat, namun mayoritas ulama sepakat bahwa malam tersebut terjadi pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan, terutama pada malam-malam ganjil.

Salah satu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad menyebutkan:

اَخْبَرَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ قَالَ هِيَ فِى شَهْرِ رَمَضَانَ فِى الْعَشْرِ اْلأَوَاخِرِ لَيْلَةَ اِحْدَيْ وَعِشْرِيْنَ اَوْثَلَثَةٍ وَعِشْرِيْنَ اَوْسَبْعٍ وَعِشْرِيْنَ اَوْ تِسْعٍ وَعِشْرِيْنَ اَوْ اَخِرِ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ مَنْ قَامَهَا اِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مِنْ ذَنْبِهِ مَا تَقَدَّمَ وَمَا تَأَخَّرّ . (رواه احمد)

"Rasulullah SAW mengabarkan kepada kami tentang Lailatul Qadar, beliau bersabda: dia (Lailatul Qadar) di bulan Ramadhan di puluhan yang akhir yaitu malam 21, 23, 25, 27 atau malam 29, atau di akhir malam Ramadhan. Barang siapa mengerjakan bangun untuk beribadah pada malam itu karena iman dan mengharap ridho Allah, niscaya diampuni dosanya yang telah lalu dan yang akan datang." (HR. Ahmad)

Hadits di atas memberikan petunjuk bahwa malam Lailatul Qadar terjadi pada malam-malam ganjil dari sepuluh malam terakhir Ramadhan, yaitu malam ke-21, 23, 25, 27, 29, atau pada malam terakhir bulan Ramadhan. Ini memberikan panduan bagi umat Islam untuk meningkatkan ibadah pada malam-malam tersebut.

Hadits lain yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari juga memberikan petunjuk serupa:

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ اْلاَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ (رواه البخارى)

"Carilah olehmu sekalian lailatul qadar itu pada witir (malam ganjil) sepuluh terakhir di bulan Ramadhan." (HR. Bukhari)

 

Malam ke-27 Ramadhan dan Hadits-Haditsnya

[Bintang] Kapankah Malam Lailatul Qadar?
Buat yang mencari tahu kapan malam Lailatul Qadar, inilah jawabannya. (Ilustrasi: Pexels.com)... Selengkapnya

Di antara malam-malam ganjil pada sepuluh malam terakhir Ramadhan, malam ke-27 sering kali mendapat perhatian khusus. Beberapa hadits menyebutkan kemungkinan bahwa malam Lailatul Qadar terjadi pada malam tersebut.

Imam Ahmad meriwayatkan hadits dengan sanad yang shahih dari Ibnu Umar:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص م. مَنْ كَانَ مُتَحَرِّيْهَا فَلْيَتَحَرَّهَا لَيْلَةَ سَبْعٍ وَعِشْرِيْنَ (رواه احمد باسناد صحيح)

"Dari Ibnu 'Umar: Rasulullah SAW bersabda barang siapa yang ingin mengintai malam Lailatul Qadar hendaklah ia mengintai pada malam dua puluh tujuh." (HR. Ahmad dengan sanad yang Shahih)

Hadits ini memberikan petunjuk khusus untuk mencari malam Lailatul Qadar pada malam ke-27 Ramadhan. Meskipun demikian, para ulama menegaskan bahwa hal ini tidak menafikan kemungkinan malam Lailatul Qadar terjadi pada malam-malam ganjil lainnya dalam sepuluh hari terakhir Ramadhan.

Ubay bin Ka'ab, salah seorang sahabat Nabi, juga pernah bersumpah bahwa malam Lailatul Qadar terjadi pada malam ke-27. Meskipun pendapat ini cukup kuat, mayoritas ulama tetap menganjurkan untuk mencari malam tersebut pada seluruh malam ganjil dalam sepuluh hari terakhir Ramadhan, sebagai sikap kehati-hatian dan untuk memaksimalkan kesempatan menemui malam yang mulia ini.

 

Tanda-Tanda Malam Lailatul Qadar Berdasarkan Hadits

Para ulama telah menjelaskan berbagai tanda malam Lailatul Qadar berdasarkan hadits-hadits Nabi Muhammad SAW. Mengenali tanda-tanda ini dapat membantu umat Islam untuk mengidentifikasi malam mulia tersebut dan memaksimalkan ibadah pada malam itu.

Salah satu tanda yang paling dikenal adalah kondisi matahari keesokan harinya, sebagaimana disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:

صَبِيْحَةُ لَيْلَةِ الْقَدْرِ تَطْلُعُ الشَمسُ لاَ شعاع لَهَا، كَاَنَهَا طَشْتٌ حَتَّى تَرْتَفَعُ

"Pagi hari malam Lailatul Qadar, matahari terbit tidak menyilaukan, seperti bejana hingga meninggi." (HR. Muslim 762)

Hadits ini menjelaskan bahwa pada pagi hari setelah malam Lailatul Qadar, matahari terbit dengan cahaya yang redup, tidak menyilaukan, dan tampak seperti bejana atau piringan hingga matahari naik lebih tinggi. Ini merupakan tanda fisik yang bisa diamati oleh mereka yang menemui malam Lailatul Qadar.

Selain itu, ada juga riwayat yang menyebutkan bahwa pada malam Lailatul Qadar udara terasa sejuk dan tenang, tidak terlalu panas atau dingin. Beberapa ulama juga menyebutkan tanda-tanda lain seperti turunnya hujan ringan, perasaan ketenangan yang luar biasa, atau bahkan kemampuan untuk melihat segala sesuatu bersujud kepada Allah SWT. Namun, tanda-tanda ini tidak disebutkan secara tegas dalam hadits-hadits shahih dan lebih didasarkan pada pengalaman pribadi para ulama.

 

Amalan dan Doa pada Malam Lailatul Qadar

Cara Rasulullah Sambut Lailatul Qadar
Doa Lailatul Qadar / Sumber: iStcokphoto... Selengkapnya

Nabi Muhammad SAW mengajarkan beberapa amalan khusus yang dianjurkan untuk dilakukan pada malam Lailatul Qadar. Amalan-amalan ini bertujuan untuk memaksimalkan keberkahan dan pahala yang bisa diperoleh pada malam mulia tersebut.

Salah satu amalan utama adalah qiyamul lail atau shalat malam, termasuk shalat tarawih dan tahajud. Hal ini berdasarkan hadits Nabi SAW:

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

"Siapa yang mengerjakan ibadah pada malam Qadar dengan iman dan ikhlas, maka diampuni dosanya yang telah lalu. Dan siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan, dengan iman dan ikhlas, maka diampuni dosanya yang telah lalu." (HR. al-Bukhari: 1768 dan Muslim: 1268)

Selain shalat malam, amalan lain yang dianjurkan adalah memperbanyak membaca Al-Quran, berzikir, bersedekah, dan berdoa. Khusus untuk doa, Nabi Muhammad SAW mengajarkan sebuah doa yang sangat dianjurkan untuk dibaca pada malam Lailatul Qadar, sebagaimana diriwayatkan dalam hadits riwayat Tirmidzi:

عَنْ عَآئِشةَ قَالَتْ قُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ اَرَاَيْتَ اِنْ عَلِمْتُ اَيَّ لَيْلَةٍ لَيْلَةَ الْقَدْرِ مَا اَقُلُ فِيْهَا قَالَ قُوْلِيْ اَللَّهُمَّ اِنَّكَ عَفْوٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي (رواه الترمذي)

"Dari 'Aisyah katanya: "Saya bertanya kepada Rasulullh SAW: Bagaimana jika saya dapat mengetahui malam Qadar itu, apakah yang baik saya katakan pada malam itu? Jawab beliau: Katakanlah olehmu: 'Ya Allah sesungguhnya Engkau pengampun, suka mengampuni kesalahan, maka ampunilah kiranya kesalahanku.'" (HR. Tirmidzi)

Doa ini sangat dianjurkan untuk diperbanyak pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadhan, terutama jika seseorang menduga telah menemui malam Lailatul Qadar. Doa ini singkat namun sarat makna, meminta pengampunan dari Allah SWT yang Maha Pengampun.

Selain itu, malam Lailatul Qadar juga merupakan waktu yang sangat baik untuk melakukan i'tikaf di masjid. I'tikaf adalah berdiam diri di masjid dengan niat beribadah kepada Allah SWT. Rasulullah SAW sendiri selalu melakukan i'tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadhan untuk mencari malam Lailatul Qadar, sebagaimana diriwayatkan dalam berbagai hadits shahih.

 

Keutamaan Beribadah pada Malam Lailatul Qadar

Beribadah pada malam Lailatul Qadar memiliki keutamaan yang luar biasa berdasarkan berbagai hadits. Salah satu keutamaan yang paling utama adalah pengampunan dosa, sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat al-Bukhari dan Muslim:

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

"Siapa yang mengerjakan ibadah pada malam Qadar dengan iman dan ikhlas, maka diampuni dosanya yang telah lalu." (HR. al-Bukhari: 1768 dan Muslim: 1268)

Keutamaan lainnya adalah pahala yang berlipat ganda. Berdasarkan surah Al-Qadr ayat 3, beribadah pada malam Lailatul Qadar lebih baik daripada beribadah selama seribu bulan. Ini berarti jika seseorang melakukan shalat sunah, membaca Al-Quran, berzikir, atau amalan baik lainnya pada malam tersebut, pahalanya akan dilipatgandakan menjadi setara dengan melakukan amalan yang sama selama 83 tahun 4 bulan.

Ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Qasim yang menjelaskan latar belakang mengapa Allah SWT memberikan malam Lailatul Qadar kepada umat Muhammad SAW:

سمعت من أثق به يقول: إن رسول الله صلى الله عليه وسلم أري أعمار الأمم قبله ، فكأنه تقاصر أعمار أمته ألا يبلغوا من العمل مثل ما بلغ غيرهم في طول العمر ، فأعطاه الله ليلة القدر ، وجعلها خيرا من ألف شهر.

"Aku mendengar seorang yang terpercaya berkata, 'Sungguh, Rasulullah saw pernah diperlihatkan usia umat-umat terdahulu. (Melihat itu) Nabi pesimis bahwa usia umatnya tidak akan mampu untuk mencapai amal ibadah yang dilakukan umat-umat tersebut. Kemudian Allah swt memberikan Nabi (dan umatnya) malam Lailatul Qadar yang lebih utama dari seribu bulan.'" (Lihat Ahkamul Quran li Ibni 'Arabi, juz 4, hal. 428)

Hadits ini menunjukkan bahwa malam Lailatul Qadar adalah anugerah khusus dari Allah SWT kepada umat Muhammad SAW, sebagai kompensasi atas umur mereka yang lebih pendek dibandingkan umat-umat terdahulu. Dengan adanya malam ini, umat Islam memiliki kesempatan untuk meraih pahala yang setara dengan beribadah selama ribuan bulan, meskipun usia mereka relatif singkat.

 

Hadits Tentang Turunnya Al-Quran pada Malam Lailatul Qadar

Cara Rasulullah Sambut Lailatul Qadar
Cara Rasulullah Sambut Lailatul Qadar / Sumber: iStcokphoto... Selengkapnya

Salah satu keistimewaan utama malam Lailatul Qadar adalah bahwa pada malam tersebut Al-Quran pertama kali diturunkan dari Lauh Mahfuzh ke langit dunia. Hal ini dijelaskan dalam Al-Quran surah Al-Qadr ayat 1 dan surah Ad-Dukhan ayat 1-6.

Allah SWT berfirman dalam surah Ad-Dukhan ayat 1-6:

حم, وَالْكِتَابِ الْمُبِينِ، إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ ۚ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ. فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ، أَمْرًا مِنْ عِنْدِنَا ۚ إِنَّا كُنَّا مُرْسِلِينَ, رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

"Haa mim. Demi Kitab (Al-Quran) yang menjelaskan, sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah Yang mengutus rasul-rasul, sebagai rahmat dari Tuhanmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (Q.S. ad-Dukhan [44]: 1-6)

Para ulama tafsir menjelaskan bahwa "malam yang diberkahi" dalam ayat ini adalah malam Lailatul Qadar. Pada malam tersebut, Al-Quran diturunkan secara sekaligus dari Lauh Mahfuzh ke Baitul Izzah di langit dunia, kemudian diturunkan secara berangsur-angsur kepada Nabi Muhammad SAW selama kurang lebih 23 tahun.

Selain itu, pada malam Lailatul Qadar juga ditetapkan berbagai ketetapan Allah SWT untuk tahun yang akan datang, sebagaimana disebutkan dalam ayat "Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah". Inilah yang menjadi salah satu sebab mengapa malam tersebut dinamakan "Lailatul Qadar" yang berarti "Malam Ketetapan" atau "Malam Penentuan".

 

Hadits tentang Malam-Malam yang Diperkirakan sebagai Lailatul Qadar

Para ulama berbeda pendapat mengenai kapan tepatnya malam Lailatul Qadar terjadi. Namun, berdasarkan berbagai hadits yang shahih, mayoritas ulama sepakat bahwa malam tersebut terjadi pada salah satu malam ganjil dari sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan.

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu 'anha, bahwa Rasulullah SAW bersabda:

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ اْلاَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

"Carilah Lailatul Qadar pada malam-malam ganjil dari sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan." (HR. Bukhari dan Muslim)

Ada juga hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, bahwa Nabi SAW bersabda:

الْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي تَاسِعَةٍ تَبْقَى فِي سَابِعَةٍ تَبْقَى فِي خَامِسَةٍ تَبْقَى

"Carilah Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan, pada malam kesembilan yang tersisa, atau malam ketujuh yang tersisa, atau malam kelima yang tersisa." (HR. Bukhari)

Yang dimaksud dengan "malam kesembilan yang tersisa" adalah malam ke-21 Ramadhan (karena tersisa 9 malam lagi sampai akhir bulan, dengan asumsi bulan Ramadhan berjumlah 29 hari). Demikian pula "malam ketujuh yang tersisa" adalah malam ke-23, dan "malam kelima yang tersisa" adalah malam ke-25.

Ada juga hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, bahwa beberapa sahabat Nabi SAW bermimpi melihat Lailatul Qadar pada tujuh malam terakhir bulan Ramadhan. Maka Rasulullah SAW bersabda:

أَرَى رُؤْيَاكُمْ قَدْ تَوَاطَأَتْ فِي السَّبْعِ الْأَوَاخِرِ، فَمَنْ كَانَ مُتَحَرِّيهَا فَلْيَتَحَرَّهَا فِي السَّبْعِ الْأَوَاخِرِ

"Aku melihat mimpi-mimpi kalian telah bersesuaian pada tujuh malam terakhir. Maka barangsiapa yang ingin mencari Lailatul Qadar, hendaklah mencarinya pada tujuh malam terakhir." (HR. Bukhari dan Muslim)

Berdasarkan berbagai hadits di atas, para ulama menyimpulkan bahwa malam Lailatul Qadar kemungkinan besar terjadi pada malam-malam ganjil dari sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan, yaitu malam ke-21, 23, 25, 27, atau 29. Namun, pendapat yang paling kuat menyatakan bahwa malam tersebut terjadi pada malam ke-27 Ramadhan, berdasarkan beberapa hadits yang telah disebutkan sebelumnya.

 

Hikmah Disembunyikannya Waktu Pasti Malam Lailatul Qadar

Meskipun ada banyak petunjuk tentang kapan terjadinya malam Lailatul Qadar, namun waktu pastinya tetap disembunyikan oleh Allah SWT. Para ulama menjelaskan bahwa ada hikmah besar di balik hal ini.

Salah satu hikmah utamanya adalah agar umat Islam bersungguh-sungguh beribadah pada seluruh malam di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, terutama pada malam-malam ganjil. Jika waktu pastinya diketahui, mungkin sebagian orang hanya akan beribadah pada malam itu saja dan mengabaikan malam-malam lainnya.

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitab Fathul Bari menjelaskan: "Di antara hikmah disembunyikannya malam Lailatul Qadar adalah agar orang-orang beriman bersungguh-sungguh dalam mencarinya dengan memperbanyak ibadah pada malam-malam yang diperkirakan sebagai Lailatul Qadar. Dengan demikian, mereka akan mendapatkan pahala yang berlipat ganda."

Selain itu, hikmah lainnya adalah sebagai ujian keimanan dan kesungguhan seseorang dalam beribadah. Mereka yang benar-benar menginginkan kebaikan dan pahala dari Allah SWT akan bersungguh-sungguh mencari malam tersebut, sedangkan mereka yang lemah keinginannya akan mudah menyerah dan tidak peduli.

Sama halnya dengan disembunyikannya waktu mustajab (waktu dikabulkannya doa) pada hari Jumat, waktu wafat seseorang, dan kapan terjadinya hari kiamat. Semua ini memiliki hikmah agar manusia selalu siap dan senantiasa berusaha melakukan yang terbaik dalam ibadah dan amal saleh mereka.

 
Lanjutkan Membaca ↓
Loading

Video Pilihan Hari Ini

Produksi Liputan6.com

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya