Berapa Tarif dan Bagaimana Cara Mengundang Ustadz Adi Hidayat?

Ustadz Adi Hidayat menegaskan bahwa dirinya tidak pernah meminta bayaran dalam bentuk apa pun ketika diundang untuk berceramah

oleh Liputan6.com Diperbarui 28 Feb 2025, 01:30 WIB
Diterbitkan 28 Feb 2025, 01:30 WIB
uah adi hidayat
Ustadz Adi Hidayat (UAH) (SS TikTok)... Selengkapnya

Liputan6.com, Jakarta - Undangan ceramah untuk Ustadz Adi Hidayat (UAH) selalu datang dari berbagai daerah. Banyak yang bertanya bagaimana cara mengundangnya ceramah dan apakah ada tarif tertentu yang harus disiapkan.

Menanggapi hal ini, Ustadz Adi Hidayat menjelaskan secara terbuka bahwa dirinya tidak pernah menetapkan tarif untuk ceramah yang diberikan.

"Jadi kalau mau ngundang, ngundang aja, enggak apa-apa, enggak usah macam-macam. Kalau ada waktu, datang. Saya enggak pernah minta apa-apa," ujar UAH sosok pendakwah muda Muhammadiyah ini dalam salah satu ceramahnya.

Dikutip dari tayangan video di kanal YouTube @hasuriaceng8823, UAH menegaskan bahwa dirinya tidak pernah meminta bayaran dalam bentuk apa pun ketika diundang untuk berceramah.

Menurutnya, jika ada rezeki, maka ia akan berangkat dengan biaya sendiri tanpa membebankan pihak pengundang.

Jika pun tidak ada kesempatan untuk hadir, itu bukan karena tidak ingin datang, melainkan karena waktu yang tidak memungkinkan.

UAH menegaskan bahwa menanyakan tarif sejak awal justru bisa merusak niat penyelenggara dalam mengundang seorang pendakwah.

 

Begini soal Tarif dan Cara Pandang Ustadz Adi Hidayat soal Dakwah

Ilustrasi pidato, ceramah, khotbah
Ilustrasi ceramah. (Photo by Muhammad Adil on Unsplash)... Selengkapnya

"Kalau niat dari awal sudah memikirkan tarif, nanti pas saya sampai, malah berpikir, 'Masa cuma segini?' Itu setan masuk di situ," kata UAH.

Ia juga meminta agar panitia tidak perlu mengirimkan sejumlah uang sebelum dirinya hadir ke lokasi acara.

Bagi UAH, dakwah bukanlah sesuatu yang bisa diperjualbelikan, sehingga penetapan tarif justru dapat mengurangi keberkahan dalam menyampaikan ilmu agama.

Namun, ia juga menyadari bahwa ada banyak pihak yang ingin mengundangnya, sehingga tidak semua undangan bisa terpenuhi.

"Kalau sehari masuk seribu undangan, terus gimana? Kan harus ada waktu buat keluarga, buat ngaji lagi," ujarnya.

UAH menegaskan bahwa menjadi pendakwah tidak berarti harus terus menerus mengajar tanpa memberi waktu untuk memperbaiki diri.

Baginya, tugas seorang pendakwah bukan hanya menyampaikan ilmu, tetapi juga mengamalkan apa yang diajarkan kepada umat.

Tidak Bisa Selalu Hadir, Karena Ini

Ilustrasi ceramah, pengajian
Ilustrasi ceramah, pengajian. (Photo by Masjid Pogung Raya on Unsplash)... Selengkapnya

"Jangan dikira setiap hari hanya mengajar. Kita juga perlu menangis kepada Allah," tambahnya.

Menurutnya, ilmu yang disampaikan akan menjadi tanggung jawab besar di hadapan Allah, sehingga perlu ada waktu untuk introspeksi diri.

Dalam ceramahnya, UAH mengajak umat Islam untuk lebih memahami hakikat dakwah yang sesungguhnya.

Dakwah bukan sekadar berbicara di depan umum, tetapi juga proses internal yang harus dijalani oleh setiap pendakwah.

Dengan prinsip tersebut, UAH tetap berpegang teguh bahwa ceramahnya bukanlah sesuatu yang bisa dihargai dengan nominal tertentu.

Siapa pun yang ingin mengundangnya cukup menyesuaikan dengan jadwal yang tersedia, tanpa perlu membahas persoalan tarif.

Dengan demikian, ia berharap dakwah tetap berjalan dengan niat yang tulus, tanpa ada unsur kepentingan materi di dalamnya.

Penulis: Nugroho Purbo/Madrasah Diniyah Miftahul Huda 1 Cingebul

Simak Video Pilihan Ini:

Lanjutkan Membaca ↓
Loading

Video Pilihan Hari Ini

EnamPlus

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya